Senin, 21 November 2016

Teman Sebangku

Jam setengah tujuh. Masih terlalu pagi saat Tito sampai di lingkungan sekolah. Yang mendahuluinya cuma satpam dan petugas kebersihan, serta teman sebangkunya, Radi. Jika dihitung-hitung, di antara para siswa, mereka berdualah yang senantiasa mengawali pagi di ruang kelas. Sekadar berbincang-bincang atau membaca buku pengantar, sebelum guru datang. 
 
Awal masuk SMA, di kelas 1, Tito bukanlah sosok siswa yang patut diteladani. Sebagaimana anak sekolah seusianya, ia pernah gemar melakukan kenakalan yang kekanak-kanakan. Bahkan ia pernah digadang-gadang sebagai siswa dengan perangai terburuk di sekolah. Itu karena ia suka datang terlambat, atau pulang sebelum waktunya. 

Dahulu, alasan Tito tak menghargai waktu, tak lain demi melakukan rangkaian kenakalan lainnya. Daripada duduk dan diam memerhatikan penjelasan guru yang dirasanya membosankan, ia lebih memilih berleha-leha di bilik game modern, keluyuran di pusat perbelanjaan, atau sekadar mengunjungi teman sekompleksnya di sekolah tetangga.

Di tengah laku bandelnya, masih untung, sebab Tito tak pernah melakukan kenakalan yang menjurus pada aksi kriminal. Ia tak pernah sekali pun melakukan pencurian, walau itu sekadar menilep permen di kantin sekolah. Itu karena ia berasal dari keluarga yang kaya raya, pengusaha perhotelan. Tak ada masalah tentang uang jajan.

Tindak kenakalan standar bagi anak sekolah yang labil, seperti mengonsumsi minuman keras atau merokok, juga tak dilakoni Tito. Ia tak mau mencicipi zat-zat berbahaya itu, meski teman-temannya selalu menawari. Ia takut setelah suatu waktu ayahnya mengancam akan mengirimnya ke sekolah berasrama untuk belajar agama jika ketahuan mencoba-coba. 

Kelakuan Tito, murni kenakalan khas lelaki di usia peralihan. Selalu tertantang dan suka melanggar aturan sekolah demi eksistensi diri. Tak ada rasa malu demi meninggikan derajat diri di mata teman-teman. Agar tak dianggap kurang pergaulan, tindakan iseng pun dilakukan, meski bagi orang lain, jelas dianggap tak terpuji.

Sampai akhirnya, pola pikir Tito tentang arti waktu di masa muda, berubah setelah akrab dengan Radi. Apalagi setelah mereka sebangku di semester I kelas 2, hingga semester II, kini. Segenap potensi dirinya, tercurah untuk kegiatan positif. Posisi Radi, siswa terbaik, peraih ranking I umum selama tiga semester berturut-turut, bahkan terancam. Tito membuntutinya di ranking II.

“Setelah lulus nanti, kau berencana kuliah di mana?” Tito memulai obrolan

Mereka duduk bersampingan. 

Radi berhenti mengamati buku matematikanya, mata pelajaran yang setengah jam lagi akan diujikan. “Aku belum berpikir ke mana-mana. Lulus SMA saja, aku sudah bersyukur. Ijazah SMA kan sudah sangat berharga di dunia kerja.”

“Kau harus kuliah kawan. Apalagi, kau orang yang baik dan cerdas. Kalau sekolahmu tinggi, peluangmu untuk berbuat baik kepada orang banyak, akan lebih terbuka,” saran Tito, setengah mendesak. 

Radi terdiam sejenak. Sambil menepuk pundak Tito, ia menuturkan balasan yang diplomatis, “Akan kuusahakan. Sebagaimana anak-anak yang lain, aku tentu ingin kuliah. Tapi aku tak mau orang tuaku terbebani. Jika mereka harus susah-payah mencari uang untuk biaya pendidikanku, akan lebih baik jika tidak.”

Tito tak menanggapi. Sulit menemukan sanggahan tepat untuk alasan itu.

Radi memang punya latar belakang yang jauh berbeda dengan Tito. Ia hanya anak seorang petugas kebersihan di salah satu hotel milik orang tua Tito. Karena kehidupan keluarganya yang pas-pasan, ia tak pernah bercita-cita tinggi.

“Kalau nilaiku terus membaik sampai lulus nanti, dan aku dapat beasiswa di perguruan tinggi negeri, aku pastilah kuliah.” Raut wajah Radi, kini terlihat penuh harap. “Yang seharusnya kuliah itu, kau. Selain cerdas, kau punya orang tua yang mampu menguliahkanmu di kampus mana saja.”

Rasa segan dan haru menggugah Tito. Ia pun tak ingin lagi mengobrolkan persoalan kuliah. Tapi diam-diam, ia punya rencana demi teman sebangkunya itu

“Kalau bukan karena kau, aku tak akan bisa seperti sekarang. Mungkin saja, masa mudaku berlalu dengan perbuatan tak berguna,” balas Tito, seturut mengalihkan arah pembicaraan.

“Itu karena kau saja. Kaulah yang memilih dan mengubah dirimu, bukan aku. Setiap orang memegang kendali atas jalan hidupnya. Kalau tak mau berubah, ya tak akan berubah,”  sanggah Radi.

Lidah Tito kelu membalas. Diam-diam, ia merasa malu tak pernah sekali pun menentukan jalan hidupnya sendiri. Bahkan keputusannya untuk sebangku dengan Radi, bukan tanpa alasan. Suatu ketika, ayahnya memberikan pilihan, antara berkawan dengan Radi, atau berhenti sekolah. Karena itulah, mereka sebangku.

Di penghujung obrolan mereka, guru matematika mamasuki kelas sambil menenteng soal ujian. Para siswa pun menyerbu masuk ke dalam kelas. Saling berebut posisi stategis demi melulusi ujian akhir semester. Dan dalam kesenyapan, ujian pun berlangsung di bawah pengawasan ibu guru yang terkenal judes.

Waktu bergulir. Dua hari berlalu, pengumuman ujian matematika terpampang di mading sekolah. Tak disangka, nilai ujian Radi paling tinggi di antara teman-temannya yang lain. Itu adalah kejutan, sebab semua orang tahu, Tito lebih handal dalam soal matematika. Semester lalu, nilai matematika Tito lebih tinggi dibanding Radi.

“Kau hebat kawan!” seru Tito, saat mereka melihat hasil ujian bersama-sama. “Kalau di pelajaran matematika saja tak ada yang mengalahkanmu, apalagi di pelajaran non-eksak.”
 
Radi tersenyum pendek. Ia tak ingin menampakkan keterkejutannya. “Kebetulan saja aku mengalahkanmu. Semester lalu kan, kau mengalahkan nilai matematikaku. Jadi bukan aku yang hebat kali ini, tapi kau saja yang keliru menjawab soal."

“Kau jangan mengelak terus kawan. Kau memang hebat. Makanya, jangan sia-siakan kemampuanmu. Kau harus kuliah!” tegas Tito lagi.

Radi hanya menyengir dan tak membalas.

Diam-diam, Radi tak pernah memahami kesyukuran terbesar Tito pernah sebangku dengannya. Capaian nilai matematika Tito kali ini, bukanlah karena ketedorannya. Sangaja saja, sebab ia tahu, Radi butuh nilai yang baik dan terus meningkat untuk dapat kuliah di kampus favorit melalui jalur undangan, serta untuk mendapatkan sokongan beasiswa yang selama ini diincarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar