Minggu, 07 Februari 2021

Ongkos Dandanan

Sutan menaruh curiga terhadap Mina. Ia menafsir-nafsir kalau istrinya itu mulai bermain serong dengan lelaki lain. Pasalnya, sang istri tampak semakin rajin berdandan. Tidak hanya merias diri sebelum berangkat ke pesta sebagaimana ibu-ibu yang lain, sang istri bahkan berdanda manis sebelum beranjak ke kebun atau saat berdiam diri di rumah.

Kegemaran Mina bersolek, akhirnya memengaruhi keuangan keluarga mereka. Hasil bercocok tanam jagung yang semestinya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga atau ditabung untuk keperluan yang mendadak, malah terkuras untuk segala macam bahan tata rias. Bahkan kehendak Sutan untuk membeli hal yang ia anggap penting, akhirnya dikesampingkan.

Sejak tiga bulan lalu, Sutan memang sudah menaruh curiga kalau istrinya tengah bermain hati dengan Samri, tetangga dekatnya, duda tanpa anak, yang datang kembali setelah bekerja sebagai buruh perkebunan sawit di negeri seberang. Ia membaca tanda-tandanya dari gelagat komunikasi mereka yang penuh keramahan, yang ia rasa menyembunyikan maksud terselubung.

Sampai akhirnya, dua hari lalu, lewat tengah hari, dugaan Sutan seolah mendapatkan pembuktian tegas yang membuat perasaannya remuk dan martabatnya terinjak-injak. Ia merasa kalau Mina tak lagi menghargai dirinya sebagai suami setelah istrinya itu tampak pulang dari kebun bersama Samri yang memikulkan sekarung jagung muda untuknya.

Hubungan mereka sebagai suami-istri, memang sedang membeku di hari itu. Keadaan yang membuat Sutan malas beranjak ke kebun untuk memetik jagung dan menjualnya di pasar. Keadaan yang membuatnya tak lagi memedulikan kondisi sang istri seperti dahulu. Pasalnya, sehari sebelumnya, ia dengan lugas meminta kepada sang istri agar berhenti berboros untuk membeli alat kosmetik, sembari menyarankan agar penghasilan bertani ditabung untuk membeli sepeda motor yang akan menunjang aktivitas mereka. Sebuah usul yang ditentang sang istri.

Atas sikap istrinya yang tak bersahabat, Sutan pun menduga kalau barangkali sang istri masih sakit hati dan hendak membalas kelakuannya empat bulan yang lalu. Ketika itu, sebuah kabar sampai juga ke telinga istrinya bahwa ia telah mengunjungi warung mantan kekasihnya di kecamatan sebelah hanya untuk makan bakso, meski ia bisa menemukan penjual bakso di lingkungan desanya sendiri.

Seiring waktu, Sutan mengira kalau tindakan usilnya waktu itu, akan dilupakan begitu saja oleh sang istri. Apalagi, ia memang tak punya niat untuk tersesat lebih jauh dengan sang mantan selain bersua melepas rindu. Tetapi rupanya, ketidakpercayaan sang istri seolah telah mendarah daging. Hingga niatnya membeli motor terkesan dicurigai sang istri sebagai alasan saja untuk bisa sering-sering mengunjungi warung sang mantan.

Namun bagi Sutan, sikap anti damai sang istri, sudah menimbulkan reaksi yang kelewat batas. Apalagi, setelah pagi kemarin, ketika ia melihat istrinya berangkat ke pasar dengan menumpang motor Samri, sembari membawa sekarung jagung muda yang dengan senang hati diangkatkan Samri ke atas motor. Meski bagi orang lain itu hanya berarti seorang tukang ojek sedang membonceng seorang penumpang, tetapi bagi Sutan, adegan mereka berdua menyuratkan cinta yang terlarang.

Seketika, kecemburuan Sutan pun memuncak dan menyulut dendamnya. Seiring waktu, ia terus berjuang meredakan marahnya, dengan anggapan bahwa apa yang ia saksikan hanyalah buntut dari kecurigaan yang mengada-ada. Tetapi melihat Istrinya kembali menumpang di boncengan Samri sepulang dari pasar, akhirnya membuat ia mengalah pada amarahnya, dengan kayakinan bahwa mereka berdua memang telah berselingkuh.

Setelah mendapatkan keyakinan atas kecemburuannya, Sutan lantas fokus menyusun siasat untuk membuat Samri mampus. Ia ingin raut culas Samri, padam beserta nyawanya. Ia ingin membuat Samri mati secara senyap, tanpa harus beradu kata dan raga. Ia ingin membuat Samri lenyap dari muka bumi, sehingga hubungannya dengan sang istri perlahan-lahan membaik.

Untuk melancarkan aksinya, Sutan pun kembali tampil peduli terhadap tanaman jagungnya. Ketika malam tiba, ia beranjak ke kebun untuk menjaga tanaman itu dari garongan babi selama semalam suntuk, sekaligus mewujudkan rencananya untuk membunuh Samri. Ia berangkat sambil membawa serantang bubur jagung yang akan ia bagi separuhnya kepada Samri setelah menaburinya dengan bubuk racun.

Tak lama kemudian, Sutan pun tiba di area kebun. Ia lantas bertamu ke rumah ladang Samri yang tak jauh dari rumah ladangnya sendiri.

Akhirnya, di bawah temaram lampu pelita, setelah berbasa-basi tentang perkembangan tanaman jagung mereka, Sutan pun menyampaikan maksudnya, “Ini, Pak. Ada bubur jagung buatan istriku,” katanya, sambil menyodorkan semangkuk bubur itu. “Bapak ambillah sebagian.”

Sontak, Samri terbatuk atas keheranannya terhadap keramahan Sutan yang tiba-tiba.

Menyaksikan kekagokan Samri, Sutan pun segera menimpali, “Yang kubawa ke sini ternyata kebanyakan. Jadi, daripada mubazir, lebih baik kubagikan kepada Bapak.”

Samri kemudian lekas melayangkan senyuman yang kaku. “Kalau begitu, terima kasih banyak, Pak,” balasnya, lalu kembali melepas batuknya yang akut sebagai mantan perokok aktif.

“Aku yakin, Bapak pasti suka. Masakan istriku selalu enak,” tambah Sutan, seolah merasa itu adalah pemberitahuan yang perlu untuk menggugah selera Samri agar bernafsu menyantap bubur beracun itu sesegera mungkin.

“Ya. Sekal lagi, terima kasih, Pak,” balas Samri, sembari tersenyum simpul.

Sutan mengangguk ramah, dengan harapan iblis yang terpendam di dalam hatinya.

Sesaat kemudian, Sutan pun beranjak ke rumah ladangnya, meninggalkan Samri beserta nasib nyawanya beberapa jam ke depan.

Detik demi detik bergulir. Di atas rumah ladangnya, Sutan terus menerka-nerka, apakah Samri telah melahap bubur itu dan mati terkapar?

Tetapi jam demi jam berganti, Samri seolah-olah belum juga menyantap sajian maut itu. Sutan masih saja mendengar suara batuk dari lelaki itu di tengah keheningan malam, ketika dengkuran babi dan gonggongan anjing tak terdengar lagi seperti biasa.

Sampai akhirnya, kebosanan menunggu membuat Sutan jatuh terlelap, dan baru terjaga ketika hari sudah pagi. Dan tanpa terduga, di balik celah dinding kayu rumah ladangnya, ia masih sempat melihat Samri menapaki jalan setapak menuju ke perkampungan.

Sungguh, Sutan jadi tak habis pikir.

Maka dengan penuh tanda tanya, Sutan pun menuruni anak tangga untuk segera mencari tahu sebab-musababnya, hingga ia menemukan dua ekor anjingnya tergeletak mati di bawah kolong rumah ladangnya itu.

Lekas kemudian, dengan perasaan yang berkecamuk, Sutan melihat istrinya tengah mencabuti rumput di sela-sela tanaman jagung dengan tangan kirinya, dengan perban yang melilit di siku tangan kanannya yang tampak kaku.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar