Minggu, 07 Februari 2021

8. Kampung Halaman

 Bagian ke-8 dari cerita bersambung Setapak Berliku

Matahari menatap sisi bumiku. Pagi yang cerah untuk perasaanku yang temaram. Aku akan menelusuri jalan cerita masa kecilku untuk mengecap-ngecap kenangan di tengah timbunan tragedi yang memilukan. Aku akan bertualang pada rimba rahasia penuh duka yang telah lama menyesatkan arah damaiku.

Namun barangkali, rencana napak tilas itu baru akan kulakukan pada siang hari. Pasalnya, Fatih akan berada di luar untuk urusan penelitiannya sampai menjelang tengah hari. Karena itulah, aku yang masih buta tentang kota ini, mesti menunggu kepulangannya, sebab hanya dengannya aku akan bisa mencapai target kunjunganku dengan baik.

Di tengah kesendirian dengan waktu yang lowong, aku pun mancari-cari kesibukan untuk membunuh kebosanan. Setelah membaca koran pagi yang tergeletak di halaman, aku lantas menonton televisi sampai jenuh menyaksikan berita-berita tentang intrik politik yang murahan, hingga aku memutuskan untuk beranjak ke ruang markas dan membaca buku beberapa lama.

Lalu tiba-tiba, hasratku kembali menggebu untuk melanjutkan ketikan naskah novelku. Aku telah melalui hari kemarin yang menyenangkan, dan aku punya bahan cerita yang baru. Hingga akhirnya, untuk teman semarkas, aku merangkai kisah persahabatan sejati di antara para tokoh, sedang untuk Naya, aku mencipta seorang tokoh pengalihan rasa bagi si tokoh utama.

Seperti janjinya, menjelang tengah hari, Fatih akhirnya datang. Aku pun lekas mempersiapkan diri.

Tak lama berselang, kami berangkat menuju ke kuburan ibuku. Di sepanjang perjalanan, kerinduan-kerinduan tentangnya, seketika menyesaki ruang hatiku, seolah-olah aku akan pulang ke rumah dan menemukan dirinya. Sampai akhirnya, aku tiba di tempat peristirahatannya itu, di halaman belakang sebuah rumah kontrakan milik orang tua Fatih.

Perlahan-lahan, bersama kesedihan yang mendalam, aku pun turun dari mobil, kemudian melangkah ke sisi kuburan ibuku yang tampak bersih. Di sampingnya, di dekat nisannya, aku lantas menghantarkan doa-doa keselamatan untuknya. Dan seketika, air mataku menetes seiring dengan ingatan-ingatanku tentang kasih sayangnya kepadaku di masa dahulu.

Fatih lalu mengusap-usap punggungku. “Bersabalah.”

Aku pun berusaha menenangkan emosi.

Di dalam hati, aku lantas mengirimkan permintaan maaf karena baru sempat menziarahinya, sekaligus menyampaikan janji bahwa aku akan berjuang untuk menguak kebenaran di balik kematiannnya.

“Terima kasih telah menjaga dan merawat kuburan Ibuku selama ini,” kataku pada Fatih.

Ia pun mengangguk. “Mendiang Ibumu, sudah kuanggap seperti ibuku sendiri.”

“Terima kasih.”

Sesaat kemudian, aku pun meninggalkan kuburan ibuku dengan perasaan yang sedikit tenang setelah meluruhkan rasa rinduku.

Di atas roda-roda, kami lantas menuju ke bekas rumah-toko kami dahulu. Aku berangkat dengan rasa penasaran untuk menemukan keadaan-keadaan yang baru, juga dengan keengganan untuk kembali merasakan kenangan-kenangan yang lama. Tetapi hidup harus terus berjalan, dan aku ingin terbebas dari belenggu kegamangan.

Beberapa lama kemudian, aku dan Fatih pun tiba di kompleks pertokoan itu. Aku lalu melihat perubahan drastis pada tampilan bangunan-bangunan toko. Badan bangunan yang dahulu dibatasi lorong-lorong, kini tampak semakin besar setelah berhimpitan. Halaman tanah di depan toko yang dahulu dipenuhi pepohonan, kini ditutupi beton untuk tempat parkir para pengunjung yang tampak ramai.

Begitu pula dengan keadaan sebuah bangunan megah berlantai tiga di bekas tempat toko kami dahulu. Sebuah bangunan toko yang tampak menjual perkakas dan perabot rumah tangga. Sebuah bangunan toko yang perubahannya tak akan mampu melenyapkan kenangan-kenanganku di dalamnya.

Namun tiba-tiba, perasaanku berkecamuk atas ingatanku tentang peristiwa tragis yang terjadi 22 tahun yang lalu, dan aku jadi tak kuasa untuk segera memasuki bangunan toko itu. Untuk sementara, aku memilih berdiam diri saja di dalam kabin depan mobil, sambil berusaha menguatkan dan menenangkan hatiku.

“Aku tak menyangka kalau keadaan di sini ternyata sudah sangat berubah,” komentarku.

Fatih tersenyum-mendengus. “Wajarlah kau merasa begitu. Dua dekade telah lampau, dan kau baru ke sini lagi.”

Aku mengangguk maklum. “Tetapi perkembangan di kawasana ini, juga berarti bisnis pertokoan dan penyewaan gedung milik keluargamu, juga semakin berkembang, kan?”

Ia tertawa pendek, sambil menggeleng. “Bisnis tidak akan pernah berkembang baik di wilayah dengan pejabat yang korup, termasuk di sini. Terlalu banyak pungutan-pungutan tetap yang mesti dikeluarkan untuk tetap aman di tengah perputaran roda keungan bisnis yang tidak pernah stabil. Entah dengan nama retribusi, tagihan, iuran, sumbangan, sedekah, dan sebagainya.”

“Bukankah pungutan-pungutan liar semacam itu semestinya diberantas oleh aparat?”

“Seharusnya begitu, tetapi kenyataannya sulit,” katanya, dengan raut jengkel. “Berbisnis di sini memang bebas dan aman untuk siapa saja, tanpa peduli warga pribumi atau warga keturunan, asalkan tagihan-tagihan tidak resmi dari para tukang palak suruhan para pejabat, tetap dulunasi.”

Aku pun jadi prihatin mendengar penuturannya.

“Kau tahu Pak Timan, kan? Ayahnya si Topan, musuh masa kecil kita itu?”

Aku mengangguk.

“Sekarang dialah pejabat kepala dinas pendapatan daerah di kota ini, setelah ia berkontribusi besar dalam pamenangan calon gubernur dari pihak opisisi pemerintah di kontes pilkada ibu kota negara ini,” terangnya. “Dan sebagai salah satu pemilik bangunan di wilayah ini, ia tidak saja melakukan aksi korupnya untuk mendapatkan keuntungan illegal dari pemilik dan penyewa kios, tetapi juga untuk membuat usahanya tidak tertandingi.”

“Jadi, bagaimana dengan toko elektroniknya yang bangkrut dahulu?”

“Itu semakin berkembang sejak toko orang tuamu hancur. Apalagi sekarang. Toko itu merupakan satu-satunya toko barang-barang elektronik di kompleks pertokoan ini, dan tak mungkin ada yang bisa menyainginya. Kita pun bisa memahami kenapa bisa begitu.”

Aku mengangguk paham. “Lalu, apa kabar dengan Topan?”

“Entahlah. Sekian lama, aku tak tahu apa-apa tentang kabar anak itu. Terakhir yang aku tahu, ia ikut dengan Ibunya sejak kedua orang tuanya bercerai, saat ia masih duduk di bangku kelas 2 SMP.”

Hening beberapa lama.

Fatih kemudian bertanya, “Apa kau belum mau menengok ke dalam? Aku bisa mengantarmu kalau kau mau.”

Aku terus berpikir. Mencoba menimbang-nimbang kesanggupan batinku untuk kembali mengulas kenangan pahitku di masa lampau. Hingga akhirnya, demi mendamaikan perasaanku dengan kenyataan, aku pun menguatkan diriku. “Baiklah. Ayo.”

Kami lalu berjalan masuk ke dalam toko yang ramai.

Melihat kedatangan kami, penjaga toko yang mungkin juga pemilik toko, tampak melayangkan senyuman dan salam. Fatih lalu menghampirinya, dan berbincang-bincang. Barangkali menjelaskan tentang diriku dan maksud kedatanganku di toko ini.

Tak lama kemudian, sang pemilik toko yang bermata sipit itu menghampiriku.

Kami bersalaman.

“Aku turut berduka atas apa yang terjadi dengan kau dan keluargamu,” katanya, seolah merasakan betul perasaanku sebagai warga keturunan.

“Terima kasih,” kataku, lalu melayangkan senyuman. “Semoga peristiwa semacam itu tidak terjadi lagi.”

“Semoga.”

Aku dan Fatih lantas melangkah ke sisi belakang ruangan, ke sisi kenangan pahitku. Hingga menapak aku di tengah bangunan, di titik ayahku terkapar setelah dihantaman para berandal. Aku terus melangkah ke arah belakang, menyusuri jalur yang menyimpang ke sebelah kanan. Lalu menapaklah aku ke ruang bekas gudang, tempat ibuku ditemukan dalam keadaan mengenaskan.

Seketika, kesedihanku memuncak. Air mataku terjatuh lagi mengingat saat-saat terakhir aku melihat ibuku diseret masuk ke dalam ruangan itu, dan aku tak pernah tahu apa yang terjadi setelahnya, selain bahwa ia telah tiada.

“Bersabarlah,” pesan Fatih.

Aku mencoba menguatkan hati di tengah tangisan yang meluruhkan kepedihanku. Potret-potret membahagiakan dan menyedihkan tentang ibuku, lantas beradu di dalam benakku. Sampai akhirnya, aku jadi tak tahan membendung gejolak perasanku, lalu memutuskan untuk keluar dari ruang toko itu dengan langkah buru-buru.

Aku lalu masuk ke dalam mobil dan berusaha menenangkan diri.

Fatih menyusulku tanpa kata-kata, seolah mengerti bahwa aku hanya butuh waktu untuk berdamai dengan kekalutanku sendiri.

Beberapa lama kemudian, emosiku stabil kembali.

Sebagaimana rencana, kami pun menuju ke rumah Fatih. Aku hendak melepas kerinduanku kepada ayahnya yang sangat baik dan berjasa untuk kehidupan kami dahulu, sekaligus mengulik cerita yang ia tahu tentang apa yang terjadi di balik peristiwa kelam yang merenggut nyawa ibuku.

Tak lama kemudian, ketika malam menjelang, kami pun sampai di rumah orang tua Fatih. Sontak saja, Pak Muksin yang kini tampak semenua ayahku, lekas menyambut dan memelukku.

“Bagaimana dengan keadaan Ayahmu, Nak?” tanyanya seketika.

“Ia baik-baik saja, Paman. Ya, tetapi karena faktor usia, ia pun mulai terserang beragam penyakit yang kukira tak terlalu membahayakan,” kataku.

“Syukurlah kalau begitu.”

Untuk beberapa saat, kami berdua pun saling bercerita tentang kehidupan kami selama berada di tepat yang terpisah. Setelah itu, aku mulai mengulik pengetahuannya tentang selubung gelap yang menyelimuti peristiwa kematian ibuku.

“Apakah Paman tahu orang-orang yang menyerang toko kami dahulu?”

Ia menggeleng. “Aku sama sekali tak mengenal wajah-wajah mereka. Tak seorang pun. Mereka sepertinya bukan penduduk yang tinggal di sekitar sini.”

“Lalu, apa tujuan mereka ke sini? Apakah dari tempat yang lain, mereka memang hanya ingin menjarah?”

“Aku kira, itu memang tujuan utama mereka,” katanya. “Di tengah situasi kaos pada waktu itu, ketika hukum tak lagi bekerja, dan keadaan ekonomi memang sedang memburuk, orang-orang itu memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan secara cuma-cuma.”

“Tetapi kalau urusannya soal materi saja, kenapa harus dengan membakar toko kami? Kenapa harus dengan menghajar Ayahku? Kenapa harus dengan memperlakukan Ibuku secara biadab? Kenapa kekejaman itu hanya menimpa kami dan tidak dengan keluarga pada toko yang lain?” tanyaku, untuk segenap kebingunganku.

Ia terdiam, seolah bingung pula.

“Aku ingat waktu itu, Ayahku telah mempersilahkan para perusuh untuk mengambil apa saja yang mereka mau, tetapi mereka malah ngotot melakukan perusakan, hingga menjahati kami. Kenapa harus begitu?”

“Entahlah. Aku hanya bisa mengira kalau itu buntut dari sentimen etnis,” tutur, setengah yakin.

“Tetapi kenapa para penyerang yang notabene bukan penduduk di sekitar sini, bisa tahu tentang identitas keluargaku? Kenapa mereka bisa tahu tentang latar belakang ibuku?” tanyaku lagi. “Pada waktu itu, Ayahku pun telah menampakkan diri dan menegaskan kepada para perusuh bahwa toko kami adalah milik pribumi, tetapi mereka tetap saja berbuat keji.”

Ia malah balik bertanya, “Apa kau punya prasangka lain?”

“Aku menduga, ada orang yang sengaja mengorbankan kami di tengah kekacauan itu. Ada orang yang tidak suka dengan keberadaan kami dan ingin mengusir kami dari lingkungan ini.”

“Maksudmu?”

“Apa bapak mengenal Gopar? Lelaki yang selalu nongkrong di pojok kompleks pertokoan dan bermain kartu dengan kawan-kawannya?” tanyaku, memaksudkan seorang lelaki bermasker dengan tato di pergelangan tangan kanannya, yang telah menyeretku keluar dari ruang toko ketika beberapa berandal memberlakukan ibuku entah bagaimana.

Ia menanggguk. “Memangnya kenapa?”

“Saat kejadian itu, ia ada di antara para berandal. Ia mengenakan masker, tetapi aku menandai tato di pergelangan tangan kanannya.”

Ia tampak terkejut. “Aku tak tahu di mana keberadaannya. Sudah lama ia tak muncul di sekitar sini. Tetapi, sepanjang yang kutahu, setelah kejadian itu, ia sering ikut dengan Pak Timan, ayah Topan.”

Seketika, praduga awal pun berkembang di dalam benakku.

“Apa mungkin Pak Timan ada kaitan dengan peristiwa kelam itu?” tanyanya, tampak curiga.

“Entahlah. Aku tak ingin menuding tanpa dasar yang meyakinkan.”

Ia mengangguk-angguk dengan raut penuh tanya.

Kami pun larut dalam menungan masing-masing.

Malam terus bergulir.

Setelah bersantap sembari mengobrolkan kesibukan kami di hari-hari kini, aku dan Fatih lantas pulang dengan sebuah tanda tanya besar.

Sesampainya di rumah, hanya tampak Luny yang sedang khusyuk menonton film di layar televisi.

Aku bergegas mandi untuk menyegarkan tubuhku. Setelah itu, aku lekas berbaring di atas kasur untuk menyambut lelap demi meluruhkan kesedihanku di hari yang sendu ini.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar