Rabu, 26 Agustus 2026

Kita setelah Mereka

Kembali bencana berkali petaka
Menggila tragedi bangsa pelupa
Selama negara dalam durjana
Selamanya buana gelimang duka
Mencipta kasta papa yang lara
Beserta saf ulama yang kecewa
Juga para cendekia yang terjaga
Satu armada menerjang cuaca
Dipandu nakhoda atas nama cita
Dipercaya katanya sesama hamba
Seturut citra maya media berita
Menjadi duta tanpa ada curiga
Sampai ganda siklus masa bahala
Karena manis bahasa, berdua muka
Berlawan tersebab dengki semata
Berpura menista kuasa yang dusta
Memenjara raga penjarah dana
Mengganti mereka mencuri laba
Menimbun harta, mengumbar angka
Membungkam massa dengan senjata
Sampai gana mafia memicu sengketa
Sampai nyawa suaka dan membahaya
Sampai masanya melawan sang raja
Mengerahkan tipu daya segala gaya
Menjaja surga dalam pesta yang hina
Merebut tahta dan mengulang bala
Hingga cua sukma kita terlenyap asa
Sisa berdoa untuk tobatnya penguasa
Atau menerima saja cara dunia bekerja
Dengan pasrah pada durhaka manusia
Bahwa adikara punya pencinta angkara
Agar ada beda antara dosa dan pahala
Agar bermakna membela yang menderita
Agar berarti surga sebagai imbalan Yang Maha
Atau lagi, kita bersepakat mencoba
Meniti peta gerakan nurani yang terencana
Menjadi bijaksana sebelum bersinggasana
Berbudi mulia sebelum memikul dunia
Terbiasa berpuasa sebelum berkuasa
Tetapi, apa masih tersisa percaya di antara kita?
Atau kita masih akan saling curiga perihal siapa di antara kita yang akan berhasil mengkhianati selainnya?


Minggu, 23 Agustus 2026

Untuk Hidup Sehari Lagi

Buram nalarmu, dan ingin menggelapkan semua
Melihat tali, racun, pisau, dan mulai menimbang rencana
Tetapi khawatir juga kesialan menggantung tanggung nasibmu
Melenyapkan daya untuk selamanya meratapi ketidakbergunaan
Hingga kau menyusup lewat jendela, untuk terjun, hancur, dan sirna
Membebaskan diri dari kemalangan dunia yang sambung-menyambung
Perihal cita yang merana, cinta yang sungkawa, dan citra yang nista
Melahap kesabaran untuk bertahan mengharapkan perubahan
Namun ragu mempertanyakan lagi detik mendatang untuk sekali lagi
Merenungkan takdir yang tersangkal, yang barangkali menuju bahagia
Seiring kembali juga ketakutan merongrong dari pelajaran masa kecilmu
Mengancamkan siksa jahanam dengan pedih yang sepedih-pedihnya
Lalu kau terombang di antara kesangsian dan kenekatan
Menyadari kalau semua akan berakhir jua tanpa harus engkau akhiri
Sampai kekacauan itu mengacaukanmu dengan pilihan dari pilihanmu
Menggoyahkan tegapmu, tergelincir, jatuh, dengan keinsafan yang kembali
Tepat pada pembaringan kamarmu, saat kau teringat lagi pada semua yang berkorban untukmu
Menguatkan batinmu untuk memperjuangkan hidup sehari lagi, dan lagi


Sabtu, 22 Agustus 2026

Larut dan Terurai

Berangkat dari sahaja
Terambang ambisi dan apati
Sepanjang bantaran kita berdansa
Di atas tanah berpasir atau lumpur berkerikil
Bertatak belukar dan berpayung pepohonan
Dengan gemercik arus dan gemerisik dedaunan
Diiringi padu tarian burung dan jogetan ikan
Yang begitu nikmat dengan cara sederhana
Sebab kita meninggikan berkat yang lahir
Tanpa merendahkan rahmat yang jatuh
Sampai terpisah angan tentang pesta
Karena kau benci hujan dan aku benci terik
Karena kau takut ombak membawa kita pulang
Sedang aku takut kobar menghanguskan kita
Lalu sendiri, kau menyimpang ke bukit
Setelah tengadahmu menjurus ke puncak
Saat segala tanya menggodamu mendaki
Tinggi, dan makin tinggi, menuju langit
Sampai hilang dalam impian masa depan
Ketika aku masih sejauh ujung jalan yang sama
Pada terakhir kita dalam alam ugahari
Dengan sendiri meresapi yang lalu
Sebelum terhanyut lagi dengan tenang
Kembali, dan terus kembali, dalam samudra kenangan
Tenggelam berulang sampai dasar palung cerita
Terkubur dengan sepenuh kisah dari sepenggal kisahmu


Senin, 17 Agustus 2026

Esa Juang

Duka luka dalam sejarah
Dari bengis musuh yang merata
Telah membawa nasib menuju takdir
Pada kesatuan derita dalam perlawanan

Lalu merdeka memperdaya
Kita sama mencari perbedaan
Atas ketidakadilan atau kecurigaan
Menjadi sebab menentukan nasib sendiri

Kita lantas melemah
Sendiri-sendiri dalam ikatan lepas
Mencipta kacung, raja kecil, hingga pemberontak
Membebaskan selatan, merenggangkan timur, barat, dan utara

Entah bagaimana garis tangan kita
Adakah alasan selamanya untuk kita teguh memegang janji persatuan?
Mungkinkah keadaan membaik untuk kita saling merangkul dalam perjuangan?
Atau kita hanya bertahan untuk saling menggenggam dalam kerapuhan?