Minggu, 24 Juli 2016

Rahasia Ayah

Masa remaja memang penuh gairah. Selalu semangat mencoba hal baru. Melakukan apa pun demi mencuri perhatian banyak orang. Haus pujian. Gemar ikut-ikutan. Tak peduli bertindak benar atau salah. Asalkan kesetiakawanan masih kuat, akal sehat dan hati nurani jadi tak berguna. Bebas dalam bertindak. Maka diukirlah sebanyak mungkin kenangan untuk jadi bahan nostalgia di masa mendatang. Keadaan itu cocok dengan semboyan: nakal-nakalah semasih muda, nanti tua baru tobat.
 
Kisahku ini, bercerita tentang masa-masa itu.

Dahulu, aku punya teman baik di bangku SMP. Namanya Harun. Tapi orang-orang memanggilnya Binggo, sebuah istilah yang biasa dituturkan Mr. Bean kala mendapatkan keberuntungan. Perilakunya memang konyol seperti sang comedian dunia. Rajin membuat lelucon yang menyenangkan. Semisal kesanggupannya mencabut bulu hidung hanya dengan imbalan satu permen. Uniknya, ia tetaplah sosok yang cerdas, alim, dan tampak rupawan. Darinyalah aku banyak belajar tentang kepribadian remaja yang baik. Aku beruntung berkawan dengannya. 

Setelah kami duduk di bangku SMA, di sekolah favorit yang sama, ia berubah. Wataknya berkebalikan dari sebelumnya. Begitu labil. Mungkin karena di usia itu adalah masa peralihan dalam mencari jati diri. Ia jadi tak bisa mengendalikan gairahnya. Aku, tetap seperti yang dulu. Masih kuasa melawan diri sendiri. Imbasnya, kelompok pergaulan kami pun berbeda karena perbedaan sikap. Aku menjadi pengurus OSIS, sedangkan ia menjadi anggota Geng Sabit, kumpulan anak bandel khas anak SMA pada umumnya.

Sesekali, Binggo menyarankanku bergabung pada gengnya. Katanya, supaya terlihat keren dan gaul. Ditakuti. Menjadi penguasa sekolah. Tapi kutolak. Aku tetap memilih menjadi anak penurut pada kata orang tua dan guru. Pilihan hidup yang menurut mereka kuno. Ketinggalan zaman. Tapi beruntung, ia tak memaksaku. Bahkan, ia setia menjadi pelindungku. Menghindarkan aku dari aksi palak Geng Sabit. Apalagi, ia memang petinggi geng, satu level di bawah sang ketua, Jongos. 

Masa-masa itu, kini telah terukir sebagai kenangan. Dan, sekarang kami berdua bernostalgia kembali. Tanpa sengaja, setelah sembilan tahun tak bertemu, kami berpapasan di sebuah pusat perbelanjaan. Aku pun mengajaknya mampir ke rumahku. Terakhir, kebersamaan kami waktu setahun setelah lulus SMA. Setelah itu, aku meninggalkannya untuk pergi ke kota, di pulau seberang, tempat tinggal orang tuaku, untuk melanjutkan kuliah. Sampai sekarang, kami telah sama-sama berkeluarga.

Sore ini, kami tengah duduk berdua di teras rumahku. Berbicang-bincang sembari menyeruput kopi. 

“Agus, masih ingat masa sekolah kita dahulu? Waktu aku masih sang jagoan,” tutur Binggo, memancing petualangan kami ke masa lalu.

“Iyalah. Aku tak akan lupa itu. Masa kau masih labil. Jadi monster yang ditakuti siswa lain,” akuku. 

“Ya, benar. Dulu, aku memang raja di sekolah. Kau tahu, si Jongos itu, ketua Geng Sabit, tak ada apa-apanya dibanding aku. Mulutnya saja yang besar,” tuturnya sambil tertawa. Tampak meremahkan mantan ketuanya. “Kau tahu tidak, siapa orang yang mencuri komputer di laboratorium sekolah, yang membuat perpustakaan nyaris ludes terbakar, yang merusak pagar sekolah, yang mengecet dinding kelas dengan kata-kata sadis? Itu aku Gus!”

Sungguh? Serangkaian peristiwa yang disebutkannya itu, jelas membuat pihak sekolah dahulu, kalang-kabut. Memang sudah kuduga kalau Geng Sabit adalah pelaku. Tapi menganggap Binggo sebagai pelaku utama, terpernah terpikirkan olehku. “Memang tak ada yang meragukan keberanianmu saat itu Bing. Kau memang hebat,” tuturku, membesar-besarkannya. Aku tahu ucapanku itu akan membuat ia semakin besar kepala.

“Terus, kau tahu tidak, kenapa Ratih, si gadis manis, pidah sekolah?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng. Tak ingin menebak lebih dulu. Meski kuduga, ia akan mengakui lagi dirinya sebagai pelaku.

“Aku mempermainkannya Gus! Aku dekati dia, eh, ternyata mau juga sama aku. Biasalah, kan dulu aku tampan dan berwibawa. Benar kan?” katanya, sembari tersenyum bangga. “Saat ia sedang kasmaran karenaku, aku masih menjalin hubungan dengan empat wanita lain, sekaligus. Hebat kan? Tapi sial, akhirnya, ia tahu kalau aku playboy. Ia begitu terpukul Gus.”

Kuberi senyuman padanya. Seakan mengiyakan bahwa melukai perasaan wanita yang jelas berbekas sampai kapan pun, adalah prestasi, “Kau memang hebat Bing,” tuturku. Lagi-lagi menjilati nafsunya untuk terus membanggakan diri.

“Dan, puncaknya Gus, kau tak akan mengira. Kau tahu siapa yang membakar markas Geng Sabit?” tanyanya, sembari memandangi mataku dalam-dalam. Jawabanku seakan sangat dinantinya.

Pertanyaannya itu, jelas membuatku tersentak. Aku deg-degan mengetahui jawaban yang segera meluncur dari mulutnya sendiri. Kugelengkan lagi kepalaku. Kali ini, aku pura-pura tak tahu.
 
“Aku Gus!” tegasnya, lalu tertawa terbahak-bahak. Ia tak menjelaskan lebih detail alasannya melakukan itu. 

Aku pun tak berhasrat melanjutkan obrolan dengannya. Kurasa, nostalgia ini tak terlalu penting. Tak ada makna kebaikan yang sepatutnya direfleksikan. Karena itu, aku enggan menjadi seperti wartawan yang mengulik masa lalu ini, sebab ia pasti terus-terusan membanggakan diri. Itu tak baik.

Lama-lama terdiam dalam perenungan masing-masing, ia pun mengalihkan percakapan dengan bahasan yang baru.

“Gus, kau sibuk apa sekarang?” tanya Binggo dengan santai.

“Ya, biasalah. Aku bekerja sebagai karyawan swasta, sambil mengurusi usaha warung makan yang kurintis dua tahun lalu,” balasku. “Kamu sendiri?”

“Ya, beginilah aku. Tak punya kesibukan apa-apa. Aku baru sibuk kalau bosku dapat proyek pembangunan. Biasalah, jadi pemborong. Pekerjaan kasar,” jelasnya dengan mimik yang tak sesemringah sebelumnya. “Jalan hidupku memang tak sebaik dirimu Gus. Andai saja aku serius belajar sepertimu, sampai sarjana, mungkin sekarang aku sudah jadi bos di sebuah perusahaan. Penyesalan memang selalu datang di belakang Gus.”

“Ah, jangan merendah begitu. Apalah aku ini,” balasku. Kali ini, rasa kasihan membuatku berusaha membesarkan hatinya. “Pemborong kan juga mendatangkan untung banyak. Yang benting halal Bing.”

“Iya. Kau benar. Tapi terus terang, bagaimana pun juga, aku menyesali jalan hidupku,” tegasnya lagi. “Aku jelas tak ingin anakku seperti diriku. Karena itu, semua cerita hidupku yang kelam di masa lalu, telah kuceritakan padanya. Kuharap ia tak meniruku.”

Kali ini, aku menganggukkan tuturnya.

Di sela-sela obrolan kami yang tengah mengulas tentang rencana masa depan, anakku, Amin, datang bersama anak Binggo, Johan. Umur mereka hanya beda setahun. Johan 7 tahun, sedangkan Amin 6 tahun. Syukurlah, mereka bisa akrab, meski baru bertemu. Mereka sedari tadi pergi bersama, entah bermain apa. 

Sambil berjalan menghampiri kami, Johan terus berucap, “Pokoknya, ayahku lebih hebat dari ayahmu! Laki-laki, ya, seperti Ayahkulah!” tegas Johan, lalu duduk di samping ayahnya. 

Amin yang tampak lesu, lalu duduk di sampingku.

“Ayahku ini pernah bercerita, kalau dulu, ia adalah penguasa di sekolah. Tak ada yang berani padanya. Jago kan? Karena itu juga, dulu, dia punya banyak pacar loh. Ada lebih sepuluh kalau tak salah. Benar kan?” ucap Johan, lalu berpaling ke ayahnya, meminta penegasan.

Binggo tersenyum mendengar penuturan anaknya.

Amin hanya cemberut dan keseringan menunduk. Ia mungkin takut membalas seruan Johan tentang kehebatan Ayahnya. Mungkin juga karena ia tak punya bahan untuk dibanggakan. Aku memang tak pernah menceritakan masa laluku, tentang aku yang melawan kelabilan, meski harus dicap cupu. Kurasa tak ada yang perlu dibangga-banggakan, walaupun kuyakin, itu punya nilai yang patut dicontohinya.

“Apa benar Ayah tak gaul waktu sekolah? Tak pernah punya pacar? Bukan jagoan?” tanya Amin dengan suara rendah, menggerutu.

 “Ia Nak. Ayahmu memang seperti itu,” balasku, sambil mengusap-usap kepalanya. “Tapi anak yang hebat itu, ya anak yang tidak nakal, seperti ayah dulu, seperti kau sekarang.”

Kuyakin jawaban itu tak akan memuaskannya. Persepsinya tentang lelaki hebat, mungkin berbeda. Tapi sekali lagi, aku tak ingin jadi pahlawan di benaknya. Tak perlu menelanjangi diri dengan masa lalu, untuk menunjukkannya arti kemaluan. Biarlah ia jadi dirinya sendiri. Ia berhak atas kenangannya sendiri. Tugasku hanya mendidiknya, memperdengarkannya cerita-cerita tentang para pengalah dan pelawan yang konsisten pada kebenaran dan kebaikan, serta menunjukkan perilakuku yang patut ia teladani.

Di dalam hatiku yang terdalam, sebenarnya aku punya cerita kepahlawanan yang kupendam sendiri. Kurasa kalian perlu tahu, agar mengerti kalau banyak hal yang memang sebaiknya dipendam, meski itu patut untuk diceritakan pada anak-anak. Sebenarnya, akulah yang membakar markas Geng Sabit dahulu. Kemarahanku memuncak setelah menyaksikan perilaku mereka yang kerap tak menghormati guru. Apalagi setelah kutahu kalau seorang guru wanita menangis akibat kabandelan mereka. 

“Bos, ayo pulang!” seru Johan pada ayahnya. “Aku tak suka sama anak cupu ini. Bodoh dan tak gaul.”

Binggo nyengir mendengar ucapan anaknya. “Baiklah anakku yang hebat, kita pulang sekarang,” balasnya pada sang anak.

Amin hanya menunduk.

Aku tersenyum terpaksa. Merasa miris mendengar etika mengobrol anak-ayah di depanku, Johan-Binggo. Entahlah. Aku tak bisa memastikan bagaimana watak kedua anak ini di masa mendatang. Yang pasti, aku adalah pagar nilai untuk anakku, Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar