Senin, 21 November 2016

Penjual Jasa

Sepulang mengajar di sekolah, Agus siaga menanti kedatangan Bardan. Pagi tadi, sosok lelaki tetua masyarakat desa itu, berpesan akan bertandang ke rumahnya. Entah ada kepentingan apa, ia tak tahu. Kedatangan Bardan selama ini, hanya mengangkut soal kegiataan sosial-keagamaan di desa, atau menagih uang pembebasan lahan untuk pembangunan sekolah semasih belum lunas.
 
Sekitar setengah jam sesampainya di rumah, Bardan pun datang dengan setelan bersih dan rapi. Dari gelagatnya, Agus menebak, ada persoalan serius yang hendak dibincangkan. Segera, mereka mengawali pembicaraan yang penuh kekakuan. Lima belas menit berlalu dengan basa-basi. Jelas, Agus segan bertanya langsung tentang inti persoalan yang hendak diobrolkan.

Sampai akhirnya, Bardan menggiring obrolan ke inti persoalan. “Sebenarnya, maksud saya ke sini, tiada lain untuk membicarakan persoalan masyarakat kita, Pak Agus. Keadaan perekonomian masyarakat, semakin memprihatinkan. Desa kita butuh pemimpin yang lebih baik.”

“Iya, Bapak benar. Masih banyak persoalan yang belum diselesaikan pemerintah desa di akhir masa jabatannya.” Agus meladeni arah pembicaraannya.

“Karena itulah, Pak. Kurasa, masalahnya bukan di masyarakat, tapi di aparat desanya. Saya melihat, kepala desa belum cakap dalam memimpin,” tutur Bardan, kemudian berdeham. “Demi kebaikan masyarakat, aku bertekad maju di pemilihan kepala desa tahun ini, Pak Gus. Aku punya kemauan dan tujuan yang jelas, agar kehidupan masyarakat menjadi lebih lebih baik.”

Agus jelas dibuat kaget mendengar penuturan Bardan. Ia tak menduga, lelaki tua itu, berhasrat memimpin desa. “Itu sih pilihan Bapak saja. Di era demokratis ini, setiap orang punya hak untuk menjadi pemimpin. Tapi akhirnya, masyarakat jugalah yang memutuskan siapa yang layak.”

“Aku paham, Pak. Memang masyarakatlah yang menentukan. Tapi kupikir, kita sepaham kalau masyarakat desa butuh pembaruan. Ya, dimulainya dari struktur pemerintahan desa dulu,” kata Bardan, lebih tegas, sambil menyeruput kopi pekat yang masih hangat. “Saya kira, Bapak tak keberatan jika berada di pihakku.”

Tawaran itu, jelas membuat Agus kelimpungan. Ingin menolak, tapi segan. Maka, dengan  sikap yang santun, ia memberi pesan penolakan. “Maaf, aku tak bisa terlibat, Pak. Untuk sekarang, aku ingin fokus saja mengurus soal pendidikan dan keagamaan masyarakat desa.”

Rona wajah Bardan yang sedari awal terlihat penuh optimis, berubah jadi kuyu. Dugaannya tentang sikap Agus, melenceng. “Pembenahan masyarakat sudah saatnya dilakukan, Pak. Kita tak boleh alergi politik. Kalau Bapak berada di pihakku, dan nanti kita memenangi pemilihan, aku janji, akan memberi sokongan yang lebih untuk soal pendidikan dan agama di desa.”

Terpaksa, Agus menekankan sikapnya kembali. “Maaf, Pak. Aku tak bisa. Sudah cukup aku jadi seorang guru dan pengurus agama.”

Bardan pun berupaya membuat tawaran yang lebih menggiurkan. “Tak usah khawatir. Jika menang, akan ada jabatan untuk Bapak di pemerintahan desa. Asalkan, Bapak bersedia mendukung dan membantuku mendulang suara masyarakat. Semua juga demi kebaikan desa kita, Pak.” 

“Sekali lagi maaf, Pak Bardan,” kata Agus, sambil tersenyum singkat.

“Apalagi yang Bapak ragukan. Selama ini, aku telah berbuat banyak untuk masyarakat kita. Jika aku tak merelakan sebidang tanahku untuk pembangunan gedung SD dan SMP di desa kita, aku yakin banyak anak-anak yang tak mengenyam pendidikan, termasuk anak Bapak juga. Apa itu tak cukup sebagai bukti?” Nada suara Bardan meninggi, penuh penekanan.

Pada ruang yang sama, di belakang kedua orang yang tengah terlibat obrolan sengit itu, ada Naim, anak Agus, yang sedari tadi turut menyimak perbincangan. Sebagai anak semata wayang Agus, ia merasa disinggung. Apalagi, ia adalah seorang murid kelas 3 SD di sebuah sekolah yang berdiri di atas bekas tanah Bardan.

“Iya, masyarakat desa pasti bersyukur atas kerelaan Bapak itu. Aku juga turut berterima kasih,” balas Agus, sambil mengelus-eluskan kedua telapak tangannya. “Tapi sekali lagi, dengan rendah hati, aku merasa berat untuk menerima tawaran Bapak.”

Bardan terdiam. Seperti tak menduga tawarannya akan tertolak. “Baiklah kalau begitu. Aku pamit,” tuturnya dengan kesan yang tak seramah di awal obrolan.

Sepulang Bardan, Agus larut dalam renungannya sendiri. Ia tak habis pikir, bagaimana sosok seperti Bardan, tanpa beban dan rasa malu, mengklaim pembangunan sekolah di desa terjadi atas jasa-jasannya. Padahal, secuil lahan perkebunan miliknya, tak ia serahkan secara sukarela untuk pembangunan gedung sekolah, tapi dengan sejumlah ganti rugi yang tergolong mahal, yang dikumpulkan dari urunan masyarakat desa.

Naim menghampiri ayahnya. Dari perbincangan yang didengarnya tadi, ia memendam banyak pertanyaan. “Kenapa Ayah tak mendukung Pak Bardan jadi kepala desa? Dia kan baik. Andai bukan dia, mungkin aku harus jalan kaki ke kecamatan sebelah untuk sekolah?”

“Aku menyangsikan kebaikannya, Nak. Tanah miliknya dahulu untuk pembangunan sekolahmu, kan tak dilepasnya secara cuma-cuma. Masyarakat desa harus mengumpulkan uang untuk membelinya,” jelas Agus. “Kebaikan yang bernilai itu, kalau tanpa pamrih. Ikhlas.”

Naim tak membalas. Ia seakan sepakat dengan kata ayahnya.

“Kau tahu Nak, malah, akulah yang berjasa besar atas pembangunan sekolahmu. Dulu, setelah aku ke sini dan melihat tak ada sekolah untuk anak-anak, aku segera berinisiatif untuk mengupayakan pembangunannya. Akulah yang merancang semuanya,” tutur Agus dengan penuh kebanggaan.

Mendengar penuturan ayahnya, Agus berseru kagum, “Wah, Ayah memang hebat. Besok, aku akan menceritakan riwayat sekolahku itu pada teman-temanku.”

Agus hanya tersenyum, sambil mengusap-usap kepala anaknya.

“Kenapa Ayah tak jadi kepala desa saja?” tanya Naim.

“Aku sudah merencanakannya sejak lama, Nak. Dan atas apa yang telah kulakukan selama ini untuk masyarakat desa, kupikir, sudah saatnya aku jadi kepala desa. Aku yakin, masyarakat desa akan mendukungku. Apalagi, sudah banyak yang kulakukan untuk kebaikan desa,” balas Agus dengan penuh keyakinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar