Rabu, 09 November 2016

Satu Bintang

Aku cuma seorang wanita. Hidup di dunia dengan separuh ketidaksempurnaan. Merindukan pendamping hidup untuk mencukupi kekurangan. Namun, seperti berjuta bintang di langit, aku hanya satu di antara perindu. Dengan binar seadanya, entah adakah juga yang sudi membalas rinduku. 
 
Sekarang, cukup jika aku berdoa. Berharap semoga ada lelaki yang menempuh jalan ke arahku. Menanti sosok yang gagah berani menyatakan perasaannya, lalu aku akan memutuskan perkara takdirku sendiri. Sebab begitulah wanita, hanya bisa menanti dan menjawab. Maka, kupasrahkan saja pada pelukan siapa pun aku akan terbuai dan terjatuh, nanti. 

Penantian hatiku, masih penuh tanda tanya. Tak ada niat memaksakan kenyataan. Walau belakangan aku terpikat pada seseorang bernama Bimo, aku tak mau berharap lebih. Kugantungkan saja semua kemungkinan. Akan jadi bumerang kalau aku cuma menggantungkan nasib padanya dan menutup kemungkinan pada yang lain, tapi kemudian dia tak juga mengucapkan janji suci sampai waktuku berakhir.  

Menebak-nebak perasaan lelaki yang kumaksud, bukanlah persoalan yang mudah. Sangat rentan menjurus pada salah tafsir. Bagaimana pun juga, lelaki, sebagaimana dia, gemar memberi perhatian pada wanita. Jika benteng pertahanan hatiku tak kokoh, aku bisa terbuai setengah gila. Tapi selalu kuyakinkan diri, kalau dia hanya menganggapku sebagai teman biasa, seperti yang lain.

Kami jelas sangat dekat sebagai teman. Itulah salahnya, sebab dia jadi tak berpikir kalau aku ingin ada ikrar cinta atas nama Pencipta. Pertemanan seperti sudah cukup baginya. Membahas persoalan kuliah, dianggapnya lebih penting daripada merencanakan rumah tangga. Dia pun lebih tertarik memperdebatkan isi buku ketimbang berbicara tentang isi hati yang terdalam. 

Kedekatan berlebihan, telah membuat kami terlihat seperti saudara. Tak ada sekat-sekat dan rahasia di antara kami. Bahkan, kami suka mengunjungi di kediaman masing-masing. Akhirnya, aku mengenal ayahnya, seorang duda yang menyenangkan. Sebaliknya, ia juga mengenal ayah-ibuku, meski tak terlalu akrab. Itu karena aku lebih sering ke rumahnya, dibanding ia ke rumahku.

Dan, sore hari, saat kami tengah berbincang sambil mengerjakan tugas kuliah di bangku taman rumahnya, tiba-tiba, entah ada angin apa, ia mempertanyakan persoalan perikahan padaku.

“Nindy, di usia berapa kau akan menikah?” tanya Bimo dengan mimik yang datar.

“Entahlah. Sebagai wanita, aku tak bisa menentukan kapan jodohku akan datang meminang. Ya, kau tahulah, perempuan kan pasif. Bisanya menunggu saja sepanjang waktu,” balasku, lalu memalingkan wajahku dari laptop, menoleh padanya. “Kau sendiri akan menikah pada umur berapa?”

“Kalau aku, tak ingin cepat-cepat. Target sih, saat umur 35 tahun. Laki-laki kan mudah saja. Sisa cari yang cocok, kemudian lamar kalau sudah siap,” katanya. Terlihat enteng berucap. Seakan persoalan pasangan hidup, tak pantas dipusingkan.

“Syukur-syukur juga kalau ada yang sudi menerima lamaranmu. Apalagi di usia tua begitu, kau pasti terlihat semakin jelek. Wanita manapun kan ingin juga menikah dengan lelaki muda dan rupawan,” ledekku, sambil tertawa pendek.

Dia tersenyum. “Ah, tidaklah. Nyatanya, kalau laki-laki sudah melamar, wanita pasti cemas-cemas untuk menolak. Takut kalau tak ada lagi lelaki yang akan datang setelahnya, kan?”

Pernyataannya jelas membuatku tersinggung. Memang begitulah yang aku khawatirkan. “Terserah kau sajalah,” tegasku, lalu kembali menatap ke layar persegi.

Diam-diam, kutelaah lagi isi pernyatannya. Aku memang wajar jika cemas. Keinginanku menjadikannya sebagai pendamping hidup, terasa seperti mimpi. Di umur kami yang sama-sama 23 tahun, terlalu berat bagiku kalau harus menunggu selama 12 tahun ke depan. Apalagi, menggantungkan harapan selama itu, jelas penuh rintangan.

“Ngomong-ngomong, apa ada target tentang sosok wanita yang akan kau nikahi nanti, setidaknya ciri-ciri wanita dambaanmulah?” tanyaku. Berharap jawabannya berisi ciri-ciriku.

“Aku tak tahulah. Rencananya kan aku mapan dulu baru cari pendamping hidup. Ya, selama aku tidak mapan dan siap menikah, selama itu juga aku tak tertarik mencari, apalagi mengejar seorang wanita,” balasnya, kemudian meneguk teh hangat buatanku.

Dan, aku yakin sudah, dengan prinsip itu, kecil kemungkinan dia mendambakanku.

“Aku kira-kira sih, tak lama lagi kau akan menikah. Akan ada seseorang yang segera datang melamarmu,” candanya. “Kalau benar, saranku sih, terima saja. Aku takut kau akan jadi perawan tua atau perawan seumur hidup jika menolaknya.”

“Sekarang kau sudah jadi peramal? Ada-ada saja,” balasku. “Aku juga punya perasaan. Ini bukan zaman kuno lagi. Aku berhak menolak kalau aku tak mau.”

“Terserah kau sajalah,” tegasnya, seperti meniru tingkahku.

Obrolan kami pun berakhir. Dan sekarang, aku tahu pola pikirnya tentang wanita.

Tiga hari berselang, ledekannya terbukti benar. Seorang lelaki datang menemui kedua orang tuaku di rumah. Ia meminangku. Aku jelas mengenalnya. Lelaki yang kira-kira berumur kepala empat itu, datang bersama anaknya, teman dekatku selama ini, Bimo.

Lama-lama menimbang, akhirnya kuputuskan untuk menerima pinangan sang duda beranak satu itu. Sebagaimana wanita, aku selalu was-was kalau tak ada lagi yang sudi datang di hari-hari esok. Jika memang aku diciptakan untuk menanti, maka seseorang lelaki yang datang menjemputku dengan cara yang bermartabat, adalah lelaki terbaik bagiku. Dialah yang akan menyelamatkanku dari ketidakpastian yang menyiksa.

“Hei Ibu,” tutur Bimo, seperti meledek, saat prosesi lamaran ayahnya terhadapku, telah usai.

Aku membalasnya dengan sikap biasa. 

Kini, aku merasa beruntung, sebab aku dan Bimo tidak pernah berbicara soal perasaan masing-masing. Aku yakin, segenap perasaan terpendamku padanya, akan pudar seiring waktu. Lanyap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar