Rabu, 09 November 2016

Cinta Seorang Ayah



Judul: Hours; Sutradara: Eric Heisserer; Pemeran: Stars: Paul Walker, Genesis Rodriguez; Rilis: 13 Desember 2013; Durasi: 1 jam-36 menit-59 detik.

Pada sisi maskulinitas, seorang ayah di mata anaknya, terkesan menyegankan, bahkan menakutkan. Namun itu bukan berarti sosok ayah tak punya kasih-sayang sedalam ibu. Ayah punya cara sendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya dengan kekuatan dan ketangguhannya. Kadang tak disadari saja. Berbekal potensi itulah, seorang ayah tidak akan membiarkan anaknya hidup dalam kubangan masalah dan derita. 

Film berjudul Hours yang dibintangi Paul Walker, menggambarkan cinta seorang ayah yang tanpa batas. Film berdurasi 1,36 jam ini, menyampaikan pesan bahwa seoraang ayah rela melakukan apa pun untuk kebaikan hidup dan kehidupan anaknya. Jelas, menyaksikan film ini, akan membuat penonton merefleksikan kembali wujud kasih sayang seorang ayah yang selama ini sering diabaikan.

Secara sepintas, film berdurasi ini, berkisah tentang seorang ayah, Nolan Hayes (Paul Walker) yang ditinggal mati istrinya, Abigail (Genesis Rodriguez). Nahasnya, sang istri meninggal kala melahirkan anak perempuan mereka secara prematur.  Maka, dimulailah sebuah perjuangan seorang ayah dalam menjaga hidup sang anak. Di tengah kesedihannya ditinggal sang istri, ia tetap teguh menjaga sang anak yang berjuang hidup dalam inkubator.

Cobaan semakin berat, sebab badai Katrina tak berhenti mengamuk. Kota menjadi lumpuh total. Akhirnya, tak ada yang bisa ia lakukan selain berdiam diri di dalam rumah sakit. Selalu siap siaga kalau-kalau terjadi apa-apa dengan sang anak. Apalagi, para penghuni, perawat, dan awak rumah sakit, telah dievakuasi karena badai terus menerjang. Tak ada yang bisa ia andalakan, kecuali dirinya sendiri.

Dan akhirnya, kekhawatiran yang ia takutkan terjadi. Aliran listrik rumah sakit, padam. Selekas mungkin, ia pun mencari dan menemukan pengisi daya beterai yang bekerja secara manual. Ia memutar dinamo pengisi daya secara berkala, demi menjaga inkubator sang anak tetap menyala. Itu dilakukannya secara berulang, hingga berjam-jam, sambil mendongengkan kenangan bersama sang istri kepada sang anak.

Di titik inilah, perjuangan seorang ayah diuji. Dengan perbekalan seadanya, diserang rasa lelah dan kantuk, ia tetap menguatkan diri untuk terus menjaga anaknya, terutama untuk mengisi daya baterai inkubator. Ia pun berjibaku dengan waktu, sebab daya baterai yang hanya bertahan sekitar tiga menit, terus melemah. 

Aktivitas lain pun dilakukannya dengan bolak-balik ke ruang di mana incubator anaknya berada. Mulai dari mencari cairan infus, hingga menghubungi pusat bantuan evakuasi dan memohon pertolongan. Tapi uapayanya itu, tak mendapatkan jawaban. Tak ada yang menggubris. Ia pun menyerah, dan hanya menunggu bersama waktu di samping sang anak.

Sampai akhirnya, di saat baterai inkubator nyaris tak berdaya lagi, sebuah keberuntungan datang. Badai mereda, hingga tim penyelamat pun datang memberi pertolongan di masa-masa kritisnya. Ia dan anaknya pun, selamat.

Secara sepintas, film ini tidak menghadirkan sebuah cerita yang rumit dan sulit untuk ditebak. Film ini hanya menguraikan perjuangan seorang ayah dalam menjaga hidup anaknya. Tapi dengan ide dan alur cerita yang simpel, suasana ketegangan dan kecemasan, kental terasa.

Film ini, juga terkesan unik. Para pemeran yang terlibat, sangat minim. Latar waktu penceritaannya pun, tak melompat-lompat dan membingungkan. Hanya menggunakan alur maju, dengan sisipan kenangan di masa lalu yang tidak mempengaruhi atau mengganggu pokok cerita. Selain itu, tempat penceritaannya pun, hanya berkisar di lingkungan rumah sakit. 

Melalui kesederhanaannya, film ini mampu memberi kesan yang mendalam. Pesan yang ingin disampaikan, sederhana dan fokus, bahwa sesulit apa pun keadaan, ayah tak akan pernah menyerah untuk melakukan yang terbaik demi hidup dan kehidupan anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar