Jumat, 05 Agustus 2016

Jangan Lupa Pulang

Tak peduli tusukan dingin di subuh hari, Nasir tetap semangat mencari sampah plastik yang dibuang serampangan para penghuni kota. Demi anaknya, ia ikhlas banting tulang siang dan malam. Memulung kala masih gelap, lalu berangkat ke pelabuhan pagi-pagi sekali, untuk menjadi seorang kuli panggul.
 
Asri, anak semata wayangnya, kini telah duduk di bangku kelas II SMA. Di usianya itu, harga diri adalah segalanya. Tak ingin terlihat rendah dan hina di mata orang lain. Hanya ada dua pilihan: menggembar-gemborkan strata sosial dan ekonomi keluarga, atau bungkam seribu bahasa untuk menutupi identitas diri. Asri terpaksa memilih membungkam.

Nasir memahami, ia bukanlah kebanggaan bagi Asri. Pantaslah dicap sebagai ayah tak berharga. Kekayaan dan kekuasaan, tak ia miliki. Hanya kasih sayang kepada sang anak yang terus dijaganya. Sebab itulah, ia menyekolahkan anak semata wayangnya itu, bagaimana pun caranya. Jika berhasil, kelak, cucunya pasti bangga memiliki sosok ayah yang terpandang.

Demi anak jugalah, Nasir harus mengondisikan waktu dan tempatnya mengais rezeki. Ia sengaja memulung subuh-subuh atas desakan Asri. Juga memilih bekerja di pelabuhan yang berjarak jauh dari tempat tinggalnya. Jika tidak begitu, sang anak mengancam akan berhenti sekolah. Keadaan Ayahnya adalah aib yang harus disembunyikan dari teman-teman sekolahnya.

Kisah Pak Nasir itu, aku tahu dari penuturannya sendiri. Ia mencurahkan unek-uneknya padaku hari ini, selepas aku mewawancarainya untuk penelitian tugas akhirku yang membahas tentang kemiskinan dan kaum urban. 

“Nak Ridwan, apa yang harus saya lakukan?” tanyanya.

Aku bingung bagaimana menjawabnya. Kutahu betul gelora ego kala hidup seusia Asri. Tapi kurasa, kelugasannya menunjukkan ketidaksenangan pada sang Ayah, sudah keterlaluan. “Bapak sabar saja. Anak-anak seusia dia memang gengsian. Aku yakin suatu saat, di kala sukses, ia akan pulang kepada Bapak, berterima kasih atas kehadirian Bapak dalam kehidupannya,” balasku.

Ia takzim. Seakan sepenuhnya sepakat denganku.”Kau benar Nak. Apalagi, jika bukan dia, siapa lagi yang harus kubahagiakan. Tapi andai saja ia berbudi pekerti seperti Nak Ridwan, tentulah aku sangat bangga dan bersyukur,” harapnya.

Sungguh, telah lama aku tahu kisah semacam Pak Nasir dan anaknya ini. Benar-benar kupahami. Sebagai anak yang hidup di zaman modern nan serba pamer, aku tahu bagaimana rasanya mengalah dan menyepi di pojokan harga diri. Membiarkan dunia menertawakan dan menistakan takdir hidup dan kehidupan yang tak bisa kita ubah. Aku tahu itu.

Bahkan kini, aku menyadari, ada seorang anak yang diam-diam mendurhakai orang tuanya. Lupa diri tentang asal-usulnya. Memaksakan diri hidup mewah, meski untuk kebutuhan dasar saja pas-pasan. Pamit sesopan mungkin kepada orang tuanya di kampung atas alasan untuk menuntut ilmu di kota sebagai mahasiswa. Tapi apa yang dilakukannya? Dia tak lebih baik daripada Asri. 

Sudah lebih delapan semester ia menjalani kuliah. Gelar sarjana tak kunjung ia persembahkan untuk kedua orang tuanya. Tak ada alasan yang berarti, kecuali bahwa ia lebih suka menghabiskan waktu berfoya-foya, daripada tekun mengurusi kuliah. Membeli barang mewah, menraktir teman-teman, atau setidaknya nongkrong di restoran super mahal, adalah sedikit dari kebiasaannya. 

Orang tuanya yang hanya bekerja sebagai buruh tani dan penjual kayu bakar di kampung, sama sekali tak akan tahu tentang kelakuannya itu. Apalagi mereka hanya tamatan SD yang tak mengerti tentang sistem perkuliahan, termasuk tentang biaya dan waktu kuliah. Jika ia telah memberi penjelasan kalau kebutuhannya di kota semata-mata untuk kepentingan kuliah, kedua orang tuanya hanya bisa manut-manut. 

Sungguh, mereka tak tahu.

Dan, dalam kesadaran ini, entah kenapa, aku menjadi sangat rindu kepada kedua orang tuaku. 

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Entah siapa yang menelepon sore-sore begini. Kulihat layarnya. Di sana tertera nama Ayahku. 

“Halo Nak, bagaimana kabarmu?” tanya Ibuku di ujung telepon. Suaranya tetap lemah-lembut seperti biasa. 

Setiap kali mereka rindu, ibuku memang lebih banyak bicara. 

“Baik Bu. Ibu dan Bapak apa kabar?” tanyaku balik. Untuk kali ini, aku benar-benar tulus menanyainya tentang kabar.

“Syukurah. Kami di sini baik-baik saja Nak,” tuturnya dengan suara yang terdengar tertahan-tahan. “Kamu kapan balik ke kampung. Kami di sini merindukanmu Nak?”

Batinku bergetar. Sulit menggambarkannya. “Untuk waktu dekat ini, aku tak bisa pulang Bu. Urusan kuliahku padat. Tidak lama lagi, aku akan sarjana Bu,” balasku. Seiring ucapan itu, aku bertekad tidak akan menyia-nyiakan waktuku lagi. Aku ingin secepatnya sarjana. “Maafkan aku Bu.”

“Tak mengapa Nak. Asalkan kau bisa belajar dengan baik, kami di sini turut senang. Semoga kelak, kau jadi orang yang berguna Nak,” harapnya, seperti selalu.

Mendengar ucapannya, lidahku tiba-tiba saja kaku untuk bertutur.

“Kalau urusanmu telah selesai,  jangan lupa pulang segera Nak. Kami merindukanmu,” pintanya.

“Iya Bu. Aku juga merindukan Ibu dan Ayah,” balasku. Dan sekali lagi, untuk saat ini, aku benar-benar merindukan mereka.

Tak lama berselang, obrolan kami pun berakhir. Seiring itu, tanpa kusadari, air mataku menetes. Baru kali ini, aku merasa sangat merindukan mereka. Menyadari sedalam-dalamnya betapa perjuangan meraka begitu berat demi kebahagiaanku. 

“Kenapa menangis Nak Ridwan?” tanya Pak Nasir.

“Aku merindukan orang tuaku Pak. Mereka barusan meneleponku,” balasku.

“Hatimu sungguh mulia Nak. Entah bisakah, suatu saat Asri menangis kerena merindukan aku juga,” tuturnya.

 “Aku yakin, suatu saat, ia akan menyadari semua pengorbanan Bapak,” pungkasku.

Terus terang, aku merasa terhina dengan pujian Pak Nasir. Aku bukanlah seperti apa yang ia duga. Sungguh! Akulah anak yang diam-diam mendurhakai orang tua. Hidup berfoya-foya di kota. Menghianati pengorbanan mereka yang hanya bekerja sebagai buruh tani dan penjual kayu bakar di kampung. Ya, itu adalah aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar