Minggu, 07 Februari 2021

17. Huru-hara

 Bagian ke-17 dari cerita bersambung Setapak Berliku

Malam berjalan seperempat.

Kekacauan telah mereda.

Aku dan Rano akhirnya mendapatkan pengobatan di sebuah klinik milik sahabat Topan yang tak jauh dari Kafe Niro. Aku mendapatkan pengobatan untuk luka ringan di lutut dan betisku, sedangkan Rano mendapatkan pengobatan untuk luka ringan di pelipis dan siku tangannya.

Setelah mendapatkan perban untuk luka ringan, dan rasa sakit pada lebab di tubuh kami perlahan mereda, kami pun rihat di pelataran klinik itu dengan kekalutan masing-masing.

“Kau barangkali telah mengetahui apa yang terjadi di balik kematian Ibumu,” singgung Topan, musuh masa kecilku, bos Kira di perusahaan pers tempatnya bekerja, setelah ia menuturkan apa yang ia ketahui dan membuatku harus menerima kenyataan bahwa keadilan bagi ibuku memang sulit untuk diwujudkan, sebab kematiannya berada di dalam selubung peristiwa kelam yang menyangkut nama-nama tokoh besar di panggung perpolitikan negara saat ini.

Aku mengangguk lemah, sembari terus berusaha mendamaikan perasaanku.

Ia menghela-embuskan napas yang panjang. “Maafkan aku atas apa yang telah terjadi padamu dan keluargamu,” tuturnya, dengan tatapan sayu dan suara penuh penyesalan.

“Jangan menyalahkan dirimu. Kau tak salah apa-apa,” balasku, atas pemahaman yang utuh atas peristiwa kelam itu.

Ia menggeleng. “Tetapi kau tahu sendiri, Ayahku adalah otak di balik kejadian itu.”

Aku melayangkan senyuman simpul ke arahnya. Mencoba mengisyaratkan ketulusanku. “Tetapi kau bukan Ayahmu, dan kita tidak bisa memilih untuk dilahir dari sosok orang tua yang seperti apa.”

Ia pun mengangguk haru.

Tiba-tiba, ponsel Naya berdering.

“Apa?” balasnya kepada seseorang di ujung telepon. “Mereka siapa, Bu?”; “Ibu harus tenang dan kunci pintu baik-baik.”; “Ibu tenanglah. Ibu akan baik-baik saja. Aku akan segera menjemput Ibu.”

Kami pun bertanya-tanya.

Ia lalu bertutur dengan penuh kecemasan, “Ibuku dalam bahaya. Beberapa orang yang menyeruduk rumah kami.”

“Kalau begitu, kita harus segera ke sana,” kata Topan.

“Kami ikut,” saranku.

“Sebaiknya tidak usah,” balas Topan. “Aku bisa mengatasinya sendiri. Aku yakin, orang-orang itu masih bagian dari komplotan orang-orang yang menyerang kalian tadi.”

Tiba-tiba juga, telepon genggam Rano berdering.

Rano pun merespons: “Ada apa?”; “Apa?”; “Kau tak bercanda kan?”; “Cepat-cepatlah keluar kalau begitu! Setidaknya kalian selamat dari bahaya!”; “Aduh! Luny memang akan celaka karena keras kepalanya!”; “Aku akan segera sampai.”

“Siapa?” tanyaku, penasaran.

“Fatih.”

“Kenapa?”

“Katanya, Luny mendapatkan pemberitahuan aneh dari seorang penelepon yang misterius.”

“Apa kata si penelepon?”

“Dia meminta kita untuk segera meninggalkan rumah-markas. Kalau tidak, kawanan orang-orang akan datang menyerang dan membahayakan nyawa kita.”

Aku terkaget. “Itu persis seperti yang dikatakan pamanku beberapa waktu yang lalu.”

Rano pun tampak terkejut. “Pasti ada yang tidak beres.”

“Lalu, di mana mereka sekarang? Apakah mereka sudah keluar dari markas?”

“Tidak. Luny tidak percaya dan menolak untuk pergi.”

“Aduh!” keluhku.

“Kalau begitu, kalian pulanglah demi teman-teman kalian. Biar aku yang mengantar Naya pulang menjemput Ibunya,” saran Topan.

Kami pun bersepakat dan segera terpisah di atas jalan raya.

Akhirnya, perjalanan pulang kami kembali menyambung di antara kendaraan yang berjubel.

Lampu merah kemudian menyala saat mobil kami berada tepat di belakang garis penyeberangan.

Tanpa kuduga, Rano melajukan mobil ke arah depan yang lowong, sambil membunyikan klakson berkali-kali.

Seketika juga, terdengar raungan sirene dari arah belakang. Aku menilik kaca spion, dan melihat sebuah mobil polisi sedang memburu kami.

Rano tak gentar dan malah menambah kecepatan mobil. “Ini tindakan yang sebaiknya dilakukan. Jangan khawatir!”

Mobil-mobil di sisi depan kami akhirnya sigap menyingkir untuk memberikan jalan kepada mobil kami yang sedang memandu mobil polisi yang bersirene.

Di tengah waktu yang memburu, kenekatan Rano malah semakin menjadi-jadi. Meski polisi beberapa kali menyampaikan peringatan untuk berhenti lewat pengeras suara, ia tak peduli dan terus saja meliuk-liukkan mobil di sela-sela kendaraan yang ramai, hingga kami pun berjarak dengan polisi yang tampak kewalahan menyusul kami.

Namun akhirnya, laju mobil kami melambat lantaran aksi kerumunan orang di separuh sisi jalur. Mereka tampak menghentikan sejumlah kendaraan dan melakukan pemeriksaan. Tetapi mereka menyingkir juga setelah mendengar sirene polisi yang semakin mengencang.

Kami pun kembali berkejaran dengan polisi pada jarak yang dekat.

Tiba-tiba, telepon genggam Rano kembali berdering.

“Dari Kira,” katanya. “Angkatlah!”

Aku pun menjawab panggilannya dengan segan atas dugaan persoalan perasaan di antara kami.

“Rano, kau di mana?” tanya Kira di ujung telepon.

“Kami sedang di mobil, di tengah jalan.”

“Ini siapa?”

“Rumi,” kataku, sedikit canggung. “Ada apa?”

“Keadaan kota sedang kacau balau. Anggota ormas dan masyarakat sedang melakukan penyisiran di mana-mana. Kabarnya, mereka juga menyasar kita dan teman-teman semarkas,” katanya seketika, seolah-olah tak ada masalah perasaan di antara kami yang membuatnya harus berucap kelu.

“Ya, aku dengar begitu,” tanggapku, dengan sikap biasa. “Aku pun telah mendapatkan pemberitahuan dari seorang Kakekku lewat telepon bahwa orang-orang akan menyeruduk markas kita. Luny juga telah mendapatkan informasi yang sama dari penelepon misterius.”

Seketika, ia menyinggung persoalan yang kukira sensitif baginya, “Naya, kekasihmu itu, di mana? Aku mendapatkan informasi kalau kantornya telah diporak-porandakan massa. Apa dia baik-baik saja?”

Aku pun tergemap atas pertanyaannya. “Ia baik-baik saja. Ia aman bersama seorang temannya.”

“Baiklah kalau begitu,” pungkasnya.

Sambungan telepon terputus.

Aku pun merasa damai atas persoalan kami.

Sejenak berselang, mobil kami berbelok ke arah kiri, kemudian melintasi jalan lorong menuju rumah-markas. Kecepatan mobil seketika menurun akibat segerombolan orang yang beriring di separuh badan jalan, yang perlahan-lahan menyingkir setelah mendengar sirene polisi di sisi belakang kami.

Sesaat kemudian, mobil kami pun menikung ke sebelah kiri dan berhenti di dataran sempit yang biasanya ditempati anak-anak untuk bermain. Satu titik yang tepat berada di serong kiri sisi depan rumah-markas.

“Kita sudah tiba bersama polisi yang akan membantu kita menghadapi masalah,” kata Rano.

Aku pun mengangguk-angguk dan memahami tujuan di balik kebandelannya.

Mobil polisi kemudian terparkir di depan kami. Tiga orang anggota polisi akhirnya turun dari mobil. Polisi pertama sigap mengancamkan pistolnya kepada kami, polisi kedua menepi dan menelepon, sedang polisi ketiga bergegas menuju kerumunan massa.

Rano lantas turun dari mobil dengan sikap biasa.

Aku turut saja dengan perasaan waswas, sambil menoleh pada kerumunan orang yang berkumpul di depan markas dan menyorakkan nama-nama Tuhan beserta teriakan garang: Keluar! Bajingan! Sialan!

“Tangan di belakang kepala! Berlutut!” titah sang polisi.

Kami pun menuruti perintah.

“Kami tak maksud jahat, Pak. Kami terpaksa saja. Lihatlah di sana, kami sedang menghadapi keadaan yang genting,” terang Rano, sambil menuding ke arah markas.

Sang polisi mendengkus kesal, “Sudah! Yang pasti, kalian sudah melanggar! Surat-suratnya mana?”

Rano lalu mengambil dompetnya dan menyerahkan surat-surat berkendara kepada sang polisi.

Seketika, terdengar detak-dentuman, seperti berasal dari dinding dan daun pintu yang digebuk massa. Lantas terdengar suara desis-dentingan, seperti berasal dari kaca jendela yang dihantam dan pecah. Lalu terdengar pula denting-dentingan, seperti berasal dari atap seng yang diterpa benda-benda.

Di sela-sela kegaduhan itu, teriak-teriakan berisi caci-maki tak henti-hentinya mengalun di antara seruan nama-nama Tuhan: Komunis! Sesat! Anjing! Bunuh! Bakar!

Perhatian seorang polisi di depan kami pun beralih pada pusat kegaduhan.

“Teman kami dalam bahaya, Pak!” kata Rano.

Sang polisi lalu mengambil keputusan, “Surat-suratmu kami tahan!” katanya, kemudian bergegas menyusul dua orang kawannya di sela-sela kerubungan massa yang liar.

Aku pun cepat-cepat mengayunkan langkah ke arah keramaian.

Rano lekas mencegatku, “Jangan ke sana. Kau tahu sendiri, kita bagian dari sasaran mereka.”

“Apa kita hanya akan menonton orang-orang sinting itu bertindak beringas dan membahayakan nyawa Fatih dan Luny?”

Tiba-tiba, suara tembakan menggelegar di udara.

Aku terkesiap.

Suara tembakan kembali menyusul sebanyak dua kali.

Kegaduhan massa sedikit meredup. Sejumlah massa bertahan di teritis rumah dan berdebat dengan para polisi. Beberapa lainnya tertahan di halaman depan rumah dan terus meneriakkan maki-makian dan nama-nama binatang.

Samar-samar, terdengarlah sirene yang menggerung dari arah jalan raya. Perlahan-lahan, suara itu terdengar semakin mendekat. Sampai akhirnya, tibalah tiga mobil polisi dengan puluhan orang personel yang segera turun dan menyusup ke tengah-tengah kerumunan massa yang bengis.

Tak lama berselang, Fatih dan Luny tampak keluar dari balik pintu. Mereka berdua membungkuk di tengah kawalan puluhan polisi yang terus menghalau kerumunan massa yang mencoba mendekat dan bertindak semena-mena.

Seketika, sumpah-serapah untuk Fatih dan Luny terdengar semakin gaduh. Potongan kayu, botol, dan batu, akhirnya berterbangan di atas mereka. Polisi sontak melindungi mereka dengan tameng, sambil terus menyeruak dan membelah kerumunan menuju ke arah mobil pengamanan.

Setelah perjibakuan yang sengit, Fatih dan Luny akhirnya berhasil masuk ke dalam mobil polisi. Mereka lantas dibawa keluar dari kerumunan dengan pengawalan polisi yang terus memecah hadangan massa. Hingga akhirnya, mobil itu lolos dan melaju kencang di depan orang-orang brutal yang tampak kecewa.

Aku pun merasa lega

Namun berselang sesaat, beberapa orang di antara kerumunan yang baru saja kehilangan mangsa akhirnya memerhatikan kami lekat-lekat. Seketika, seseorang di antaranya bersorak, “Hai, kedua orang itu teman mereka juga! Komunis sialan!”

Kami segera masuk ke dalam mobil.

Rano sigap menstarter, namun mesin tak kunjung menyala.

Kerumunan massa terus mendekat.

Polisi pun bergerak ke sisi depan mereka dan mencoba menghalau.

Rano terus berusaha menyalakan mobil.

Kini, kerumunan massa telah mengepung mobil kami.

Akhirnya, setelah putaran kunci yang ke sekian kalinya, mobil pun berhasil menyala.

Polisi lalu memecah kerumunan massa untuk memberi jalan keluar bagi kami.

Beberapa orang kemudian mengerubungi mobil kami dan menggedor-gedor pintu.

Tembakan pun kembali menggelegar di udara. Tiga kali, susul-menyusul.

Massa lantas merenggang dan mengambil jarak.

Mobil kami kemudian bergerak maju, melintasi rerumputan dan permukaan tanah yang bergelombang.

Setelah melangkahi selokan, roda-roda pun berhasil menapak di jalan beton yang mengarah pada sambungan lorong yang lain. Mobil lantas mengambil awalan untuk melaju, ketika pada saat yang sama, lemparan-lemparan benda menghantam dari segala sisi, hingga memecahkan kaca belakang.

Tetapi akhirnya, kami berhasil juga menjauh dari kerumunan massa yang kesetanan.

Aku lalu menoleh ke sisi belakang, melalui sisi kaca yang bocor, dan melihat sebuah mobil polisi sedang mengikuti kami. Di sisi belakangnya, massa yang terpencar-pencar tampak mendekat kembali ke rumah-markas yang perlahan-lahan diselimuti kobaran api.

Mobil kami akhirnya berbelok ke arah kiri, dan kekacauan itu pun menghilang dari pandanganku.

“Habislah sudah markas kita. Lenyap sudah buku-buku kita,” kesahku.

“Itulah yang mereka inginkan. Mereka ingin melenyapkan pikiran kita.”

Kami lantas terdiam dengan kegalauan masing-masing.

Mobil kami kemudian melintasi jalan raya, dan aku menyaksikan situasi kota yang menegangkan. Orang-orang tampak berseliweran di bahu jalan dan memeriksa pengendara satu per satu.

Mobil polisi kemudian maju ke sisi samping kami.

Seorang personel polisi yang menahan surat berkendara milik Rano kemudian menyeru, “Hai, kalian hendak ke mana?”

Rano menoleh padaku.

Aku merenung sejenak, sembari meyakinkan diriku sendiri tentang keputusan yang sedari tadi telah kutetapkan di dalam hatiku. “Sebaiknya, kita menuju bandara.”

“Kau sudah ingin pergi?” sergahnya.

“Situasi tidak memungkinkan lagi untuk aku tinggal di sini.”

Ia pun mengangguk pelan, seolah-olah bisa memahami keadaanku. “Ke bandara, Pak!” serunya kepada sang polisi.

Sang polisi lalu menutup jendela mobilnya, kemudian mendahului kami dengan sirene yang meraung-raung. Kerumunan orang dan kendaraan di sisi depan kami sontak menyingkir untuk memberi jalan, hingga kami melaju tanpa hambatan yang berarti.

Sesaat kemudian, telepon genggam Rano berdering.

“Kira memanggil. Jawablah!” pinta Rano lagi, sambil menyodorkan telepon genggamnya padaku.

“Hai, bagaimana keadaan kalian?” tanya Kira kemudian.

“Kami baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana?”

“Aku baik-baik saja. Aku masih di tengah perjalanan menuju ke markas sekarang. Jalanan sangat macet.”

“Jangan ke markas. Orang-orang beringas masih berkerumun di sana setelah menghancurkan markas kita,” terangku.

“Jadi, kalian di mana sekarang?”

“Aku dan Rano sedang di jalan. Luny dan Fatih diamankan polisi.”

Ia pun terdengar mendengkus. “Jadi, apa rencana kalian sekarang?”

“Kami mengarah ke bandara.”

“Apa kau sudah berencana untuk pulang?”

“Ya. Maksudku begitu. ”

Ia pun menjeda beberapa detik sebelum memungkaskan, “Sampai jumpa di sana.”

“Sampai jumpa.”

Sambungan telepon pun terputus.

Mobil kami terus melaju di belakang panduan mobil polisi.

Tiba-tiba, aku terpikir untuk menghubungi Naya. “Halo, apa kalian baik-baik saja?” tanyaku, setelah telepon tersambung.

“Ya, kami baik-baik saja,” katanya. “Bagaimana keadaanmu dan teman-temanmu.”

“Kami baik-baik saja. Tetapi tempat tinggal kami hancur digeruduk massa.”

“Jadi sekarang kau ada di mana?”

“Aku sedang di perjalanan, menuju ke bandara.”

“Apa kau sudah ingin pulang?”

“Ya. Keadaan di sini sudah tidak aman.”

Ia terdengar mengembus napas yang panjang sebelum menanggapi, “Aku akan menyusulmu ke bandara.”

“Baiklah. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.”

Sambungan telepon pun terputus.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar