Selasa, 27 Desember 2016

Cerita Ombak

Ombak pagi masih tenang. Air laut sedang surut. Asmi hanya termenung di pelataran rumahnya. Berdiam diri. Membiarkan wajahnya diterpa embusan angin yang tenang. Sekadar menatap hamparan pantai yang lengang. Tapi jauh dalam benaknya, sebuah cerita terselubung, masih menghantuinya.

Sikap Asmi yang tertutup, telah berlangsung sekitar sebulan. Tak ada yang tahu sebabnya. Bahkan Asdar, suaminya, turut dibuat bingung. Ia merasa tak pernah melakukan kesalahan besar, yang dapat membuat sang istri, memendam kekesalan begitu dalam. Berulang kali sudah, ia mencoba menyelidik, tapi sang istri tetap bungkam. 

Puncak dari perubahan sikap Asmi, terjadi tiga hari lalu. Kala itu, hampir tengah malam. Sebuah peristiwa tragis, dialaminya tanpa pertanda apa-apa. Entah bagaimana alur ceritanya, ia hampir saja meregang nyawa, tenggelam di tengah ombak laut yang menggulung. Beruntung, Anton, sepupu sang suami, segera menyelamatkannya. 

Setelah kejadian misterius itu, desas-desus berkembang di tengah masyarakat. Banyak yang menuding Asmi hendak bunuh diri. Ia diduga frustasi lantaran tak dikaruniai momongan. Pasalnya, selama delapan tahun menikah, ia tak kunjung hamil. Tapi, spekulasi itu disanggah Asdar. Ia tahu betul kalau istrinya tak pernah mengeluhkan perihal anak, meski para mertua sering kali bertanya.

“Kau tak usah memikirkan kejadian yang telah lalu, Sayang. Lupakanlah. Jika aku ataupun orang lain punya salah padamu, kumohon, maafkanlah. Semua demi masa depan kita,” nasihat Asdar, sembari membelai rambut sang istri.

Asmi bergeming. Ia terlihat masih asyik berdialog dengan dirinya sendiri.

Beberapa detik berlalu, Asdar mengalihkan alur pembicaraan. Mencoba membahas perihal yang mungkin membuat istrinya menjadi senang. Sebuah kejutan. “Aku punya kabar gembira untukmu. Kau mau tahu?” pancing Asdar.

Tanpa mengeluarkan sepetah kata pun, Asmi mengangguk pelan.

“Kau hamil, Sayang,” seru Asdar, berharap senyuman istrinya merekah. “Saat kau dirawat di rumah sakit tiga hari lalu, dokter memberitahu kalau kau hamil. Aku yakin, orang tua kita pasti gembira mendengar kabar ini.”

Dugaan Asdar melenceng. Tak ada respons berarti. Asmi cuma tersenyum sejenak, lalu kembali terdiam. Seakan kabar itu biasa saja baginya. Tak mengejutkan. 

Asdar pun pasrah. Ia sadar tak ada cara untuk membuat istrinya kembali semringah. 
 
“Oh, iya, Anton telah pulang ke kota subuh tadi. Ia punya urusan mendadak. Entah apa,” tutur Asdar. Ia bertutur tanpa ekspektasi apa-apa kepada sang istri. “Ia meminta maaf, sebab tak sempat pamitan padamu.”

Raut wajah Asmi masih datar. Tidak juga marah, tidak juga senang. Padahal, Anton adalah lelaki yang menyelamatkannya dari amukan ombak tiga malam yang lalu.

“Hari ini, aku akan pergi melaut seorang diri,” sambung Asdar, sambil menoleh kepada sang istri yang hanya berbagi pipi. “Berjanjilah padaku kalau kau akan baik-baik saja?”

Asmi tiba-tiba menoleh pada sang suami. Masih tak kuasa beradu tatapan. Dan tanpa diduga, ia menguraikan sebuah pesan, “Hati-hati. Jaga diri baik-baik,” tuturnya, sambil tersenyum.

Asdar mengangguk. Tampak sangat senang. Pelukan, belaian, dan kecupan pun, ia berikan untuk sang istri. Lalu, dengan hati yang gembira, ia bergegas mempersiapkan segala peralatan untuk pergi melaut. Dan tak lama berselang, ia menghilang di balik ombak yang masih tenang. 

Masih di posisi yang sama, Asmi tak henti-hentinya memanjatkan doa agar suaminya pulang dengan selamat. Apalagi, belakangan ini, di kesempatan hidupnya yang kedua, ia semakin kalut. Dosa-dosanya yang menggunung, terus menghantui.

Kini, Asmi berharap Tuhan memberinya waktu yang panjang. Ia hendak mengikis dosa-dosanya kepada sang suami. Dosa yang masih dirahasiakannya. Dan mungkin sepanjang waktu itu, suaminya tak akan pernah tahu kalau rencananya untuk mengakhiri hidup, ada hubungannya dengan Anton dan kehamilannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar