Senin, 15 Agustus 2016

Intrik

Dua tokoh tengah berdebat tentang cerita yang mereka karang. Sebuah cerita tentang dimensi kecil, yang mengkooptasi dimensi yang lebih luas. Cinta yang dibunuh demi kekuasaan.
 
Dari awal, mereka telah menyepakati ide dasar cerita. Mengisahkan tentang seorang lelaki biasa yang sengaja menikahi gadis bangsawan, hanya untuk tahta. Memperalat status ekonomi, sosial, dan budaya sang istri, demi mengubah nasib hidupnya sendiri. Dijadikan sekadar kendaraan politik.

“Sudah sepuluh halaman. Ini kan cerita pendek?” keluh Bary.

Raja yang tengah berpikir keras, membalas, “Aku tahu. Tapi bagaimana endingnya? Kau harusnya menawarkan solusi!”

Bary terdiam. Tiba-tiba, ide muncul di benaknya. Ia kemudian menawarkannya, “Kita kan sepakat untuk membuat kisah tentang permainan politik atas cinta. Bahwa cinta telah digadaikan demi urusan politik. Bagaimana jika perceraian kita jadikan solusinya? Jadi, Mita tahu kalau ia dinikahi Riza, hanya demi kekuasaan.”

“Tapi kan kita sudah sepakat untuk menjadikan penghianat cinta sebagai pemenang. Cinta hanyalah korban yang tak berdaya. Makanya, Mita sebaiknya tak tahu kalau pernikahan mereka, dipolitisasi,” tolak Raja.

“Baiklah,” Bary pasrah. “Lalu, bagaimana kalau kita buat Riza meninggal. Jadi lengkaplah sudah, bahwa penghianatan yang dilakukannya, akan abadi. Mita tak akan pernah tahu, apalagi membalasnya.”

“Tapi intrik itu sudah terlalu murahan dalam cerita. Kita harus buat ending yang tidak lazim,” balas Raja.

“Ah. Apa-apa, aku selalu salah. Kau sendiri punya tawaran Apa?” kesal Bary.

“Itulah yang sedang kupikirkan. Yang pasti, kita harus membuat cerita yang akan membentuk persepsi semua orang kalau politik itu jahat, busuk, dan tak ada gunanya. Bukankah selama ini, tak ada yang lebih berkuasa dari politik yang tak bermoral, yang tanpa cinta?” tegas Raja.

“Lalu bagaimana?” Kini, Bary yang menuntut solusi.

“Ceritanya harus mengokohkan ketuhanan politik,” tutur Raja. Ide cermerlang pun, terbayang olehnya. “Nah, kita buat cerita kalau Riza punya skandal korupsi dan skandal hubungan dengan wanita lain. Tapi, demi menjaga nama baik keluarga besarnya, Mita tak melakukan apa pun, bahkan ia rela mengorbankan cintanya.”

“Cerdas!” Puji Bary. “Politik harus menghancurkan semuanya, temasuk membunuh cinta. Luar biasa!”

Raja kini jadi besar kepala. “Ya, politik tak boleh dikalahkan!”

***

Begitulah cerita gubahanku. Sebuah cerita yang terinspirasi dari kisah hidupku sendiri. Aku akan mengirimkannya ke media nasional yang menerbitkan koran harian. Semoga dimuat dan dapat menjadi bahan refleksi bagi setiap jiwa.

“Cepat siap-siap! Bisa-bisa kita lambat hadir di panggung kampanye kalau kau lemot,” perintah Barto, suamiku sendiri yang berhasrat jadi pejabat. “Ingat, dandan yang cantik, supaya layak jadi sorotan kemera. Lumayan kalau jadi bahan perbincangan. Sekarang itu kan, popularitas penting dalam politik.” 

“Tak makan sama anak-anak dulu, Pak?” tawarku.

“Tak usah. Aku takut kita benar-benar terlambat. Keluarga, bahkan diri kita sendiri, harus dikorbankan untuk kepentingan yang lebih besar,” tegasnya. “Bagaimana pun, aku harus menang. Nanti kan otomatis kau jadi istri seorang pejabat. Keluarga besarmu pasti bangga kalau begitu. Makanya, manfaatkan semuanya!”

Untuk kesekian kalinya, aku tak berdaya melakukan apa-apa. Pasrah mengalah pada Darto, suamiku sendiri. Dialah tokoh Riza dalam cerita pendek yang kubuat, sedangkan aku adalah Mita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar