Jumat, 12 Juni 2026

Mata Kaki

Pagi sudah menghangat saat adik perempuanku membuka pintu pagar. Sayup-sayup kudengar ia berbincang dengan seorang lelaki. Detak-detak langkah yang asing kemudian mengarah ke posisiku, lalu berhenti pada jarak sekian meter di depanku. 

"Hai!"

Sapaan itu, sontak menghunjam memoriku. Mengutak-atik berkas cerita yang telah lama kuarsipkan sebagai kenangan.

Aku pun bergeming. Aku jelas mengenal pemilik suara itu sebagai dirimu. Aku sungguh tak menyangka kalau kau akan datang setelah semua kerumitan yang terjadi di antara kita. 

Hening saja dalam sekian detik, seolah kita sama-sama berusaha mencerna alur cerita hingga kita sampai pada saat ini. Satu rangkaian kisah yang seakan membuat kita cukup mengerti hingga sama-sama bingung meramu pertanyaan yang pantas. 

Beberapa saat kemudian, dari pertanda suara, kuterka kau makin mendekat, lantas duduk di sampingku, pada sebuah bangku di teras depan rumahku. Tanpa merasa perlu bertanya kabar, kau lalu melontarkan singgungan, "Kuharap kau masih mengingatku," katamu, seolah kau tak pernah meninggalkan arti di dalam hidupku.

Sembari berusaha meredam kecamuk batin, aku mengangguk saja. Setelah menimbang-nimbang, aku lalu melontarkan tanya sekenanya, "Kapan kau datang dari kota seberang?"

Kau lekas menjawab dengan nada datar, "Lima hari yang lalu." 

Ada urusan apa?" selisikku. 

"Pamanku meninggal."

Seketika, perasaanku tersentak. "Pamanmu yang punya kebun di bukit itu?"

"Iya."

Aku pun terenyuh. "Aku turut berduka."

"Terima kasih."

Sekian lama, keheningan kembali menjeda kita, seolah sama-sama membutuhkan waktu untuk menafakuri kedukaan. 

Perlahan-lahan, ingatanku kembali mengulang satu kisah kita di kebun jagung milik pamanmu itu. Sebuah kebun yang berada di perut perbukitan, tempat kita dan beberapa teman sekolah kita yang lain kerap mengadakan pesta bakar jagung saat masa panen. Di sanalah kebersamaan kita yang terakhir, yang menjadi momentum yang telah menggantung kita dalam ikatan batin yang tak berkesudahan. 

Satu kisah kita itu, terjadi lima tahun yang lalu, selepas kita tamat sekolah menengah atas dan sedang mengancang rencana masa depan. Tiba-tiba saja, pada satu sore yang cerah selepas hujan, kau bertandang ke rumahku dan menyahutiku. Kau lalu memintaku untuk segera menurutimu ke satu tempat yang kaurahasiakan. Katamu, kau akan memperlihatkan keajaiban yang selama ini kunantikan. 

Dengan rasa percaya bercampur penasaran, aku lekas mengenakan kacamata minusku, kemudian menunggangi sadel sepeda motormu. Kita lalu mengarah ke titik awal pendakian menuju kebun tersebut. Namun di tengah perjalanan, rencana kejutanmu tidak lagi membuatku bertanya-tanya. Di langit, aku melihat separuh bentuk pelangi. Aku yakin, itulah yang hendak kautunjukkan kepadaku, sebab aku pernah bertutur kepadamu kalau aku sangat ingin melihat pelangi yang belum pernah kulihat secara langsung selama hidupku. 

"Ah, ternyata kau sudah tahu," ujarmu, setengah kesal, setelah memarkirkan sepeda motor pada pangkal jalan pendakian yang merupakan jalan setapak, dan kau melihatku mendongak dengan pandangan kagum ke arah langit. "Ayo, cepat, kita ke balai-balai kebun pamanku. Di sana, kita akan melihat pelangi itu secara utuh. Kalau kita gesit, kita pasti masih akan melihatnya di sana sebelum menghilang."

Aku mengangguk saja dengan persetujuan penuh. Demi keindahan yang sempurna itu, aku lalu mengekorimu dengan langkah cepat. 

Tetapi ternyata, hasrat besar itu mesti diwujudkan dengan mengarungi tantangan yang berat. Jalan yang basah selepas hujan, membuat pendakian kita tidak semudah biasanya. Berkali-kali kakiku terpeleset, entah karena alas sandalku tak kuat mencengkeram tanah yang licin, atau karena permukaan sandalku itulah yang licin dan menggelongsorkan telapak kakiku. Sudah kucoba mendaki tanpa alas kaki agar langkahku kokoh, tetapi telapak kakiku malah tak bisa menahan sakitnya tusukan kerikil yang runcing, atau duri putri malu yang tumbuh liar. 

Akhirnya, demi misi besar yang berbatasan waktu, kau pun melucuti sepatumu dan menyodorkannya kepadaku. Dengan setengah memaksa, kau memintaku menanggalkan dan meninggalkan saja sandalku di tepi jalan, lalu mengenakan sepatumu itu. Kau mewanti-wanti dan menginstruksikan kalau kita mesti mendaki cepat agar kita tidak terlambat. Maka dengan perasaan tersentuh, aku pun memakainya, kemudian berupaya melangkah dengan lebih tangkas dan tangguh. 

Tetapi dengan bantuan itu, aku masih saja kepayahan. Karena kecapaian, aku makin goyah dan lambat menapak. Aku bahkan sesekali salah langkah dan terjatuh karena keterbatasan pandanganku akibat kacamata minusku yang tertutup embun napasku atau tetesan keringatku sendiri. Karena itu, aku terus saja merepotkanmu demi cita-citaku sendiri. Aku kerap kali berpegangan pada ekor bajumu, atau  genggaman tanganmu. 

Hingga akhirnya, dengan napas yang tersengal-sengal dan tubuh penuh keringat, kita tiba di dataran kebun milik pamanmu. Dengan tenaga yang tersisa, kita segera naik ke atas balai kebun itu. Kita lantas duduk di teras depan rumah panggung tersebut dengan kaki menyelonjor, sembari bersandar lepas pada dinding. Kita kemudian berupaya mengatur napas dan meredakan kepenatan, sembari memandangi pelangi yang menawan di atas lembah dan perbukitan sebelah.

"Syukurlah, kita masih mendapatinya," katamu, dengan raut bangga, disusul senyuman yang lebar. 

"Ya. Indah sekali," tanggapku, dengan napas yang masih memburu. 

Berselang sesaat, kau lantas melontarkan saran yang menarik, "Sebelum terlambat, berharaplah untuk perihal yang kaucita-citakan. Kata orang-orang, segala harapan yang dipanjatkan sembari memandangi pelangi, akan menjadi kenyataan yang indah, sebagaimana pelangi," tuturmu, sembari melirikku dengan tatapan yang hangat. 

Karena kau pernah mengajarkan itu sebelumnya, saat dahulu aku masih berharap melihat pelangi, aku pun mafhum dan telah menunaikannya. "Sudah kulakukan tadi."

"Apa?" sidikmu, tampak penasaran. 

"Semoga aku berjodoh dengan orang yang baik," jawabku, setengah malu, lantas melayangkan senyuman simpul. 

Kau lantas mengangguk-angguk manyun, kemudian menelisik dengan sikap segan, "Tapi itu terlalu umum. Harapanmu mesti spesifik. Kalau soal jodoh, kau mesti meniatkan seseorang."

Aku pun mengangguk paham. "Ya, sudah kulakukan juga."

Sontak, kau menyergah dengan raut datar, "Siapa?"

Dengan separuh enggan, aku lantas menguraikan, "Seorang polisi yang dijodohkan denganku oleh orang tua kami. Keluarga besar kami bahkan sudah merencanakan untuk menikahkan kami secepatnya," terangku, sepolosnya, tanpa memedulikan pandanganmu. "Aku harap dia orang yang baik untukku. Kalau tidak, aku harap kami tidak sampai pada jenjang yang serius."

Kau pun mengangguk-angguk pelan. Aku yakin kau terkejut, sebab aku memang belum pernah menceritakan soal itu kepadamu. 

Seolah kehilangan rasa penasaran, kau lantas terdiam saja dan hanya menatap pelangi yang makin memudar. 

Aku lalu balas menyidik, "Kau sendiri memanjatkan harapan apa di hadapan pelangi saat ini?"

Kau menggeleng-geleng. "Tak ada harapan apa-apa. Sebagai teman, aku hanya berharap segala yang terbaik untukku."

"Ah, curang!" protesku. "Katakanlah!"

Kau lantas tergelak pendek, kemudian memampang ekspresi cuek, seperti berusaha menyamarkan keengananmu untuk berkata jujur. "Aku serius. Aku memang tak ada niat untuk memanjatkan harapan. Sedari awal, pelangi itu sekadar kurencanakan untuk kaujumpai, untuk engkau berharap."

Akhirnya, aku menyerah untuk menelisik.

Keheningan kemudian menyelimuti kita seiring warna pelangi yang makin memudar. Kita tidak lagi berbagi kata, hingga pelangi itu benar-benar lenyap.

"Sudah waktunya kita pulang," katamu, dengan raut sayu. 

Aku mengangguk tenang. 

Akhirnya, kita mulai melipat langkah pada jalan setapak yang telah susah payah kita daki. 

Sepanjang perjalanan menurun itu, aku pun merasakan jelas perubahan sikapmu. Tiba-tiba saja kau jadi pendiam dan kehilangan nafsu untuk memancing percakapan. Kau tak lagi banyak bicara dan malas mempertanyakan apa saja kepadaku. Kau bahkan tak lagi tertarik untuk sekadar mengulas kisah kebersamaan kita selama masa sekolah menengah atas sebelum kita benar-benar terpisah arah masa depan. Padahal, sebelumnya, bahkan saat perjalanan mendaki, kau masih dengan perangaimu yang banyak omong dan suka memancing tawaku.

Beberapa lama kemudian, kita pun menggapai sepeda motormu yang terparkir. Kau lantas memberiku aba-aba agar aku kembali duduk pada sadel sisi belakangmu. Lalu tanpa percakapan lagi, roda berputar menuju ke rumahku. Hingga akhirnya, dengan laju yang lebih cepat dari biasanya kau memboncengkan aku, dalam waktu singkat, kendaraan tua itu membawa kita sampai di halaman rumahku. 

"Terima kasih telah mewujudkan keinginanku melihat pelangi," kataku, setulusnya, setelah turun dari dudukan. 

Kau hanya mengangguk dengan senyuman simpul yang terkesan terpaksa. 

Dalam sekian detik kemudian, kita hanya terdiam-berhadapan dengan tatapan yang tiba-tiba segan untuk beradu. 

"Kenapa belum pergi? Ada yang ingin kausampaikan?" tanyaku, begitu saja, setelah kita terperangkap dalam adegan yang aneh. 

"Sepatuku," jawabmu, singkat, bermaksud meminta kembali sepatumu yang masih tepasang rapat di kakiku. 

Aku pun tersadar dan merasa bodoh. "Oh, iya. Aku lupa," ujarku, kemudian mengutarakan niatku sebelumnya, "Tapi biar aku cuci dulu. Kau bisa mengambilnya besok atau lusa."

"Tidak usah," tolakmu, tampak berkeras. 

"Aku memaksa soal ini," bantahku, tak mau kalah. 

Kau pun mendengkus dan mengalah. "Baiklah," pungkasmu, dengan ekspresi datar. 

Tanpa berlama-lama lagi, kau lalu memutar posisi sepeda motormu cepat-cepat. Tidak seperti biasanya, kau kemudian pergi tanpa pamit dengan kata-kata yang bersahabat. 

Hari demi hari berganti. Nyatanya, kau tak kunjung datang ke rumahku untuk mengambil sepatumu. Sudah kucoba menghubungimu lewat telepon, tetapi kau tak menanggapi dengan alasan yang tak jelas. Karena itu, lima hari berselang, aku memutuskan untuk mengantarkan sepatu itu kepadamu, ke tempat tinggalmu, ke rumah pamanmu yang seolah orang tuamu di kota kecil ini. Tetapi ternyata, kau telah beranjak ke kota seberang, ke kota kelahiranmu, ke tempat tinggal ibumu. Dengan rasa kecewa, aku pun membawa pulang sepatu itu dan menyimpannya untukmu. 

Sejak kepergianmu, kita tidak lagi pernah bertemu atau sekadar berkomunikasi. Aku pun jadi tak tahu bagaimana keadaanmu. Namun dari jendela dunia maya, pada akun media sosialmu, aku mendapatkan informasi kalau kau kemudian berkuliah di sebuah politeknik sembari bekerja di bidang konstruksi. Aku turut senang mengetahui kehidupanmu yang baik itu. Tetapi akhirnya, dengan penelusuran daring yang intens dan berkala, aku kemudian mendapatkan laman berita yang mengabarkan perihal seorang pekerja perbaikan jalan dengan identitas yang sama sepertimu. Kabarnya, lelaki itu terserempet mobil saat sedang mengerjakan perbaikan ruas jalan raya. Untungnya, pekerja tersebut selamat dari maut, meski mengalami luka-luka. Dan jika benar itu adalah kau, aku berharap kau baik-baik saja. 

Namun setelah semua yang terjadi, atas sikapmu yang tiba-tiba berubah pada momen terakhir kebersamaan kita, aku pun menerka kalau itu ada hubungannya dengan percakapan singkat kita di balai kebun pamanmu. Kuduga kau memendam kekesalan setelah aku mengungkapkan soal perjodohanku dengan seorang lelaki. Tetapi aku tak bisa menebak dengan jelas alasan di balik ketidaksukaanmu itu, apakah karena kau tak suka aku akan menikah dengan seorang polisi karena kau membenci polisi setelah ayahmu meninggal akibat tembakan polisi yang salah sasaran sebagaimana ceritamu, ataukah karena kau memiliki perasaan suka kepadaku. 

Andai saja waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke masa lalu, saat kita masih bersama dalam keadaan yang baik-baik saja. Jikalau demikian, aku akan nekat mengupayakan agar kebersamaan kita berujung pada cerita yang indah. Sebab sejujurnya, dahulu, seiring waktu dalam keakraban kita, aku memendam perasaan yang lebih dari sekadar rasa persahabatan terhadapmu. Karena itu, aku selalu berharap kau pun begitu terhadapku, kemudian menyatakan perasaan kepadaku, lalu kita menjadi sepasang manusia menuju ikatan yang suci. Tetapi sepanjang kebersamaan kita pula, aku tak bisa meyakini kalau harapanku itu akan terwujud. Kau tampak hanya mengakrabiku sebagai seorang teman dekat. Tidak lebih. 

Hingga akhirnya, di tengah hubungan kita yang menyenangkan dalam batas persahabatan, aku mendapatkan penawaran dari ibuku perihal rencana perjodohanku dengan anak kawan lamanya. Dengan penuh pertimbangan, aku pun menerima perjodohan itu sebagai jalan takdir yang baik untuk diriku dan keluargaku yang sedehana. Sebagai perempuan, aku jelas memilih kepastian untuk menjalin hubungan yang serius. Apalagi, kepastian itu direncanakan dengan seorang yang terhitung mapan untuk membangun rumah tangga. 

Namun malang tak bisa kuhindari. Waktu demi waktu, daya mataku makin memburuk. Pengobatan gagal mengatasinya. Kacamata pun tak bisa menanggulanginya. Sampai akhirnya, penyakit glaukoma itu menghilangkan penglihatanku secara total. Akibatnya, rencana perjodohanku dibatalkan oleh pihak lelaki. Dengan rasa kecewa, aku sadar diri dan pasrah menerimanya. Jelas, berat bagi siapa pun untuk menerimaku sebagai pendamping hidup dengan kondisiku yang mengenaskan. 

Hingga akhirnya, aku sampai di hari ini, saat kau tiba-tiba datang dan membangkitkan kenangan tentang kita di dalam benakku. 

"Barangkali kau ada keperluan khusus sampai kau datang ke sini setelah sekian lama? Apa kau bermaksud mengambil kembali sepatu yang kaupinjamkan kepadaku dahulu?" selisikku, setelah jeda hening sekian lama. 

"Tidak ada apa-apa. Bukan juga untuk sepatu itu," sangkalmu, lalu memberikan alasan yang diplomatis, "Aku hanya ingin bersua denganmu."

"Untuk apa?" selidikku, dengan perasaan yang meragukan. "Lalu, kenapa dahulu kau tak segera datang mengambil sepatu itu?"

"Entahlah," tanggapmu, dengan nada bimbang. "Aku hanya merasa tak membutuhkannya lagi."

"Lalu kenapa kau tak mengabariku, agar aku tak perlu menyimpan dan menjaganya demi mengembalikannya kepadamu?" selidikku lagi.

"Maaf," ucapmu, seolah merasa bersalah dan menyesal. 

"Itu bukan jawaban. Aku butuh alasan yang sebenar-benarnya," tuntutku. 

Kau terdiam saja. 

Akhirnya, aku mendesak, "Katakanlah, kenapa kau bersikap seperti itu kepadaku sejak hari terakhir kebersamaan kita dahulu?"

Kau lantas mengembuskan napas yang panjang, kemudian menjawab lemah, "Aku tak suka mendengar kenyataan kalau kau akan menikah dengan seorang lelaki."

"Kenapa?" sergahku. 

"Karena aku menyukaimu; aku mencintaimu."

Seketika, hatiku terasa dingin mendengar kejujuranmu untuk segala tanyaku tentang kita selama ini. Aku sungguh merasa lega. 

Hening sekian detik. 

"Lalu, kau memanjatkan harapan apa di bawah pelangi di sore itu?" tanyaku lagi, dengan begitu penasaran. 

"Aku berharap, kita akan menikah dan menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya," terangmu, polos, untuk menyempurnakan kejujuranmu. 

Sontak, batinku tersentuh. Air pun menangis terharu. Aku merasa bahagia karena kisah kita telah menemukan alasan untuk kuabadikan sebagai kenangan yang indah. Tetapi atas keadaanku yang berkekurangan, aku kukuh meredam angan untuk hidup bersamamu. Di tengah ketidaktulusanku menerima keadaan diriku sendiri, aku sadar kalau siapa pun, termasuk kau, akan berat menerimaku sebagai pasangan hidup, dan kau berhak mencari perempuan yang jauh lebih baik. 

"Maaf kalau kau tak berkenan dengan semua yang telah kukatakan," ujarmu. 

Aku pun menggeleng keras. "Terima kasih karena kau telah mengungkapkan semuanya dengan jujur."

Kau tergelak pendek. "Akulah yang semestinya berterima kasih, karena kau bersedia menerima pengakuanku," tangkismu. "Kini, aku merasa lega."

Aku lalu menagih penegasan, "Apakah itu alasan sesunguhnya sampai kau datang menemuiku?"

"Iya," akumu, disusul isakan yang samar. 

Aku pun merasa damai. 

Untuk sekian lama, kita hanya saling mendiamkan dalam keharuan masing-masing. 

Hingga akhirnya, kau mengambil ancang-ancang untuk berpisah kembali, "Aku pamit, ya. Sudah waktunya aku pergi. Banyak yang mesti kupersiapkan menjelang jadwal penerbangan," tuturmu, tanpa merasa perlu menanyakan perihal bagaimana perasaanku kepadamu. Tetapi kurasa, memang begitulah semestinya, sebab jawabanku sebagai seorang tuna, tidak akan memiliki pengaruh apa-apa untuk masa depan kita. 

"Tetapi kau sebaiknya mengambil kembali sepatumu dan membawanya serta," ajuku, sembari berusaha mengikhlaskan perpisahan kita lagi, sebab aku memang tak punya hak untuk menahanmu.
 
"Tidak usah. Simpanlah saja sebagai kenang-kenangan. Lagi pula, aku tidak membutuhkannya lagi," responsmu, dengan maksud hati yang tak kutahu jelas. 

Aku pun mengangguk pasrah. Mengisyaratkan penerimaanku.

"Aku harap segala yang terbaik untukmu di sini," pungkasmu, lantas menepak-nepak punggung tanganku. 

"Aku harap begitu juga untukmu di sana," balasku. 

Seketika pula, kudengar bunyi tapakan di ubin teras. Kuterka, kau telah mengambil langkah pergi, tanpa merasa perlu mengucapkan sampai jumpa. Tetapi kukira, begitulah seharusnya. 

Sesaat kemudian, setelah terdengar dentingan kunci pagar, kudengar lagi tapakan kaki menuju ke arahku, yang kubaca jelas sebagai langkah kaki adikku. 

"Laki-laki itu teman sekolah Kakak yang dulu sering ke sini, kan?" selidik adikku. 

"Ternyata kau masih mengenalnya juga," tanggapku. "Memangnya kenapa?"

"Kasihan ya, dia."

"Kasihan kenapa?"

"Jalannya pincang dan pakai kaki kanan buatan."

Seketika, perasaanku tersentak. Perlahan-lahan, aku memahami kenapa kau tak mempertanyakan perasaanku kepadamu, lalu pergi tanpa ucapan sampai jumpa. 

Tetapi diam-diam, atas kemalangan dan rasa rendah diriku, dan mungkin demikian pula dirimu, terjadilah pergulatan di dalam batinku perihal kemungkinan dan ketidakmungkinan tentang akhir kita. Aku jadi bertanya-tanya, apakah mungkin ada inginmu menyatukan diri denganku dan menyempurnakan kehidupan kita yang penuh ketidaksempurnaan? Adakah mungkin kau mau jadi mataku, dan aku jadi kakimu? 


Makan Bersama

Kepulanganku kali ini beserta perasaan yang berbunga-bunga. Sebagai bentuk perayaan atas keberhasilanku sendiri, aku pun membawakan hadiah untukmu. Aku telah membeli sekantong makanan instan yang cukup mahal, yang pasti kausuka. Setidaknya, begitulah yang kulihat pada iklan-iklan merek makanan kucing itu.

Sudah sepatutnya aku berterima kasih atas kehadiranmu. Sebagai lelaki lajang yang berjuang sendiri untuk hidup di tengah kehidupan kota yang keras, kau cukup menawar kepenatan dan kesedihanku dengan tingkah acak dan cuekmu. Karena itulah, setelah aku mendapatkan surel pemberitahuan kalau aku diterima sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan ekspedisi, aku merasa kau mesti merasakan kesenanganku juga.

Hasratku menyenangkanmu dengan makanan istimewa, makin menjadi setelah aku mendapatkan perlakuan yang sama dari seseorang. Dengan begitu saja, menjelang jam pulang kerja, aku mendapatkan informasi dari seorang kurir bahwa seseorang telah memesankan sekotak hidangan berupa nasi campur dari sebuah restoran mewah untukku, yang kemudian digantung sang kurir di depan pintu kamar kosku. Aku tak bisa menebak dengan yakin siapa sang pemurah itu. Tapi kukira itu ada hubungannya dengan hari ulang tahunku kemarin.

Karena itulah, aku memilih tidak membeli hidangan tambahan untuk diriku sendiri, demi berhemat. Dengan tabungan yang seadanya, kurasa cukup jika aku sedikit berkorban untukmu. Selama ini, atas pendapatanku yang memprihatinkan sebagai pramuniaga toko perabotan rumah tangga, kau turut hidup melarat. Makananmu sebatas sisihan dari makanan sederhanaku. Nasi putih dengan suwiran daging ikan atau ayam, cukup membuatmu bersetia denganku. Bahkan tak jarang bagianmu sekadar tulang belulang atau nasi berkaldu kalau aku sedang berhemat ketat.

Akibat kondisi kehidupan itu, keadaanmu tak sebaik kucing-kucing peliharaan orang berada. Tubuhmu terhitung kurus, dan bulu-bulumu masih rontok. Karena itu pula, sudah beberapa kali aku mencoba membuatmu sejahtera dengan menyelundupkanmu ke halaman rumah keluarga kaya yang kutaksir pencinta kucing. Tetapi sialnya, kau selalu menemukan jalan untuk pulang ke kamarku, dan memilih tetap bersamaku. Sampai akhirnya, aku menyerah untuk membuat kita terpisah.

Dengan semua itu, kau sepatutnya bersyukur atas kebaikanku dalam segala keterbatasanku. Tidak saja menyelamatkan nyawamu, aku juga menghidupimu semampuku. Hingga akhirnya, kau tumbuh sehat dan kuat. Keadaanmu jelas jauh lebih baik ketimbang tiga bulan yang lalu, saat aku menemukanmu dalam keadaan yang begitu memprihatinkan. Saat itu, kau hanya meringkuk lemas dan berbalut air comberan di tepi selokan persimpangan jalan yang sepi. Kau seperti hanya menunggu mati dalam keadaan terabaikan. Sebuah pemandangan yang membuatku miris, hingga aku memilih untuk menolongmu

Kini kusadari, keputusanku untuk membawamu dan merawatmu dengan cara sederhana adalah keputusan yang tepat. Kalau saja tidak begitu, aku pasti dihantui rasa bersalah sepanjang waktu. Aku yakin, kau akan mati kedinginan dan tak pernah dikuburkan. Aku yakin begitu, karena di tengah kehidupan perkotaan yang berat secara ekonomi, orang-orang akan memilih untuk mengabaikanmu demi menghindari beban-beban untuk menghidupimu. Bahkan aku yakin orang-orang yang mengasihanimu akan enggan menyelamatkanmu, dengan pikiran, setidaknya, bukan mereka yang membunuhmu.

Pikiran-pikiran semacam itu, tak bisa kuhindari, karena aku menyaksikan sendiri kalau kemiskinan menggerayangi orang-orang di sekitarku. Setidaknya, banyak penghuni kamar kos di sekitarku, hidup dalam keadaan yang tidak lebih baik dariku. Mereka berjuang keras untuk bertahan dalam impitan ekonomi dengan kebutuhan yang makin mahal. Ada yang bekerja sebagai pengemis, pengamen, atau pedagang asongan. Bahkan ada beberapa yang kuketahui bekerja sebagai pengedar obat terlarang, penagih utang, dan pelayan di tempat hiburan malam.

Kenyataan kerasnya kehidupan kota makin kusadari setelah mengetahui kalau aku harus bersaing dengan ratusan orang untuk mendapatkan pekerjaan yang kini berhasil kumenangkan, meski pekerjaan itu hanyalah pekerjaan level rendah dengan gaji yang secukupnya. Aku pun makin memahami keadaan itu empat hari yang lalu, setelah menjalani tes wawancara, seusai mengobrol dengan salah satu dari dua orang pesaing terakhirku dalam memperebutkan satu pekerjaan tersebut.

"Hidup di kota ini terasa makin berat. Persaingan makin ketat. Pendapatan menurun, sedangkan kebutuhan meningkat. Kita mesti pandai-pandai mencari cara untuk bertahan," kata lelaki itu kemudian, dengan nada mengeluh, setelah menerangkan kalau pendapatannya makin sulit memenuhi kebutuhannya di tengah pesaingan perebutan penumpang yang makin sengit di antara pengemudi ojek daring setelah banyak orang menjadikan penghidupan tersebut sebagai pekerjaan sampingan atau pelarian dari status pengangguran.

Aku sekadar mengangguk setuju dan membebaskannya untuk terus menumpahkan keresahannya. Aku merasa sepatutnya menjadi penenang dengan menjadi pendengar yang baik atas kebaikannya mengajak dan mentraktirku makan bersama di sebuah warung makan di tengah pendapatan kami yang sama-sama pas-pasan.

Ia lantas mengembuskan napas yang panjang, kemudian menyambung keluh kesahnya, "Aku tak tahu lagi bagaimana kalau aku tidak segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaanku sekarang," tuturnya, untuk merangkum kekalutannya akibat jeratan utang, termasuk pinjaman daring, demi menghidupi istri dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil.

Dengan penuh pengertian, aku pun menanggapi sekenanya, "Sesulit apa pun kehidupan kita, setidaknya, kita masih bisa bertahan hidup dengan cara-cara yang baik."

Seolah sepaham, dengan perasaan berat, ia pun mendengus dan melayangkan senyuman miris.

Sekian lama kemudian, kami hanya saling mendiamkan. Aku fokus menghabiskan salah satu hidangan favoritku berupa nasi campur dengan lauk ikan bandeng goreng, sedangkan ia khidmat menikmati isapan rokoknya. Hingga akhirnya, setelah turut menandaskan hidangan dan memulai gelagat untuk berpisah, kami pun sama-sama sadar untuk sepatutnya berbagi nama dan informasi pribadi. Setelah itu, kami lalu berpisah tanpa menyinggung bagaimana kemungkinan akhir dari persaingan kerja di antara kami.

Tetapi tentu, sebagai orang yang sekian lama hidup dengan keuangan yang pas-pasan, demi kehidupan yang lebih baik, aku jelas ingin mengalahkannya dalam mendapatkan pekerjaan tersebut. Aku ingin jadi lebih berdaya dalam membeli segala macam keperluan, termasuk perihal kebutuhanmu. Aku ingin menjadi pemelihara yang berkelas dengan senantiasa memberikan makanan yang istimewa untukmu. Dengan begitu, badanmu akan jadi makin berisi dengan bulu hitam-putih yang menawan, dan aku akan makin suka melihatmu dan membelaimu.

Sampai akhirnya, harapanku terwujud hari ini, setelah aku mendapatkan surel pemberitahuan kalau aku terpilih sebagai pemenang dalam perebutan pekerjaan itu. Aku hanya perlu memenuhi persyaratan pemberkasan untuk benar-benar menjabat pekerjaan tersebut. Karena itulah, kali ini, aku pulang dengan perasaan yang berbunga-bunga. Aku tak sabar untuk tiba dan menjumpaimu di area kamarku seperti biasa. Aku ingin segera berbagi kesenangan denganmu, dengan makan bersama, dengan hidangan kesukaan masing-masing.

Namun aneh. Setelah tiba di halaman kos-kosan dan memarkir sepeda motor, aku tak mendengarmu mengeong sambil menghampiriku cepat-cepat. Dengan penuh tanya, aku lalu melangkah ke arah kamarku sembari melayangkan pandangan. Dari jarak sekian meter, aku pun melihatmu berbaring di teras depan.

Tetapi keganjilan malah makin terasa. Tak seperti biasanya, kau tak segera bangun dan menyambut kedatanganku. Hingga akhirnya, aku menyaksikan kenyataan yang memilukan. Dari mulutmu, keluar gelembung busa, sedang di sampingmu, berserakan sekotak nasi campur dengan lauk ikan bandeng goreng.

Kau telah menyelamatkan nyawaku dengan kematianmu.


Persatuan Bahaya

Sebagai anak negeri
Dari tanah tercuri
Kaum kawula terbentuk
Merangkai keremehan
Membangun kebodohan
Menderita kelaparan
Membakar kemarahan
Menjadikan ancaman

Terhadap segelintir
Dari bangsat terdidik
Para penunggang kuasa
Dengan tameng suara
Memanjakan nafsu
Melampaui batasan
Melalaikan peringatan
Menjemput kehancuran

Untuk kita mewarisi
Dalam silang pendapat
Tanpa satu rencana
Dari puing kebiadaban
Menyusun peradaban
Merayakan perubahan
Mewarnai kepalsuan
Mengulang kegagalan

Ikatan Batin

Bila saja sesuai rencana, sejak tujuh hari yang lalu, aku semestinya berada di kampung bersamamu. Mulai hari itu, aku akan melewatkan hari dengan membantumu mengurus kebun lada kita. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Engkaulah yang beranjak ke kota ini. Kau terpaksa datang menemaniku menjalani perawatan di rumah sakit setelah aku mengalami komplikasi penyakit asam lambung. 

Aku tak pernah membayangkan kenyataan akan begitu. Sebagai seorang anak, akulah yang seharusnya menandangimu dan mendampingimu dalam kelemahan dan kerentananmu. Aku seharusnya menjaga kondisi tubuhku agar aku tidak malah merepotkanmu sebagai seorang ayah yang sudah nyaris lanjut usia. Tetapi malang tak bisa kuelakkan. Penyakit mengalahkan pertahanan tubuhku, dan aku tak bisa apa-apa. 

Jauh sebelumnya, pada hari-hari yang lampau, selama terpisah jarak, aku selalu mengkhawatirkan kondisimu. Sejak Ibu meninggal, dan kau tinggal seorang diri, aku senantiasa mencemaskan keadaanmu. Aku takut celaka menimpamu karena bekerja terlalu keras di kebun, atau penyakit menggerogoti tubuhmu karena ketidaksanggupanmu mengurus pekerjaan rumah untuk menjaga kesehatanmu. 

Kekhawatiranku makin menjadi-jadi karena kondisi tubuhmu tak lagi sekuat dahulu. Kekuatan ototmu sudah melemah, dan kebugaran tubuhmu merawan. Aku cemas kalau-kalau kebiasaanmu bekerja tanpa mengenal batas, akan membuatmu benar-benar tumbang tak berdaya. Aku takut tak berada di sampingmu saat kau kehilangan harapan tanpa bantuan, dan tak ada siapa-siapa yang hadir untuk menolong. 

Sebenarnya, sudah berkali-kali aku memintamu untuk tidak lagi bekerja berat, sebab kau tak lagi punya tanggungan setelah aku sebagai anak tunggalmu telah hidup mandiri. Aku bahkan berapa kali memintamu untuk berhenti dari pekerjaan kebun dan tinggal di kota ini bersamaku dalam penanggunganku, atau sekadar rehat untuk sekian lama, tetapi kau selalu menolak, seolah batinmu telah terikat pada kebun. 

Atas keadaan itu, aku akhirnya mengambil jalan tengah. Aku senantiasa menyisihkan dan mengirimkan pendapatanku untukmu sembari berpesan agar kau menggaji orang lain untuk membantumu mengurus kebun. Tetapi tetap saja, seakan sudah tabiat, kau selalu turun tangan sendiri mengurus tanaman sampai batas kemampuanmu. Kau tampak begitu menggandrungi rutinitasmu itu. 

"Setiap pekerjaan ada risikonya. Begitu pula pekerjaanmu. Kita hanya bisa berusaha menghindarinya," katamu, lewat telepon, sebulan yang lalu, setelah aku menyinggung pekerjaanmu yang berat karena menguras tenaga di bawah terik matahari, sembari menyepelekan beban pekerjaanku sendiri di ruang ber-AC. 

"Asal Ayah tahu batas saja kalau begitu. Jangan terlalu memaksakan diri," tanggapku, mewanti-wanti. 

"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja di sini. Sedari kecil, aku telah terbiasa dengan pekerjaan kebun, dan aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai beban. Aku bahkan menikmatinya, layaknya hiburan pengisi waktu. Dan menikmati pekerjaan itulah yang penting, yang bisa menghindarkan kita dari beban batin yang bisa mendatangkan penyakit," tuturmu, mencoba menepis ketakutanku, sekaligus menyiratkan petuah. 

Dengan responsmu itu, sebagaimana selalu, aku berpasrah saja. Tetapi diam-diam, aku tetap memendam kecemasan. 

Akhirnya, demi menawar kekhawatiranku atas dirimu, untuk hari kerja di sela-sela tanggal merah dan hari libur kerja, aku memutuskan mengambil cuti. Aku merencanakan untuk membantumu mengurus kebun selama seminggu. Kupikir, setidaknya, keberadaanku dalam waktu selama itu, sudah cukup untuk meringankan bebanmu dalam membereskan pekerjaan kebun yang membutuhkan tenaga ekstra. 

Sampai kemudian, terjadilah apa yang tak pernah kubayangkan. Akulah yang kalah atas keadaanku sendiri. Akulah yang terserang penyakit hingga kau harus datang untuk membantuku pulih. Hingga akhirnya, karena itu, aku memahami pernyataanmu soal hubungan kesehatan dengan pekerjaan fisik dan beban pikiran. Dari keterangan dokter, aku memahami kalau sakitku disebabkan pula oleh istirahat yang kurang dan beban pikiran yang berat. Jelas, itu soal pekerjaan kantor yang menguras waktu dan pikiranku. 

Namun beruntung, sebab setelah perawatan yang baik di rumah sakit selama lima hari, aku akhirnya berhasil melawan penyakit. Bahkan pagi ini, aku merasa keadaanku mendekati kepulihan yang sempurna. Tetapi saat kondisiku makin membaik, aku malah menyaksikan pertanda buruk yang begitu menakutkan. Raut wajahmu kuyu dan terlihat makin lesu. Batukmu terdengar makin sering dan keras. Bahkan saluran hidungmu sering tersumbat sampai kau jadi sering bersungut-sungut. Meski awalnya kau berkilah kalau itu biasa dan hanya gejala kecapaian, tetapi akhirnya aku merasa ngeri. 

Untuk mencegah keadaanmu memburuk, aku pun menghampirimu saat kau tengah berjemur di bawah terpaan sinar matahari pagi, di teras depan rumahku. "Kondisi Ayah tampak mengkhawatirkan. Sebaiknya aku antar Ayah ke dokter, ya?" tawarku. 

Kau lekas menggeleng. "Tidak usah. Aku cuma demam dan flu biasa. Mungkin karena tubuhku belum menyesuaikan dengan hawa di kota ini."

"Kalau begitu, aku belikan obat saja," saranku. 

Kau kembali menggeleng. "Tidak perlu. Keadaanku akan baik-baik saja. Mungkin aku hanya perlu menghangatkan diri dengan sinar matahari dan menghirup udara segar. Aku sepertinya tidak cocok dengan AC," kilahmu, lantas melesitkan ingusmu. 

Aku pun mengangguk maklum dengan sedikit rasa bersalah. Tetapi tak ada pilihan lain yang lebih baik, karena lazimnya, di kota, keadaan ruangan akan terasa pengap tanpa menyalakan pendingin ruangan, sedang udara bebas akan masuk bersama debu atau nyamuk. "Mungkin Ayah lebih cocok dengan kipas angin. Nanti aku belikan."

Lagi-lagi, kau menggeleng. "Karena keadaanmu sudah membaik, aku sebaiknya pulang hari ini juga. Aku khawatir hama akan merusak tanaman lada di kebun kalau tidak segera disemprot."

"Tidak maukah Ayah tinggal lebih lama lagi?" tanyaku, mencoba menawar. "Aku belum membawa Ayah jalan-jalan ke tengah kota."

Kau lantas melepaskan gelakan yang pendek. "Tidak usah. Aku lebih cocok dan lebih nyaman berada di kampung. Kehidupanku di sana."

Akhirnya, aku mengalah dengan pemahaman kalau begitulah adanya, bahwa suasana kota akan makin mengancam kesehatanmu, dan suasana pedesaan akan lekas memulihkanmu kembali. "Baiklah. Nanti aku antar Ayah ke terminal."

Dengan senyuman lepas, kau pun mengangguk tegas, kemudian memberikan nasihati. "Rajinlah berjemur, seperti ini. Tubuh kita butuh paparan sinar matahari." Kau melepas batuk dua kali, lantas menambahkan, "Kau juga harus rajin berolahraga. Tubuh mesti berkeringat, supaya sehat."

Aku mengangguk saja. Membenarkan. 

"Jagalah kesehatanmu baik-baik," pesanmu lagi. 

"Tentu, Ayah," tanggapku, dengan kesungguhan, sebab aku tak ingin ketakutanku menjadi kenyataan, bahwa tubuhmu benar-benar dilumpuhkan penyakit tersebab aku jatuh sakit lagi.