Senin, 14 November 2016

Aku Bersyukur Pernah Mengagumimu

Engkau telah menyadarkanku untuk menjadi perempuan sejati. Kau punya pandangan yang mengagumkan soal kesetaraan gender. Tentang bagaimana seorang wanita harus bersikap, bertutur, dan bertindak, kau bisa menempatkannya secara baik. Mungkin karena itulah, aku mengagumimu. 
 
Dahulu, aku salah menilai kedudukanku seorang perempuan. Aku selalu menganggap lelaki adalah penguasa tak sah atas hak perempuan. Protes kulancarkan sebab laki-laki selalu didahulukan dalam segala persoalan. Tak kuterima jika lelaki dinobatkan sebagai pemimpin bagi kaum perempuan. 

Kini cara pendangku berbeda. Entah kenapa, aku terpengaruh juga oleh kata-katamu, bahwa laki-laki dan perempuan, punya kodrat yang berbeda. Karena perbedaan itulah, keduanya saling membutuhkan. Jika lelaki berperilaku layaknya perempuan, atau sebaliknya, katamu, itu adalah penyimpangan dari kodrat. 

“Kau banyak perubahan belakangan ini. Apa ada sesuatu yang meracuni otakmu?” ledekmu, setelah melihat penampilanku yang lebih keperempuanan. Tak lagi mengenakan kaos oblong, tapi kemeja lengan panjang. Jins pun, kuganti dengan rok.

“Menangnya salah. Penampilan boleh berubah, tapi pemikiran dan prinsip hidup, tak boleh.” Aku berusaha membela diri. 

“Kau memelas saja. Ya, bagaimana pun juga, penampilan itu mencerminkan pola pikir dan sikap seseorang. Itu sulit dipisahkan. Kalau kau menganggapku terlalu materialis, terserah kau,” serangmu lagi.

Aku tak mau kalah. “Kau memang materialis. Buktinya, kau mencapku telah berubah hanya dengan melihat penampilan luarku.”

Akhirnya, kau menengahi sendiri perdebatan kita, “Ya, terserah kau. Yang pasti, kau berpenampilan layaknya perempuan normal, itu sudah bagus. Masalah isi kepalamu, aku tak punya urusan.”

Aku tak tergelitik untuk menanggapi kata-katamu lagi.

“Oh ya, kalau boleh saran sih, warna bajumu yang kuning, tak cocok jika dipadukan dengan warna biru. Kau harus cerdas menyerasikan warna, supaya ada juga lelaki yang tertarik padamu. Kalau beruntung kan, kelak, kau jadi seorang ibu juga,” ledekmu lagi, kemudian berlanjut, “Bedakmu di wajahmu juga tak tersebar merata. Apalagi pewarna alismu, tinggi sebelah.”

Tiba-tiba, aku merasa seperti dibombardir. Saranmu yang bertubi-tubi, tak ubahnya seperti ejekan bagiku. “Aku sengaja saja. Kalau terlalu sempurna, takut kau jadi suka,” tangkisku.

Kau tertawa. “Itu sih maumu saja,” pungkasmu, kemudian beranjak pergi.

Dari obrolan kita yang penuh singgungan itu, aku pun sadar telah tersesat lama di dunia kelaki-lakian. Melawan paradigma dan dominasi laki-laki dengan menjadi seperti laki-laki. Ternyata kau benar, perjuangan tak harus melawan kodrat. Ada sisi keperempuanan yang tak boleh kuabaikan. Dan kini, aku harus mempelajarinya dari awal.

Berselang beberapa bulan setelah kutiti jalan kembali ke kodratku, aku dapat kabar mengejutkan. Kau menikah dengan seorang perempuan. Tapi aku tak kecewa, apalagi menyesal. Apalagi kutahu, kau menikah dengan seseorang yang sikap dan rupanya, sepadan denganmu. 

Kini, aku ingat lagi obrolan kita di waktu lalu, yang menjadi awal dari kesadaran dan perubahanku.

“Kau akan terlihat lebih baik jika tak meninggalkan sisi-sisi keperempuananmu. Sebagai perempuan, memang tak ada larangan kalian berprofesi sebagai mana laki-laki, tapi tak perlu berpenampilan seperti laki-laki,” nasihatmu, setelah menyaksikan penampilanku yang semakin urakan.

“Apa untungnya juga aku mengikuti kata-katamu,” sanggahku.

“Jika kau tak ingin ditakdirkan dengan seorang lelaki yang keibu-ibuan, jadilah perempuan yang sesungguhnya. Yakinlah, orang akan mendapatkan pasangan sesuai dengan gambaran kepribadiannya,” jelasmu dengan mimik serius dan tampak meneduhkan.

Setelah obrolan kita itu, aku tiba-tiba berhasrat mencapai levelmu kepribadianmu. Aku ingin kita ditakdirkan bersama. Namun, semua terlambat. Kau telah sempurna bersama si dia. Tapi, aku tak mengapa. Setidaknya, mengagumimu saja telah membuatku menjadi pribadi yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar