Selasa, 22 November 2016

Rindu yang Lain

Di pelataran depan rumah, aku memandang sejauh hamparan persawahan. Ingatanku pun, jauh menyusuri jalan kenangan. Melewati lika-liku hidup yang penuh rasa. Hingga, aku kembali tersesat. Berhenti di ruang rindu yang telah lama kutinggalkan. Terjebak di satu waktu, kala cintaku jatuh pada satu hati: dia.
 
Sejak pertama kali memerhatikan dirinya, tanpa sadar, jiwaku telah terperangkap. Bayang-bayangnya, menjeratku sampai kini. Ia tak pernah membosankan untuk dikagumi. Tutur yang kata lembut, tingkah laku yang pemalu, hingga raut wajahnya yang penuh tanya kala terdiam, masih tergambar jelas di benakku. 

Dia jelas sosok yang  menyenangkan. Selalu punya cara untuk menghangatkan suasana. Yang paling kusuka, adalah kebiasaannya menyuguhkan teh hangat setiap pagi. Itu ia jadikan bayaran untuk sebuah gubahan puisi dariku. Kami pun meminum teh dalam suasana damai nan romantis. Dan setelah itu, aku akan membacakan puisi untuknya.

Di tengah khayalan yang mengesankan, kau tiba-tiba datang menghampiriku. Kau duduk di sampingku tanpa tutur kata. Seperti kemarin, rona wajahmu masih terlihat masam. Tampak ada kerisauan yang kau pendam. Sebuah kekesalan yang tak ingin kau ungkapkan. Tapi aku tak peduli. Memang lebih baik kita saling memendam rasa.

Beberapa minggu berlalu, kita memang terjebak dalam kekakuan. Saling mendiamkan untuk masalah yang entah sebabnya apa. Mungkin kau lebih tahu, sebab kaulah yang memulai kekekian ini. Kurasa, kau telah berubah.

Dan tiba-tiba, kau melontarkan pertanyaan. Memecah keheningan. Mungkin untuk mencari solusi, atau menjuruskan hubungan kita pada sebuah kesimpulan yang pahit, “Apa keputusan kita untuk menikah adalah sebuah kesalahan?”

Aku jelas kaget mendengar pertanyaanmu yang selancang itu. “Kalau menurutmu sendiri bagaimana?” tanyaku kembali. Sebisa mungkin, aku menghindari kesan kalau perpisahan adalah jalan terbaik.

“Aku pasrahkan semua padamu.” Kulihat, kau juga merasa berat mengambil keputusan untuk berpisah. “Aku hanya merasa, kenyamanan di antara kita telah hilang. Aku tak ingin hakmu atas rasa bahagia, sirna hanya karena pernikahan kita.”

“Mungkin kau benar, pernikahan kadang malah memenjarakan,” tanggapku sekenanya. “Tapi tak ada gunanya juga kita menyesali yang telah terjadi.”

Kau tak membalas. Aku terdiam. Suasana kembali lengang. Sangat kaku. Padahal, tepat setahun yang lalu, kita masih berbagi sanjungan yang tak terkira.

Tiba-tiba, kau menguak rahasia batinmu lagi, “Mungkin sebaiknya, kau kembali ke masa lalumu saja. Aku yakin, sosok yang kau cintai dahulu, akan lebih membahagiakanmu.” 

Aku tak mengerti maksudmu. Jelas, tak ada seorang pun yang kunanti di masa lalu selain dirimu. Hanya kaulah yang kukagumi dan kucintai di waktu lampau, semasih kau belum berubah. Kuduga, kau salah mengartikan puisi-puisi di akun media sosialku belakangan ini, ketika aku berat hati menyerahkannya langsung kepadamu. “Iya. Mungkin kau benar. Mengingat masa lalu kadang lebih menyenangkan ketimbang membayangkan masa depan.”

Kau menunduk sambil memainkan kuku-kuku tanganmu. Terdiam beberapa detik sebelum berucap lagi, “Kalau begitu, mungkin sebaiknya kita lewatkan beberapa hari ke depan untuk memikirkan nasib masa depan kita. Bagaimana pun juga, perceraian bukan tetang kita saja, tapi juga menyangkut keluarga besar kita.”

“Sebaiknya begitu,” kataku.

Kau pun bangkit dari posisi dudukmu, kemudian berpesan, “Aku telah menyeduh teh pagi ini. Kutempatkan di atas meja makan. Jika kau masih berkenan, meminumlah sebelum dingin,” tuturmu, lalu pergi.

Dengan perasaan yang tak seceria dahulu, aku pun beranjak ke dapur, meneguk teh seduhanmu. Setidaknya, itu akan membuatku bernostalgia tentang kisah kita di masa lalu. Dan sebagai balasan, aku pun menuliskan sebuah puisi untukmu. Aku menghimpitnya di bawah gelas teh.

Ada rindu tertanam
Di masa laluku yang singkat
Sampai di penghujung waktu
Hanya ada satu hati
Kau

Selamat ulang tahun pernikahan kita

Tak berselang lama, saat tengah melanjutkan renunganku di pelataran rumah, tiba-tiba, kau datang memelukku dari arah belakang. “Aku mencintaimu. Kumohon, kita harus tetap bersama,” tuturmu sambil terisak.

Sikapmu itu adalah kejutan bagiku. Aku berbalik, membalas pelukanmu. “Aku tak akan rela meninggalkanmu. Yakinlah, aku mencintaimu.”

Di pelukan erat kita, seakan ada cinta yang mencair kembali. Cinta yang beberapa waktu, telah dibekukan oleh prasangka-prasangka buruk.

“Tapi besok-besok, kau tak akan bosan menulis puisi untukku kan?” tanyamu manja.

Aku menyeka air mata di pipimu. “Iya, asalkan kau juga tak lupa menyuguhkan teh hangat untuk kita nikmati berdua di pagi hari.”

Kau mengangguk takzim. Tampak menggemaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar