Jumat, 28 Agustus 2026

Yang Maha

Kita berbatas
Upaya cuma percobaan
Doa sekadar permohonan
Ikhtiar hanya kemungkinan
Demi hidup semua diri

Kita rakus
Ingin menjadi segalanya
Untuk memiliki semuanya
Tanpa berbagi selayaknya
Demi nikmat seorang diri

Kita lupa
Dunia punya takaran
Hidup dalam kebercukupan
Lalu nafsu berkekurangan
Merasa pantas jadi pengadil


Kamis, 27 Agustus 2026

Teruntuk Kalian

Lama terlelap suasana
Antara kita yang terselubung
Hangat menawar, menjadi dingin
Melindapkan rencana yang sempurna
Melenyapkan cahaya bahagia
Sebelum rasa terkata

Dalam beku dan buta
Bunga api liar menjalar
Ke taman asa, sampai habis
Kelam rahasiaku, dan terang jalanmu
Kobar asmaramu, dan hangus kecewaku
Setelah mentari membuyarkan mimpi

Masa tenang telah tiba
Damai terpancar selepas hujan
Pada haru mataku, juga cerah langitmu
Terangkai pelangi citaku pada nyata cintamu
Setelah dirinya mewujudkan rencanaku
Untuk dirimu, begitulah sebaiknya


Rabu, 26 Agustus 2026

Kita setelah Mereka

Kembali bencana berkali petaka
Menggila tragedi bangsa pelupa
Selama negara dalam durjana
Selamanya buana gelimang duka
Mencipta kasta papa yang lara
Beserta saf ulama yang kecewa
Juga para cendekia yang terjaga
Satu armada menerjang cuaca
Dipandu nakhoda atas nama cita
Dipercaya katanya sesama hamba
Seturut citra maya media berita
Menjadi duta tanpa ada curiga
Sampai ganda siklus masa bahala
Sebab manis bahasa, berdua muka
Berlawan karena dengki semata
Berpura menista kuasa yang dusta
Memenjara raga penjarah dana
Mengganti mereka mencuri laba
Menimbun harta, mengumbar angka
Membungkam massa dengan senjata
Sampai gana mafia memicu sengketa
Sampai nyawa suaka dan membahaya
Sampai masanya melawan sang raja
Mengerahkan tipu daya segala gaya
Menjaja surga dalam pesta yang hina
Merebut tahta dan mengulang bala
Hingga cua sukma kita terlenyap asa
Sisa berdoa untuk tobatnya penguasa
Atau menerima saja cara dunia bekerja
Dengan pasrah pada durhaka manusia
Bahwa adikara punya pencinta angkara
Agar ada beda antara dosa dan pahala
Agar bermakna membela yang menderita
Agar berarti surga sebagai imbalan Yang Maha
Atau lagi, kita bersepakat mencoba
Meniti peta gerakan nurani yang terencana
Menjadi bijaksana sebelum bersinggasana
Berbudi mulia sebelum memikul dunia
Terbiasa berpuasa sebelum berkuasa
Tetapi, apa masih tersisa percaya di antara kita?
Atau kita masih akan saling curiga perihal siapa di antara kita yang akan berhasil mengkhianati selainnya?


Minggu, 23 Agustus 2026

Untuk Hidup Sehari Lagi

Buram nalarmu, dan ingin menggelapkan semua
Melihat tali, racun, pisau, dan mulai menimbang rencana
Tetapi khawatir juga kesialan menggantung tanggung nasibmu
Melenyapkan daya untuk selamanya meratapi ketidakbergunaan
Hingga kau menyusup lewat jendela, untuk terjun, hancur, dan sirna
Membebaskan diri dari kemalangan dunia yang sambung-menyambung
Perihal cita yang merana, cinta yang sungkawa, dan citra yang nista
Melahap kesabaran untuk bertahan mengharapkan perubahan
Namun ragu mempertanyakan lagi detik mendatang untuk sekali lagi
Merenungkan takdir yang tersangkal, yang barangkali menuju bahagia
Seiring kembali juga ketakutan merongrong dari pelajaran masa kecilmu
Mengancamkan siksa jahanam dengan pedih yang sepedih-pedihnya
Lalu kau terombang di antara kesangsian dan kenekatan
Menyadari kalau semua akan berakhir jua tanpa harus engkau akhiri
Sampai kekacauan itu mengacaukanmu dengan pilihan dari pilihanmu
Menggoyahkan tegapmu, tergelincir, jatuh, dengan keinsafan yang kembali
Tepat pada pembaringan kamarmu, saat kau teringat lagi pada semua yang berkorban untukmu
Menguatkan batinmu untuk memperjuangkan hidup sehari lagi, dan lagi