Minggu, 14 Agustus 2016

Kemelut Batin

Rapat redaksi untuk koran terbitan esok hari, sedang berlangsung. Ringgo dapat tugas berat. Bukan juga liputan kriminalitas yang harus mewawancarai banyak orang, serta mempertaruhkan nyawa. Tugasnya cuma mewawancarai seseorang. Temanya politik. Tentang pesta demokrasi. Lebih mengarah pada kampanye pemilihan gubernur secara terselubung. Memperalat media. Karena itulah, ia merasa berat.
 
Makmur Sudi, adalah sosok yang harus diwawancarainya. Ia sendiri belum pernah bertutur sapa dengan pengusaha media yang sekarang jadi pejabat negara itu. Tepatnya, Anggota DPRD. Tapi ia tahu sepintas tentang sosoknya. Tempo hari, sang calon gubernur pernah bertandang ke kantornya. Terlihat dekat dengan petinggi perusahaan pers tempatnya bekerja. Wajar, sebab sosok tambun itu, memang pewaris sekaligus ayah kandung sang direktur perusahaan, bos Ringgo.

Atas semua kenyataan itu, jelas Ringgo tak suka. Ia merasa berdosa jika idealismenya sebagai wartawan, dijual untuk kepentingan politik. Akan sangat memiriskan baginya kala melihat lembar-lembar koran hasil jerih payahnya, cuma berisi buaian para politisi. Sekadar jadi media pencitraan demi mendulang suara. Sungguh, berita dapat dijadikan topeng untuk melancarkan propaganda pengejar kekuasaan.

“Bukankah kita sudah melangkah terlalu jauh. Maksud saya, kita telah secara terang-terangan melanggar prinsip independensi dan netralitas wartawan?” tutur Bimo, saat jadwal rapat redaksi, telah di ujung waktu.

“Tidak akan ada yang tahu. Asalkan, kalian memenuhi unsur berita. Masyarakat awan tidak akan mengerti urusan redaksi, apalagi mempermasalahkannya. Media kita masih dipercaya. Karena itu, kitalah tetap harus memegang kendali atas pola pikir masyarakat, bukan sebaliknya,” balas Tia, sang pemimpin redaksi.

Sebagai orang baru, Ringgo tak berani membalas, meski argumentasinya atas idealisme wartawan, terkonsep baik di benaknya.

“Kalau berhasil mendapatkan kepercayaan masyarakat, otomatis mereka juga mendukung media kita, termasuk mengiyakan perspektif kita atas fakta. Kalau demikian, kita akan memenangkan kebenaran. Tak akan ada yang meragukan kebenaran informasi media kita,” sambung Tia. “Intinya, beritakanlah apa yang sebaiknya bagi media kita, tak harus apa yang seharusnya bagi masyarakat. Kalian harus tahu, keberpihakan kita di mana. Tanpa modal, kita akan tak bisa apa-apa. Paham?”

Ringgo mengangguk, meski di hatinya agak berat.

Mau tak mau, Ringgo tak bisa berbuat apa-apa. Biaya hidup di kota begitu tinggi. Belum lagi, ia punya istri dan seorang anak yang harus dihidupi. Ia hanya merasa sial mendapatkan tugas tersebut.

Dan, akhirnya, ia pun mewawancarai tokoh sasarannya, Makmur Sudi. Menanyainya dengan daftar pertanyaan baku dari redaktur. Semua diarahkan untuk pencitraan. 

Makmur pun dengan berbangga diri menceritakan semua prestasinya. Menuturkan rencana pembangunan yang akan dia lakukan jika berhasil memenangi pemilu. 

Ringgo tak berdaya menyanggah. Ia menganggukkan saja perkataan narasumbernya, tanpa berhasrat meminta penjelasan rinci. Padahal, berdasarkan ilmu ekonomi yang dipelajarinya di kampus dahulu,  program Makmur banyak mengawang-awang. 

“Anda punya kartu nama?” tanya Makmur.

Ringgo pun memberikannya. 

“Baiklah. Aku harap kau membuat hasil tulisan yang lebih baik daripada wawancaranya. Kuharap kau paham maksudku,” kata Makmur. “Aku sudah tahu namamu.”

Ringgo hanya mengangguk. Mengiyakannya. Ia paham maksud bahasa tersirat itu. Sebuah ancaman.

Selepas itu, ia segera melakukan pengetikan. Berusaha menghindari kalimat kabur dengan melakukan pengeditan terhadap kata-kata si sosok yang sangat belepotan. Setelah rampung, karyanya itu diberi judul: Makmur; Sosok Pembangun dan Antikorupsi. 

“Bimo, wawancara khususmu sungguh luar biasa. Mengesankan. Aku yakin, Bos pasti suka,” tutur Tia. “Dan, pastinya, akhir bulan ini, kita akan kecipratan bonus yang besar. Kau akan bersenang-senang Ringgo!”

Ringgo hanya tersenyum sepintas. Tak merasa pujian itu sebagai sanjungan yang berarti.

Keesokan harinya, koran diedarkan ke seluruh penjuru. Tapi bersamaan dengan itu, kabar menggemparkan, sampai di ruang redaksi. Diberitakan sejumlah media, Makmur Sudi ditangkap KPK atas dugaan menyelewengkan uang negara untuk kebutuhan kampanyenya.   

Kabar itu adalah anugerah bagi Ringgo. Ia merasa, kenyataan memang sudah seharusnya begitu. Tapi kata hatinya, tetap mempersalahkan dirinya sendiri. Ia merasa ternodai, sebab hari ini, dirinya terlanjur menjadi bagian dari agenda pembodohan dan pembohongan publik oleh media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar