Minggu, 07 Februari 2021

14. Masa Tenang

 Bagian ke-14 dari cerita bersambung Setapak Berliku

Suara amukan Luny menghentak gendang telingaku. Seketika mengembalikan sadarku dari tidur yang lelap. Hingga aku pun teringat pada segenap kenyataan yang kutemui di hari kemarin. Teringat pada Kakekku yang telah tiada, pada Nenekku yang entah di mana, juga pada kematian ibuku yang masih penuh teka-teki. Sampai akhirnya, rasa-rasa yang campur-aduk itu kembali berkecamuk di dalam hatiku.

Sesaat kemudian, aku tiba-tiba terbayang pada Naya. Aku merasa ada jarak di antara kami setelah aku menggores luka di hatinya tanpa sengaja pada pertemuan yang terakhir. Pasalnya, ia tak lagi membalas sapaanku lewat pesan singkat, juga tak kunjung menanggapi pemberitahuanku soal tulisan opini yang semalam kukirimkan kepadanya, tentang politisasi isu kebangkitan komunis

Sejenak berselang, pikiranku lalu beralih pada Kira. Aku menduga ia sedang berjuang mengatasi persoalan hatinya setelah aku bersikap dingin terhadapnya. Aku mengira ia membenci kehadiranku atas perasaannya yang tak berbalas, sehingga ia tak lagi bertandang ke rumah markas. Aku pun merasa bersalah atas keadaan itu, meski aku tak patut juga dipersalahkan.

“Awas! Kalau kau masuk dan berkeliaran lagi di perkarangan rumah ini, aku akan mematahkan lehermu!” bentak Luny lagi. Terdengar dari arah depan rumah.

Di bawah beban pikiran yang berat, aku pun menguatkan diri untuk bangkit dari pembaringan. Aku kemudian melangkah keluar kamar, lalu mengecek perihal yang membuat Luny marah-marah sedari tadi. Hingga kulihatlah ia duduk di halaman depan rumah, di bawah terpaan sinar matahari pagi, sambil meneriaki sesosok orang gila yang mondar-mandir di depannya.

Adegan Luny dengan si gila berhasil juga membuatku terhibur. Luny yang kesal berulang kali menyerukan kata-kata usiran, namun si gila malah tak menggubris. Ia tetap saja berlalu-lalang mengukur langkahnya, sambil sesekali memunguti kerikil yang kemudian ia masukkan ke dalam sarung selempangannya.

“Luny telah menemukan partner diskusinya,” ketus Rano yang bersandar di kosen pintu.

Aku pun cecikikan.

Kami lalu duduk pada kursi di beranda depan rumah.

Rano lantas mengambil dan membaca koran pagi.

Aku pun kembali menonton tingkah Luny yang baru saja ditinggal pergi oleh si orang gila.

Fatih lalu muncul dengan wajah yang tampak masih mengantuk. “Hai, orang gila!” serunya ke arah halaman depan rumah.

Luny yang merasa tertuding, berbalik dan menatap Fatih dengan raut berang.

Aku dan Rano pun tergelak.

Fatih lalu duduk di samping kanan kami.

“Luar biasa!” seru Rano.

Aku lalu menilik bacaannya. Tanpa kuduga, opiniku kembali terpampang di koran terbitan Naya.

“Aku salut dengan langkah-langkah pencerdasan yang kau lakukan!” puji Rano.

Aku mencoba membiasakan pujiannnya, “Aku hanya melakukan apa yang bisa dan sebaiknya kulakukan untuk para korban sejarah.”

“Kau memang berbakat!” timpal Fatih.

Aku mengah. “Tidak juga. Menulis bukanlah soal bakat, tetapi soal semangat untuk menyuarakan pendapat.”

Hening kemudian. Rano terus membaca koran, sedangkan Fatih asyik mengisap rokok.

Berselang beberapa lama, Rano pun menutup koran.

Seketika, aku tertarik untuk mendiskusikan isi pikiranku. “Bagaimana pendapatmu?”

Ia mendeham, kemudian bertutur, “Aku sepakat bahwa politisasi dan perdebatan ideologi adalah taktik para politikus untuk kepentingan politik mereka pada pemilu nanti. Namun aku merasa kau masih terlalu sempit memandang hal itu sebagai persoalan di dalam negeri saja.”

“Jadi bagaimana menurutmu?”

“Kita seharusnya memandang pertarungan ideologi secara global, sebab ideologi tak mengenal batas-batas negara.”

Fatih lalu mengambil dan membaca koran.

Rano menyambung, “Karena ideologi adalah konsep, maka negara-negara yang memiliki ideologi yang sama, pada dasarnya saling terhubung sebagai satu tubuh. Tetapi dalam keterhubungan itu, akan terjadi ketidakseimbangan pengaruh. Negara yang kuat akan memengaruhi, sedangkan yang lemah akan dipengaruhi.”

“Apakah kau membaca bahwa negara ini sedang dipengaruhi secara ideologis oleh negara lain?”

“Pada dasarnya, negara dengan ideologi terbuka seperti negara ini, akan selalu mendapatkan rongrongan ideologis dari negara-negara lain.”

Aku semakin penarasan atas pendapatnya. “Apakah kekisruhan politik jelang pemilu saat ini juga terjadi akibat rongrongan itu?”

“Aku kira begitu,” jawabnya. “Suksesi pemerintahan melalui pemilu memang menjadi momentum bagi negara lain untuk menancapkan pengaruhnya dalam kerangka ideologi. Mereka ingin agar kebijakan pemerintahan negara yang kelak terbentuk, sedikit-banyak bisa mereka susupi dengan kepentingan mereka.”

“Bagaimana caranya?”

“Itu tergantung ideologi negara,” katanya. “Negara penganut liberalisme merecoki negara sosialisme dengan melancarkan isu bahwa hak-hak individu tidak mendapatkan perlindungan. Sebaliknya, negara penganut sosialisme merecoki negara liberalisme dengan menyebarkan isu bahwa kebebasan individu telah kebablasan dan menggangu stabilitas sosial.”

“Lalu, apa motif sebuah negara menginjeksikan ideologinya pada ideologi negara lain?”

“Ekonomi,” tutur Rano. “Perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur tidak lain dilatarbelakangi oleh motif itu. Negara-negara adidaya berupaya menyebarluaskan paham ideologi mereka hanya untuk kepentingan ekspansi kekuatan ekonomi mereka.”

“Bagaimana maksudnya?”

“Sebuah negara dengan perekonomian berdasarkan ideologi kapitalisme akan mempropaganda antikomunisme agar tercipta negara kapitalisme baru yang bisa menjadi lahan perkembang-biakan bagi kapital korporasi pengusahanya. Sebaliknya, sebuah negara komunisme akan mempropaganda antikapitalisme agar tercipta negara komunisme baru yang bisa menjadi lahan perkembang-biakan bagi kapital negaranya. Jadi pada negara kapitalis, aktornya adalah pengusaha transnasional, sedangkan pada negara komunis, aktornya adalah otoritas negara.”

Aku merasa kagum atas pengamatannya. “Lalu bagaimana pembacaanmu terhadap negara ini?”

“Reformasi telah membawa perubahan besar dalam mengokohkan kembali ideologi negara sebagai ramuan ideal dari dua ekstrem ideologi yang selalu dipertentangkan, termasuk dalam persoalan ekonomi. Kekuasaan negara atas pengelolaan sumber daya alam kembali dikuatkan, demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, baik melalui korporasi negeri ataupun korporasi swasta. Salah satunya dengan adanya upaya pemerintah saat ini untuk menasionalisasi pengelolaan sumber daya alam yang berada di bawah penguasaan dominan perusahaan asing sejak zaman otoriter.”

Fatih lalu melipat dan meletakkan koran di atas meja, kemudian menyela, “Penguasa rezim otoriter yang kapitalistik, memang telah mewariskan masalah perekonomian yang ruwet bagi bangsa ini. Semua terjadi akibat penguasa korup yang tega menggadaikan kekayaan alam negara untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Mereka terus mengutuk komunisme, sedang pada saat yang sama, mereka menjatuhkan negara ke dalam neraka kapitalisme.”

“Lalu apa yang terjadi sekarang, di saat sumber daya alam yang dikuasai oleh perusahaan asing berupaya dikembalikan kepada negara oleh pemerintah yang sedang berkuasa?” tanya Rano, menantang pemahamanku. “Perpolitikan negara kembali diramaikan dengan isu kebangkitan komunis.”

Aku mengangguk paham atas pendapatnya.

Luny kemudian datang dengan bertumpu pada tongkat. Ia lalu duduk di samping kiriku tanpa berkata-kata, lalu mengambil dan membaca koran.

Rano lantas menghembuskan napas yang panjang. “Sayangnya, sebagian besar masyarakat belum memahami bacaan politik semacam itu. Mereka tidak mengetahui bahwa isu kebangkitan komunis adalah rancangan para elit politik untuk kepentingan pemodal besar. Mereka terus saja larut dalam permainan isu, hingga mereka terhasut untuk memberikan dukungan politik kepada para politikus licik yang tak lain adalah kacung para cukong kapitalis.”

“Tetapi kenapa masyarakat di negara ini begitu mudahnya dihasut oleh isu-isu semacam itu?” tanyaku.

“Di negara dengan ideologi terbuka, tetapi dengan masyarakat yang masih berpikiran tertutup, celah hasutan dengan menggunakan isu-isu ideologi memang terbuka lebar. Pasalnya, ideologi masih dipandang secara hitam putih. Yang kanan, baik, sedang yang kiri, jahat,” tutur Rano.”

Aku mengangguk setuju. “Semoga semakin banyak masyarakat memahami keadaan pelik itu.”

“Itu berarti kau mesti lebih banyak menulis,” singgung Fatih.

Aku tertawa saja.

Perbincangan kami pun berakhir.

Fatih beranjak membasuh badan, Rano membaca buku, sedangkan Luny menonton televisi. Aku memilih kembali ke kamar.

Seketika, aku terpikir untuk menyampaikan terima kasih kepada Naya atas penerbitan opiniku hari ini. Aku lantas mengirimkan sebuah pesan kepadanya: Terima kasih telah membantuku menyuarakan aspirasi para korban sejarah hari ini. Aku rindu bercerita banyak hal denganmu. Aku akan menunggumu di Kafe Niro jam 8 malam ini. Catatan: Pesan ini hanya pemberitahuan. Kau tak harus membalas.

Sesaat kemudian, dari arah ruang tengah, kudengar Fatih menyampaikan pamit kepada Rano untuk mengantarkan Luny ke rumah sakit.

Tiba-tiba, aku kembali berhasrat untuk memulai tulisan yang baru mengenai hasil diskusi kami beberapa saat yang lalu. Aku bertekad untuk segera menyelesaikannya, lalu mengirimkannya lagi kepada Naya.

Aku lalu beranjak ke markas dan memulai misiku.

Di tengah suasana yang hening, aku kembali berkutat dengan layar dan tombol laptop. Alur pikiranku melaju seirama dengan tarian jari-jariku. Beberapa buku kutelaah sebagai dasar teori. Beberapa koran terbitan baru juga kutilik sebagai dasar realitas.

Namun setelah satu jam pengetikan, aku tersesat di tengah tulisan. Aku merasa kebingungan menguraikan kata-kata selanjutnya. Hingga akhirnya, aku memilih untuk menjeda, lalu kembali ke ruang utama.

Aku lalu duduk di sofa, di samping Rano, sambil menonton televisi. Seketika, aku jadi tak sabar menanyakan satu persoalan kepadanya. Perihal yang telah menambah kekalutan hatiku. “Apa kabar dengan Kira? Apa dia baik-baik saja?”

“Aku tak tahu. Aku tak pernah bertemu dengannya sejak hari ulang tahunnya tiga hari yang lalu. Aku telah menghubunginya lewat telepon dan pesan singkat, namun tak ada respons,” katanya, tanpa menoleh kepadaku. “Kenapa kau menanyakannya?”

“Aku penasaran saja,” kataku, sedikit terpojok. Aku lalu mencoba mengonfirmasi dugaan-dugaanku, “Apa sebelumnya ia pernah menghilang tanpa berbagi kabar seperti sekarang?”

“Setahuku tak pernah, sebelum kau datang.”

Sontak, aku merasa bersalah. “Apa kau kira ini ada hubungannya denganku?”

“Kuduga begitu. Aku kira dia menyukaimu.”

“Bagaimana bisa kau berkata begitu?” sergahku.

“Itu terlihat dari sikapnya. Kalau kau sedikit peka, kau akan mengetahuinya juga,” katanya, dengan sikap santai. Ia lalu menoleh padaku, lantas kembali bertanya, “Apa kau menyukainya juga?”

Aku menggeleng-geleng. “Aku punya kekasih di negeri seberang,” kilahku, demi membuatnya percaya. Aku lalu mengonfirmasi perkiraanku yang lain, “Bukankah kalian punya hubungan?”

Ia pun berpaling dariku dengan wajah lesu. “Kita memang berhak menyukai seseorang, tetapi seseorang juga berhak untuk tidak menyukai kita,” katanya, terkesan menghindari penyebutan sebjek aku-dia. “Perasaan memang serumit itu.”

Aku lalu mempertanyakan kebingunganku, “Jadi menurutmu, apa yang seharusnya aku lakukan?”

“Kau tak harus melakukan apa-apa. Itu bukan salahmu.”

“Tetapi aku mengkhawatirkan keadaannnya,” tuturku. “Apa aku harus menghubunginya?”

“Tak usah. Itu akan membuatnya semakin terjebak dalam perasaannya sendiri.”

“Jadi sebaiknya aku bagaimana?”

“Kau tak usah khawatir. Ia akan baik-baik saja. Aku jamin.”

Aku pun berusaha meredam kecemasanku.

Obrolan kami lalu menjeda beberapa saat. Kami hanya terdiam sambil menonton para politikus yang lagi-lagi memperdebatkan isu kebangkitan komunis di layar televisi.

Berselang kemudian, Rano bertanya, “Apa rencanamu hari ini?”

“Aku berencana untuk mencari keberadaan Nenekku di lembaga-lembaga penampung tunawisma atau panti jompo,” jawabku. “Aku kira itu langkah yang tepat. Kita bisa mencari datanya di instansi pemerintah terlebih dahulu.”

“Aku lowong jika kau butuh teman.”

“Tawaranmu sepertinya menarik,” balasku, dengan perasaan senang.

Setelah mengenakan setelan yang rapi sesuai saran Rano, kami lalu beranjak dengan sepeda motor. Kami menghadapi jalanan yang macet, juga kebisingan dan kepengapan kota yang menggerahkan. Namun kelihaian Rano memanfaatkan celah-celah kemacetan, membuat derita kami tak berkepanjangan.

Tak lama kemudian, kami pun sampai di kantor dinas sosial yang tampak lengang.

Setelah hampir satu jam, seorang yang kami sasar akhirnya datang telat dari jam masuk. “Kalian ada urusan apa?” tanyanya, tegas, tanpa meminta maaf karena telah membuat kami menunggu.

“Kami butuh data tentang lembaga perlindungan sosial untuk orang jompo dan tunawisma, termasuk soal detail identitas orang-orang binaannya,” kata Rano dengan suara dan sikap yang biasa.

“Ada urusan apa?” selidik sang pegawai dengan tampang judes.

“Aku asisten Bapak Dewan,” kata Fatih, lalu melirik kepadaku. “Kami butuh data lembaga sosial untuk pembahasan anggaran. Kami membutuhkannya sebagai dasar pertimbangan untuk pengalokasian angggaran perlindungan sosial.”

Sontak, sang pegawai terkejut dan segera merekahkan senyuman yang tawar. “Kenapa tidak bilang dari tadi, Pak,” tuturnya, dengan intonasi suara yang seketika merendah. “Kalau begitu, aku izin sebentar untuk mencari datanya, ya, Pak. Hanya sebentar.” Cepat-cepat, ia lalu beranjak menyibak bundel dokumen.

Rano menoleh padaku, lalu mengedipkan matanya.

Aku menahan tawa.

Tak berselang lama, sang pegawai lalu menyerahkan dokumen kepada Fatih dengan sikap yang sopan, bak seorang biasa menghadap kepada sang raja. “Maaf, ya, Pak. Data yang kami punya tak mendetail sampai pada nama-nama orang binaan seperti yang Bapak inginkan.”

Rano lantas mengaduh sembari menyambut dokumen yang disodorkan sang pegawai. “Secepatnya, Bapak harus membenahi masalah-masalah pendataan. Itu penting sebagai bahan perencanaan dan evaluasi kami.”

“Baik, Pak. Akan kulaksanakan segera,” kata sang pegawai, sambil menyengir, seperti seorang anak yang ketahuan ayahnya telah melakukan kesalahan fatal.

Rano lantas berbalik badan.

Kami pun berlalu dengan sikap yang penuh wibawa.

“Penyemaranmu hebat juga.”

Ia terkekeh. “Itu cara terbaik yang harus aku lakukan. Kalau tidak begitu, para pegawai yang malas itu akan mempersulit kita. Mereka akan meminta surat permohonan data, menyuruh kita menunggu beberapa hari, sampai memintai kita sejumlah bayaran yang tak jelas.”

Aku pun menyambung tawa.

Hari sudah sore. Kami pun sepakat untuk menunda pencarian sampai besok.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar