Repertoar Ilusif
Tafsir-tafsir tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Jumat, 12 Juni 2026
Mata Kaki
Makan Bersama
Kepulanganku kali ini beserta perasaan yang berbunga-bunga. Sebagai bentuk perayaan atas keberhasilanku sendiri, aku pun membawakan hadiah untukmu. Aku telah membeli sekantong makanan instan yang cukup mahal, yang pasti kausuka. Setidaknya, begitulah yang kulihat pada iklan-iklan merek makanan kucing itu.
Sudah sepatutnya aku berterima kasih atas kehadiranmu. Sebagai lelaki lajang yang berjuang sendiri untuk hidup di tengah kehidupan kota yang keras, kau cukup menawar kepenatan dan kesedihanku dengan tingkah acak dan cuekmu. Karena itulah, setelah aku mendapatkan surel pemberitahuan kalau aku diterima sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan ekspedisi, aku merasa kau mesti merasakan kesenanganku juga.
Hasratku menyenangkanmu dengan makanan istimewa, makin menjadi setelah aku mendapatkan perlakuan yang sama dari seseorang. Dengan begitu saja, menjelang jam pulang kerja, aku mendapatkan informasi dari seorang kurir bahwa seseorang telah memesankan sekotak hidangan berupa nasi campur dari sebuah restoran mewah untukku, yang kemudian digantung sang kurir di depan pintu kamar kosku. Aku tak bisa menebak dengan yakin siapa sang pemurah itu. Tapi kukira itu ada hubungannya dengan hari ulang tahunku kemarin.
Karena itulah, aku memilih tidak membeli hidangan tambahan untuk diriku sendiri, demi berhemat. Dengan tabungan yang seadanya, kurasa cukup jika aku sedikit berkorban untukmu. Selama ini, atas pendapatanku yang memprihatinkan sebagai pramuniaga toko perabotan rumah tangga, kau turut hidup melarat. Makananmu sebatas sisihan dari makanan sederhanaku. Nasi putih dengan suwiran daging ikan atau ayam, cukup membuatmu bersetia denganku. Bahkan tak jarang bagianmu sekadar tulang belulang atau nasi berkaldu kalau aku sedang berhemat ketat.
Akibat kondisi kehidupan itu, keadaanmu tak sebaik kucing-kucing peliharaan orang berada. Tubuhmu terhitung kurus, dan bulu-bulumu masih rontok. Karena itu pula, sudah beberapa kali aku mencoba membuatmu sejahtera dengan menyelundupkanmu ke halaman rumah keluarga kaya yang kutaksir pencinta kucing. Tetapi sialnya, kau selalu menemukan jalan untuk pulang ke kamarku, dan memilih tetap bersamaku. Sampai akhirnya, aku menyerah untuk membuat kita terpisah.
Dengan semua itu, kau sepatutnya bersyukur atas kebaikanku dalam segala keterbatasanku. Tidak saja menyelamatkan nyawamu, aku juga menghidupimu semampuku. Hingga akhirnya, kau tumbuh sehat dan kuat. Keadaanmu jelas jauh lebih baik ketimbang tiga bulan yang lalu, saat aku menemukanmu dalam keadaan yang begitu memprihatinkan. Saat itu, kau hanya meringkuk lemas dan berbalut air comberan di tepi selokan persimpangan jalan yang sepi. Kau seperti hanya menunggu mati dalam keadaan terabaikan. Sebuah pemandangan yang membuatku miris, hingga aku memilih untuk menolongmu
Kini kusadari, keputusanku untuk membawamu dan merawatmu dengan cara sederhana adalah keputusan yang tepat. Kalau saja tidak begitu, aku pasti dihantui rasa bersalah sepanjang waktu. Aku yakin, kau akan mati kedinginan dan tak pernah dikuburkan. Aku yakin begitu, karena di tengah kehidupan perkotaan yang berat secara ekonomi, orang-orang akan memilih untuk mengabaikanmu demi menghindari beban-beban untuk menghidupimu. Bahkan aku yakin orang-orang yang mengasihanimu akan enggan menyelamatkanmu, dengan pikiran, setidaknya, bukan mereka yang membunuhmu.
Pikiran-pikiran semacam itu, tak bisa kuhindari, karena aku menyaksikan sendiri kalau kemiskinan menggerayangi orang-orang di sekitarku. Setidaknya, banyak penghuni kamar kos di sekitarku, hidup dalam keadaan yang tidak lebih baik dariku. Mereka berjuang keras untuk bertahan dalam impitan ekonomi dengan kebutuhan yang makin mahal. Ada yang bekerja sebagai pengemis, pengamen, atau pedagang asongan. Bahkan ada beberapa yang kuketahui bekerja sebagai pengedar obat terlarang, penagih utang, dan pelayan di tempat hiburan malam.
Kenyataan kerasnya kehidupan kota makin kusadari setelah mengetahui kalau aku harus bersaing dengan ratusan orang untuk mendapatkan pekerjaan yang kini berhasil kumenangkan, meski pekerjaan itu hanyalah pekerjaan level rendah dengan gaji yang secukupnya. Aku pun makin memahami keadaan itu empat hari yang lalu, setelah menjalani tes wawancara, seusai mengobrol dengan salah satu dari dua orang pesaing terakhirku dalam memperebutkan satu pekerjaan tersebut.
"Hidup di kota ini terasa makin berat. Persaingan makin ketat. Pendapatan menurun, sedangkan kebutuhan meningkat. Kita mesti pandai-pandai mencari cara untuk bertahan," kata lelaki itu kemudian, dengan nada mengeluh, setelah menerangkan kalau pendapatannya makin sulit memenuhi kebutuhannya di tengah pesaingan perebutan penumpang yang makin sengit di antara pengemudi ojek daring setelah banyak orang menjadikan penghidupan tersebut sebagai pekerjaan sampingan atau pelarian dari status pengangguran.
Aku sekadar mengangguk setuju dan membebaskannya untuk terus menumpahkan keresahannya. Aku merasa sepatutnya menjadi penenang dengan menjadi pendengar yang baik atas kebaikannya mengajak dan mentraktirku makan bersama di sebuah warung makan di tengah pendapatan kami yang sama-sama pas-pasan.
Ia lantas mengembuskan napas yang panjang, kemudian menyambung keluh kesahnya, "Aku tak tahu lagi bagaimana kalau aku tidak segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaanku sekarang," tuturnya, untuk merangkum kekalutannya akibat jeratan utang, termasuk pinjaman daring, demi menghidupi istri dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil.
Dengan penuh pengertian, aku pun menanggapi sekenanya, "Sesulit apa pun kehidupan kita, setidaknya, kita masih bisa bertahan hidup dengan cara-cara yang baik."
Seolah sepaham, dengan perasaan berat, ia pun mendengus dan melayangkan senyuman miris.
Sekian lama kemudian, kami hanya saling mendiamkan. Aku fokus menghabiskan salah satu hidangan favoritku berupa nasi campur dengan lauk ikan bandeng goreng, sedangkan ia khidmat menikmati isapan rokoknya. Hingga akhirnya, setelah turut menandaskan hidangan dan memulai gelagat untuk berpisah, kami pun sama-sama sadar untuk sepatutnya berbagi nama dan informasi pribadi. Setelah itu, kami lalu berpisah tanpa menyinggung bagaimana kemungkinan akhir dari persaingan kerja di antara kami.
Tetapi tentu, sebagai orang yang sekian lama hidup dengan keuangan yang pas-pasan, demi kehidupan yang lebih baik, aku jelas ingin mengalahkannya dalam mendapatkan pekerjaan tersebut. Aku ingin jadi lebih berdaya dalam membeli segala macam keperluan, termasuk perihal kebutuhanmu. Aku ingin menjadi pemelihara yang berkelas dengan senantiasa memberikan makanan yang istimewa untukmu. Dengan begitu, badanmu akan jadi makin berisi dengan bulu hitam-putih yang menawan, dan aku akan makin suka melihatmu dan membelaimu.
Sampai akhirnya, harapanku terwujud hari ini, setelah aku mendapatkan surel pemberitahuan kalau aku terpilih sebagai pemenang dalam perebutan pekerjaan itu. Aku hanya perlu memenuhi persyaratan pemberkasan untuk benar-benar menjabat pekerjaan tersebut. Karena itulah, kali ini, aku pulang dengan perasaan yang berbunga-bunga. Aku tak sabar untuk tiba dan menjumpaimu di area kamarku seperti biasa. Aku ingin segera berbagi kesenangan denganmu, dengan makan bersama, dengan hidangan kesukaan masing-masing.
Namun aneh. Setelah tiba di halaman kos-kosan dan memarkir sepeda motor, aku tak mendengarmu mengeong sambil menghampiriku cepat-cepat. Dengan penuh tanya, aku lalu melangkah ke arah kamarku sembari melayangkan pandangan. Dari jarak sekian meter, aku pun melihatmu berbaring di teras depan.
Tetapi keganjilan malah makin terasa. Tak seperti biasanya, kau tak segera bangun dan menyambut kedatanganku. Hingga akhirnya, aku menyaksikan kenyataan yang memilukan. Dari mulutmu, keluar gelembung busa, sedang di sampingmu, berserakan sekotak nasi campur dengan lauk ikan bandeng goreng.
Kau telah menyelamatkan nyawaku dengan kematianmu.
Persatuan Bahaya
Ikatan Batin
Bila saja sesuai rencana, sejak tujuh hari yang lalu, aku semestinya berada di kampung bersamamu. Mulai hari itu, aku akan melewatkan hari dengan membantumu mengurus kebun lada kita. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Engkaulah yang beranjak ke kota ini. Kau terpaksa datang menemaniku menjalani perawatan di rumah sakit setelah aku mengalami komplikasi penyakit asam lambung.
Aku tak pernah membayangkan kenyataan akan begitu. Sebagai seorang anak, akulah yang seharusnya menandangimu dan mendampingimu dalam kelemahan dan kerentananmu. Aku seharusnya menjaga kondisi tubuhku agar aku tidak malah merepotkanmu sebagai seorang ayah yang sudah nyaris lanjut usia. Tetapi malang tak bisa kuelakkan. Penyakit mengalahkan pertahanan tubuhku, dan aku tak bisa apa-apa.
Jauh sebelumnya, pada hari-hari yang lampau, selama terpisah jarak, aku selalu mengkhawatirkan kondisimu. Sejak Ibu meninggal, dan kau tinggal seorang diri, aku senantiasa mencemaskan keadaanmu. Aku takut celaka menimpamu karena bekerja terlalu keras di kebun, atau penyakit menggerogoti tubuhmu karena ketidaksanggupanmu mengurus pekerjaan rumah untuk menjaga kesehatanmu.
Kekhawatiranku makin menjadi-jadi karena kondisi tubuhmu tak lagi sekuat dahulu. Kekuatan ototmu sudah melemah, dan kebugaran tubuhmu merawan. Aku cemas kalau-kalau kebiasaanmu bekerja tanpa mengenal batas, akan membuatmu benar-benar tumbang tak berdaya. Aku takut tak berada di sampingmu saat kau kehilangan harapan tanpa bantuan, dan tak ada siapa-siapa yang hadir untuk menolong.
Sebenarnya, sudah berkali-kali aku memintamu untuk tidak lagi bekerja berat, sebab kau tak lagi punya tanggungan setelah aku sebagai anak tunggalmu telah hidup mandiri. Aku bahkan berapa kali memintamu untuk berhenti dari pekerjaan kebun dan tinggal di kota ini bersamaku dalam penanggunganku, atau sekadar rehat untuk sekian lama, tetapi kau selalu menolak, seolah batinmu telah terikat pada kebun.
Atas keadaan itu, aku akhirnya mengambil jalan tengah. Aku senantiasa menyisihkan dan mengirimkan pendapatanku untukmu sembari berpesan agar kau menggaji orang lain untuk membantumu mengurus kebun. Tetapi tetap saja, seakan sudah tabiat, kau selalu turun tangan sendiri mengurus tanaman sampai batas kemampuanmu. Kau tampak begitu menggandrungi rutinitasmu itu.
"Setiap pekerjaan ada risikonya. Begitu pula pekerjaanmu. Kita hanya bisa berusaha menghindarinya," katamu, lewat telepon, sebulan yang lalu, setelah aku menyinggung pekerjaanmu yang berat karena menguras tenaga di bawah terik matahari, sembari menyepelekan beban pekerjaanku sendiri di ruang ber-AC.
"Asal Ayah tahu batas saja kalau begitu. Jangan terlalu memaksakan diri," tanggapku, mewanti-wanti.
"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja di sini. Sedari kecil, aku telah terbiasa dengan pekerjaan kebun, dan aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai beban. Aku bahkan menikmatinya, layaknya hiburan pengisi waktu. Dan menikmati pekerjaan itulah yang penting, yang bisa menghindarkan kita dari beban batin yang bisa mendatangkan penyakit," tuturmu, mencoba menepis ketakutanku, sekaligus menyiratkan petuah.
Dengan responsmu itu, sebagaimana selalu, aku berpasrah saja. Tetapi diam-diam, aku tetap memendam kecemasan.
Akhirnya, demi menawar kekhawatiranku atas dirimu, untuk hari kerja di sela-sela tanggal merah dan hari libur kerja, aku memutuskan mengambil cuti. Aku merencanakan untuk membantumu mengurus kebun selama seminggu. Kupikir, setidaknya, keberadaanku dalam waktu selama itu, sudah cukup untuk meringankan bebanmu dalam membereskan pekerjaan kebun yang membutuhkan tenaga ekstra.
Sampai kemudian, terjadilah apa yang tak pernah kubayangkan. Akulah yang kalah atas keadaanku sendiri. Akulah yang terserang penyakit hingga kau harus datang untuk membantuku pulih. Hingga akhirnya, karena itu, aku memahami pernyataanmu soal hubungan kesehatan dengan pekerjaan fisik dan beban pikiran. Dari keterangan dokter, aku memahami kalau sakitku disebabkan pula oleh istirahat yang kurang dan beban pikiran yang berat. Jelas, itu soal pekerjaan kantor yang menguras waktu dan pikiranku.
Namun beruntung, sebab setelah perawatan yang baik di rumah sakit selama lima hari, aku akhirnya berhasil melawan penyakit. Bahkan pagi ini, aku merasa keadaanku mendekati kepulihan yang sempurna. Tetapi saat kondisiku makin membaik, aku malah menyaksikan pertanda buruk yang begitu menakutkan. Raut wajahmu kuyu dan terlihat makin lesu. Batukmu terdengar makin sering dan keras. Bahkan saluran hidungmu sering tersumbat sampai kau jadi sering bersungut-sungut. Meski awalnya kau berkilah kalau itu biasa dan hanya gejala kecapaian, tetapi akhirnya aku merasa ngeri.
Untuk mencegah keadaanmu memburuk, aku pun menghampirimu saat kau tengah berjemur di bawah terpaan sinar matahari pagi, di teras depan rumahku. "Kondisi Ayah tampak mengkhawatirkan. Sebaiknya aku antar Ayah ke dokter, ya?" tawarku.
Kau lekas menggeleng. "Tidak usah. Aku cuma demam dan flu biasa. Mungkin karena tubuhku belum menyesuaikan dengan hawa di kota ini."
"Kalau begitu, aku belikan obat saja," saranku.
Kau kembali menggeleng. "Tidak perlu. Keadaanku akan baik-baik saja. Mungkin aku hanya perlu menghangatkan diri dengan sinar matahari dan menghirup udara segar. Aku sepertinya tidak cocok dengan AC," kilahmu, lantas melesitkan ingusmu.
Aku pun mengangguk maklum dengan sedikit rasa bersalah. Tetapi tak ada pilihan lain yang lebih baik, karena lazimnya, di kota, keadaan ruangan akan terasa pengap tanpa menyalakan pendingin ruangan, sedang udara bebas akan masuk bersama debu atau nyamuk. "Mungkin Ayah lebih cocok dengan kipas angin. Nanti aku belikan."
Lagi-lagi, kau menggeleng. "Karena keadaanmu sudah membaik, aku sebaiknya pulang hari ini juga. Aku khawatir hama akan merusak tanaman lada di kebun kalau tidak segera disemprot."
"Tidak maukah Ayah tinggal lebih lama lagi?" tanyaku, mencoba menawar. "Aku belum membawa Ayah jalan-jalan ke tengah kota."
Kau lantas melepaskan gelakan yang pendek. "Tidak usah. Aku lebih cocok dan lebih nyaman berada di kampung. Kehidupanku di sana."
Akhirnya, aku mengalah dengan pemahaman kalau begitulah adanya, bahwa suasana kota akan makin mengancam kesehatanmu, dan suasana pedesaan akan lekas memulihkanmu kembali. "Baiklah. Nanti aku antar Ayah ke terminal."
Dengan senyuman lepas, kau pun mengangguk tegas, kemudian memberikan nasihati. "Rajinlah berjemur, seperti ini. Tubuh kita butuh paparan sinar matahari." Kau melepas batuk dua kali, lantas menambahkan, "Kau juga harus rajin berolahraga. Tubuh mesti berkeringat, supaya sehat."
Aku mengangguk saja. Membenarkan.
"Jagalah kesehatanmu baik-baik," pesanmu lagi.
"Tentu, Ayah," tanggapku, dengan kesungguhan, sebab aku tak ingin ketakutanku menjadi kenyataan, bahwa tubuhmu benar-benar dilumpuhkan penyakit tersebab aku jatuh sakit lagi.