Jumat, 12 Agustus 2016

Segelas Kopi

Beban selama seminggu di kampus, terasa sangat menyiksa. Banyak tugas kuliah yang harus diselesaikan. Menumpuk dan terus membayang-bayangi. Tapi, malam ini, di sebuah kafe, aku akan mengabaikannya sementara waktu. Memang telah kurencanakan untuk melanjutkan bacaanku, sebuah novel. Sisa sepertiga halaman yang belum kubaca. Aku berhasrat menuntaskannya.
 
Novel ini, bagi banyak pembaca, barang kali biasa saja. Bukan bestseller. Penulisnya juga tak terkenal. Mungkin ia hanya tenar di kalangan penulis indie. Tapi, ide ceritanya mengagumkan, alurnya mendebarkan, dan teknik penokohannya unik. Aku suka. Kalaulah penulisnya beruntung dan dapat panggung, jelas ia layak berdiri sederet dengan para penulis kelas dunia.

Terus terang, berawal dari keisenganlah, aku membacanya. Kala melintas di depan sebuah toko buku, entah kenapa, aku berhasrat membeli buku untuk mengisi kekosonganku. Maka, kulihatlah novel itu, menumpuk bersama buku-buku yang didiskon murah. Aku pun membelinya. Selain pertimbangan harga, juga karena halamannya tak tebal. Jelas, sebagai pembaca pemula, aku merasa sanggup menamatkannya.

Sambil mengaduk gula pasir yang mengendap pada segelas kopi pesananku, kata demi kata yang dirangkai sang penulis, kusorot dengan cermat. Aku jadi keasyikan mengikuti alur ceritanya, sampai tak sadar kalau sedari tadi, sekali pun, tak kuteguk kopi di depanku.

Urat leherku, akhirnya terasa kaku. Lelah. Pandangan mataku, cerah-padam. Aku pun berhenti membaca. Beristirahat sejenak, sambil menyeruput kopi pekat. Kutoleh keadaan di samping kiri dan kananku. Melihat kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Mengamati pengunjung lain, yang terlena dalam dunianya sendiri; Berhadap-hadapan, tapi tak bercengkrama.

Lalu, entah bagaimana, sorot mataku terhenti kala bertabrakan dengan mata seorang lelaki. Tampan. Ia duduk tepat di depanku, di meja 10. Mungkin sekitar tiga detik kami bersetatap. Membuat perasaanku menjadi hangat. Akhirnya, aku pun tersadar harus mengalihkan pandangan. Maka terpaksa, kubaca lagi novel yang hendak kuistirahatkan, sebagai pelarian.

Diam-diam, kulirik ia di balik puncak novel yang kupakai menutupi wajahku. Aku merasa pernah melihat raut wajahnya di hari yang lain. 

Tapi sial, seketika juga, ia menoleh kepadaku, menatapku tajam, sambil melemparkan senyuman yang kuakui memesona. Sungguh.

Lekas, kusembunyikan lagi wajahku di balik novel. 

Aku lalu memeriksa keadaan di belakangku. Siapa tahu, ada seseorang yang disapanya di sana. Tapi nyatanya, tak ada. Hanya sepasang kursi yang tak berpenghuni.

Kulirik lagi lelaki mata sipit itu di sisi kiri sibakan novel bacaanku. Kudapati ia masih memandang ke arahku. Sikapnya semakin berlebihan. Tidak hanya tersenyum, ia bahkan melambaikan tangannya. Seakan kami saling mengenal.

Kuyakin sudah, ia memang bermaksud padaku. Dengan segan, kubalas senyumannya. 

Aku telah bisa bersikap biasa. Kuletakkan bukuku di atas meja, lalu menunduk, membacanya. 

Ia pun berpaling dariku. Menoleh kepada dua orang teman lelakinya yang lain.  

Sekarang, kesempatanku untuk memerhatikannya baik-baik. Kosorot ia sekilas, lalu berpaling dan berusaha menyusun kepingan wajahnya di dalam memoriku. Tapi aku tak berhasil. Aku menyerah.

Semasih memandanginya, ia tiba-tiba menoleh lagi ke arahku. Tapi, kini aku telah kuasa membalasnya. Ia pun tak tampak risih. Malah, ia tersenyum lagi. Sampai akhirnya, ia berdiri dan beranjak pergi. 

Entah kenapa, separuh jiwaku terasa pergi bersamanya. Tanpa rasa berdosa, ia telah mencuri hatiku. Aku merasa digantungkan. Peristiwa ini bak sebuah perpisahan pahit, walau kami tak pernah benar-benar bersama. Perih.

Keberadaannya, haruslah kuanggap seperti angin lalu. Pergi dan tak mungkin ditahan. Aku harus rasional. Tak sepantasnya kuikuti alur perasaanku yang labil. Tentu menyesatkan jika terlalu mudah kagum pada lawan jenis. 

Tapi sejujurnya, aku masih berhasrat bertemu dengannya di lain waktu. Kurencanakan untuk kembali pada malam-malam selanjutnya di café ini. Duduk di kursi yang sama. Jika memang kekagumanku berbalas, pastilah ia akan datang kembali untuk menjelaskan arti dari isyarat yang terlanjur ia berikan padaku. Kalau pun tidak, berarti memang, hanya aku yang terlalu merasa.

Setelah benar-benar lelah menghadapi kekalutan, kusegerakan untuk pulang. Aku pun menghadap ke kasir untuk membayar tagihan atas kopi hitamku.

“Maaf Mbak, meja 9 sudah dibayar tadi,” tutur sang kasir.

“Aku belum membayarnya,” sanggahku, sebab yakin kalau si kasir pasti keliru.

“Sudah Mbak. Tadi dibayar sama pengunjung di meja nomor 10,” jelasnya.

Aku terkejut. Benakku kembali diserang bayang-bayang lelaki penuh tanda tanya itu.

“Iya Mbak. Dibayar sama si penulis buku itu, si Rangga Sumaji. Mbak kenal dia kan?” tutur teman si kasir.

Aku menggeleng kepada si kasir, lalu melangkah pulang dengan pikiran yang masih melanglang buana.

Penulis? Rangga Sumaji? 

Aku sepertinya akrab dengan nama itu. Ya, aku pernah mengejanya.

Kusorot novel yang tengah kugengam. Akhirnya kusadari, nama itu tertera di sampul depannya.

Kubalik lagi ke sampul belakang. Tampaklah raut wajah seorang lelaki yang mirip dengan lelaki yang telah membuatku benar-benar penasaran dalam sekejap.

Syukurlah, ia mencantumkan alamat e-mail pada biografi singkat dirinya, di halaman belakang novel yang ia karangan sendiri. Aku akan mengucapkan terima kasih padanya. Terima kasih atas traktiran segelas kopi, dan tentu atas sebuah karangan cerita yang mengagumkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar