Selasa, 08 November 2016

Tempat Kedua

Malam terasa lengang. Yang terdengar hanya suara derik para binatang malam. Terkesan seperti lagu pengantar tidur. Tapi Panji tetap terjaga. Kantuk tak terasa baginya, meski pertengahan malam telah lewat. Ia mengabaikan rayuan mimpi demi istrinya, Sumia, yang tengah menderita sakit parah. Siap siaga kalau-kalau sang istri butuh sesuatu.
 
Sumia yang berbaring tak berdaya, menggenggam tangan sang suami. Memberi tanda kalau ia masih kuat. Sekilas, rona keceriaan dan ketenangan, masih terpancar di wajahnya, seperti dahulu kala. Membenamkan raut-raut kesedihan. Tapi di balik semua itu, helaan napasnya mulai tersengal-sengal, kedipan matanya melambat, dan warna bibirnya memucat.

 “Pak, menikahlah sepeninggal aku nanti. Carilah wanita yang rupawan, yang sepadan dengan Bapak. Aku yakin, banyak wanita yang siap dan senang hati menjadi istri Bapak,” tutur Sumia, lalu memalingkan wajahnya kepada sang suami.

“Jangan bicara seperti itu, Bu. Aku yakin, kalau Ibu kuat, besok juga akan sembuh. Kita masih akan melalui hari-hari yang menyenangkan, seperti sebelumnya,” balas Panji, sembari mengusap-usap rambut istrinya.

“Yakinlah Pak, selama ini, aku benar-benar tak keberatan kalau Bapak menikah lagi. Biar pun aku harus dimadu,” tutur Sumia, sambil memandangi langit-langit rumah. “Setelah aku meninggal nanti, aku mohon, menikahlah dengan wanita lain. Bapak berhak mendapatkan kebahagaian yang lebih.” 

“Tolong, Bu, jangan bicara seperti itu. Yakinlah, aku sangat bahagia beristrikan Ibu yang baik dan cantik. Tak usah pedulikan kata-kata miring dari orang lain tentang hubungan kita. Aku kan sudah bilang, aku menikahi Ibu, berarti aku telah menutup hatiku pada yang lain. Aku tak akan bisa menikahi wanita lain. Hanya Ibu seorang yang aku cintai,” urai Panji. Mengulang penegasannya selama ini.

Kata-kata cinta suaminya, selalu gagal membuat Sumia yakin dan tenang. Sejak dahulu, ia merasa tak pantas dicintai sang suami. Raganya banyak kekurangan. Secara kasat mata, ia tak layak digolongkan rupawan. Citra wajahnya beda jauh dibanding artis-artis iklan di televisi, atau setidaknya pemeran pembantu di sebuah sinetron. Bagaikan langit dan bumi. Kulitnya tak cerah dan mulus, tubuhnya gemuk, matanya terlalu sipit, serta rambut keritingnya telah beruban.

Sebaliknya bagi Panji. Di desanya, ia tergolong lelaki yang rupawan. Tampilan raganya tak kalah dengan pemeran iklan minuman pembentuk badan. Struktur tubuhnya sangat proporsional. Harmoni wajahnya pun, bak campuran citra ketampanan timur dan barat. Kulitnya yang putih berpadu dengan rambutnya yang hitam pekat. Mata sipitnya, dinaungi alis tebal. Hidung mancungnya, menggantung di atas bibir yang sedikit tebal. Jelas, ia layak disandingkan dengan aktor-aktor terkenal.

Atas semua perbedaan itu, banyak singgungan yang menyatakan mereka tak pantas berpasangan. Bahkan beberapa menuding Sumia menggunakan guna-guna. Apalagi, perbedaan itu bukan hanya soal rupa, tapi juga status dan usia. Dahulunya, Sumia adalah seorang janda, sedangan panji adalah bujangan yang menjadi idola wanita di desa. Umur mereka pun terpaut jauh. Sumia lebih tua sebelas tahun dari Panji. 

Alasan gunjingan yang tak kalah sadisnya adalah, Sumia dicap mandul. 

“Kenapa Bapak melakukan semua kebaikan ini padaku? Kenapa Bapak sudi menikahi aku, janda tua buruk rupa yang tak bisa punya anak?” tanya Sumia. Terlihat, air mata tergelincir di pelipisnya.

“Karena aku mencintaimu Ibu. Cinta itu abadi. Tak seperti rupa raga yang lekang oleh waktu.” balas Panji seketika, lalu mengecup punggung tangan kanan sang istri. “Aku telah menikahi Ibu, dan aku harus setia. Itu saja.” 

“Bapak bukan orang pertama dalam hidupku. Bagaimana Bapak bisa begitu setia, sedangan aku pernah mencintai orang lain begitu dalam? Tidakkah Bapak cemburu?” tanya Sumia, seperti mendesak. “Aku mohon, sepeninggal aku, mendualah dengan wanita lain. Menikahlah lagi.”

“Perasaan tidak bisa ditawar-tawar Bu. Biar pun bukan yang pertama, aku rela menempati tempat yang kedua di hati Ibu. Asalkan bisa memberikan Ibu kebahagaian, walau sedikit, itu sudah cukup bagiku. Cinta itu tak butuh alasan, Bu,” tutur Panji, sambil menyeka air mata istrinya. “Sudahlah, Ibu tidur saja. Mudah-mudahan setelah bangun nanti, kondisi Ibu membaik.”

Tanpa berkata-kata lagi, Sumia pun menutup matanya. Tak sedikit pun  ia was-was jika benar, besok-besok, suaminya menikah lagi. 

Dalam ketenangan gelap, Sumia terkenang Romi, suami pertamannya yang telah meninggal. Ia merasa ingin dekat dengan lelaki kenangannya itu. Bagaimana pun, lelaki itulah yang telah merenggut hatinya untuk pertama kali, namun pergi begitu cepat kala bunga cinta mereka sedang bermekaran. Dialah yang merajai relung hatinya sampai saat ini. Mungkin benar, cinta pertama tak akan tergantikan.

Di sisi lain, Panji tahu betul kalau dirinya bukanlah sosok yang menyelimuti segenap sukma sang istri. Kehadirannya hanya sebagai pengisi, bukan pengganti. Ia tahu betul, tapi tak sedikit pun merasa iri. Ia sadar dan merasa pantas hanya meraih juara kedua. Sekeras apa pun ia telah berusaha, tak akan menjadi yang pertama.

Panji pun berbaring di samping sang istri. Matanya memandang kosong ke langit-langit ruang, sedangkan angannya melayang ke tempat yang jauh, di waktu silam. Ia lalau teringat kejadian nahas bersama teman seperkerjaannya di perkebunan kelapa sawit. Sebuah kecelakaan kerja terjadi. Memiriskan dan memilukan. Kala tengah mengemudikan truk pengangkut kelapa, ia tak sengaja menabrak kawannya sendiri, hingga tak bernyawa. Namanya Romi, suami pertama istrinya.

“Ibu…,” tutur Panji berulang kali, kala menyadari darah di tubuh istrinya, tak lagi mengalir. Tak ada denyut di nadi.

Takdirnya sudah sampai. Sumia meninggal. Ia pergi meninggalkan rahasia terbesar sang suami yang tak pernah diduganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar