Senin, 15 Agustus 2016

Penunggu Pohon

Masih terngiang-ngiang di kepalaku, ketika dahulu, ayahku sering menakut-nakutiku tentang keangkeran sebuah pohon beringin di balakang rumah. Katanya, pohon tua itu punya penunggu. Jadinya, aku merasa takut bermain di sekitarnya, apalagi menjelang malam.
 
Penggambaran ayahku tentang penunggu pohon waktu itu, sangat menyeramkan. Membuatku bergidik tiap kali membayangkannya. Apalagi, ia sehebat dalang kalau bercerita. Maka, terbentuklah imajiku tentang makhluk gaib itu: rambutnya gondrong, matanya kemerah-merahan, berjubah putih, dan suka menculik anak-anak.

Kala itu, aku pun terus dibayang-bayangi hantu imajinasiku sendiri, penunggu pohon yang menakutkan. Seakan terus mengikutiku ke mana pun aku memandang. Apalagi aku tinggal di perkampungan. Banyak pohon di mana-mana. Kata ayahku, setiap pohon besar memiliki penunggu. Kalau dirusak atau diganggu, akan memancing amarah penunggunya.

Sepanjang kepolosanku sebagai anak-anak, aku pun jadi sosok yang takut kepada pohon. Aku betul-betul percaya pada apa yang digambarkan ayahku. Tapi kini, setelah dewasa, atas daya rasionalitas, aku sama sekali tak memercayainya lagi.

Buktinya: pohon-pohon yang dulunya lebat dan menjulang tinggi di kaki bukit, telah menghilang sedikit demi sedikit. Tapi sama sekali, tak pernah ada kabar seorang anak diculik penunggu pohon. 

Jelas, semua tentang penunggu pohon, hanyalah akal-akalan ayahku saja. Mungkin agar aku tak main terlalu jauh ke hutan, dan segera pulang ke rumah sebelum gelap.

“Ayah, apa benar, pohon besar itu ada penunggunya,” tanya Diza, anakku yang baru berumur tujuh tahun.

“Siapa yang bilang Nak? Pohon itu tak ada penunggunya. Pohon, ya pohon,” jelasku. Aku tak ingin mewariskan mitos tentang penunggu pohon.

“Tapi, guru biologiku di sekolah bilang ada. Katanya banyak makhluk di sebatang pohon,” keluhnya. “Katanya, karena itulah, pohon-pohon harus dihargai dan dijaga. Tak boleh ditebang.”

“Jangan percaya yang tidak-tidak Nak. Penunggu pohon itu tak ada. Kalau pohon ditebang, ya tidak ada ada masalah. Pohon kan memang untuk kebutuhan manusia. Bagaimana kita bisa buat rumah kalau tak pakai kayu. Masa tanam pohon untuk jadi rumah para dedemit,” tuturku, tegas.

Penjelasanku mulai masuk di akalnya. “Jadi, tak mengapa kalau pohon ditebang? Hantu-hantu tak akan marah?”

“Iya Nak. Kau percaya saja sama Ayah,” pungkasku.

Aku harap, penjelasan akan menghapus sosok penunggu pohon yang menyeramkan di benaknya. Sudah cukup aku yang dibodohi dengan mitos-mitos tak masuk akal. Aku tak ingin itu terjadi pada anakku.

Malam pun tiba. Desaku kembali diguyur hujan deras. Sejak tengah hari, hujan tak pernah berhenti. Menyerang bumi bersama embusan angin yang kencang. Sungai pun banjir. Berderu. Tapi itu sudah sering terjadi.

Pagi-pagi, aku pun terbangun. Aku terkejut melihat jejak banjir semalam. Ternyata, meluap sangat tinggi. Menyapu bersih tanaman kebun warga di sepanjang pesisir sungai, termasuk kebun jagungku. 

Alam mengamuk. 

“Ayah, bukankah ini gara-gara penunggu pohon?” tanya Diza yang berdiri di sampingku sembari memandangi air sungai yang masih keruh. “Guruku bilang, kalau penjaga pohon murka, katanya bisa jadi bencana alam, seperti banjir ini.”

Aku kaget. Ternyata penunggu pohon masih terbayang di benaknya. “Iya Nak. Kalau pohon ditebang, ya bisa terjadi bencana alam. Tapi itu bukan murka penunggu pohon. Kita tak boleh takut sama hantu, apalagi menyembahnya,” balasku, berupaya menjaga wibawa sebagai sosok ayah.  “Itu peringatan dari Tuhan Nak.”

Ia takzim. Mengangguk.

Kini, aku sadar, mitos tentang penunggu pohon, bukanlah semata-mata untuk menakut-nakuti anak-anak. Lebih dari itu. Demi alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar