Tampilkan postingan dengan label Cerbung: Setapak Berliku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung: Setapak Berliku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2021

1. Malam Perpisahan

 Bagian pertama dari cerita bersambung Setapak Berliku

Setiap hidup adalah kisah, dan setiap orang adalah pemeran utama.

Waktu sepanjang usia adalah alur yang merajut benang-benang cerita dari detik pertama hingga detik terakhir. Ruang sejauh langkah adalah latar yang mewarnai setiap adegan dari jejak kepergian hingga jejak kepulangan. Sedang setiap anak manusia adalah pelakon yang berjuang menjalani takdirnya dari halaman pembuka hingga halaman penutup.

Bagi beberapa orang, waktu adalah alur acak dan ruang adalah latar yang suram. Mereka hidup untuk merangkai cerita dengan konflik-konflik cacat yang tak sepangkal dan seujung. Begitu pula tentang kisah hidup ayahku, Muslim, dan nenek angkatku, Dumi, setelah mereka terusir dari tanah air mereka sekitar 54 tahun yang lalu.

Selama bertahun-tahun, aku telah mendengar kisah lengkap mereka secara langsung. Aku bisa membayangkan ketakutan mereka di saat itu, di tengah bahaya yang mengancam nyawa. Aku bisa merasakan suasana yang mencekam sepanjang peristiwa kelam yang penuh darah itu. Sampai akhirnya, detail-detail kisah itu tersusun rapi di dalam benakku:

Kala itu, menjelang tengah malam di bawah langit yang mendung, ayahku dan kakek-nenekku, tengah tertidur di bilik kamar yang terpisah. Namun urine yang mendesak di kantong kemihnya, telah memaksa ayahku terbangun. Lalu entah bagaimana, di tengah kesunyian dan kepengapan udara, ayahku terjaga lama dan sukar terlelap kembali.

Hingga perlahan-lahan, ayahku mendengar desisan dari arah pepohonan di samping kamarnya. Seperti suara tapakan makhluk yang menyusuri dedaunan dan menginjak ranting-ranting kering. Suara itu kemudian lenyap, lalu disusul suara detakan berkali-kali pada daun jendela kamarnya.

Sontak, ia terperanjat dan ketakutan. Segala rupa hantu dan binatang buas menyeruak di dalam benaknya. Lekas ia berbalik badan dan bergeser ke tepi kiri kasurnya, lalu meringkuk dan menyelubungi tubuhnya dengan selimut.

Terdengarlah suara bisikan penuh tekanan. “Ke sini! Cepat!”

Ayahku bergidik, lantas menyumpal telinganya dengan telapak tangan.

Bisikan itu kembali berulang. Sayup-sayup, suara itu terdengar melafalkan sebuah nama, “Hai, ini aku, Nori!”

Ketakutan ayahku kemudian berubah menjadi rasa penasaran. Ia lalu mengintip pada sela-sela daun jendela dan melihat sekerat wajah bercahaya yang seketika membuat ketakutannya memuncak lagi. Ia pun lekas bersembunyi kembali di dalam selimutnya.

“Hai, Muslim, kenapa takut?” bisik suara itu lagi.

Berkas-berkas cahaya kemudian menerobos ke dalam dinding kamar ayahku, seperti sorotan lampu senter. Keberaniannya pun kembali pulih untuk menilik lagi ke arah jendela. Lamat-lamat, ia pun menerka wajah seorang perempuan, teman sepermainannya, teman sekelasnya di kelas 2 sekolah dasar, Nori.

“Kau mengagetkan aku saja!” kesal ayahku. “Ada apa kau datang malam-malam begini?”

Nori lalu menegakkan jari telunjuk di depan bibirnya. Sebuah isyarat agar ayahku tak berisik. “Kau dan orang tuamu dalam bahaya!” katanya, dengan napas yang memburu.

Ayahku sontak jadi bingung. “Ada apa?” tanyanya, dengan nada suara yang pelan.

“Bangunkanlah Ayah dan Ibumu, lalu cepat pergi dari rumah ini!”

“Jangan menakut-nakuti aku! Ada apa?”

“Cepatlah! Orang-orang akan datang menyerbu kalian!”

“Siapa?” Ayahku semakin tak mengerti.

“Kau dengar itu?”

Mereka pun terdiam.

Ayahku lalu mendengar suara kerisik yang terdengar semakin berisik. Seperti suara kaki banyak orang yang bergegas menuju ke depan rumahnya.

Kekhawatirannya pun timbul dan berkembang.

“Cepat! Bangunkan Ayah-Ibumu!” perintah Nori.

Dengan pikiran dan perasaan yang sengkarut, Ayahku pun bergegas menuju kamar kakek-nenekku dengan langkah senyap. Ia lalu memandangi sisi depan rumah lewat tirai lorong yang memisahkan kamarnya dengan kamar kakek-nenekku. Ia mesti melewati tirai itu untuk masuk ke pintu kamar kakek-nenekku yang menghadap ke sisi depan rumah.

Namun seketika pula, berkas-berkas cahaya senter dari halaman, menyorot masuk ke dalam rumah lewat celah dinding papan yang berjarak-jarak. Ayahku pun lekas menepi dan bersembunyi di sudut tirai. Ia lalu mendengar kesu-kesi segerombolan orang yang kemudian menggedor-gedor daun pintu dengan sangat keras.

Gertakan-gertakan memerintah pun terdengar berulang-ulang. “Keparat! Keluar kalian!”

Rasa takut akhirnya membuat tubuh ayahku mematung.

Gedoran semakin keras.

Ayahku lantas memaksa diri untuk melangkah mundur.

Dentuman gaduh kemudian terdengar, seolah daun pintu telah tumbang dan menimpa lantai.

Ayahku pun membalik badan dan bergegas keluar melewati pintu belakang rumah yang kemudian ia tutup kembali. Tiba-tiba, ayahku terperangah melihat siluet sosok yang bergerak jongkok mendekat ke arahnya. Namun ayahku lekas menerka sosok itu sebagai teman kecilnya.

“Ke sini! Cepat!” titah Nori.

Mereka berdua lalu bersembunyi di dalam selubung terpal, di bawah tangga turunan yang pendek.

Di dalam gelap itu, ayahku pun meringkuk ketakutan, sembari mendengar suara-suara dari dalam rumah.

“Amankan mereka berdua!” perintah seseorang di antara gerombolan. “Ikat!”

“Ada apa ini?” tanya kakekku yang tidak tahu alasan atas kejadian yang dialaminya.  

“Geledah! Cepat!” titah seseorang itu lagi, yang seolah bertindak sebagai komandan.

Sesaat kemudian, engsel pintu belakang pun berderit. Tiga orang kemudian menuruni tangga dan menyenter segenap penjuru di sisi depan ayahku.

“Sialan! Ke mana perginya anak itu?” gerutu seseorang di antaranya.

Suara berat sang komandan pun kembali menggelegar. “Ini apa, Bangsat? Berani-beraninya kau menyimpan bendera terkutuk semacam ini di lingkungan kita!”

Tangis nenekku pun pecah di antara sumpah serapah yang bertubi-tubi.

“Bendera itu bukan milik kami, Pak,” sangkal kakekku.

“Diam!” bentak si komandan. “Kalau ini bukan punyamu, kenapa bisa ada di rumahmu, Bangsat!”

Orang-orang lalu mengutuki kakek dan nenekku silih berganti.

Suara sang komandan kembali menyela, “Bawa anaknya ke sini! Sekalian kita selesaikan malam ini juga!”

Ayahku pun jadi sangat ketakutan.

“Kita harus mendapatkan anak kecil itu! Kalau tidak, dewasanya nanti, pasti berbahaya untuk kita semua,” kata seseorang di antara tiga orang yang berseliweran di depan ayahku.

Seorang yang lain lalu mengungkapkan keputusasaannya, “Tetapi sepertinya, anak itu sudah tidak ada di sekitar sini.”

“Kita lapor saja dulu, kemudian menunggu perintah selanjutnya,” timpal orang yang ketiga.

Ketiga orang itu lalu kembali masuk ke dalam rumah.

Lamat-lamat, ayahku mendengar seseorang memberi laporan, “Anak itu sepertinya sudah tak ada di sekitar sini. Kami telah memeriksa semua sisi, tetapi kami tak menemukan keberadaannya.”

“Cari lagi, sampai dapat!” sergah sang bos.

Ketakutan ayahku pun semakin menjadi-jadi.

“Cepat! Ikut aku!” bisik Nori, lalu menarik tangan ayahku menuju ke arah serong kanan, ke tempat penampungan air yang tak terawat di tengah kebun.

Ayahku turut saja padanya.

Lekas kemudian, Nori masuk ke dalam sebuah drum. “Kau masuklah cepat!”

Ayahku pun menyusul masuk ke dalam tong besi yang berisi air hingga sepertiga bagian itu, sampai sepahanya, lalu menutup kembali bukaan atasnya dengan dua buah papan.

Mereka lalu berdiam diri sambil mengamati keadaan luar melalui lubang-lubang drum yang tercipta akibat korosi.

Sesaat kemudian, ayahku pun membisikkan tanya atas rasa penasarannya. “Apa yang terjadi?”

“Warga menuduh kalian sebagai komunis!”

Ayahku pun terperanjat. Ia tak habis pikir bagaimana bisa mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang beringas dan biadab, sebagaimana gambaran umum di dalam kepalanya berdasarkan cerita-cerita yang merebak di tengah masyarakat waktu itu. “Kenapa mereka menuduh kami seperti itu?”

Nori menghus.”Ceritanya panjang. Suatu saat, aku akan menceritakannya kepadamu.”

Tiba-tiba, gerombolan tamu tak diundang itu keluar melalui pintu belakang rumah. Kilasan cahaya senter di antara mereka, membuat ayahku bisa menaksir sedikit wajah. Beberapa ia kenali, beberapa juga tidak.

“Ayo cepat! Berkumpullah!” kata pemilik suara yang sedari tadi memerintah, seorang lelaki dengan kain serban yang terurai menutup kepalanya, yang lalu ia sampirkan menutup sisi bibir dan hidungnya.

Mereka lalu melingkar di bawah pohon mangga, sedang kakek-nenekku meringkuk di tengah-tengah mereka dengan kedua tangan terikat di pinggul belakang.

“Malam ini juga, kita harus menyelesaikan segala perkara tentang keluarga terkutuk ini,” kata sang komandan. “Kita sebaiknya membagi kelompok. Cukuplah aku dan sepuluh orang yang mengurusi dua orang bangsat ini. Selebihnya, berpencarlah untuk mencari anak sialan itu.”

“Selamatkan dirimu, Nak!” seru Kakekku seketika, hingga sepakan kaki menghantam perutnya.

“Anakku…!”  seru Nenekku pula, sambil menangis, hingga tamparan mendarat di pipinya.

Ayahku pun menilik kakek-nenekku yang tak berdaya di tengah hardikan puluhan orang yang kesetanan. Tangis ayahku pun lepas di tengah kekhawatiran atas keadaan mereka berdua. Tapi Nori seketika mendesis, dan ayahku lantas meredam kesedihan, kemarahan, dan ketakutannya sendiri.

“Anak itu harus ditemukan!” titah sang komandan. “Bagaimana pun, dia punya darah komunis. Besarnya nanti, akan sangat berbahaya bagi anak cucu kita.”

Tanpa interupsi, perintah itu pun terlaksana. Bebebapa orang menuruni jalan setapak yang mengarah ke sungai, sambil menyeret kakek-nenekku seperti hewan liar yang dipaksa menuju medan penjagalan. Beberapa lainnya, mungkin belasan orang, berpencar menelusuri semak belukar dan pepohonan untuk mencari keberadaan ayahku.

Selang beberapa menit, satu per satu dari para pencari ayahku kembali ke titik kumpul. Mereka lantas menuturkan kekesalan sebab tak kunjung menemukan keberadaan ayahku, atau setidaknya menemukan jejaknya.

Tiba-tiba, seseorang di antara mereka berjalan ke arah persembunyian Nori dan ayahku, dan seketika membuat keduanya keder. Namun beruntung, lelaki itu berhenti di sebuah pohon yang berjarak sekitar lima meter dari drum persembunyian itu.

Terdengarlah desisan, seperti bunyi air yang menimpa dedauanan. “Anak sialan itu bikin repot saja!” kesal sang lelaki yang tampak menangani kancing celananya.

Seseorang yang lain lalu datang menyusul. “Kalau buang air, ceboklah baik-baik! Di situ ada air.” pesannya, sambil menuding drum tempat persembunyian Nori dan ayahku.

“Apa gunanya air dibasuh dengan air?” balas seseorang yang diberi nasihat, lalu melangkah kembali ke titik kumpul.

Lelaki berjaket kupluk itu hanya berdecak-decak sambil terus melangkah ke arah Nori dan ayahku. Sampai akhirnya, ia berhenti tepat di samping drum.

Mereka berdua pun jadi sangat ketakutan.

Sesaat kemudian, lelaki itu bermaksud menyeruk air untuk urusan hajatnya, sampai gayung yang ia ayunkan membentur kepala ayahku. Lelaki itu sontak menyenter isi drum dan mendapati Nori dan ayahku sedang mendekam ketakutan.

“Kalian?” kata lelaki itu, berbisik kaget.

Ayahku pun menengadah, hingga ia melihat satu wajah seorang pemuda desa yang ia kenal baik, Kahar. Seorang pemuda yang aktif dalam kegiatan keagamaan.

Kahar lalu mendesis, kemudian berbisik pelan, “Jangan takut. Kalian aman.”

Ayahku pun mengembuskan napas lega. Begitu pula Nori.

“Aku akan mengarahkan orang-orang itu untuk segera pergi dari sini,” bisiknya, kemudian menyela dengan batuk yang dibuat-buat. “Setelah keadaan aman, segeralah menyelamatkan diri.”

“Ke mana?” tanggap ayahku, lirih.

Kahar terdiam.

“Kami akan ke rumah Ibu Dumi,” kata Nori, merujuk pada seorang perempuan berumur kisaran kepala tiga yang tinggal seorang diri di satu rumah yang menyepi.

“Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Kahar.

“Dia selalu baik kepada kami,” terang Nori. “Dia pasti mau membantu.”

“Baiklah!” respons Kahar. “Berhati-hatilah!” Ia lalu berbalik dan melaksanakan urusan gentingnya.

Tak lama berselang, Kahar pun beranjak, kemudian berkata di tengah-tengah langkahnya, “Aku rasa, anak itu sudah tak ada lagi di sekitar sini. Kalau pun ada, sedari tadi, dia pasti melakukan tindakan ceroboh yang membuat kita menemukannya.”

“Ya. Barangkali ia sudah dimangsa binatang buas,” balas seseorang di antara para pencari.

“Kita sebaiknya menyusul ke sungai dan meminta petunjuk selanjutnya,” kata Kahar.

“Sebaiknya begitu,” respons seseorang yang lain. “Semoga kita belum melewatkan prosesi penting untuk kedua orang sialan itu.”

Perlahan-lahan, mereka pun menjauh, hingga suara mereka lenyap.

Ayahku lantas melepas tangis yang pelan dan tertahan-tahan atas kecemasan yang tak terkira tentang nasib kekek-nenekku.

“Tenang! Kau baik-baik saja sekarang!” kata Nori, berusaha menenangkan perasaan Ayahku.

“Tetapi bagaimana dengan Ayah dan Ibuku? Bukankah seharusnya kita melakukan sesuatu untuk menolong mereka?” tanya Ayahku, dengan suara gagu dari mulut yang menggigil.

“Bagaimana caranya? Kalau cuma kita berdua, tak mungkin bisa,”balas Nori. “Kalau kau bertindak bodoh, kau malah membahayakan dirimu sendiri, juga diriku.”

Ayahku pun mengamini pendapatnya.

Sesaat kemudian, keduanya pun keluar dari drum air dengan badan yang nyaris basah seluruhnya. Mereka lalu menjejaki jalur yang meyimpang dari jalan setapak menuju ke rumah Ibu Dumi. Mereka menapaki alur yang penuh dengan rerumputan liar dan patahan-patahan kayu. Sampai akhirnya, kaki ayahku tersandung. Ia terjatuh dan lututnya teriris batu cadas.

“Hati-hati!” kata Nori.

Ayahku lantas menyodorkan tangannya. “Sepertinya berdarah.”

Nori pun menyorot tangan ayahku dengan senter yang sedari tadi tak ia nyalakan. Kemudian di tengah kegelapan, ia lalu membalut luka ayahku dengan kain tudung yang sedari tadi ia kenakan.

“Ayo cepat!” titah Nori kemudian.

Mereka melangkah lagi. Menerobos halang-rintang tanpa bersuara.

Sampai akhirnya, mereka tiba di rumah Ibu Dumi.

Nori lalu mengetuk pintu. “Ibu…,” sahutnya, beberapa kali, dengan suara pelan.

Sesaat kemudian, pintu pun tersibak. Ibu Dumi lantas menerawang wajah mereka. “Kalian?”  terkanya, dengan suara tergagap. “Masuklah!”

Mereka pun turut, lalu mengamankan diri di sebuah bilik dengan cahaya pelita yang temaram

“Apa yang terjadi?” tanya Ibu Dumi.

“Orang-orang menyergap rumahnya,” jelas Nori, sembari menuding ke arah ayahku. “Mereka menangkap Ayah dan Ibunya, dan ia pun dalam pencarian.”

“Kenapa bisa?”

“Orang-orang menuduh mereka sebagai komunis.”

Ibu Dumi terperanjat. “Siapa orang-orang itu?”

Nori menunduk dan terdiam.

“Termasuk Ayahmu?” tebak Ibu Dumi.

Nori pun mengangguk lemah dengan raut muram.

Ibu Dumi lantas merangkul dan mengusap-usap lengan ayahku. “Tenanglah, Nak. Kau aman sekarang.”

Ayahku mengangguk-angguk dengan perasaan takut yang perlahan mereda.

Hening beberapa saat.

“Aku harus pulang,” kata Nori kemudian. “Aku takut sampai di rumah setelah Ayahku sampai di sana. Itu bisa membuatnya curiga.”

Ibu Dumi mengusap-usap rambut dan mengecup dahi Nori. “Semestinya, kau bersama aku saja, Nak.”

Nori menggeleng. “Itu terlalu berbahaya. Bisa-bisa Ayahku tahu kalau aku terlibat dalam pelarian Muslim.”

Ibu Dumi mengangguk lemah, tanpa berkata-kata. Ia lalu menyeka air matanya.

Sesaat berselang, Nori pun melangkah meninggalkan rumah Ibu Dumi.

“Hati-hati, Nak,” pesan Ibu Dumi, sambil mengelus-elus pipi Nori.

“Ibu tak usah khawatir.”

Ibu Dumi pun mencium dahinya.

“Jaga dirimu,” pesan ayahku.

Nori mengangguk tegas. “Kau juga!”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Nori pun melangkah pergi, sembari meninggalkan tudungnya yang masih melingkar di lutut ayahku.

Beberapa saat kemudian, hujan pun turun, sangat deras.

Waktu terus bergulir.

Ketika langit masih gelap, kala bumi masih basah, Ayahku dan Ibu Dumi akhirnya menuju ke kota untuk menemui Tian, seorang lelaki, teman dekat Ibu Dumi, yang bekerja di negeri seberang dan sedang menikmati masa liburnya di tanah air. Dan pada hari itu juga, mereka pun beranjak ke sebuah negeri pelarian, di satu negeri yang damai.

 

2. Pelarian Kedua

 Bagian kedua dari cerita bersambung Setapak Berliku

Perihal yang pernah, tak akan menjadi tiada. Ia hanya berpindah ke dalam dimensi yang lain; ke dalam ingatan-ingatan. Tetapi waktu memang terlalu panjang untuk ingatan manusia yang pendek. Begitu pula bangsa kami yang melupakan, atau dipaksa melupakan sejarah kelam masa lalu. Mereka jadi hanya peduli masanya sendiri, sampai mati dengan mewariskan tanda tanya. 

Yang telah, bukan pula berarti tamat. Kisah yang lama dianggap selesai, mungkin hanya karena tertutupi atau sengaja ditutupi oleh kisah yang baru. Begitu pula kisah kelam nenek angkat dan ayahku yang terus ditumpuki oleh tragedi-tragedi yang tercipta setelahnya, sebagai buah dari upaya penguasa rezim untuk membendung pertanyaan atas sejarah yang belum tamat.

Sejak peristiwa berdarah yang memaksa nenek angkat dan ayahku menjadi pelarian, pemerintahan baru itu pun berdiri di negeri kami, di atas pondasi tanda tanya tentang kebenaran di balik sejarah pendiriannya. Namun bertahun-tahun lamanya, pemerintahan itu bertahan dan terus dibangun di atas kerapuhan, dengan memaksa setiap orang untuk menerima kebenaran tunggalnya.

Tetapi akhirnya, kekuasaan otoriter itu berusaha berdamai dengan sejarah masa lalu untuk meredam gejolak-gejolak protes di usianya yang tua. Rezim itu mulai melakukan upaya-upaya rekonsiliasi dengan orang-orang pelarian. Mereka yang terbuang dan dicap orang-orang terlarang, diperbolehkan pulang untuk menjadi warga negara dengan hak-hak yang terbatas.

Dengan kebenaran yang dikubur hidup-hidup, penguasa rezim otoriter berharap bisa menyembuhkan luka masa lalu dengan mempermainkan sejarah. Mereka memberikan pemaafan bagi orang-orang pelarian, seolah-olah merekalah yang sejatinya benar. Mereka memberikan pengampunan, seakan-akan mereka adalah orang-orang yang suci.

Sampai akhirnya, bersama kisah kelam masa lalu yang tetap mengabadikan tanda tanya, ayahku memutuskan untuk pulang. Ia pulang sambil membawa harapan untuk kembali menyusun dan melanjutkan kehidupannya yang telah hancur berkeping-keping. Ia pulang dengan tekad yang kuat untuk menemukan kembali kedua orang tuanya, dalam keadaan yang entah bagaimana pun.

Dan tentu saja, ayahku juga pulang dengan harapan untuk menemukan Nori, teman masa kecilnya, yang telah menyelamatkan nyawanya. Ia sadar bahwa kenyataan akan sangat berbeda, bahkan nyawanya mungkin telah melayang secara tragis andai kata sang gadis kecil tak menjadi peri penolongnya di malam itu.

Apalagi, rindu untuk Nori, juga mendera nenek angkatku, seolah Nori pun telah melakukan kebajikan yang besar untuknya. Ia yang tak bisa pulang karena menjaga Tian, suaminya yang sakit-sakitan, juga karena raganya sendiri yang sudah rentan, bahkan meminta dengan sangat agar ayahku menemukan dan membawakan Nori untuknya.

Tetapi keadaan di tanah air ternyata tidak jauh berubah. Di bawah pemerintahan otoriter yang menyamarkan sejarah menggunakan tafsir tunggal yang ditegakkan dengan hukum dan senjata, orang-orang masih memperlakukan para mantan pelarian sebagai binatang. Bahkan ketika mereka terbunuh dengan cap merah itu, orang-orang tak akan yang peduli, apalagi menangisinya.

Agama telah menjadi tameng yang kuat selama dekade pemerintahan rezim otoriter. Agama telah menjadi stempel untuk membenarkan tindakan sewenang-wenang kepada mantan orang-orang pelarian. Dan tak ada lagi yang bisa melawan pemerintah yang telah berlindung di balik agama, sebab melawan mereka tidak saja melawan negara, tetapi juga melawan Tuhan.

Karena itu pula, penelusuran terselubung yang dilakukan ayahku selama bertahun-tahun, tak juga menemukan pertanda keberadaan kakek-nenekku, juga Nori. Ia telah mendatangi kampung halamannya, lalu menyamar untuk mencari kesaksian, tetapi tak ada hasil. Pasalnya, menjawab dan bertanya tentang kebenaran sejarah itu, sangat membahayakan bagi jiwa dan raga.

Akhirnya, petunjuk yang didapatkan ayahku di tanah kelahirannya sekadar jejak-jejak yang kehilangan arah. Nori yang merupakan saksi mata, telah berpindah entah ke mana beberapa tahun sebelum kedatangannya. Begitu pula Kahar, seorang saksi mata lainnya, yang malah telah berpindah entah ke mana belasan tahun sebelum kedatangannya.

Di tengah keputusasaan, ayahku pun mencoba menjalani hidup seiring kenangannya yang memilukan. Ia berusaha membangun kehidupan yang baru, meski harus dengan menidurkan masa lalunya yang akan terus menghantui. Maka pada tahun ketiga kepulangannya, ia pun menikah dengan Lina, keluarga Tian, kakek angkatku.

Kehidupan baru akhirnya dimulai. Ayah dan ibuku menggantungkan hidup dari hasil berdagang. Mereka mengelola toko pakaian milik orang tua ibuku. Namun sebagai sepasang suami-istri, mereka ingin pula hidup secara mandiri. Mereka lantas menyewa sebuah bangunan berlantai dua di kawasan perkotaan, dan mulai merintis sebuah toko elektronik yang sekaligus menjadi rumah.

Lambat laun, usaha toko orang tuaku berkembang baik dan membuat mereka hidup dengan sangat berkecukupan. Orang-orang perlahan mengenal toko itu sebagai pusat penjualan alat-alat elektronik yang lengkap. Persediaan pun jadi laku terjual, dan kelarisannya mampu menyaingi penjualan toko-toko elektronik yang lain di kawasan perdagangan itu.

Di tengah kehidupan rumah tangga orang tuaku yang mapan, aku akhirnya terlahir ke muka bumi. Aku hadir di dalam kehidupan baru yang berada di antara masa lalu dan masa depan; di antara arah garis keturunan ibuku yang terang, dan arah garis keturunan ayahku yang gelap. Aku hadir untuk mencari jalan pulang sekaligus jalan pergi.

Pada awal-awal kehidupan, hingga umur 6 tahun, hidupku terasa baik-baik saja. Aku hidup dengan kecukupan materi di kawasan perkotaan yang semakin ramai. Toko elektronik orang tuaku berkembang pesat dan menjadi yang terbaik. Bahkan dengan persaingan ekonomi yang berjalan apa adanya, toko itu telah menumbangkan eksistensi beberapa toko elektonik di sekitarnya.

Namun kemapanan ekonomi orang tuaku, tak membuat kehidupan kanak-kanakku jadi lebih semarak. Sebagai anak dari ayah-ibu yang terbilang pendatang di kawasan itu, aku terkungkung dalam kehidupan sosial yang kaku, serta jauh dari keakraban keluarga besar. Aku hanya punya Fatih, anak dari pemilik bangunan yang disewa oleh orang tuaku, sebagai teman baikku.

Keberadaan Fatih seorang, berhasil membuatku tak merasa kesepian. Kami melakoni segala macam permainan, berdua saja, tanpa merasa bosan. Kami berkawan sangat erat dalam segala urusan kanak-kanak, seerat perkawanan orang tua kami dalam urusan bisnis. Karena itu pula, kami sudah seperti dua orang saudara kandung.

Tetapi di sisi lain, keakraban kami membuat Topan, anak seorang pemilik toko elektronik yang nyaris bangkrut, menjadi tidak senang. Sikapnya itu bahkan menurun pada anak-anak sepantaran kami di kawasan pertokoan itu, yang selamanya terlihat patuh pada Topan yang seolah sebagai bos. Mereka semua tampak tidak senang menyaksikan kesenangan kami berdua.

Sampai akhirnya, pada suatu waktu, gerombolan anak-anak itu melakukan tindakan kasar kepada kami tanpa alasan yang jelas. Di sisi belakang deretan bangunan pertokoan, mereka mengadang dan merisak kami, juga merusak sepeda kami. Sebisa mungkin kami coba melawan, tetapi akhirnya kami malah mendapatkan pukulan yang lebih berat.

Sepulang ke rumah, aku pun menceritakan kejadian itu pada orang tuaku. Tetapi ayahku malah mengambil sikap yang sama sekali jauh dari harapanku.

“Lain kali, jangan cari gara-gara dengan Topan dan kawan-kawannnya. Kau harus baik-baik pada mereka,” kata ayahku, tegas.

Tentu saja aku membela diri. “Tetapi bukan kami yang cari masalah, Ayah. Mereka saja yang tiba-tiba mengganggu dan menghajar kami.”

Ibuku yang tengah mengobati luka di lutut dan pergelangan tanganku, turut memberikan nasihat yang senada. “Lain kali, jangan dekat-dekat dari gerombolan mereka. Tak usah bersepeda jauh-jauh sampai ke kawasan toko mereka.”

“Tetapi apa salahnya kalau aku bersepeda di sepanjang jalan dan pelataran pertokoan, Bu? Bukankah orang bebas bersepeda di mana saja?” sergahku.

“Memang tidak ada salahnya, Nak,” balas ibuku dengan lembut. “Tetapi kalau kau bersepeda jauh-jauh, sampai ke kawasan toko mereka, itu bisa menyinggung perasaan mereka. Mereka mungkin merasa kau sedang mencari gara-gara.”

“Tetapi kan aku hanya main sepeda, Bu. Bukan mau cari gara-gara,” sanggahku lagi.

“Sudah!” sela ayahku dengan nada tinggi. “Besok-besok, aku tidak mau tahu. Kalau kau mau bersepeda lagi, bersepedalah di sekitar rumah saja. Kalau tidak, Ayah akan menyita sepedamu!” katanya, seolah tak mau kalau aku menyanggah lagi.

Aku sungguh tak mengerti tentang sikap ayah dan ibuku. Sebagai seorang anak, aku sungguh ingin mendapatkan pembelaan dari mereka, tetapi aku malah disalah-salahkan. Bahkan setiap kali ada persoalan yang serupa, sikap mereka tetap saja sama. Mereka selalu mencamkan kepadaku untuk tidak banyak tingkah, sebab kami bukanlah siapa-siapa, sebagaimana latar belakang sejarah keluarga ayahku dan etnis keluarga ibuku.

Hingga akhirnya, sampailah waktu di satu bulan yang mencekam. Selama berhari-hari, keadaan di bawah langit menjadi begitu riuh. Kekacauan terjadi di mana-mana, hingga kami pun mengurung diri di balik dinding rumah, dilantai dua bangunan toko. Kekacauan yang tidak saja terjadi di sekitaran lingkungan kami, tetapi juga di banyak tempat, seperti yang tampak di layar televisi.

Sebagai anak-anak, aku belum bisa mengerti apa yang terjadi di balik kekacauan yang disiarkan oleh berita sepanjang hari. Yang aku tahu, orang tuaku begitu khawatir menyaksikan keadaan yang terjadi. Sehari sebelumnya, mereka bahkan telah menutup toko rapat-rapat, seperti juga banyak toko di lingkungan kami.

“Semoga kekacauan segera mereda dan tidak merembet sampai ke sini,” harap ayahku, saat kami duduk bersampingan di sofa, sambil menonton berita di layar televisi, dengan tangan kanan yang menggenggam tangan ibuku, dan tangan kiri yang merangkul tubuhku.

Tetapi waktu demi waktu, kekacauan malah tampak menjadi-jadi. Kerumunan orang di pusat kota, tampak menjalar ke segala penjuru dan melakukan perusakan, sehingga Ayah dan Ibuku jadi semakin khawatir.

“Semoga Tuhan melindungi kita,” harap ibuku.

Sampai akhirnya, terdengar juga keriuhan di lingkungan pertokoan kami. Terdengar seruan kata yang berulang-ulang dari orang-orang dengan nada lantang seperti yang terdengar dari televisi: Reformasi!

Kami sontak bergerak ke depan ruangan, dan mulai mengintip dari balik kaca jendela. Kami lantas melihat kerumunan orang mendatangi toko satu per satu, dan berupaya membuka paksa beberapa di antaranya.

“Kalian di sini saja. Jangan ke mana-mana,” pesan ayahku, tegas. “Aku akan ke bawah untuk menjaga pintu depan.”

Aku pun ketakutan menyaksikan ketegangan di wajah ayah dan ibuku.

“Kalian tenang saja,” pesan ayahku lagi. “Kalau terjadi apa-apa, pergilah ke rumah Pak Muksin, lewat pintu belakang.”

Kami berdua mengangguk.

Ayahku pun bergegas melangkah ke ruang bawah, ke ruang pertokoan.

Sorakan-sorakan dari sisi luar pun semakin riuh. Kerumunan orang tampak mengarah ke depan toko kami. Lalu, terdengarlah dentingan dan dentuman dari peraduan segala macam benda dengan daun pintu besi toko kami.

 “Aku takut, Bu,” kataku, sambil menangis.

Ibuku lalu memeluk tubuhku. “Tenanglah, Nak. Semua akan baik-baik saja,” katanya, dengan raut yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

Tetapi keriuhan di sisi bawah, malah terdengar semakin bising, seolah-olah gerombolan itu tetap berusaha menjebol pintu. Hingga akhirnya, terdengarlah deritan, persis seperti bunyi ketika ayah-ibuku membuka atau menutup pintu toko. Lalu seketika, terdengarlah bentakan-bentakan beringas, di sela-sela suara ayahku yang mencoba mendebat.

Seolah penasaran atas apa yang terjadi, Ibuku pun melangkah menuju ke sisi bawah, dan aku mengekorinya begitu saja. Langkah kami kemudian berhenti di sisi belakang ruangan pertokoan itu, dan mulai mengintip kejadian di depan pintu. Di sana, aku melihat wajah-wajah yang tidak aku kenali, dan beberapa wajah yang tertutup masker.

“Aku mohon, jangan berbuat onar, Pak!” pinta ayahku, di antara belasan orang yang tampak beringas sambil menenteng balok kayu atau besi.

“Ah, antek-antek kapitalis seperti Bapak ini, memang layak dimusnahkan,” balas seorang di antaranya dengan sikap meremehkan. “Reformasi tak menginginkan keberadaan orang-orang seperti Bapak.”

“Aku mohon, jangan!” pinta ayahku lagi. “Usaha toko ini aku rintis sejak lima tahun lalu. Aku telah berusaha keras mengembangkannya. Jadi, aku mohon, jangan berbuat onar, Pak!”

“Mana mungkin kaki tangan kapitalis seperti Bapak perlu bertahun-tahun untuk memajukan usaha? Tidak mungkin!” bantah seseorang lelaki yang berambut gondrong dan berkumis tebal itu. “Dengan modal dari cukong-cukong asing, dalam sekejap waktu, Bapak bisa menjadi pengusaha sukses seperti ini, kan?”

“Percayalah, Pak. Aku telah berjuang membangun toko ini dengan susah payah,” tutur ayahku, dengan sikap badan yang membungkuk-bungkuk. “Aku ini tak tahu apa-apa soal kapitalisme. Yang aku tahu, aku ini pribumi seperti bapak-bapak, yang hanya berusaha mencari nafkah di tanah air sendiri.”

“Ya, kau memang pribumi! Ya, pribumi!” balas lelaki itu dengan nada mengejek dan tangan menolak pinggang, kemudian melecutkan ludah. “Tetapi istrimu bagaimana?”

Anggota gerombolan pun tertawa pendek dengan tatapan yang sinis.

“Jangan coba-coba membohongi kami!Aku tahu jelas tentang istrimu dan keluarganya!” bentak orang itu lagi, dengan sorot mata yang tajam.

“Pak, aku mohon, jangan!” pinta ayahku untuk kesekian kalinya. “Bagaimana pun, kami ini adalah warga negara juga, Pak!”

Lelaki itu lekas memalingkan wajah. “Ah, sudah!” Ia lalu mengangkat tangan kanannya ke atas, lantas menuturkan titah, “Hancurkan!”

Seketika, orang-orang di sampingnya pun bergegas menghancurkan barang-barang jualan di toko, sembari mengarungkan beberapa barang yang ingin mereka miliki secara cuma-cuma.

“Baiklah. Kalian boleh mengambil barang yang kalian inginkan. Tetapi aku mohon, jangan merusak barang-barang yang lain,” seru ayahku di tengah keributan, seolah-olah itu adalah permohonan terakhirnya.

Tetapi orang-orang itu tampak abai dan meneruskan kegilaannya.

Ayahku pun bergegas menghalau, hingga ia ditumbangkan oleh pukulan dan hantaman benda tumpul dari orang-orang itu. Ia berusaha bangkit dan melawan, tetapi seketika, pukulan dan hantaman kembali mendarat di tubuhnya. Sekali lagi ia bangkit, lalu satu sepakan yang tepat di dadanya, membuat ia terpental jauh ke sisi belakang. Jatuh, terbaring, tak berdaya.

“Ayah!” tuturku seketika, sambil menangis.

Aku dan ibuku pun bergerak mendekatinya untuk memberikan pertolongan.

“Kenapa ke sini?” sergah ayahku dengan suara serak menahan kesakitan. “Cepat, pergilah ke rumah Pak Muksin!”

“Oh, wajah-wajah semacam ini yang Bapak maksud sebagai wajah pribumi?” ketus seseorang anggota gerombolan yang bermasker, sambil memandangi wajahku dan wajah ibuku. “Sipit sialan!”

Anggota gerombolan yang lain lalu mendekati kami dengan raut beringas.

Dengan sekuat tenaga, ayahku berusaha bangkit dan mencoba menghalau mereka. “Kalian boleh mengambil apa saja yang kalian mau. Mau barang, atau uang, silakan. Tetapi aku mohon, sungguh memohon, jangan apa-apakan istri dan anakku!”

Namun tanpa membalas kata, seseorang lalu menghantam ayahku dengan tapakkan kaki di sisi dadanya, hingga ia kembali terkapar.

“Lari, cepat!” perintah ayahku kepada kami, dengan napas yang tersengal-sengal dan tatapan yang sayup.

Aku dan ibuku lantas berlari meninggalkan ayahku dengan perasaan setengah tega, ke sisi belakang, ke arah pintu keluar, untuk menuju ke rumah Pak Muksin.

Namun ketika baru hendak menyibak pintu, dua orang lalu menarik baju ibuku, hingga ia terjungkal.

“Lari, Nak!” titah ibuku.

Mereka lalu menyeret ibuku ke arah ruang gudang.

Dengan penuh kebingungan, aku sontak mendekati mereka untuk memberikan pertolongan kepada ibuku yang entah bagaimana caranya.

Tetapi seorang anggota gerombolan yang bermasker datang mencegatku, lalu mendorongku, hingga aku terjatuh. Ia lantas mendaratkan tamparan keras di pipiku. “Hai, anak sialan, jangan macam-macam, atau kau akan kubunuh!” ancamnya, dengan nada berbisik yang penuh tekanan, serta tangan kanan yang menuding-mengancam.

Di tengah kekalutan, dan tubuh yang membeku, mataku pun sempat menyorot sekilas tato kalajengking di pergelangan tangan kanannya. Samar-samar, aku lalu teringat pada tato seorang lelaki yang sering bermain kartu di pojok kompleks pertokoan. Seorang lelaki yang pernah menghardik aku dan Fatih ketika pada satu waktu, kami bertikai dengan Topan beserta dua orang kawannya.

Seolah risih dengan tatapanku, lelaki bermasker itu lalu menarik tubuhku, kemudian menghempaskan aku ke sisi luar pintu belakang yang lekas ia kunci dari dalam.

Berkali-kali, aku menggedor pintu, dengan kehendak untuk tidak pergi ke mana-mana selain bersama ayah dan ibuku. Namun itu tak ada gunanya.

Tak beberapa lama, di tengah pikiran dan perasaanku yang kacau, Pak Muksin dan Fatih pun datang. “Bawa dia ke rumah. Cepat!” perintah Pak Muksin kepada anaknya itu.

Akhirnya, dengan langkah gontai, aku pun menuju ke rumah Pak Muksin dengan tuntunan Fatih. “Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja,” katanya.

Aku pun mencoba meyakini pesan sahabatku itu, bahwa ayah dan ibuku akan baik-baik saja di tengah pertanyaanku tentang apa yang sedang terjadi dengan mereka.

Beberapa lama kemudian, kabar suka dan duka datang menyusulku secara bersamaan. Ayahku datang dengan tuntunan Pak Muksin, dalam keadaan yang sungguh mengenaskan. Tetapi beserta mereka, ibuku tak ada.

Lalu pada arah serong kanan rumah Pak Muksin, terlihatlah api menyelimuti gedung pertokoan kami. Sebuah kenyataan yang membuatku semakin bertanya-tanya tentang keadaan ibuku.

Perasaan yang berkecamuk, akhirnya membuat muram suasana di antara kami. Ayahku dan Pak Muksin tampak mengobrol dengan kemarahan dan kesedihan yang silih berganti. Sedang aku yang tak mengerti alasan di balik kekejian yang telah menimpa kami, hanya terus menangis di samping Fatih yang terus berusaha menenangkan aku dengan kata-kata berulang atau usapan-usapan yang lembut.

Saat menjelang tengah malam, ketika kobaran api di gedung pertokoan kami telah padam dengan sendirinya, Ayahku dan Pak Muksin pun kembali ke toko untuk mencari keberadaan ibuku, sesuai dengan petunjuk yang aku berikan. Aku tak tahu bagaimana detail keadaannya. Yang aku tahu kemudian, mereka menemuka ibuku tak bernyawa, dengan tubuh yang hangus terbakar.

Hari kemudian berganti. Di waktu subuh, dengan kehadiran beberapa keluarga, ibuku pun dikuburkan di sebuah lahan kosong milik Pak Muksin yang tak jauh dari rumahnya. Ibuku dikuburkan bersama timbunan rahasia yang mengiringi kematiannya. Ia pergi dengan jawaban yang akan terus kupertanyakan sepanjang hidupku.

Sampai akhirnya, pada hari itu juga, ketika sore menjelang, dengan bantuan Pak Muksin, aku dan ayahku menerobos jalan kota yang ramai dan berasap, di tengah kekacauan yang semakin menjadi-jadi, untuk menuju ke bandara, hingga akhirnya aku sampai dan menetap di sini, di negeri pelarian ayah dan nenek angkatku.