Rabu, 12 Agustus 2026

Sebuah Pernyataan

Ah, kutilik lagi keajaiban itu
Sendiri, dalam genggaman dunia
Sebelum kebosanan menjeda hasratku

Ya, akan begitu akhirnya
Tanpa belahan hati untuk memuja
Segala keindahan terasa menjemukan

Oh, andai kamu di sini
Kutatap kesempurnaan itu selamanya
Dalam matamu, seutuh dunia dalam semestaku


Senin, 22 Juni 2026

Lagu Posesif

Kesepian telah membawanya ke dalam sangkar kesunyian yang sebenarnya. Keinginan untuk memeriahkan hidupnya dengan seorang pasangan hidup, malah membuatnya mendekam di balik jeruji besi. Mata hatinya buta atas nama cinta untuk seorang perempuan, hingga ia nekat melakukan tindakan yang gila bagi pikiran yang jernih.

Dalam sekian waktu yang lama, ia telah berusaha menjalani kehidupan yang nyata. Ia sudah berjuang menaklukkan sosok pujaan hati demi menjadi lelaki sejati. Terhitung lima kali ia menyatakan perasaannya kepada perempuan yang berbeda. Tetapi sayang, ia selalu mendapatkan penolakan, seolah ia hanya baik sebagai teman dan tidak pantas menjadi pangeran cinta.

Kekecewaan pada kenyataan, lalu membuatnya menarik diri dari medan perjuangan. Ia menepi dalam kesunyian, dan membiasakan diri dengan kesendirian. Tanpa berkawan siapa-siapa, ia kemudian hanyut di dalam dunia maya. Sampai akhirnya, jalan perkawanan yang acak, mempersangkutkannya dengan seseorang perempuan di balik sebuah akun, yang membuatnya kembali berangan-angan tentang kasih sepasang manusia.

Waktu demi waktu, mereka terus mengakrabkan diri. Terpisah tembok kota yang sesak, bukanlah satu penghalang. Pesan tulis atau suara via ponsel pintar, menjadi jalan jitu mereka berbagi cerita. Dari serangkaian obrolan itulah, mereka merasakan kenyamanan dengan berbalas penghargaan. Ia senantiasa memberikan pujian pada tulisan sang perempuan, sedang ia mendapatkan pujian untuk kepiawaiannya bermusik.

Perlahan, keakraban mereka berubah menjadi ketergantungan. Mereka saling membutuhkan untuk merasa diri bernilai. Mereka seolah sama-sama terasing dan ingin menyatu untuk menyemarakkan kehidupan. Mereka bak belahan jiwa yang terhubung layar ponsel masing-masing. Karena itulah, setelah keterikatan maya dalam hitungan bulan, mereka bersepakat untuk bertemu pada sebuah pagelaran sastra. Dengan maksud hati yang sejalan, mereka berniat menjajaki hubungan di dunia nyata.

Tetapi sudut pandang senantiasa membuat mata berubah penilaian terhadap kenyataan. Setelah bertemu dan saling bertatapan untuk pertama kalinya, cita-cita mereka atas masa depan, malah jadi berbeda akibat ekspektasi dan perspektif nilai fisik yang berbeda pula. Ia merasa begitu beruntung sebab sang perempuan lebih rupawan daripada yang terlihat pada berkas foto di media sosial, sedang sang perempuan malah menilai dirinya secara sebaliknya.

Dengan sewajarnya dan sepatutnya, sebagai sepasang kenalan baru di dunia nyata, mereka kemudian melewatkan hari-hari berdua, meski dengan harapan yang tak searah. Mereka sama-sama berupaya menyampatkan waktu untuk menjalani aktivitas bersama, meski dalam pemaknaan yang berbeda. Ia meniatkan kebersamaan mereka sebagai awalan menuju hubungan yang serius, sedangkan sang perempuan sekadar menghargainya sebagai seorang teman.

Akhirnya, atas keyakinannya sendiri, ia pun membulatkan tekad untuk menyatakan perasaannya. Demi tujuan itu, ia mengajak sang perempuan untuk melewatkan malam Minggu bersama di sebuah kafe favorit sang perempuan sendiri. Pada momen itulah, dengan penuh percaya diri, ia naik ke atas panggung musik bebas untuk mempersembahkan sebuah lagu gubahannya sebagai kado ungkapan perasaan cintanya.

"Lagu ini kupersembahkan untuk Wanita Cantik di sana," tuturnya, sebagai kata pengantar, sambil menuding ke arah pujaan hatinya.

Mata orang-orang seketika tertuju pada sang perempuan.

"Ini lagu ciptaanku sendiri, sebagai ungkapan perasaanku," terangnya.

Sekian menit berjalan, berbekal petikan gitarnya sendiri, ia menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Tetapi malang baginya, sebab sebelum lagu itu benar-benar tandas, ia melihat kalau sang perempuan telah menghilang dari mejanya.

Akhirnya, malam itu, dengan perasaan malu, ia turun dari panggung. Tanpa berlama-lama, ia bergegas menyusul sang perempuan dengan sepeda motornya. Dalam waktu yang singkat, ia pun tiba di kos-kosan sang dambaan hatinya itu.

"Apa ada yang salah denganku?" tanyanya, setelah sang perempuan membuka pintu untuk menemuinya di teras kamar.

Dengan tatapan nanar, sang perempuan balik bertanya, "Apa kau masih kanak-kanak sampai kau tak tahu kesalahanmu?"

"Apa?" tanggapnya, bingung. "Apa kau tak suka laguku? Atau kau tak suka aku menyanyi untukmu?"

Sang perempuan menggeleng-geleng saja dengan raut kesal.

"Apa? Katakanlah," desaknya.

"Aku tak suka kau menyatakan perasaanmu seperti itu kepadaku! Itu sama saja kau mempermalukan aku di depan umum," tegas sang perempuan.

"Kenapa? Bukankah selama ini kau menyukaiku juga? Tidakkah sikap baikmu kepadaku berarti kau mau menjadi kekasihku?" selidiknya, heran.

"Aku tidak punya perasaan kepadamu lebih dari sekadar rasa pertemanan!" tutur sang perempuan, seperti tanpa keraguan.

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan diriku?" selidiknya lagi, seolah tak bisa memahami.

Sang perempuan terdiam gusar.

"Setidaknya, beri aku alasan sampai kau tak mau padaku," pintanya.

"Karena kau jelek, dan kau tak punya rasa malu! Puas?" ketus sang perempuan, lantas berbalik dan menutup pintu.

Ia pun terperanjat dengan hati yang terluka. Ia butuh sekian detik untuk menginsafi kenyataan pahit atas harapan cintanya itu.

Sejak saat itu, ia menjalani hari-harinya dalam kesedihan. Setelah gagal mendapatkan kekasih untuk kesekian kalinya, ia merasa kegagalan yang terakhir itu adalah kegagalan terpedih. Semua angan-angan yang indah tentang masa depan, mesti susah payah ia lenyapkan dari dalam benaknya. Segenap persembahan berupa gubahan lagu-lagu cinta untuk sang perempuan, juga harus ia arsipkan dengan penuh kepiluan.

Setelah semua yang terjadi, ia benar-benar terpuruk atas duka cintanya. Ia jadi putus asa menghadapi kehidupan, dan butuh pelampiasan untuk tetap bertahan. Hingga akhirnya, kepedihan itu memberinya kekuatan untuk kembali menciptakan karya sebagai bentuk terapi. Sebuah lagu kemudian rampung, perihal cinta yang tak akan mati untuk seseorang yang tidak bisa dimiliki. Satu lagu yang ia unggah pada laman akun-akun barunya di sejumlah kanal media sosial, dengan nama samaran pekarya yang tak diketahui orang selain dirinya.

Tetapi ternyata, seiring waktu, lagu dengan polesan musik yang minimalis itu, tak bisa menyerap dan meredam segenap kerisauan hatinya. Tetap saja kekalutannya bergejolak untuk harapan cinta yang tak bisa ia bunuh. Apalagi, pada waktu kemudian, dalam aksi pemantauannya akibat rasa penasarannya, ia acap kali menyaksikan sang perempuan berkunjung ke kafe tersebut bersama seorang lelaki yang entah dalam status apa. 

Hingga akhirnya, kegalauannya itu menjadi kecemburuan yang mengacaukan kewarasannya. Mata hatinya gelap, hingga ia tega membuntuti dan menendang sisi belakang sebuah sepeda motor seorang lelaki yang memboncengkan sang perempuan sepulang dari kafe. Kenekatan itu tak menimbulkan kematian, tetapi cukup mencederai dan merugikan. Lelaki pembonceng sang perempuan mengalami luka gores ringan pada punggung kakinya, dan tak perlu perawatan khusus; sang perempuan mengalami luka parah pada betis dan wajahnya, sehingga ia dilarikan ke rumah sakit; ia sendiri tak mengalami luka-luka, tetapi ia akhirnya dijebloskan ke dalam sel penjara tersebab aksinya terekam jelas kamera pemantau.

Waktu pun bergulir cepat.

Kini, pada sudut pandang kehidupan yang lain, pada ruang kamar sang perempuan, entah untuk kali keberapa sebuah lagu berputar. Terus saja berulang, seperti mantra. Merasuki telinganya lewat perangkat jemala nirkabel. Membungkam pendengarannya dari dunia luar. Melambungkan angannya ke alam imajinasi.

Jadi milikku sepenuhnya
Cintaku lebih dari hidup
Jangan akhiri selamanya
Rinduku lebih dari mati

Selalu saja perenungannya makin meninggi setiap kali bagian refrein itu mengudara, layaknya berada di puncak ekstase. Musik yang melankolis, dan lirik yang mendalam, membuatnya hanyut tenggelam. Saat melanglang di pusat alam jiwanya itulah, ia kerap menemukan keajaiban sebagai ilham penciptaan karyanya.

Begitulah kebiasaannya selalu, seolah ia telah kehilangan rasa bosan atas pengulangan. Sejak menemukan lagu itu di dunia maya, seketika pula ia jatuh hati. Ia merasa telah menemukan sebuah lagu yang sempurna untuk seorang pencinta sejati seperti dirinya. Ia merasa lagu itu adalah karya terbaik untuk menginspirasi pengungkapan perasaannya yang agung.

Karena itu pula, setiap kali menulis puisi tentang rasa cintanya kepada lelaki pujaan hatinya, ia senantiasa menyetel lagu itu. Suasana surgawi akan terbentuk, dan ia jadi mudah meramu kata untuk menyiratkan pemujaannya. Sudah beberapa gubahan ia ciptakan dengan cara itu, dan ia tidak pernah kecewa dengan hasil akhirnya.

Tanpa keraguan, ia yakin kalau lagu itu diciptakan oleh dan untuk pemuja cinta yang sejati. Diciptakan seseorang yang juga memperjuangkan cinta yang mendalam, yang tak akan terhenti sampai menang, atau mati. Untuk seseorang seperti dirinya sebagai pencinta yang mencintai sepenuhnya, tanpa ada kemungkinan untuk berpaling ke lain hati. Dan memang begitulah adanya, bahwa di luar jangkauan pengetahuannya, penciptaan lagu itu didasari oleh cinta buta seorang pendamba terhadap pujaan hatinya; antara dirinya dan seorang pencipta lagu yang pernah ia campakkan.

Sampai akhirnya, sekian lama berselang, ia merdeka dari pergulatan imajinasinya. Ia kembali berhasil merangkai kata menjadi sebuah puisi yang utuh. Sebuah puisi yang seolah menjadi kesimpulan dari rangkaian puisinya sebelumnya. Satu puisi pengakuan dan pernyataan cinta yang tidak menerima penolakan sebagai balasan.

Terimalah bunga ini dari gersang asa
Semaikan, mencipta taman nirwana
Atau ia akan gugur di atas pusara
Mengurai cinta jadi duka yang baka

Demikianlah sebuah bait yang memungkaskan gubahan itu. Sebuah puisi yang ia rampungkan untuk seorang lelaki yang menyenangkan perasaannya sekian lama dengan senantiasa memuji karyanya. Seorang yang memboncengkannya dengan sepeda motor saat seorang yang menggilainya menghantam kendaraan mereka dari belakang. Seorang penyanyi tetap di sebuah kafe favoritnya, tempat dahulu ia merasa begitu malu terhadap sang pujaan saat cintanya dipinang begitu saja oleh seorang lelaki yang sangat mendambakannya menjadi kekasih.

Seturut rencananya sekian lama, ia pun hendak mengakhiri kerisauan hatinya dengan puisi itu. Setelah lama berkawan dengan sang pujaan dan tak kunjung pendapatkan kepastian, ia bertekad mengambil langkah yang berani. Ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya lebih dahulu dengan gubahannya itu, sebab ia tak tahan lagi mengulur waktu dalam ketidakpastian. Karena itulah, dengan perasaan yang berdebar, ia akhirnya mengirimkan puisi itu kepada sang idaman melalui kolom pesan.

Setelah sekian lama tak mendapatkan balasan, ia pun mengirimkan permintaan: Aku butuh tanggapanmu

Tak lama berselang, sang lelaki membalas: Seperti biasa, puisimu mengagumkan. Tidak diragukan lagi

Dia: Aku tidak butuh tanggapanmu sebagai komentator. Aku menulis puisi itu untukmu, dan aku butuh jawabanmu untuk ungkapanku di dalam puisi itu

Sang lelaki: Seandainya saja aku bukan teman baikmu, dan aku memendam perasaan yang istimewa kepadamu, aku pasti menerima bunga itu dengan senang hati

Dia: Tapi aku menginginkanmu lebih dari sekadar teman biasa

Sang lelaki: Jangan bercanda... Oh, ya, kau sebaiknya kuberitahu sekarang, kalau bulan depan, aku akan menikah. Ini undangan yang rencananya aku kusebarkan minggu depan (menautkan sebuah berkas undangan pernikahan dalam format video pendek)

Dia: (sebuah tanggapan dengan emotikon senyuman yang canggung)

Dengan jantung yang berdebar keras, ia lantas membuka berkas undangan itu dan mengejanya dengan perasaan yang hancur. Sekian detik kemudian, ia terpaku pada momen video yang menampilkan foto sang pujaan bersama calon istrinya dengan senyuman yang lepas. Seketika pula, ia menginsafi bentuk senyumannya sendiri, yang tak lagi semanis dahulu setelah kedua bibirnya teriris luka yang dalam dan meninggalkan bekas yang sangat jelas. Dengan begitu saja, ia larut dalam perbandingan yang menyakitkan.

Perlahan-lahan, kedengkian makin mengacaukan pikiran dan perasaannya. Beserta emosi yang tidak lagi terkendali, dengan iringan lagu posesif yang masih terus mengalun, ia pun membuka aplikasi lokapasar di ponselnya, lalu mengetik kata pencarian: Air Keras

Panggilan Sekolah

Pagi terasa kelam baginya. Sebuah kekacauan membawanya menyusuri masa yang lampau. Beserta perasaan yang berkecamuk, ia kembali memasuki gerbang sekolahnya dahulu. Banyak yang berubah pada rupa bangunan dan lingkungan itu, tetapi ingatannya tetap mengabadikan serangkaian peristiwa yang sama.

Sembari berupaya meredakan ketegangan hatinya, ia terus saja mengayun langkahnya untuk menemui seorang siswa setingkatnya dahulu. Tekadnya bulat untuk menunaikan penebusan, meski kenangan di dalam benaknya terus menggugah ragunya. Tubuhnya seolah terseret jiwanya yang setengah mati, demi tujuan yang entah bagaimana akhirnya.

Tetapi kemudian, kekalutan batin memaksanya mengambil jeda. Ia lalu melipir ke dalam toilet untuk menenangkan diri. Ia paham kalau emosi yang tidak terkendali, malah akan membuat rencananya kacau balau. Ia jelas butuh kekuatan mental untuk melumpuhkan momok di dalam memorinya, demi melancarkan aksinya.

Seketika pula, ia kembali merenungkan peristiwa memilukan yang terjadi kemarin. Setibanya di rumahnya, sepulang dari rumah sakit tempatnya bekerja, ia mendapati anaknya dengan kondisi yang mengenaskan. Sang anak hanya meringkuk murung di sofa setelah menjadi korban pengeroyokan teman sekolahnya. Pelipisnya lebam, dan bibirnya bonyok.

"Temanku dipalak bos preman yang kutahu untuk pesta miras gengnya di gubuk belakang sekolah. Aku minta uang itu dikembalikan, tetapi ia malah memukulku," terang sang putra yang duduk di kelas X, setelah ia bertanya dengan penuh keprihatinan.

"Kau melawan?" selidiknya, begitu penasaran.

Sambil mengusap-usap pelipisnya, sang anak mengangguk lemas. "Aku menghantam hidungnya sampai berdarah, lalu menendang perutnya sampai terjungkal. Tetapi dua orang temannya segera membantunya mengeroyokku."

Mendengar keterangan itu, ia ikut duduk di sofa, lalu menepuk-nepuk pundak sang anak. "Aku bangga padamu, Nak. Kau berani melawan dan mempertahankan harga dirimu sebagai lelaki. Bagaimanapun akhirnya, kaulah pemenangnya. Lelaki yang bertarung dengan keroyokan, adalah penakut yang kalah sedari awal."

Mendengar pujiannya tersebut, sang anak malah tampak malas memperpanjang cerita, dan memilih beralih memainkan ponselnya.

"Tetapi setelah apa yang terjadi, kukira, kau mesti turut saran Ayah untuk ikut organisasi karate, agar kau lebih andal dalam membela diri, seperti Ayah semasa sekolah," pesannya, seturut dengan kisah yang senantiasa ia ceritakan kepada sang anak, bahwa dahulu ia adalah jagoan sekolah yang tak terkalahkan.

Sang anak malah mendengus dan menggeleng-geleng. Ia lalu menoleh gusar dan merespons kesal, "Sudahlah, Ayah. Aku sudah tahu kalau dahulu, selama sekolah, Ayah hanyalah seolah pecundang."

"Maksudmu?" sergahnya, terheran.

"Aku sudah tahu semuanya dari Pak Gugun, Wakil Kepala Sekolah. Katanya, dahulu, Ayah hanya seorang kacung penakut di sekolah," terang sang anak.

Ia sontak kikuk. "Di mana kau dengar dia bilang begitu?"

Sang anak menjelaskan dengan raut lesu, "Setelah perkelahian, kami yang terlibat dipanggil ke ruangannya. Dia pun menceritakan soal Ayah, dan aku jadi bahan tertawaan orang-orang."

Ia bergeming. Tak kuasa menyanggah.

"Dia lalu mewanti-wanti agar aku tak macam-macam lagi di sekolah. Dia meminta agar aku jadi anak baik seperti Ayah. Kalau tidak, aku bakal diperkarakan dan disanksi," sambung sang anak.

"Terserah apa katanya. Yang pasti, kau perlu tahu, kalau dia itu doyan membual," tanggapnya, membela diri.

Seolah bingung harus percaya siapa, sang anak kembali beralih fokus ke layar ponselnya, kemudian melanjutkan tuturan dengan sikap tak acuh, "Dia juga menyalahkanku atas perkelahian itu. Dia tidak percaya padaku setelah aku menjelaskan semuanya. Lalu, kata dia, kalau pun keteranganku benar, aku tetap salah karena ikut campur urusan orang lain. Karena itu pula, ia meminta agar aku tak bicara-bicara soal pesta miras geng itu, agar tak menodai nama baik sekolah. Tapi aku tahu, sikap dan keputusannya itu hanya untuk membela dan melindungi keponakannya yang tukang palak dan suka mabuk itu."

Seketika pula, ia memendam kekesalan kepada sang Wakil Kepala Sekolah (Wakasek).

"Karena aku yang divonis bersalah, ia meminta Ayah menghadap kepadanya di sekolah, besok," pungkas sang anak.

Ia mengangguk saja.

Akhirnya, setelah mendengar cerita anaknya, sampai saat ini, kekesalannya makin menumpuk menjadi kegeraman. Ia sungguh tidak terima sang anak yang mendaku berada di posisi yang benar sebagai pemberantas kezaliman, malah diperlakukan tidak adil. Ia jelas tak ingin sang anak mengalami penderitaan seperti yang ia rasakan semasa sekolah.

Kini, di dalam toilet sekolah, ia terus teringat kejadian yang menyesakkan dadanya. Serangkaian peristiwa yang telah lama ia kubur dan ia rahasiakan dari pengetahuan anaknya. Tetapi setelah perkara yang diceritakan putranya itu, kenangan perihal rentetan kasus memilukan semasa sekolah, akhirnya kembali mengacaukan pikiran dan perasaannya.

Dengan tayangan kejadian yang masih jenih di dalam memorinya, ia lalu meresapi adegan demi adegan pahit selama berada di sekolah menengah atas itu. Tak terhitung lagi berada kali ia mengalami aksi perundungan dari para siswa preman di sekolah. Disahuti dengan julukan mengejek, dijahili dengan beragam sentuhan fisik, ditimpuki dengan barang-barang, hingga disuruh menjadi kurir untuk membeli camilan di kantin; sudah menjadi penderitaan rutinnya.

Sesaat kemudian, ia kembali terkenang beberapa perlakuan yang cukup membuat kewarasannya mengeruh. Satu waktu, celananya pernah dilucuti para preman, lalu ia dikuncikan di dalam toilet perempuan, hingga ia harus menanggung malu setelah kawanan siswi mendapatinya. Pada lain waktu, ia dipaksa para bandit untuk mengisap tiga batang rokok secara bersamaan, hingga ia mengalami sakit batuk berhari-hari setelahnya. Bahkan pernah sekali waktu, saat praktik renang di sebuah permandian, ia ditunggangi dan dibenamkan ke dalam air oleh tiga orang berandal, sampai penghujung napasnya, hingga ia nyaris celaka.

Sekian lama berselang, ingatannya tertuju pada satu perlakuan buruk yang akibatnya begitu menyiksa perasaannya dalam waktu yang panjang. Pada satu momen jam istirahat, ia dipanggil dan diarahkan ke satu sudut gedung sekolah oleh seorang antek preman. Saat sampai pada kerumunan anggota geng, ia pun dirisak dan dipermainkan. Lalu, entah dengan maksud apa, sang pemimpin begundal menyemprot baju pramukanya dengan cat semprot berwarna merah muda. Ukuran memang hanya sebentuk tanda seru kecil di sisi samping kanan, tetapi itu cukup menodai warna alaminya.

Dengan kepedihan hati, ia lalu berupaya membenahinya dengan larutan peluntur. Cara itu memang ampuh merontokkan noda semprotan, tetapi malah membuat warna seragamnya ikut luntur. Dengan terpaksa, ia menerima keadaan baju peninggalan almarhum kakaknya itu sebagai warna cokelat muda yang makin memudar. Pada hari Jumat dan Sabtu, ia tetap mengenakannya, meski harus meredam rasa malu, sebab warnanya jelas tampak asing di antara warna baju teman-temannya. Ia berusaha bersabar dengan keasingan itu selama delapan bulan akhir masa SMA-nya, demi berhemat.

Kemiskinan memang menjadi pokok permasalahan bagi ketenangan dan kemerdekaannya sebagai seorang siswa. Dengan status anak yatim yang hidup dari pendapatan kecil ibunya sebagai pengasong sayur mayur, ia sudah semestinya tidak banyak tingkah. Ia mesti menghemat uang untuk hal yang benar-benar perlu, termasuk meredam keinginan besarnya untuk membeli baju pramuka yang baru demi tampil setara dengan teman-temannya.

Kemiskinan pula yang membuat dirinya menjadi seorang pecundang di sekolah. Tanpa memiliki siapa-siapa yang punya kuasa untuk membela, ia memilih mengalah demi menghindari perkara yang malah bisa membuat keadaannya makin rumit. Apalagi, ia punya pengalaman buruk saat berupaya membebaskan diri dari perundungan. Pada satu kali, saat semester pertama kelas X, ia dipalak oleh pasukan begundal. Ia pun jujur mengaku tak punya uang jajan. Maka sebagai gantinya, ia disuruh memalak siswa-siswi dalam sebuah kelas, sampai dapat jumlah uang yang ditargetkan. Ia pun terpaksa melakukannya, hingga ia mendapatkan perlawanan dari dua orang siswa, dan mereka terlibat perkelahian yang tidak seimbang.

Setelah seorang guru menyaksikan keributan itu, ia lalu diperhadapkan kepada kepala sekolah. Dengan kepolosan, ia pun menceritakan kejadian yang sebenar-benarnya. Tetapi sial, ia malah diminta sang kepala sekolah untuk memaklumi kezaliman teman-temannya sebagai keisengan belaka. Ia diminta tidak mudah memperkarakan tindakan buruk teman-temannya, apalagi mengumbarnya ke mana-mana, demi menjaga nama baik sekolah. Ia pun diperingatkan soal bantuan iuran pendidikan yang ia dapatkan, yang bisa saja dicabut kalau ia tak pandai-pandai bersikap.

Dari kejadian itulah, ia mengerti kalau lingkungan sekolah memang keras untuk dirinya yang bukan anak siapa-siapa. Ia pun tak bisa apa-apa selain bertahan dengan tidak melawan arus kezaliman. Ia merasa cukup baik asalkan tidak bergabung dengan kawanan penjahat. Apalagi, ia paham kalau keadaan buruk itu tidak akan bisa diubah. Ia yakin kalau pihak sekolah tidak akan menganggap dan menanggapi serius perilaku bejat para perundung, sebab pimpinan preman sekolah yang kerap kali merisaknya adalah kemanakan sang kepala sekolah.

Keadaan pelik yang membelenggunya, dan serangkaian aksi perundungan yang menimpanya, memang tidak benar-benar melukainya secara fisik, tetapi sungguh telah menghancurkannya secara batin. Diam-diam, ia bahkan menyadari kalau perangainya yang penyendiri dan emosional, dibentuk oleh pengalaman buruknya semasa sekolah. Karena itu, ia tak mau keadaan serupa menimpa anaknya. Ia pun bekerja keras menjadi orang berada demi memenuhi kebutuhan sekolah sang anak. Ia ingin sang anak merasa setara dengan teman-temannya, dan menjadi percaya diri. Ia ingin sang anak memiliki mental yang kuat, sehingga berani bertarung membela yang hak dan melawan kezaliman.

Dalam waktu sekian lama, ia pun berupaya memendam sendiri perihal kenangan masa SMA-nya yang kelam. Segenap cerita buruk yang menyakitkan hatinya, ia kubur saja di dalam memorinya sebagai kisah pribadi. Selain terhadap ibunya, semua pengalaman pahit itu, juga ia tutup rapat-rapat dari anaknya. Jelas saja, ia tak mau sang anak memiliki persepsi yang buruk terhadapnya. Bahkan demi mengokohkan citra baiknya sebagai pemberani yang patut diteladani, ia menuturkan cerita karangan untuk sang anak, bahwa dahulu, ia adalah jagoan baik yang disegani di sekolah.

Namun kini, setelah ia mendengar penuturan sang anak, kedamaiannya pun terguncang. Kenangan memilukan dari masa sekolah, seketika berputar kembali di dalam benaknya. Ia jelas tak terima sang anak yang melawan kemungkaran, malah diperlakukan secara buruk. Ia juga tak terima penderitaan masa lalunya malah dijadikan lelucon untuk merendahkan dirinya di mata sang anak dan orang lain. Karena itulah, kegeramannya jadi tak terbendung lagi. Ia bertekad melampiaskan amarahnya kepada sang Wakasek yang tiada lain adalah pemimpin preman sekolah yang dahulu kerap menindasnya selama masa SMA.

Sampai akhirnya, setelah membasuh wajah dan mengatur emosi, ia pun melangkah tenang menuju titik tujuannya. Sesaat kemudian, ia menjumpai seorang pesuruh dan menyampaikan maksud kedatangannya. Dengan penuh keramahan, perempuan paruh baya itu lantas mempersilakannya masuk ke ruang sang Wakasek dan memintanya menunggu.

Dalam kesendirian, ia lalu memperhatikan keadaan sekitar dan mencari jalan terbaik untuk menunaikan rencananya. Sekian lama menerka-nerka, ia pun mengancang opsi keduanya sebagai pilihan, meski membutuhkan kecekatan yang lebih. Namun akhirnya, acangannya berubah seketika saat sang persuruh muncul kembali membawa dua cangkir teh dan sepiring gorengan. Ia beralih pada opsi pertama dengan peluang keberhasilan yang lebih tinggi.

Tak begitu lama menanti dengan berdiri di depan jendela sambil mengecap masa lalu, akhirnya, sang Wakasek datang menemuinya dengan sikap tegas.

Dengan begitu saja, bara dendam membakar dadanya.

"Selamat datang," kata sang Wakasek, lantas mengulurkan tangan.

Dengan sikap tenang, ia menjabat tangan itu tanpa membalas dengan kata.

"Akhirnya kita bertemu lagi," singgung sang Wakasek, dengan raut bersahabat. "Kukira kau sudah lupa jalan ke sekolah kita ini."

Dengan gejolak amarah di dalam hatinya, ia mendengkus dan menyengir saja. Lalu, tanpa persilaan, ia duduk di depan Wakasek.

Sang Wakasek lantas meneguk teh bagiannya, kemudian bertutur dengan pemahaman soal maksud kedatangannya, "Kuharap anakmu sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya." Ia menjeda untuk mengatur napas. "Permasalahan itu, terkait seorang perempuan. Ya, wajar, anak muda. Jadi ...." la kembali menjeda. Tampak linglung.

Dengan kepercayaan penuh kepada anaknya, tanpa merasa perlu menunggu penjelasan lengkap dari lelaki berkumis itu, ia pun melayangkan bogemnya tepat di pelipis kiri sang Wakasek.

Sontak, tubuh tambun sang Wakasek terdepak ke sandaran kursi. Ia pun mengeluh lemah, tanpa daya mengembalikan kesadarannya yang kacau secara cepat.

"Manusia bajingan!" geramnya, lantas meninju keras bagian bibir dan hidung sang Wakasek dengan penuh dendam. Lalu, tanpa berlama-lama, demi meloloskan diri, ia bergegas pergi dengan perasaan puas.

Sesaat kemudian, saat ia telah berada di tempat parkir, di samping mobilnya, ia pun mendengar keriuhan di dalam gedung sekolah. Sebagai seorang apoteker, ia yakin, efek obat halusinasi yang ia masukkan ke dalam teh sang Wakasek, telah bekerja dengan baik. Ia menduga kuat kalau lelaki berkepala botak itu telah berperilaku seperti zombi. Ia menaksir kalau lelaki tersebut telah berlari-lari tanpa arah, setelah melepas semua pakaiannya karena kegerahan.

Dengan perasaan menang, tanpa memusingkan apa yang akan terjadi selanjutnya, ia kemudian pulang dengan keyakinan kalau mata kamera para penghuni sekolah akan merekam peristiwa itu, lalu mengabadikannya di dunia maya, lantas membentuk nilai baru untuk nama sekolahnya dahulu yang ia vonis penuh kemungkaran dan kemunafikan sampai saat ini.


Sumpah Sampah

Entah pada mana kata hati mereka terikat
Tekad berjuang sebatas ikrar dalam kelompok
Sekongkol, bersiasat, menebar benih cita-cita
Membawa panji yang tercerai warna penafsiran
Bagai sihir pelangi meninabobokan mara bahaya
Mengancam ketenangan yang terjaga dari mimpi
Mengaburkan penglihatan batin yang hitam-putih
Memasrahkan ketidakberdayaan untuk memilih
Dengan sebaik-baiknya merendahkan keburukan
Dari sekawanan penjahat kepada penjahat yang lain

Demikianlah, sebab kata kehilangan kekuatan
Melumpuh kala janji surga menjadi wabah
Menjangkit sebagai pelet manjur pesilat lidah
Menular dari drama apik panggung perdebatan
Yang kita nikmati sebagai pentas keculasan
Yang cukup berarti dengan menyajikan harapan

Sampai kini, masih seperti kemarin yang lampau
Terucap sumpah atas nama kita semua
Dari kelompok, oleh segelintir, untuk mereka saja