Judul: Hours; Sutradara: Eric
Heisserer; Pemeran: Stars: Paul Walker, Genesis Rodriguez; Rilis: 13 Desember
2013; Durasi: 1 jam-36 menit-59 detik.
Pada
sisi maskulinitas, seorang ayah di mata anaknya, terkesan menyegankan, bahkan
menakutkan. Namun itu bukan berarti sosok ayah tak punya kasih-sayang sedalam ibu.
Ayah punya cara sendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya dengan kekuatan dan
ketangguhannya. Kadang tak disadari saja. Berbekal potensi itulah, seorang ayah
tidak akan membiarkan anaknya hidup dalam kubangan masalah dan derita.
Film
berjudul Hours yang dibintangi Paul Walker,
menggambarkan cinta seorang ayah yang tanpa batas. Film berdurasi 1,36 jam ini,
menyampaikan pesan bahwa seoraang ayah rela melakukan apa pun untuk kebaikan
hidup dan kehidupan anaknya. Jelas, menyaksikan film ini, akan membuat penonton
merefleksikan kembali wujud kasih sayang seorang ayah yang selama ini sering
diabaikan.
Secara
sepintas, film berdurasi ini, berkisah tentang seorang ayah, Nolan Hayes (Paul
Walker) yang ditinggal mati istrinya, Abigail (Genesis Rodriguez). Nahasnya,
sang istri meninggal kala melahirkan anak perempuan mereka secara
prematur. Maka, dimulailah sebuah
perjuangan seorang ayah dalam menjaga hidup sang anak. Di tengah kesedihannya
ditinggal sang istri, ia tetap teguh menjaga sang anak yang berjuang hidup
dalam inkubator.
Cobaan
semakin berat, sebab badai Katrina tak berhenti mengamuk. Kota menjadi lumpuh
total. Akhirnya, tak ada yang bisa ia lakukan selain berdiam diri di dalam
rumah sakit. Selalu siap siaga kalau-kalau terjadi apa-apa dengan sang anak.
Apalagi, para penghuni, perawat, dan awak rumah sakit, telah dievakuasi karena
badai terus menerjang. Tak ada yang bisa ia andalakan, kecuali dirinya sendiri.
Dan
akhirnya, kekhawatiran yang ia takutkan terjadi. Aliran listrik rumah sakit,
padam. Selekas mungkin, ia pun mencari dan menemukan pengisi daya beterai yang bekerja
secara manual. Ia memutar dinamo pengisi daya secara berkala, demi menjaga inkubator
sang anak tetap menyala. Itu dilakukannya secara berulang, hingga berjam-jam,
sambil mendongengkan kenangan bersama sang istri kepada sang anak.
Di
titik inilah, perjuangan seorang ayah diuji. Dengan perbekalan seadanya,
diserang rasa lelah dan kantuk, ia tetap menguatkan diri untuk terus menjaga
anaknya, terutama untuk mengisi daya baterai inkubator. Ia pun berjibaku dengan
waktu, sebab daya baterai yang hanya bertahan sekitar tiga menit, terus
melemah.
Aktivitas
lain pun dilakukannya dengan bolak-balik ke ruang di mana incubator anaknya
berada. Mulai dari mencari cairan infus, hingga menghubungi pusat bantuan
evakuasi dan memohon pertolongan. Tapi uapayanya itu, tak mendapatkan jawaban.
Tak ada yang menggubris. Ia pun menyerah, dan hanya menunggu bersama waktu di
samping sang anak.
Sampai
akhirnya, di saat baterai inkubator nyaris tak berdaya lagi, sebuah
keberuntungan datang. Badai mereda, hingga tim penyelamat pun datang memberi
pertolongan di masa-masa kritisnya. Ia dan anaknya pun, selamat.
Secara
sepintas, film ini tidak menghadirkan sebuah cerita yang rumit dan sulit untuk
ditebak. Film ini hanya menguraikan perjuangan seorang ayah dalam menjaga hidup
anaknya. Tapi dengan ide dan alur cerita yang simpel, suasana ketegangan dan
kecemasan, kental terasa.
Film
ini, juga terkesan unik. Para pemeran yang terlibat, sangat minim. Latar waktu
penceritaannya pun, tak melompat-lompat dan membingungkan. Hanya menggunakan
alur maju, dengan sisipan kenangan di masa lalu yang tidak mempengaruhi atau
mengganggu pokok cerita. Selain itu, tempat penceritaannya pun, hanya berkisar
di lingkungan rumah sakit.
Melalui
kesederhanaannya, film ini mampu memberi kesan yang mendalam. Pesan yang ingin
disampaikan, sederhana dan fokus, bahwa sesulit apa pun keadaan, ayah tak akan pernah
menyerah untuk melakukan yang terbaik demi hidup dan kehidupan anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar