Minggu, 07 Februari 2021

11. Dua Rasa

 Bagian ke-11 dari cerita bersambung Setapak Berliku

Hari menjelang sore. Semua orang pergi untuk urusan mereka masing-masing. Tinggallah aku seorang diri di rumah. Hanya mencari-cari kesibukan yang mungkin dapat menutupi kebosananku. Melangkah ke sana-sini untuk membarui suasana, meracik dan menyantap hidangan sesuai selera, membaca buku, menonton televisi, serta melanjutkan ketikan novel dan opini baruku.

Semua hal yang bisa mengartikan waktu telah kulakukan, namun kesendirian tetap saja membuatku merasa hampa. Aku ingin keadaan yang lain. Aku ingin melanglang ke mana-mana. Hingga akhirnya aku berhasrat untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama Naya, seolah-olah telah lewat berabad-abad setelah pertemuan kami yang terakhir.

Tanpa menunda-nunda waktu, aku pun memutuskan untuk menghubunginya. Apalagi kupikir, kali ini memang giliranku mengajakkan bersua setelah ia melakukannya terhadapku di hari kemarin.

“Hai,” sapaku setelah ia menerima panggilanku di ujung telepon.

“Tumben kau meneleponku. Biasanya, kau hanya mengirimkan pesan. Apa ada masalah darurat?”

Aku pun menjawab dengan sedikit kagok, “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk opiniku di koran terbitanmu hari ini.”

“Baiklah, aku terima,” balasnya, begitu saja.

Aku pun bingung harus berkata apa lagi.

“Masih ada yang ingin kau sampaikan?”

Tiba-tiba, mulutku tersekat. Aku hanya terdiam sambil mendengar desau napas darinya.

Lima detik berselang, aku pun menyampaikan maksudku sekuat hati, “Apa kau ada waktu sore nanti? Aku ingin bertemu.”

Seketika, tawanya pun lepas. “Jadi itu maksudmu menghubungiku?”

Aku pun jadi salah tingkah di ruang kamarku sendiri. Aku lalu menuturkan candaan untuk mengaburkan kesegananku padanya, “Aku tiba-tiba saja terpikir soal itu. Aku khawatir kau dilanda kebosanan dan membutuhkan kehadiranku, tetapi kau segan mengajakku bertemu.”

“Jangan menuduhkan perasaanmu padaku,” singungnya.

Aku jadi kikuk sendiri.

“Memangnya kau punya rencana apa untuk kita?”

“Apa harus ada rencana untuk mengajakmu bertemu?” balasku, menirukan bentuk responsnya terhadapku di pertemuan kemarin.

Ia pun tertawa. “Baiklah. Sampai jumpa di Kafe Niro, jam 4 sore.

“Sampai jumpa.”

Ia pun menutup telepon.

Aku lantas menghela-embuskan napas yang panjang.

Setelahnya, aku kembali dalam keheningan. Aku lantas memikirkan perasaanku sendiri, dan aku malah jadi tak mengerti apa artinya.

Di sisa waktu sebelum pertemuan, aku pun bergegas mempersiapkan diri. Aku merapikan rambut yang tumbuh liar di wajahku dan mengenakan pakaian terbaik dengan wangi parfum yang kurasa menyenangkan. Aku ingin tampil sempurna dan membuatnya merasa nyaman berada di sampingku.

Waktu bergulir cepat. Ojek daring akhirnya membawaku sampai di Kafe Niro. Aku tiba lebih dahulu, lantas menunggu kedatangannya di teras depan.

Selang sejenak, ia pun muncul dari balik taksi dengan penampilan yang menawan. “Kanapa tidak masuk?”

“Nanti saja,” kataku, lalu melayangkan senyuman yang singkat. “Tidakkah sebaiknya kita pergi ke tempat yang lain terlebih dahulu?”

“Ke mana?”

“Terserah. Ke mana saja boleh.”

Dahinya pun mengernyit. “Bukankah kau yang mengajakku?”

“Tetapi kau tahu sendiri kalau aku belum tahu apa-apa soal kota ini.”

Ia pun berdecak-decak. “Ternyata kau sedang bermaksud menjadikan aku sebagai pemandu wisatamu.”

“Pemandu wisata yang spesial.”

Ia lantas tersenyum. “Kalau begitu, apa yang kau sukai untukku kita lakukan? Makan, belanja, atau sekadar jalan-jalan?”

Aku merenung sejenak. “Kita bisa melakukan semuanya. Tetapi sebaiknya kita makan dulu.”

Ia mengangguk setuju.

Aku pun tersenyum senang.

Akhirnya, di tepi jalan, kami pun berdiri bersampingan untuk menunggu kedatangan taksi yang telah ia pesan.

Tiba-tiba, ia melontarkan singgungan, “Penampilanmu tampak berbeda hari ini. Kau tampak bersih dan wangi.”

Aku terkejut atas kelancangannya. “Memangnya kenapa? Kau tak suka?”

“Tidak juga,” katanya. “Aku hanya ingin berpesan kalau kau tak semestinya repot-repot berdandan hanya untuk bertemu denganku.”

Aku mendengkus. “Lah, kukira kau juga begitu,” balasku. “Kali ini, dandananmu menarik, dan kau terlihat sangat cantik.”

Ia pun tertunduk. Dan kukira, ia sedang menyembunyikan senyumannya.

Sesaat kemudian, taksi pun datang. Kami lalu duduk bersampingan di kabin tengah. Roda-roda lalu mengantar kami menuju ke arah yang telah ia pesankan kepada sang sopir.

“Bagaimana pendapatmu tentang kota ini?” tanyanya

“Seperti kota pada umumnya; megah dan penuh ironi.”

“Maksudmu?”

“Gedung-gedung besar di kota ini hanyalah pusat perekonomian segelintir pemodal yang mencari keuntungan besar, yang menggilas usaha perekonomian masyarakat kecil yang sekadar ingin menyambung hidup. Keadaan yang kapitalistik dan tidak manusiawi” kataku, mengingat penuturan Fatih.

“Lalu kenapa kau mau berjalan-jalan di kota ini?”

“Aku hanya ingin memastikan bahwa kota ini memang dibangun dengan cara yang salah.”

Ia tergelak.

Tak berselang lama, kami pun sampai di rumah makan yang menjajakan makanan-makanan tradisional. Sebuah warung sederhana dengan bangunan yang berdiri rendah di pusat kota, seolah-olah terasing di tengah gedung-gedung bertingkat yang menjadi tempat restoran mewah menjual makanan cepat saji bermerek impor.

Naya lalu memesan semangkuk bakso, begitu pun aku.

“Kau sering makan di sini?”

Ia mengangguk-angguk. “Ini warung langgananku semenjak kuliah.”

“Tempat makan tradisional yang menarik.”

“Aku tahu kau akan suka,” katanya, sambil tersenyum. “Aku jelas tak akan mengajakmu makan di restoran gedung sebelah, sebab aku khawatir kau akan kehilangan selera makan dan terus mengoceh tentang kapitalisme.”

Aku tertawa.

Setelah beberapa saat, pesanan kami pun tersaji di atas meja. Kami lalu bersantap tanpa banyak cakap.

Setelah selesai dengan urusan perut, kami lantas menapaki trotoar yang menjadi tempat segala yang tersingkir dan terbuang di dalam kehidupan kota yang kapitalistik. Tempat para pedagang kecil, tunakarya, tunawisma, dan tumpukan-tumpukan sampah.

Tiba-tiba, tanpa meminta pendapat, Naya berbelok dan masuk ke dalam sebuah toko busana. Langkahnya lincah mengintari segala sisi, sampai terhenti di depan gelantungan syal. Ia lantas mencari-cari motif yang mungkin menarik perasaannya.

“Bagaimana pendapatmu,” tanyanya, sambil mengenakan sebuah syal batik bermotif daun berwarna merah-biru di lehernya.

“Itu sangat cocok untukmu.”

Ia tampak senang. “Kau sendiri pilih yang mana?”

“Pilihkanlah satu untukku!”

Ia lantas memilihkanku sebuah syal bermotif kotak-kotak berwarna hijau-biru, dan aku menyukainya.

Kami kemudian melangkah ke bagian kasir.

“Biar aku yang bayar.”

“Aku tak keberatan. Kau memang harus belajar memanjakan seseorang perempuan.”

Aku tertawa

Dengan syal yang melingkar di leher masing-masing, kami lalu beranjak menyusuri teras pertokoan yang berderet-deret. Kami lantas berbelok jauh dan menjejaki sisi belakang gedung yang lengang. Sampai akhirnya, kami tiba di depan sebuah toko buku yang tampak usang, yang ia pilih setelah aku menuturkan niat untuk membeli bahan bacaan baru.

Setelah memasuki ruangan yang lengang itu, kami lantas menilik buku-buku terbitan baru di atas rak-rak yang berjejer dan tumpukan buku terbitan lampau di atas meja. Setelah menimbang-nimbang, aku pun memutuskan untuk membeli sebuah buku baru dan dua buku tua yang membahas tentang sejarah masa lalu bangsa ini.

“Kau tak mau beli buku?”

Ia hanya terdiam.

“Setidaknya, pilihlah satu.”

“Boleh juga.”

Ia lalu melangkah dan berhenti di depan rak yang lain. Ia lalu membolak-balik beberapa novel terbitan baru. Sampai akhirnya, ia mengambil satu di antaranya. Sebuah novel yang kutaksir bercerita tentang kisah percintaan anak remaja.

“Kau yakin?”

Ia mengangguk-angguk dengan wajah merengut. “Jangan merendahkan aku seperti itu. Kau seharusnya menganggap ini pilihan yang wajar untuk seorang perempuan.”

Aku tertawa. “Aku hanya bertanya.”

Wajahnya pun merengut.

Kami lalu berjalan pelan menuju seorang lelaki tua yang bertindak sebagai kasir.

Aku lantas menyelesaikan urusan pembayaran. Setelah itu, kami beranjak keluar toko.

Akhirnya, kami pun bersepakat untuk menyudahi petualangan kami kali ini. Kami lalu kembali menelusuri jalan lorong yang remang dan sepi menuju ke tepi jalan utama. Setelah menunggu beberapa saat, kami pun menumpang sebuah taksi untuk kembali ke Kafe Niro.

Tiba-tiba, di sepanjang perjalanan, aku merasa suasana di antara kami menjadi dingin. Kami hanya duduk menepi di sisi pintu masing-masing, dan memandang ke luar jendela tanpa berbicara. Sama-sama terdiam mendengarkan lagu-lagu cinta dan celoteh penyiar radio yang selalu ceria.

Selang beberapa lama, kami pun tiba di Kafe Niro. Kami lalu memasuki ruang kafe dan mengambil posisi di meja favorit kami sebelumnya. Kami berencana membahas perihal apa saja yang belum sempat kami bicarakan selama petualangan, sebagaimana kesepakatan kami sebelumnya.

“Kau baik-baik saja, kan?”

Ia mengangguk dengan rona wajah yang muram.

“Ceritalah kalau kau ada masalah,” pintaku, dengan perasaan cemas. “Atau barangkali kau ada urusan penting dan aku menahan-nahanmu di sini?”

Ia menggeleng-geleng. “Aku tak ada urusan apa-apa saat ini, kecuali ada urusan kantor yang mendadak,” katanya, dengan senyuman yang berat.

Kuharap ia memang baik-baik saja, dan ia hanya sedikit kelelahan.

Pelayan pun datang. Aku memesan kopi susu, dan ia memesan teh susu.

Ia lantas balik bertanya dengan raut datar, “Bagaimana urusanmu dengan si Kakek? Apa kau telah mendapatkan petunjuk darinya tentang Kakek-Nenekmu?”

“Aku menemuinya pagi tadi. Ia sempat menuturkan keterlibatannya di dalam peristiwa kelam itu setelah aku menerapkan cara pendekatan yang kau sarankan. Namun akhirnya, ia meracau dan mengutuki dirinya sendiri.”

“Barangkali kau suka menyela dan memberikan tanggapan.”

“Sepertinya begitu.”

“Sikap semacam itu bisa membuat ingatannya terpojok pada satu tindakan masa lalu yang ingin ia nafikan, sehingga ia merasa terkurung dalam ketakutannya sendiri.”

“Lalu bagaimana?”

“Kau mungkin harus bersabar menjalani obrolan yang lambat. Biarkanlah ia menjeda dan berceloteh sesuka hatinya. Kau tak perlu berkata apa-apa, kecuali ia meminta atau bertanya.”

“Akan kucoba.”

Obrolan kami pun kembali menjeda. Kami hanya saling melirik tanpa berkata apa-apa. Seperti sama-sama bingung menemukan bahan pembicaraan yang baru

Sesaat kemudian, pesanan kami pun datang.

Tiba-tiba, aku terkejut melihat Kira yang muncul dari arah belakang Naya sambil tersenyum.

“Hai,” sapanya, kemudian menarik sebuah kursi dan duduk di samping kami.

Dengan perasaan kikuk, aku pun memperkenalkannya pada Naya, “Ini Kira, Nay.”

Mereka lalu bersalaman dan menyebut nama panggilan masing-masing.

“Jadi ini seorang perempuan yang kau sebut teman dan selalu ingin kau rahasiakan dari kami?” ketus Kira.

Ekspresi Naya pun berubah muram. Ada kesan ketidaknyamanan yang tersirat di wajahnya.

Aku jadi gelagapan. Aku lantas menyela agar Kira tak kembali bertutur lancang, “Kenapa kau tiba-tiba datang ke sini?” tanyaku, kemudian menyadari kalau pertanyaan itu kurang tepat.

Kecerian wajah Kira pun padam. “Tadi aku ke rumah Fatih, tetapi aku tak menemukan seseorang pun di sana. Aku pun terpikir kalau barangkali kau berada di sini. Dan benar saja.” Ia lalu melirik kami silih berganti. “Kalian tak keberatan kalau aku di sini, kan?”

Aku menggangguk pasrah.

“Tak apa-apa. Pertemuan kami bukanlah pertemuan spesial dan rahasia,” ketus Naya.

Kira tersenyum. “Syukurlah kalau begitu.”

Raut Naya semakin tak bersahabat.

Aku jadi kelimpungan.

Naya lalu mengecek layar telepon genggamnya, kemudian berucap, “Aku harus pergi. Ada urusan mendadak di kantor,” katanya, lalu beranjak tanpa memandang ke arahku.

Perasaanku pun kacau-balau

Kira kembali bertanya, “Aku benar-benar tak mengganggu, kan?”

Aku mengangguk bodoh.

Untuk beberapa lama, kami saling mendiamkan.

“Malam ini waktumu lowong, kan?” tanya Kira kemudian.

“Memangnya kenapa?”

“Aku punya dua tiket bioskop. Rencananya, yang satu untuk seorang temanku, tetapi ia berhalangan,” katanya, lalu merekahkan senyuman. “Kau mau menemaniku menonton film, kan?”

“Apa kau tak punya teman yang lain?” tanyaku, dan serta-merta merasa bersalah.

Ia tampak kecewa.

Aku lekas meralat dengan senyuman yang kubuat-buat, “Baiklah. Dengan senang hati.”

Senyumannya pun merekah.

Untuk waktu sekian lama, aku pun menyertainya di dalam sebuah ruang bioskop yang berada di tengah gedung yang megah. Kami menonton film tentang percintaan di masa remaja yang jelas bukan genre film yang kuminati.

Sepanjang kebersamaan kami, aku pura-pura menikmati keadaan. Namun secerdik apapun aku berdusta, kukira, ia bisa membaca ketidaknyamananku, dan aku pun bisa membaca kekecewaannya.

Film itu akhirnya selesai. Waktu nyaris jam 11 malam. Kami pulang, tanpa percakapan berarti. Ia mengantarku ke rumah-markas, kemudian pulang ke rumahnya sendiri. Di dalam rumah, tak ada siapa-siapa selain Fatih yang tengah terlelap. Aku lalu berbenah diri untuk menyambut mimpiku sendiri.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar