Selasa, 25 Oktober 2016

Lelaki Urakan dan Bos Berdasi

Aku beruntung menjadi seorang satpam di sebuah perusahaan besar. Sebuah perusahaan milik negara. Kerjaanku tak perlu tenaga yang berlebih, seperti kala bekerja di kebun dahulu. Yang dibutuhkan hanyalah kesabaran dan keberanian. Sabar dari rutinitas pekerjaaan yang itu-itu saja, dan berani menghadapi para penjahat yang nekat berulah kapan saja.
 
Setiap pagi, aku harus siaga di pos gerbang perusahaan dengan setelan yang rapi. Berjaga sambil bersiap-siap menyibak pintu pagar, menyambut kala bosku datang. Siap menghambakan diri. Setidaknya membungkuk setengah badan, tersenyum, memberi hormat, serta mengucapkan salam padanya. Sekadar begitu yang kukerjakan setiap hari, dan aku diganjar dengan gaji yang memuaskan.

Seperti lazimnya, kala tengah berjaga-jaga, seusai meneguk kopi hitam dan membaca koran secara sepintas, aku akan melangkah beberapa jauh untuk memerhatikan kadaan di sekitar lingkungan perusahaan. Siap siaga, kalau-kalau ada seseorang yang meminta pertolongan. Juga mawas jika suatu waktu, ada gerak-gerik yang mencurigakan. 

Seketika, perhatianku tertuju pada seseorang yang kuduga punya niat jahat. Dia tampak urakan. Rambutnya gondrong, mengenakan kaos oblong dan celanan jins yang telah terpangkas selutut, juga tampak beberapa bekas luka di wajahnya. Beberapa kali sudah ia mengintip melalui terali pagar dengan cara yang mencurigakan. Seakan-akan ada sesuatu yang ia cari.

Aku jelas curiga dibuatnya. Kupastikan, ia tak ada kepentingan dengan perusahaan, semisal hendak bertanya perihal lowongan pekerjaan. Penampilannya bobrok. Yang paling mungkin, ia menyusun rencana jahat. Bisa jadi mencuri, merusak fasilitas perusahaan, ataukah sekadar memata-matai untuk kepentingan yang tak halal.

“Hei, apa yang kau lakukan? Jangan macam-macam kamu,” ujarku, setengah membentak.

Ia menoleh padaku dengan raut wajah yang kalap. “Tidak Pak. Aku tak bermaksud macam-macam,” tuturnya. Ia tampak ketakutan. “Begini Pak. Aku hendak menayakan sesuatu.”

“Tanya, ya tanya saja. Jangan celangak-celinguk ke sana-sini seperti maling,” kesalku. “Kau mau tanya apa?”

“Begini Pak, aku dari kampung. Kebetulan, aku dapat berkas dan dompet yang tercecer di tempat wisata kampungku. Kata orang-orang yang aku tanya, alamat pemiliknya di sini,” tuturnya. Ia mulai terlihat tenang. “Sebenarnya, aku ingin menitipnya pada seseorang. Tapi aku takut jika tak sampai pada pemiliknya.”

Emosiku seketika merendah, kemudian menerima sodoran berkas berisi dokumen perusahaan dan dompet yang berisi sejumlah uang serta kartu-kartu penting. Itu adalah milik bosku yang hilang beberapa bulan lalu. 

Sekarang, aku benar-benar menyesal telah berlaku kasar padanya. “Ya, benar. Alamatnya memang di sini. Terima kasih. Biar aku yang sampaikan kepada pemiliknya.”

“Sama-sama, Pak,” tuturnya, lalu beranjak pergi.

Dan, tiba-tiba, rasa iba menyerangku. Aku jadi tak kuasa membiarkannya berlalu begitu saja. Apalagi kuduga, kedatangannya ke kota hanya untuk mengembalikan berkas dan dompet itu. Aku pun berbalik, dan hendak menghampirinya lagi. Aku ingin memberikan sejumlah uang padanya, untuk biaya transportasi. Tapi terlambat. Ia telah pergi. Lenyap dari pandanganku.

Dengan begitu menyesal, aku pun melangkah ke posku.

“Bos kok tak datang hari ini?” tanyaku pada seorang rekan kerja.

“Kau tak dengar atau belum baca kabarnya?” Ia balik bertanya.

“Apa bos sakit?” tanyaku lagi.

“Aduh, dasar kudet. Makanya jangan nonton sinetron terus. Atau kalau baca koran, jangan cuma lihat gambarnya,” ledeknya. “Jadi kau benar-benar belum tahu?”

Aku menggeleng.

“Kemarin malam, bos ditangkap polisi. Kabarnya sih, si bos mencuri dan menggelapkan uang perusahaan tempat kita bekerja ini. Ya, kalau bahasa kekiniannya sih, korupsi dan money laundering,” jelasnya.

Aku benar-benar tersentak. Tak kuduga, bosku yang selama ini berwibawa dengan penampilannya yang bermartabat, termasuk golongan orang bejat. Penghancur bangsa dan negara. Sungguh tak kuduga.

Seketika juga, aku terilhami sebuah pelajaran berharga dari perilaku lelaki yang tampak urakan, dan bosku yang berdasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar