Kesepian telah membawanya ke dalam sangkar kesunyian yang sebenarnya. Keinginan untuk memeriahkan hidupnya dengan seorang pasangan hidup, malah membuatnya mendekam di balik jeruji besi. Mata hatinya buta atas nama cinta untuk seorang perempuan, hingga ia nekat melakukan tindakan yang gila bagi pikiran yang jernih.
Dalam sekian waktu yang lama, ia telah berusaha menjalani kehidupan yang nyata. Ia sudah berjuang menaklukkan sosok pujaan hati demi menjadi lelaki sejati. Terhitung lima kali ia menyatakan perasaannya kepada perempuan yang berbeda. Tetapi sayang, ia selalu mendapatkan penolakan, seolah ia hanya baik sebagai teman dan tidak pantas menjadi pangeran cinta.
Kekecewaan pada kenyataan, lalu membuatnya menarik diri dari medan perjuangan. Ia menepi dalam kesunyian, dan membiasakan diri dengan kesendirian. Tanpa berkawan siapa-siapa, ia kemudian hanyut di dalam dunia maya. Sampai akhirnya, jalan perkawanan yang acak, mempersangkutkannya dengan seseorang perempuan di balik sebuah akun, yang membuatnya kembali berangan-angan tentang kasih sepasang manusia.
Waktu demi waktu, mereka terus mengakrabkan diri. Terpisah tembok kota yang sesak, bukanlah satu penghalang. Pesan tulis atau suara via ponsel pintar, menjadi jalan jitu mereka berbagi cerita. Dari serangkaian obrolan itulah, mereka merasakan kenyamanan dengan berbalas penghargaan. Ia senantiasa memberikan pujian pada tulisan sang perempuan, sedang ia mendapatkan pujian untuk kepiawaiannya bermusik.
Perlahan, keakraban mereka berubah menjadi ketergantungan. Mereka saling membutuhkan untuk merasa diri bernilai. Mereka seolah sama-sama terasing dan ingin menyatu untuk menyemarakkan kehidupan. Mereka bak belahan jiwa yang terhubung layar ponsel masing-masing. Karena itulah, setelah keterikatan maya dalam hitungan bulan, mereka bersepakat untuk bertemu pada sebuah pagelaran sastra. Dengan maksud hati yang sejalan, mereka berniat menjajaki hubungan di dunia nyata.
Tetapi sudut pandang senantiasa membuat mata berubah penilaian terhadap kenyataan. Setelah bertemu dan saling bertatapan untuk pertama kalinya, cita-cita mereka atas masa depan, malah jadi berbeda akibat ekspektasi dan perspektif nilai fisik yang berbeda pula. Ia merasa begitu beruntung sebab sang perempuan lebih rupawan daripada yang terlihat pada berkas foto di media sosial, sedang sang perempuan malah menilai dirinya secara sebaliknya.
Dengan sewajarnya dan sepatutnya, sebagai sepasang kenalan baru di dunia nyata, mereka kemudian melewatkan hari-hari berdua, meski dengan harapan yang tak searah. Mereka sama-sama berupaya menyampatkan waktu untuk menjalani aktivitas bersama, meski dalam pemaknaan yang berbeda. Ia meniatkan kebersamaan mereka sebagai awalan menuju hubungan yang serius, sedangkan sang perempuan sekadar menghargainya sebagai seorang teman.
Akhirnya, atas keyakinannya sendiri, ia pun membulatkan tekad untuk menyatakan perasaannya. Demi tujuan itu, ia mengajak sang perempuan untuk melewatkan malam Minggu bersama di sebuah kafe favorit sang perempuan sendiri. Pada momen itulah, dengan penuh percaya diri, ia naik ke atas panggung musik bebas untuk mempersembahkan sebuah lagu gubahannya sebagai kado ungkapan perasaan cintanya.
"Lagu ini kupersembahkan untuk Wanita Cantik di sana," tuturnya, sebagai kata pengantar, sambil menuding ke arah pujaan hatinya.
Mata orang-orang seketika tertuju pada sang perempuan.
"Ini lagu ciptaanku sendiri, sebagai ungkapan perasaanku," terangnya.
Sekian menit berjalan, berbekal petikan gitarnya sendiri, ia menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Tetapi malang baginya, sebab sebelum lagu itu benar-benar tandas, ia melihat kalau sang perempuan telah menghilang dari mejanya.
Akhirnya, malam itu, dengan perasaan malu, ia turun dari panggung. Tanpa berlama-lama, ia bergegas menyusul sang perempuan dengan sepeda motornya. Dalam waktu yang singkat, ia pun tiba di kos-kosan sang dambaan hatinya itu.
"Apa ada yang salah denganku?" tanyanya, setelah sang perempuan membuka pintu untuk menemuinya di teras kamar.
Dengan tatapan nanar, sang perempuan balik bertanya, "Apa kau masih kanak-kanak sampai kau tak tahu kesalahanmu?"
"Apa?" tanggapnya, bingung. "Apa kau tak suka laguku? Atau kau tak suka aku menyanyi untukmu?"
Sang perempuan menggeleng-geleng saja dengan raut kesal.
"Apa? Katakanlah," desaknya.
"Aku tak suka kau menyatakan perasaanmu seperti itu kepadaku! Itu sama saja kau mempermalukan aku di depan umum," tegas sang perempuan.
"Kenapa? Bukankah selama ini kau menyukaiku juga? Tidakkah sikap baikmu kepadaku berarti kau mau menjadi kekasihku?" selidiknya, heran.
"Aku tidak punya perasaan kepadamu lebih dari sekadar rasa pertemanan!" tutur sang perempuan, seperti tanpa keraguan.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan diriku?" selidiknya lagi, seolah tak bisa memahami.
Sang perempuan terdiam gusar.
"Setidaknya, beri aku alasan sampai kau tak mau padaku," pintanya.
"Karena kau jelek, dan kau tak punya rasa malu! Puas?" ketus sang perempuan, lantas berbalik dan menutup pintu.
Ia pun terperanjat dengan hati yang terluka. Ia butuh sekian detik untuk menginsafi kenyataan pahit atas harapan cintanya itu.
Sejak saat itu, ia menjalani hari-harinya dalam kesedihan. Setelah gagal mendapatkan kekasih untuk kesekian kalinya, ia merasa kegagalan yang terakhir itu adalah kegagalan terpedih. Semua angan-angan yang indah tentang masa depan, mesti susah payah ia lenyapkan dari dalam benaknya. Segenap persembahan berupa gubahan lagu-lagu cinta untuk sang perempuan, juga harus ia arsipkan dengan penuh kepiluan.
Setelah semua yang terjadi, ia benar-benar terpuruk atas duka cintanya. Ia jadi putus asa menghadapi kehidupan, dan butuh pelampiasan untuk tetap bertahan. Hingga akhirnya, kepedihan itu memberinya kekuatan untuk kembali menciptakan karya sebagai bentuk terapi. Sebuah lagu kemudian rampung, perihal cinta yang tak akan mati untuk seseorang yang tidak bisa dimiliki. Satu lagu yang ia unggah pada laman akun-akun barunya di sejumlah kanal media sosial, dengan nama samaran pekarya yang tak diketahui orang selain dirinya.
Tetapi ternyata, seiring waktu, lagu dengan polesan musik yang minimalis itu, tak bisa menyerap dan meredam segenap kerisauan hatinya. Tetap saja kekalutannya bergejolak untuk harapan cinta yang tak bisa ia bunuh. Apalagi, pada waktu kemudian, dalam aksi pemantauannya akibat rasa penasarannya, ia acap kali menyaksikan sang perempuan berkunjung ke kafe tersebut bersama seorang lelaki yang entah dalam status apa.
Hingga akhirnya, kegalauannya itu menjadi kecemburuan yang mengacaukan kewarasannya. Mata hatinya gelap, hingga ia tega membuntuti dan menendang sisi belakang sebuah sepeda motor seorang lelaki yang memboncengkan sang perempuan sepulang dari kafe. Kenekatan itu tak menimbulkan kematian, tetapi cukup mencederai dan merugikan. Lelaki pembonceng sang perempuan mengalami luka gores ringan pada punggung kakinya, dan tak perlu perawatan khusus; sang perempuan mengalami luka parah pada betis dan wajahnya, sehingga ia dilarikan ke rumah sakit; ia sendiri tak mengalami luka-luka, tetapi ia akhirnya dijebloskan ke dalam sel penjara tersebab aksinya terekam jelas kamera pemantau.
Waktu pun bergulir cepat.
Kini, pada sudut pandang kehidupan yang lain, pada ruang kamar sang perempuan, entah untuk kali keberapa sebuah lagu berputar. Terus saja berulang, seperti mantra. Merasuki telinganya lewat perangkat jemala nirkabel. Membungkam pendengarannya dari dunia luar. Melambungkan angannya ke alam imajinasi.
Selalu saja perenungannya makin meninggi setiap kali bagian refrein itu mengudara, layaknya berada di puncak ekstase. Musik yang melankolis, dan lirik yang mendalam, membuatnya hanyut tenggelam. Saat melanglang di pusat alam jiwanya itulah, ia kerap menemukan keajaiban sebagai ilham penciptaan karyanya.
Begitulah kebiasaannya selalu, seolah ia telah kehilangan rasa bosan atas pengulangan. Sejak menemukan lagu itu di dunia maya, seketika pula ia jatuh hati. Ia merasa telah menemukan sebuah lagu yang sempurna untuk seorang pencinta sejati seperti dirinya. Ia merasa lagu itu adalah karya terbaik untuk menginspirasi pengungkapan perasaannya yang agung.
Karena itu pula, setiap kali menulis puisi tentang rasa cintanya kepada lelaki pujaan hatinya, ia senantiasa menyetel lagu itu. Suasana surgawi akan terbentuk, dan ia jadi mudah meramu kata untuk menyiratkan pemujaannya. Sudah beberapa gubahan ia ciptakan dengan cara itu, dan ia tidak pernah kecewa dengan hasil akhirnya.
Tanpa keraguan, ia yakin kalau lagu itu diciptakan oleh dan untuk pemuja cinta yang sejati. Diciptakan seseorang yang juga memperjuangkan cinta yang mendalam, yang tak akan terhenti sampai menang, atau mati. Untuk seseorang seperti dirinya sebagai pencinta yang mencintai sepenuhnya, tanpa ada kemungkinan untuk berpaling ke lain hati. Dan memang begitulah adanya, bahwa di luar jangkauan pengetahuannya, penciptaan lagu itu didasari oleh cinta buta seorang pendamba terhadap pujaan hatinya; antara dirinya dan seorang pencipta lagu yang pernah ia campakkan.
Sampai akhirnya, sekian lama berselang, ia merdeka dari pergulatan imajinasinya. Ia kembali berhasil merangkai kata menjadi sebuah puisi yang utuh. Sebuah puisi yang seolah menjadi kesimpulan dari rangkaian puisinya sebelumnya. Satu puisi pengakuan dan pernyataan cinta yang tidak menerima penolakan sebagai balasan.
Demikianlah sebuah bait yang memungkaskan gubahan itu. Sebuah puisi yang ia rampungkan untuk seorang lelaki yang menyenangkan perasaannya sekian lama dengan senantiasa memuji karyanya. Seorang yang memboncengkannya dengan sepeda motor saat seorang yang menggilainya menghantam kendaraan mereka dari belakang. Seorang penyanyi tetap di sebuah kafe favoritnya, tempat dahulu ia merasa begitu malu terhadap sang pujaan saat cintanya dipinang begitu saja oleh seorang lelaki yang sangat mendambakannya menjadi kekasih.
Seturut rencananya sekian lama, ia pun hendak mengakhiri kerisauan hatinya dengan puisi itu. Setelah lama berkawan dengan sang pujaan dan tak kunjung pendapatkan kepastian, ia bertekad mengambil langkah yang berani. Ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya lebih dahulu dengan gubahannya itu, sebab ia tak tahan lagi mengulur waktu dalam ketidakpastian. Karena itulah, dengan perasaan yang berdebar, ia akhirnya mengirimkan puisi itu kepada sang idaman melalui kolom pesan.
Setelah sekian lama tak mendapatkan balasan, ia pun mengirimkan permintaan: Aku butuh tanggapanmu
Tak lama berselang, sang lelaki membalas: Seperti biasa, puisimu mengagumkan. Tidak diragukan lagi
Dia: Aku tidak butuh tanggapanmu sebagai komentator. Aku menulis puisi itu untukmu, dan aku butuh jawabanmu untuk ungkapanku di dalam puisi itu
Sang lelaki: Seandainya saja aku bukan teman baikmu, dan aku memendam perasaan yang istimewa kepadamu, aku pasti menerima bunga itu dengan senang hati
Dia: Tapi aku menginginkanmu lebih dari sekadar teman biasa
Sang lelaki: Jangan bercanda... Oh, ya, kau sebaiknya kuberitahu sekarang, kalau bulan depan, aku akan menikah. Ini undangan yang rencananya aku kusebarkan minggu depan (menautkan sebuah berkas undangan pernikahan dalam format video pendek)
Dia: (sebuah tanggapan dengan emotikon senyuman yang canggung)
Dengan jantung yang berdebar keras, ia lantas membuka berkas undangan itu dan mengejanya dengan perasaan yang hancur. Sekian detik kemudian, ia terpaku pada momen video yang menampilkan foto sang pujaan bersama calon istrinya dengan senyuman yang lepas. Seketika pula, ia menginsafi bentuk senyumannya sendiri, yang tak lagi semanis dahulu setelah kedua bibirnya teriris luka yang dalam dan meninggalkan bekas yang sangat jelas. Dengan begitu saja, ia larut dalam perbandingan yang menyakitkan.