Minggu, 07 Februari 2021

12. Aksi Tunggal

 Bagian ke-12 dari cerita bersambung Setapak Berliku

Akibat setumpuk masalah yang membuatku sulit terlelap semalam, aku akhirnya memulai hari ketika sinar mentari telah menembus jendela kamarku. Aku lantas teringat lagi pada masalah hidupku yang sengkarut. Aku tak kunjung mendapatkan petunjuk berarti tentang peristiwa tragis atas ibuku dan kakek-nenekku, dan aku harus berurusan dengan persoalan hati yang rumit dengan Naya.

Pada saat yang sama, teman-teman semarkasku mulai terlibat dalam hubungan yang pelik dan kurang harmonis. Fatih cekcok dan berjarak dengan kekasihnya, Luny. Sedang aku sendiri merasa harus mengambil jarak dengan Kira yang kutafsir mulai dekat padaku secara berlebihan, juga demi menjaga hubunganku dengan Rano yang kuterka punya perasaan padanya.

Di tengah kekalutan itu, tiba-tiba, Fatih mengetuk pintu kamarku. “Rumi…”

Aku bergegas membuka pintu. “Ada apa?”

“Bukankah kau punya janji dengan Pak Timan?

Aku terkejut. “Sudah jam berapa sekarang?”

“Jam 8 lewat.”

“Aduh”

“Bersiaplah. Jangan sampai kita terlambat.”

Dengan langkah cepat-cepat, aku segera mandi kemudian mengenakan pakaian yang rapi. Setelah melahap beberapa potong roti, aku dan Fatih akhirnya meluncur di jalan raya.

Sepuluh menit sebelum jam 9, kami akhirnya sampai di kantor Pak Timan. Bebekal kartu pers yang kurekayasa sebaik mungkin, juga janji wawancara yang telah terjadwal, aku pun melangkah mulus menuju ruangannya.

Nyaris jam 9, kami pun masuk ke dalam ruangannya.

Ia menyambutku dengan senyuman yang berwibawa. “Silakan.”

Aku lalu duduk berhadapan dengannya di meja kerjanya, sedang Fatih duduk di kursi tunggu tamu, di samping kami.

“Terima kasih, Pak,” balasku.

Proses wawancara terselubungku kemudian berlangsung. Aku memulai dengan mempertanyakan identitas dan latar belakangnya, dan ia sangat antusias untuk menguraikannya.

“Apakah anak Bapak, Topan, memiliki ketertarikan dalam dunia bisnis atau politik seperti Bapak?” tanyaku, mengorek satu informasi yang penting bagi penelusuranku.

Ia menggeleng. “Sepertinya tidak.”

“Lalu apa yang menjadi ketertarikannya?”

“Yang kutahu, ia memiliki ketertarikan yang sama sepertimu. Ia lulusan ilmu komuniskasi, dan yang kutahu, ia menjadi seorang wartawan. Tetapi aku sudah tak tahu banyak tentangnya setelah perceraianku dengan ibunya, istri pertamaku.”

“Lalu, di mana keberadaannya sekarang?”

“Entahlah. Ia telah hidup mandiri dan terpisah dari ibunya. Aku tak tahu pasti alamat tempat tinggalnya. Yang kutahu, ia tinggal di kota ini,” tuturnya, tampak terkenang-kenang. “Tetapi kukira, kau tak perlulah memasukkan soal-soal itu di dalam tulisanmu nanti.”

Aku menganggukan permintaannya. Setelah itu, aku lalu mencoba untuk menyusup ke dalam masa lalunya demi menemukan jawaban yang aku cari. “Soal kesuksesan bisnis, aku yakin, Bapak pun telah melalui kondisi yang sulit. Aku dapat kabar bahwa dahulu, bisnis pertokoan alat elektronik Bapak sempat mengalami kebangkrutan. Apa yang terjadi?”

“Namanya bisnis, tentu ada naik-turunnya, apalagi di tengah persaingan ekonomi yang begitu bebas dan tidak sehat,” terangnya. “Dahulu, keadaan itu pula yang membuat bisnisku jatuh. Masuknya produk-produk elektonik dari luar negeri, dan merebaknya toko-toko elektronik, membuat persaingan harga menjadi sangat keras. Siapa yang bisa mendapatkan barang dengan harga murah, akan menjualnya dengan harga murah. Barangnya jadi laku, dan ia akan meraup untung besar. Nah, pada waktu itu, aku tak mampu mendapatkan pasokan barang yang murah. Sebagai pribumi asli, aku tak tahu jalur pasokan kecuali jalur umum yang pelik. Tetapi pebisnis toko lainnya, terutama warga keturunan yang punya jejaring bisnis yang luas sampai ke negeri seberang, bisa melakukannya. Akhirnya, aku kalah.”

Aku membaca jelas sentimen etnisnya dalam memandang persaingan ekonomi. “Apakah itu berarti Bapak tidak sepakat dengan persaingan bebas?”

“Persaingan adalah niscaya dan perlu dalam dunia ekonomi. Tetapi menurutku, memang harus ada kontrol dari pemerintah untuk mewujudkan persaingan yang sehat. Harus ada intervensi pemerintah untuk menjamin agar kesenjangan daya perekonomian antar pebisnis tidak terjadi. Dan orientasi kebijakan ini adalah untuk kepentingan nasional, dalam hal ini, untuk anak negeri sendiri, bukan untuk asing dan jaringannya.”

Aku mencoba lebih dekat dengan inti penyelidikanku. “Seperti informasi yang aku dapat, bisnis pertokoan, termasuk bisnis Bapak, semakin terpuruk akibat terjadinya kekacauan menjelang tumbangnya rezim pemerintahan. Mungkin Bapak bisa ceritakan, apa yang terjadi di kompleks pertokoan Bapak?”

Ia menarik napas, lalu bertutur dengan lebih lambat. “Ya, memang terjadi kekacaun di kompleks pertokoan kami. Segerombolan orang datang menjarah dan menghancurkan toko.”

“Bagaimana keadaan toko Bapak sendiri?”

“Syukurlah, toko milikku tidak mengalami perusakan.”

“Bagaimana bisa?”

Ia lalu menarik badannya dari sandaran kursi, seolah butuh keseriusan untuk meramu jawaban. “Ya, mungkin karena keberuntungan saja.”

“Itu tentu sebuah keajaiban bagi Bapak, sebab menurut kabar yang kudapatkan, semua toko alat-alat elektronik di kompleks pertokoan itu mengalami perusakan. Bagaimana mungkin?” Aku kemudian lekas memperbaiki kalimat pertanyaanku, “Maksudku, apa yang Bapak lakukan sampai Bapak lolos dari petaka itu?”

Ia menggeleng-geleng, seperti orang yang kebingungan mencari jawaban. “Ya, tidak melakukan apa-apa,” tanggapnya, singkat.

Aku pun segera menimpali, “Tuhan benar-benar telah berpihak pada Bapak kalau begitu. Apalagi menurut kabar yang kutahu, kekacauan itu telah menghancurkan toko elektronik seorang warga keturunan yang menjadi pesaing utama bagi bisnis Bapak. Apakah Bapak punya tanggapan tentang bagaimana itu bisa terjadi?

Ia mengangguk-angguk pendek dan menatapku dengan tatapan yang tajam. Ia lalu membetul-betulkan posisi duduknya, seperti merasa tidak nyaman. “Mungkin sebaiknya kita berhenti membahas persoalan itu, dan beralih pada persoalan yang lain. Aku masih merasa trauma mengenang-ngenang kejadian kala itu.”

Aku lantas berdalih, “Tetapi jawaban Bapak soal itu, sangat aku butuhkan untuk menggambarkan perkembangan bisnis Bapak. Aku ingin menuliskan perbandingan kondisi dan perkembangan bisnis Bapak sebelum dan setelah kekacauan yang akhirnya mengubah peta persaingan bisnis di kompleks itu. Maksudku, apakah ketiadaan toko orang keturunan itu, yang menurut Bapak tadi merupakan aktor dalam persaingan tidak sehat, telah memberikan kesempatan kepada Bapak untuk berkembang baik?”

Raut wajahnya lalu menampakkan ketidaksenangan. “Aku merasa pernyataanmu semakin dendensius dan menjebak. Pertanyaan semacam itu seolah ingin mencari pembenaran bahwa bisnisku berkembang karena kehancuran bisnis orang lain; bahwa aku bersenang-senang di atas perderitaan orang lain. Terlebih lagi, itu bisa menimbulkan kesan bahwa aku ada kaitan dengan peristiwa kekacauan itu. Kita ganti topik pembicaraan saja.”

“Aku sama sekali tak bermaksud demikian, Pak. Aku mempertanyakan itu sebagaimana seharusnya wartawan profesional bertanya, sebab informasi yang detail dan kesan-kesan emosional narasumber, akan sangat penting untuk penulisan liputan sosok,” kilahku, sambil berharap ia tenang dan kembali meladeni pertanyaanku.

“Sudahlah. Aku tak ingin melanjutkan sesi wawancara ini,” kesalnya, lalu menudung-nudingku dengan tangan kanannya. “Kau ini tidak cakap sebagai wartawan. Keluar dari ruanganku.”

“Tetapi, Pak…”

Ia sontak memukul meja. “Sudah! Kau tak usah menulis tentang diriku! Batalkan saja! Keluar sekarang!” bentaknya.

Aku menetapnya saja, tanpa berkata-kata.

Ia lalu berdiri. “Aku bilang, keluar!” bentaknya lagi, lalu menoleh padaku dan pada Fatih. Ia kemudian menelepon seseorang untuk membantunya mengusir kami.

Fatih lalu menghampiriku. “Ayolah, cepat, kita keluar. Jangan bikin masalah!” bisiknya, tegas.

Aku pun tersadar untuk tidak bertindak bodoh.

Akhirnya, kami keluar dari ruangannya.

Dalam sekejap, dengan langkah buru-buru, kami pun sampai di dalam mobil, lantas melaju pulang.

“Bagaimana pendapatmu tentang dia?” tanya Fatih, di tengah kepulangan kami.

“Kecurigaanku semakin kuat. Tetapi kita tidak bisa memastikan apa-apa sebelum mendapatkan kesaksian yang absah,” balasku. “Kita harus menemukan Gopar.”

Ia mengangguk setuju.

Beberapa lama kemudian, kami pun tiba di rumah tanpa menemukan siapa-siapa. Kami lantas beristirahat dan menenangkan diri dengan cara kami masing-masing. Setelah itu, kami lalu duduk di depan televisi dan menonton program berita yang masih saja diramaikan dengan perdebatan-perdebatan politik yang panas menjelang pemilu.

Tiba-tiba, aku bertanya-tanya tentang keadaan Luny yang selalu geram menyaksikan intrik buruk para politikus. Apalagi karena pada keberadaan terakhirnya di rumah, ia pulang dengan kemarahan atas kami berdua.

“Apa kabar dengan kekasihmu?” tanyaku.

“Entahlah.”

“Apa kau tak mengkhawatirkannya?”

“Dia pasti baik-baik saja. Dia perempuan yang tangguh. Dia tidak suka dikhawatirkan.”

“Kau sudah menghubunginya?”

Ia mengangguk. “Sudah. Tetapi ponsel tidak aktif.”

“Kau harus mencarinya kalau begitu. Kalau tidak, bisa-bisa kau kehilangan calon ibu rumah tangga.”

Ia pun tergelak. “Tepatnya, kehilangan wakil kepala keluarga.”

Aku balas tertawa.

Hening sejenak

Fatih lalu beranjak ke ruang belakang.

Sesaat kemudian, aku terkejut menyaksikan sebuah tayangan berita. “Fatih! Cepat kemari!

“Ada apa?” tanyanya, sembari bergegas mendekat ke sisiku, kemudian terpaku pada satu berita itu.

Di layar televisi, tampaklah Luny tengah berunjuk rasa seorang diri di titik yang dikabarkan tak jauh dari ratusan massa yang berdemonstrasi menggembar-gemborkan isu kebangkitan komunis. Di lehernya, menggantung sebuah poster bertuliskan: Berhentilah Memolitisasi Isu Komunis!; Awas Bahaya Laten Rezim Otoriter!

“Sial!” ketus Fatih.

Seiring tayangan video, sang narator pun menyimpulkan tuntutan-tututan pokok Luny yang juga tertulis pada keterangan berita: Seorang pengunjuk rasa mengecam politisasi isu kebangkitan komunis jelang pemilu; Sang pengunjuk rasa menuntut pengusutan kejahatan ham masa lalu; Ia menyuarakan pentingnya penguatan hak-hak sipil dan bahayanya pemerintahan yang otoriter.

Sesaat kemudian, layar menampilkan cuplikan Luny yang sedang berorasi dengan mik corong pelantang: “Tidak ada masa depan yang cerah bagi bangsa ini di dalam selubung sejarah masa lalu yang kelam. Kejahatan HAM masa lalu harus diusut tuntas demi keadilan untuk para korban dan juga demi masa depan bangsa ini. Harapan itu masih ada di tangan kita semua. Karena itu, jangan biarkan benik-benih rezim otoriter kembali tumbuh dan berkembang di negeri ini.”

Akhirnya, segerombolan orang tampak mengerubungi Luny. Mereka terlihat mendebat dan melakukan tekanan-tekanan fisik padanya. Namun beruntung, polisi datang memberikan perlindungan dan membawanya ke dalam mobil pengamanan. Sampai akhirnya, ia berlalu di tengah kerumunan massa yang terus melontarkan benda-benda dan kata-kata cacian.

“Sungguh nekat!” komentarku.

Fatih tampak sangat kesal. “Gegabah!”

Tayangan tentang aksi Luny pun berakhir. Layar lalu menampilkan sesi ulasan dengan narasumber dari masing-masing kubu politik. Mereka berdebat keras soal kebenaran sejarah dan intrik-intrik politik menjelang pemilu.

“Aku akan ke kantor polisi!” tutur Fatih, sambil bersiap-siap. “Maaf karena aku tak bisa menemanimu menemui si kakek gila.”

Aku mengangguk-angguk. “Luny lebih membutuhkanmu,” kataku. “Soal si kakek gila, aku bisa mengurusnya sendiri.”

Tanpa membuang-buang waktu, ia lalu beranjak keluar pintu dengan langkah buru-buru. Sejenak berselang, suara mobilnya pun terdengar berderum dan berlalu dengan cepat.

Di sisa keterkejutanku atas aksi degil Luny, aku pun sadar untuk segera melakoni urusanku sendiri. Aku lalu bergegas mempersiapkan diri untuk menemui si kakek gila. Setelah mengenakan setelan yang jauh berbeda dengan setelanku di pertemuan sebelumnya, aku lantas berangkat ke rumah sakit jiwa dengan menumpang sebuah ojek daring.

Kali ini, aku membawa sekotak singkong rebus yang kumaksudkan sebagai umpan bagi kesaksiannya. Aku telah mendapatkan informasi dari seorang perawat bahwa selain senang mengisap rokok, sang kakek juga suka menyantap singkok rebus yang merupakan makanan favoritnya di zaman perjuangan. Itu tentu opsi yang baik untukku yang tak ingin lagi berpura-pura menikmati isapan rokok di hadapannya.

Sesaat setelah tiba, aku pun menemukan si kakek dengan lakon yang berbeda dari hari kemarin. Kali ini, ia tampak duduk di lantai selasar, sambil mencungkil-cungkil tanah dengan setangkai kayu kering.

Aku lalu menghampirinya dengan sikap tenang, kemudian menyapa dengan lembut, “Selamat siang, Kek!”

Ia tak menggubris

Dengan hati-hati, aku lalu meletakkan sekotak singkong rebus beserta sebotol air putih di sampingnya. “Silakan makan, Kek.”

Setelah melirik tawaranku, lekas saja ia membuang setangkai kayu di tangan kanannya. Ia lalu menggamit sepotong ubi rebus, kemudian melahapnya.

Sebagai awalan, aku lantas mencoba membangkitkan kenangannya tentang singkong dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan negara ini. Aku berharap suasana nostalgia akan membuatnya terpancing untuk berkisah. “Singkong makanan para pejuang di zaman dahulu.”

Ia sontak melirikku dengan raut datar.

Aku kemudian mengarang, “Aku jadi ingat cerita Kekekku, kalau di zaman penjajahan, ia bertahan hidup dengan singkong.”

Ia pun tertawa pendek. “Bertahan hidup dengan singkong…”

Aku diam saja agar tak menyela alur pikirannya, sebagaimana saran Naya.

Ia pun kembali bersuara, “Aku bertahan hidup dan berjuang dengan singkong, lalu sengsara di zaman beras ini!” katanya, lalu terkekeh.

Aku tertawa mendengkus.

“Ah, betapa beratnya hidup di zaman penjajahan. Bergerilya hanya dengan makan singkong,” katanya lagi, lalu meneguk air minum.

Aku tetap diam dan menunggu penuturannya.

Ia kembali mengambil sepotong singkong rebus. “Tetapi aku ini memang hebat. Aku berhasil juga bertahan hidup dengan singkong sampai bangsa penjajah itu kalah dan terusir ke negaranya.”

Aku terus saja diam dan mengharapkan kejujurannya.

Tiba-tiba, kunyahannya melambat dan raut wajahnya menjadi murung. “Namun setelah kemerdekaan, anak bangsa ini malah saling menjajah. Aku dan kelompokku disingkirkan secara biadab oleh kelompok orang-orang yang ingin merebut kekuasaan dengan alasan melindungi ideologi negara. Kami dikejar-kejar seperti binatang buruan. Kami disingkirkan dan dikutuk di dalam sejarah!”

Aku bisa memahami maksud ceritanya.

Perlahan-lahan, bibirnya kembali merekah dan memperlihatkan giginya yang rontok. Ia lalu tertawa terbata-bata. “Namun aku ini orang yang cerdik. Aku pura-pura menjadi pendukung gerakan para pembantai itu. Mereka pun percaya tanpa keraguan, dan aku berhasil bertahan hidup.”

Aku jadi semakin penasaran atas rahasia kelamnya..

Ia lalu melirikku dengan tatapan yang tajam. “Kau tahu apa yang kulakukan?”

Aku menggeleng saja.

“Aku membunuh dengan alasan memberantas musuh negara. Aku mengomandoi orang-orang untuk membereskan sepasang suami-istri. Mereka kami ikat dan kami seret menuju sungai. Mereka menangis, menjerit, dan meraung-raung.”

Sontak, aku terperanjat.

“Kau tahu apa yang terjadi kemudian?” tanyanya lagi, sambil menatapku sejemang.

Aku menggeleng lagi.

“Si suami jadi mangsaku. Kubungkam suara bisingnya dengan pukulan. Kuhantam ulu hatinya dengan lutut. Lalu kugorok lehernya seperti sapi!” Ia menyela dengan tawa yang pendek. “Aku lalu menyepak bokongnya, sampai ia jatuh ke sungai. Istrinya pun menyusul. Cus! Mereka hanyut entah ke mana,” terangnya, lalu tertawa sepuas-puasnya, hingga napasnya tersengal-sengal dan berhenti setelah terbatuk.

Aku pun terbayang pada cerita mengenaskan tentang kakek-nenekku.

“Tetapi sial, anaknya berhasil kabur,” kesalnya, dengan raut marah.

Berangsung-angsur, dugaan-dugaanku terbaca sebagai kebenaran.

“Muslim sialan!” pungkasnya.

Seketika, dugaanku menjadi kebenaran. Jantungku berdebar. Aliran darahku mengencang. Pengelihatanku buram. Pendengaranku pekak. Kesadaranku menghampa.

Dengan perasaan yang berkecamuk, aku lantas berdiri. Aku lalu menarik kerah barunya, kemudian menghantam wajahnya dengan bogem mentahku.

Ia pun jatuh terbaring dan mencoba berdiri.

Aku lalu menghantam dadanya dengan tapak kakiku.

“Siapa kau?” sergahnya, sambil mengesot mundur.

Aku lalu menyepak pelipisnya. “Aku anak Muslim!”

Ia tampak kalang-kabut. “Ampun! Ampun!” katanya, sambil merayap-rayap untuk menjauhiku. “Jangan bunuh aku! Ampun!”

Aku lalu berjongkok dan kembali meninju wajahnya.

“Ampunilah aku! Ampun!”

Di tengah amarah yang masih memuncak, dua orang satpam kemudian datang menahanku. Mereka lalu menarik tubuhku menjauh ke arah belakang.

Lamat-lamat, kulihat sang kakek tergolek lemah dengan darah yang mengalir dari sisi bibirnya.

Tiga orang perawat lalu menggotongnya ke dalam ruangan.

Aku pun berusaha meredakan emosi.

Aku lalu dibawa kedua satpam ke dalam sebuah ruangan. Beberapa lama, mereka menginterogasiku, dan aku menjawab dengan alasan yang bisa mereka terima.

Sesaat kemudian, Rano datang. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Bukan apa-apa.”

“Bagaimana bisa? Kau telah menghajar orang gila yang sepuh!”

“Orang gila yang telah membunuh Kakek-Nenekku!”

“Jadi?”

Aku merasa tak perlu menguraikannya. “Bisa kita pulang sekarang?”

Ia memahami dan mengangguk saja. “Baiklah.”

Kami lalu pulang dengan sepeda motor tanpa mengobrol sepanjang perjalanan.

Malam telah berjalan sepertiga waktu saat kami sampai di rumah. Fatih dan Luny sontak memandangiku dengan raut wajah yang penuh tanda tanya. Aku berlalu saja menuju ke kamar untuk menenangkan diri hingga terlelap, dan aku berharap mereka bisa mengerti.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar