Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2026

Melebur Waktu

Hari ini, kau kembali memujiku
Seperti kemarin, aku menakutkan esok yang jauh
Pada masa depan, ketika waktu merenggut keindahanku dari masa lalu, dan kau kesulitan menemukan alasan untuk mengagumi

Terhadap matamu, segala keraguanmu
Berkembang, menjadi ketakutanku terhadap tubuhku sendiri
Yang fana, mungkin juga cintamu

Aku ingin kita menuju akhir yang sama
Merenta, membusuk, dan terurai bersama
Menjadi sepasang jiwa yang tak lagi tersekat batas raga


Hampir Sempurna

Berulang kali bangun untuk membangun
Puncak karier yang tergapai, dari dasar terbawah
Merangkak, menerjang semalu, mengurai benalu
Menjadi majikan gerombolan jelata yang merana
Menjadi semena-mena demi kuasa selamanya
Menistakan muruah sebagai perintis

Terkuras dahsyat daya untuk berdaya
Status hartawan yang tercapai, dari lembah kefakiran
Mengais, menumpuk dana, menimbun aset
Menjadi juragan kawanan buruh yang melarat
Menjadi serakah demi memuaskan keinginan
Merusak martabat sebagai pekerja

Jutaan bunga untuk hidup berbunga-bunga
Sepasang yang setia, dari sekian pengkhianatan
Mendendam, menabur godaan, menjerat simpanan
Menjadi gembala sejumlah raga yang menggelandang 
Menjadi pengkhianat demi syahwat berahi
Menodai kesucian sebagai pecinta

Segalanya hampir sempurna
Dari kehampaan menuju kecukupan
Lalu memuncak kepuasan dan menuntut pembaruan
Untuk waktu yang terus berlanjut, untuk nafsu yang tetap bergelora
Menghancurkan cita masa muda untuk menjadi terhormat, terpandang, dan tercinta
Menyisakan masa tua untuk meratapi riwayat hidup yang berujung penyesalan


Minggu, 13 September 2026

Pertahanan Terakhir

Keanjingan membabi buta
Kita kesulitan memahami kekacauan
Anjing dan babi telah bersekutu dalam penggarongan

Pada mana kita harus berbenah?

Padang ini, berpayung hukum
Tersusun dari anjuran dan ancaman
Namun kata-kata hanyalah kehampaan
Makna sebenarnya adalah tafsir yang bebas

Kita lalu berharap pada aparat
Hukum pasti tegak dengan niat mulia
Tetapi semua bejat dan korup sedari jadi
Memburamkan aturan, mengaburkan kejahatan

Tersisa kita, pertahanan terakhir
Untuk membarunya kehidupan dengan hukum nurani
Dengan upaya terbaik untuk menyelamatkan peradaban
Sebagai manusia yang berusaha menjadi manusia yang sejati


Alpa

Muda dan merdeka
Serupa seniman yang berpesta
Kau menurut bisikan batin semata
Untuk pujian yang cukup berarti bagimu
Sampai kau mengenal nominal penghargaan

Lalu kau jadi pekerja
Menagih rupiah sebagai upah
Menyusun kemapanan demi kemandirian
Menikmati kesederhanaan yang menenteramkan
Sampai kesepian membuatmu mendambakan kehangatan

Kemudian, kau menikah
Bercinta dan melanjutkan keturunan
Bersukaria dalam keramaian yang meriah
Hingga kau terpikir perihal masa depan anak-cucumu
Sampai kau mati, meninggalkan impian yang tak sudah-sudah

Demikianlah keinginan membuatmu tidak pernah hadir di dalam hidupmu
Sejak dunia membuatmu merasa hidup adalah masa depan yang mesti terus dikejar
Sampai kau abai menikmati segala yang sedang engkau miliki, dan lupa mensyukuri semua yang pernah engkau dapatkan


Kamis, 10 September 2026

Tabung Tanya

Segalanya mungkin kutemukan
Penampilanmu, dan jawaban dirimu
Pada layar kaca, tempatmu berkeluh kesah
Menjadi sesungguhnya, yang rapuh dan kesepian

Tetapi kuredam penasaran
Menguji teguhku memendam gelisah
Menakar tangguhmu merahasiakan gejolak
Supaya mekar angan indah sampai waktu yang belum pasti
Saat kusingkap keajaiban dirimu pelan-pelan dan penuh perhitungan

Aku ingin kita bertemu sebagai sepasang orang asing
Bersama dengan kesungguhan untuk saling memahami
Dengan basa-basi yang masih berlaku dan perkenalan yang mengesankan
Dengan tetap menyisakan misteri tentang diri kita untuk hari esok yang panjang
Agar tetap berkobar gairah kita untuk saling mencari dan mempertanyakan masa depan kita
Agar kita tetap saling mempertahankan dan memperjuangkan harapan kita yang semoga mewujud baik

Huru-Hara

Barangkali, kami yang kurang ajar
Memohon kasih dengan suara mengancam
Menuntut kehidupan yang mungkin tidak bisa juga kami wujudkan dengan kuasa sendiri

Atau barangkali, kalianlah yang terlalu angkuh
Merasa paling tahu dan enggan menimbang pendapat
Memaksa kami menerima segala yang kalian anggap baik untuk kami

Kita sudah sama-sama lelah bertarung kata
Saling menghakimi niat dan menghinakan nalar
Mengesampingkan tujuan yang sama karena cara yang berbeda

Untuk semua, seharusnya kita saling mengalah untuk mengawinkan pandangan
Menjadi beradab untuk memadukan harkat kebaruan dan martabat pengalaman
Memuliakan kembali penghormatan pemula dan pengorbanan pendahulu


Rabu, 09 September 2026

Kaca Pembesar

Godaan menggelincirkan niat
Menyasar guna, tertuju sia-sia
Tersebab bujuk gairah penasaran
Bernafsu menilik kerlap duniawi
Yang tersembunyi demi kepatutan

Tersulut kejenuhan dan keisengan
Kesendirian memancing kepolosan
Yang merahasia dari mata orang lain
Agar diri tetap terlihat baik dan mulia
Meski batin rusuh mengurung keliaran
Untuk suatu saat lepas tanpa kekangan
Melindas muruah yang telah lama terjaga

Akhirnya terwujud kecemasan
Peralatan nyatanya memperalat
Perkenalan berujung pelecehan
Permainan berujung perjudian
Perdebatan berujung penistaan
Semuanya berakhir penyesalan

Demikianlah jebak belantara maya
Jari-jari bersuara tanpa mempertimbangkan kenistaan dosa
Kata-kata menjadi kunci yang memungkinkan segala kekhilafan
Bagi siapa saja yang tidak benar-benar lepas atau tidak mampu menguasainya


Selasa, 08 September 2026

Alasan Pemungkas

Malang
Pecundang
Tersisih dalam perjuangan
Tanpa kemampuan untuk ketenteraman
Tanpa menjamin kehidupan

Nahas
Papa
Tertinggal dalam kemapanan
Tanpa kemewahan untuk kesenangan
Tanpa menjanjikan kebahagiaan

Lemah
Kacung
Terdepak dalam peraduan
Tanpa kekuasaan untuk kebebasan
Tanpa memastikan keamanan

Akulah ketidakberartian
Tampak merupa segala yang tak diharapkan
Masih tetap dengan perasaan menang, kaya, dan berdaya
Seandainya aku memilikimu

Apakah kau akan mencintaiku saat aku membenci diriku sendiri?

Dinding Rumah

Telah dingin sajian
Di meja ini, hanya keheningan
Seorang makan sendiri, dan seorang datang dengan perut kenyang
Atau sekadar berhadap-hadapan dengan rasa masing-masing
Tanpa berbagi jamuan atau suapan kasih sayang
Dengan tatapan yang menyantap gawai sendiri
Sampai tandas dan saling melalaikan

Telah asing pelukan
Di kasur ini, hanya kesepian
Seorang tidur lebih dahulu, dan seorang begadang larut lembur
Atau sekadar bersamping-sampingan dengan mimpi masing-masing
Tanpa berbagi selimut atau kecupan selamat tidur
Dengan dekapan yang merangkul raga sendiri
Sampai terjaga dan saling meninggalkan

Telah pudar kemesraan
Di bilik ini, hanya kedinginan
Seorang sedang mandi, dan seorang telah pergi terbawa cepat roda
Atau sekadar berpunggung-punggungan dengan rencana masing-masing
Tanpa berbagi godaan atau pelukan penuh cinta
Dengan sentuhan yang mengusap tubuh sendiri
Sampai elok dan saling mengabaikan

Demikianlah adanya
Rumah ini hanya pelarian
Ruang sembunyi dari kejaran dunia untuk kembali menguatkan diri
Mengulang rutinitas untuk menyambung kehidupan yang melelahkan
Tanpa sisa daya untuk bercanda
Tanpa sisa waktu untuk bermain-main
Dengan sendiri-sendiri, pulang dan melawan kebosanan untuk bersetia


Suara Kediaman

Kita menyukai ombak
Menyusup seperti paus
Sebelum air menabung limbah kejahilan
Sungai tertimbun, dan samudra tercemar

Kita menyenangi bukit
Menjelajah seperti macan
Sebelum tanah menanggung residu keserakahan
Dataran terkeruk, dan hutan tergerus

Kita menikmati angin
Melayang seperti elang
Sebelum udara menampung ampas keberingasan
Ruang tersesak, dan awang-awang ternoda

Kita adalah makhluk segalanya
Hidup menyelam, menapak, dan melambung
Sebelum berkhianat dan merusak kediaman sendiri
Karena kita hanya peduli sejauh jangkauan mata
Karena kita hanya peduli selama hari ini

Kini, kita berkehendak berpindah alam
Mungkin hanya untuk mengulang cerita

Senin, 07 September 2026

Sampai Jumpa Lagi

Sejak semula
Telah kutabur bibit harapan
Kucuri dari sekuntum wajahmu yang menawan
Dari peristiwa yang engkau abaikan
Pada lahan tanpa nama

Di mana kamu?
Semoga bertumbuh baik dan bahagia
Sebagai bunga matahari yang menari-menyinari hari-hari yang berduri

Pada malam ini
Dalam tenang gelap
Dari arah yang tak terbaca
Saat lelap memungkinkan semua
Kupasrah niat kepada penguasa taman
Untuk menemukanmu kembali di dalam mimpi
Bersemi, harum, dan menyenangkan
Untuk kubiarkan begitu saja
Untuk berharap berjumpa lagi
Seperti malam-malam yang lalu


Tafsir Warna

Agung angkasa
Kau datang dari cahaya
Putih hadirmu seperawan suci surgawi
Berdiam polos menuntut makna mengada
Serupa rona ketenteraman dipudar kejemuan
Hingga kau merebahkan diri pada kelam dunia
Terlentang bebas seperti kanvas yang pasrah
Menanti pelukis menerjemahkan tubuhmu
Menjadi hijau padang yang kelabu
Menjadi biru laut yang oranye
Menjadi cerah langit yang suram
Menjadi bening hujan yang keruh
Lalu berpendar pelangi setelahnya
Menyusun motif rasa di dalam hatimu
Dengan merah amarah, jingga curiga, kuning pening, hijau galau, biru cemburu, ungu mangu, dan nila gila
Atau berupa merah gairah, jingga bangga, kuning hening, hijau pukau, ungu melagu, dan nila menyala
Yang membuatmu berserah membasuh kekalutan dengan air mata setelah luapan keringat tak sanggup mendamaikan warna-warni itu di dalam hidupmu

Tiba akhirnya, gejolak mereda
Kau jadi lukisan yang tak terterjemah
Terbingkai dan berpulang menuju cahaya
Dengan putih kebaikan dan hitam keburukan
Dengan corak kelabu yang tak bisa kau takar sendiri

Setelah segalanya, apa kau menyesal pernah terlahir dan terluka? 
Atau kau bersyukur telah menuntaskan rasa penasaranmu untuk menemukan bahagia yang sementara? 


Minggu, 06 September 2026

Menjadi Sama

Sudah terlampau jauh
Aku letih mengejar khayalan
Dalam impian yang berulur cepat
Tak terserak makna untuk kusesapi
Kecuali pedihnya kecewa dan cemburu
Atas rentetan kegagalan dan ketertinggalan
Untuk harapan bijak demi ketenangan
Sekadar keinginan pada keadilan
Menjadi setara atau sewajarnya

Aku mendamba dunia yang dahulu
Saat hidup hanyalah tentang hidup
Menguntai napas langsung dari alam
Membarter untuk kenyamanan lebih
Tanpa daya uang untuk memperalat
Tanpa kasta kuasa untuk menindas

Kini, setelah keterlambatan telanjur
Pada kekacauan aku menuai penghiburan
Ketika nasib serasa melebur dalam kemalangan
Dengan pemadaman yang menidurkan
Dengan bencana yang meliburkan
Dengan wabah yang menganggurkan
Atau dengan kiamat yang mengugurkan


Pandangan Dunia

Mengembara di hamparan bumi
Bagi kami yang berguru pada alam
Atas kesabaran dan kemurahan buana
Untuk memperturut godaan tanya dunia
Perihal ilmu-ilmu yang dirahasiakan semesta 
Adalah permainan dan perlombaan semata
Dengan menungkup jangkrik atau mencongkel cacing
Dengan menangkup udang atau memanah ikan
Dengan menangkap capung atau mengetapel burung
Sampai kedewasaan membuat kami mengerti
Bahwa jagat raya menyembunyikan bakal kenikmatan yang melimpah
Sehingga kami mengarungi laut sejauh-jauhnya, menggali tanah sedalam-dalamnya, menjelajahi angkasa setinggi-tingginya

Alam kemudian berpindah pada kertas dan layar kaca
Menjelmakan bumi sebagai misteri jebakan yang mengancam
Menyulut ketakutan pada dunia nyata yang makin terlupa
Menggantungkan hidup pada hasil kerja mesin
Mengurung kalian dalam jerat bius permainan gawai 
Menumpuk pengetahuan imajinatif tanpa pengalaman hidup
Dengan gim kehidupan tanah, laut, dan udara
Yang membuat alam menjadi rumah segala makhluk selain kalian
Yang membuat samudra bebas dari kotoran, hutan bebas dari pembalakan, dan antariksa bebas dari polusi

Entah siapa yang lebih menghargai berkat alam di antara kita


Senin, 31 Agustus 2026

Ujung Kembara

Teruntuk adamu, aku menjadi bisu
Kata-kata kehilangan makna, dan aku mencetuskan bahasa sendiri
Dengan gerak tangan dan kaki, dengan pasang telinga, dengan segala irama tubuhku
Membuka tutup botol air minummu, menurunkan pijakan kaki sepeda motor untukmu, berbagi lagu melankolis pilihanku bersamamu, dan segala yang mungkin kau butuh untuk nyaman sampai tujuan
Lalu kita menjurus ke segala penjuru dengan isyarat diam yang multitafsir
Sampai kau kesulitan mengeja detak jantung dan desau napasku di tengah desir bising udara
Sampai kau menuntut maksud dari mulutku yang semampunya mengumamkan kilahan yang menyesatkan
Sebab tutur kata hanya kiasan tak berguna bagi niatku yang senantiasa berupa raga yang mengawanimu sepatutnya
Berupa keheningan yang mengundang seseorang mencurimu dari punggungku dengan gombalan murahan yang bagimu jawaban keresahan
Yang bagi diriku mewujud kecemburuan yang membuat tubuhku lumpuh kehilangan cakap, dan lidahku mesti belajar kembali membicarakan rasa
Kembali berlatih keras memuisikan kata untuk membangun gudang kenangan dari rintihan patah hati dan seruan doaku yang tak putus-putus
Dari sisa harapanku semoga kehidupan berakhir cepat dan baik, dan aku mendapatkanmu sebagai bidadari balasan atas tekad muliaku meredam sanubari
Sebagai satu-satunya jalan untuk berhenti menyaksikan dirimu bahagia dengan seseorang yang sanggup melayangkanmu ke mana saja, dengan sambutan karpet merah, dengan segala rasa minuman, dengan pilihan lagu yang bebas



Ingin Hidup Kembali

Pada antah-berantah
Di dalam balai sederhana yang tumbuh asing di tengah padang
Makhluk bersayap menari dan bernyanyi mengantarkan pagi yang dingin
Mengembuskan gigil dari kisi-kisi jendela atau sela-sela dinding kayu
Menimpakan kesenangan untuk bermalas-malasan di dalam selimut
Menanti bumi menghangat untuk membangun kebun dan ternak
Menghidupkan hidup dari kehidupan yang dipersembahkan alam

Pada nyata impian
Di dalam ruang yang tersesak sekat-sekat beton yang berbaris dan menumpuk
Alarm mengoceh lagi pada rentang menit yang kesekian setelah kesekian
Memperingatkan untuk mematikan pendingin ruangan yang bekerja semalaman
Menuntut perjuangan untuk bangkit dari kasur dan mengalahkan godaan kantuk
Menagih segera untuk bergumul dalam sesak asap dan kemacetan
Memperkaya manusia tamak yang telah menggajimu seadanya

Selama hari-hari
Kau merutuki keberadaan dirimu dalam perangkap kutukan kota
Mengulang kemarin untuk esok saat anganmu dalam hampa waktu
Pada alam imajinasi yang kau bangun dari cerita dongeng atau kitab suci
Karena batinmu selalu ingin kembali pada kehidupan leluhur yang dahulu sekali
Saat kedamaian bisa engkau dapatkan tanpa menggadaikan nilai sebagai manusia


Minggu, 30 Agustus 2026

Dunia Malam

Gelap dan sunyi
Hambar dan kesepian
Kutilik dan kucuri lagi awur polahmu yang lugu
Kurekam dan kususun ulang dalam semesta imajiku
Perlahan lepas kendali, lantas mengulur tanpa kerangka
Tanpa arah panduan skenario atau tuntunan sutradara
Terangkai saja sinema yang misterius dan menegangkan
Tentang kita yang bersikap dengan kehendak sendiri
Saat kita bersinggungan dalam belantara  kesesatan
Saat kita sama-sama terbuang dan mencari tempat berarti
Saat kita sama-sama ketakutan dan mencari persembunyian aman
Saat kau bertandang ke dalam bilik perlindunganku dan merasa tenang di sisiku
Saat kau memasrahkan dirimu ke dalam pelukanku dan mengandalkan diriku sepenuhnya
Sampai aku jadi diriku yang sesungguhnya, yang mengharapkan kehadiranmu sekian lama
Sampai timbul kekhawatiran batinku kalau-kalau aku menggila dan mencelakaimu
Sampai aku ingin mati saja sebelum mengganas dan menyakitimu
Sampai aku berharap kau segera sadar dan lenyap dari pengindaraanku
Tetapi nafsuku telanjur merajai untuk menunaikan adegan yang kuangankan
Aku kalah dan merangkulmu, membekapku, menghantanmu, melumatmu, menamatkanmu
Hingga aku tersadar dengan penyesalan dan sejumlah kerepotan
Hingga aku merasa tenang sebab semua tidak benar-benar terjadi

Terhadap dirimu, aku tak tahu pada mana diriku yang sebenarnya; di dalam alam sadarku, atau di bawah alam sadarku
Sebab sepanjang kedewasaan, aku hanya anak adam yang terus berjuang meredam naluri buas binatang di dalam diriku
Jadi kuminta, waspadalah pada jarak yang aman sebelum kedekatan membuatku hilang kewarasan dan menerkammu


Jumat, 28 Agustus 2026

Yang Maha

Kita berbatas
Upaya cuma percobaan
Doa sekadar permohonan
Ikhtiar hanya kemungkinan
Demi hidup semua diri

Kita rakus
Ingin menjadi segalanya
Untuk memiliki semuanya
Tanpa berbagi selayaknya
Demi nikmat seorang diri

Kita lupa
Dunia punya takaran
Hidup dalam kebercukupan
Lalu nafsu berkekurangan
Merasa pantas jadi pengadil


Kamis, 27 Agustus 2026

Teruntuk Kalian

Lama terlelap suasana
Antara kita yang terselubung
Hangat menawar, menjadi dingin
Melindapkan rencana yang sempurna
Melenyapkan cahaya bahagia
Sebelum rasa terkata

Dalam beku dan buta
Bunga api liar menjalar
Ke taman asa, sampai habis
Kelam rahasiaku, dan terang jalanmu
Kobar asmaramu, dan hangus kecewaku
Setelah mentari membuyarkan mimpi

Masa tenang telah tiba
Damai terpancar selepas hujan
Pada haru mataku, juga cerah langitmu
Terangkai pelangi citaku pada nyata cintamu
Setelah dirinya mewujudkan rencanaku
Untuk dirimu, begitulah sebaiknya


Rabu, 26 Agustus 2026

Kita setelah Mereka

Kembali bencana berkali petaka
Menggila tragedi bangsa pelupa
Selama negara dalam durjana
Selamanya buana gelimang duka
Mencipta kasta papa yang lara
Beserta saf ulama yang kecewa
Juga para cendekia yang terjaga
Satu armada menerjang cuaca
Dipandu nakhoda atas nama cita
Dipercaya katanya sesama hamba
Seturut citra maya media berita
Menjadi duta tanpa ada curiga
Sampai ganda siklus masa bahala
Sebab manis bahasa, berdua muka
Berlawan karena dengki semata
Berpura menista kuasa yang dusta
Memenjara raga penjarah dana
Mengganti mereka mencuri laba
Menimbun harta, mengumbar angka
Membungkam massa dengan senjata
Sampai gana mafia memicu sengketa
Sampai nyawa suaka dan membahaya
Sampai masanya melawan sang raja
Mengerahkan tipu daya segala gaya
Menjaja surga dalam pesta yang hina
Merebut tahta dan mengulang bala
Hingga cua sukma kita terlenyap asa
Sisa berdoa untuk tobatnya penguasa
Atau menerima saja cara dunia bekerja
Dengan pasrah pada durhaka manusia
Bahwa adikara punya pencinta angkara
Agar ada beda antara dosa dan pahala
Agar bermakna membela yang menderita
Agar berarti surga sebagai imbalan Yang Maha
Atau lagi, kita bersepakat mencoba
Meniti peta gerakan nurani yang terencana
Menjadi bijaksana sebelum bersinggasana
Berbudi mulia sebelum memikul dunia
Terbiasa berpuasa sebelum berkuasa
Tetapi, apa masih tersisa percaya di antara kita?
Atau kita masih akan saling curiga perihal siapa di antara kita yang akan berhasil mengkhianati selainnya?