Berangkat dari sahaja
Terambang ambisi dan apati
Sepanjang bantaran kita berdansa
Di atas tanah berpasir atau lumpur berkerikil
Bertatak belukar dan berpayung pepohonan
Dengan gemercik arus dan gemerisik dedaunan
Diiringi padu tarian burung dan jogetan ikan
Yang begitu nikmat dengan cara sederhana
Sebab kita meninggikan berkat yang lahir
Tanpa merendahkan rahmat yang jatuh
Sampai terpisah angan tentang pesta
Karena kau benci hujan dan aku benci terik
Karena kau takut ombak membawa kita pulang
Sedang aku takut kobar menghanguskan kita
Lalu sendiri, kau menyimpang ke bukit
Setelah tengadahmu menjurus ke puncak
Saat segala tanya menggodamu mendaki
Tinggi, dan makin tinggi, menuju langit
Sampai hilang dalam impian masa depan
Ketika aku masih sejauh ujung jalan yang sama
Pada terakhir kita dalam alam ugahari
Dengan sendiri meresapi yang lalu
Sebelum terhanyut lagi dengan tenang
Kembali, dan terus kembali, dalam samudra kenangan
Tenggelam berulang sampai dasar palung cerita
Terkubur dengan sepenuh kisah dari sepenggal kisahmu
Repertoar Ilusif
Tafsir-tafsir tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Sabtu, 22 Agustus 2026
Larut dan Terurai
Senin, 17 Agustus 2026
Esa Juang
Duka luka dalam sejarah
Dari bengis musuh yang merata
Telah membawa nasib menuju takdir
Pada kesatuan derita dalam perlawanan
Lalu merdeka memperdaya
Kita sama mencari perbedaan
Atas ketidakadilan atau kecurigaan
Menjadi sebab menentukan nasib sendiri
Kita lantas melemah
Sendiri-sendiri dalam ikatan lepas
Mencipta kacung, raja kecil, hingga pemberontak
Membebaskan selatan, merenggangkan timur, barat, dan utara
Entah bagaimana garis tangan kita
Adakah alasan selamanya untuk kita teguh memegang janji persatuan?
Mungkinkah keadaan membaik untuk kita saling merangkul dalam perjuangan?
Atau kita hanya bertahan untuk saling menggenggam dalam kerapuhan?
Minggu, 16 Agustus 2026
Sejak Semula
Akan berbiak kepedihan
Bertumbuh dari luka yang basah
Terlahir dari dendam yang mengakar
Dari kita yang membenihkan kemalangan
Dalam pergumulan yang bersimbah peluh
Selama kebersamaan yang kerontang
Setelah kita mengikat kesetiaan yang rapuh
Demi menenangkan perasaan yang labil
Dengan pikiran yang kabur terbekap nafsu
Akibat sihir perjumpaan yang tidak terencana
Selepas terusir dari persinggahan yang kacau
Atau terbuang dari rumah yang porak-poranda
Karena kita terlahir tanpa bisa memilih tempat
Sebab kita ada tanpa bisa menjadi tidak pernah ada
Pada kelak, entah di mana salahnya setelah penderitaan yang mewariskan penderitaan itu
Apakah pada kelahiran, pertemuan, atau kebersamaan kita?
Atau pada kelalaian kita karena memperturut kenikmatan semu yang membuat kita abai menentukan waktu yang tepat untuk berhenti menjadi kita?
Tetapi semasih kini, saat riwayat itu belum sempurna, akankah kita mampu tercerai menjadi kami dan kalian demi mereka-mereka yang tidak berhak menanggung penderitaan karena kita?
Atau kita sanggup untuk selamanya tidak menjadi kita, lalu mati dengan penderitaan sendiri-sendiri?