Jumat, 01 Mei 2020

Terpisah Dunia

Tujuh tahun berlalu sejak aku sarjana. Selama itu, aku terpisah dengan Mardan, teman baikku semasa kuliah. Ia pergi ke kota seberang untuk mengadu nasib, hingga berhasil menjadi pagawai sebuah perusahaan transnasional. Selama itu pula, di tengah kegagalanku mendapatkan pekerjaan di kota, aku terpaksa lebih sering berada di kampung untuk membantu ibuku mengurus kebun.
 
Masa pertemanan memang menyenangkan, ketika tubuh yang berbeda hidup sepenanggungan. Namun saat waktu memisahkan, kisah pertemanan akan menjadi beban, ketika nasib hidup yang berbeda, menjatuhkan kita dalam rivalitas-perbandingan. Seperti juga yang kurasakan kini, ketika aku harus kembali ke kampung, sedangkan Mardan malah pelesiran ke luar negeri.

Terhadap ibuku, aku pun merasa tak berguna. Aku sarjana yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan prestisius seperti yang ia inginkan, dan tampaknya aku hanya akan menjadi petani yang hidup pas-pasan seperti almarhum ayahku. Dan karena itu pula, aku tak juga siap menikah dan mempersembahkan cucu untuknya, sebagaimana yang diinginkan setiap ibu di usia senjanya.

Keadaan sebaliknya terjadi pada Mardan yang sukses. Aku yakin, ibunya pasti bangga terhadapnya. Ia seorang sarjana dengan penghidupan yang baik. Gajinya tinggi dan sangat menjamin. Hingga akhirnya, empat tahun lalu, ia pun memperistri seorang wanita berkewarganegaraan asing, dan kini ia telah memiliki seorang anak yang menggemaskan.

Semua yang kusaksikan tentang Mardan di media sosial, sungguh membuatku rendah diri. Ia telah menjelajah bagaian dunia lain dengan penuh kemewahan, sedangkan aku berkutat saja di lingkungan pedesaan dengan segala kesederhanaanya. Ia bisa membeli apa saja yang ia inginkan, sedangkan aku semampu-mampunya hanya membeli barang yang aku butuhkan.

Atas kesenjangan di antara aku dan Mardan, aku kadang-kadang menyesal telah menjadi seorang sarjana. Atau paling tidak, aku menyesal telah berteman dengannya.

Namun tertinggal jauh dari Mardan, tidak membuatku kehilangan harapan. Aku yakin, selama berusaha, kesuksesan hanya soal waktu. Karena itulah, aku kembali ke kota, tempatku kuliah dahulu, untuk mencari pekerjaan apa saja yang pantas untuk seorang sarjana. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menyami atau bahkan mengalahkan pencapaian Mardan, kelak.

Tetapi setelah dua bulan berjuang, aku tak juga mendapatkan pekerjaan. Aku telah memasukkan lamaran di sana-sini, namun semua menolak dengan alasan yang sudah kuduga: umurku sudah terlalu tua, belum ada pengalaman kerja, dan Bahasa Inggris yang seadanya. Dan akhirnya, aku harus menerima kenyataan yang pahit, bahwa aku memang tak sebanding dengan Mardan.

Di tengah langkahku yang terlunta-lunta mencari pekerjaan, tiba-tiba, terbersit keinginanku untuk bertandang ke rumah Mardan. Aku ingin bertemu dengan ibunya, seorang janda, sang pengusaha restoran, istri seorang pejabat, yang sangat ramah setiap kali aku singgah di rumah mewahnya dahulu. Setidaknya, aku ingin melepas rindu kepada dirinya yang telah kuanggap sebagai ibu kedua bagiku.

Sampai akhirnya, roda-roda angkutan kota membawaku sampai di depan rumahnya. Tetapi tiba-tiba, aku merasa sangat sungkan untuk bertamu. Aku mencemaskan anggapannya tentang keadaan diriku saat ini, meski kutahu ia adalah seseorang yang sangat rendah hati. Namun belum juga aku yakin untuk membatalkan niat, tiba-tiba, ia menatapku dari teras depan rumahnya.

Aku pun balas menatapnya, sambil tersenyum kikuk.

Ia tampak memerhatikanku lebih jeli. “Nak, Budi?” tebaknya kemudian, sembari melangkah-mendekat ke arahku.

“Ah, syukurlah, Tante masih ingat,” balasku, bemaksud bergurau, dengan sikap yang sebisa mungkin terlihat biasa.

Kami lantas bersalaman.
 
Ia pun tertawa kecil. “Aku tak akan lupa pada orang yang baik sepertimu, Nak,” katanya, kemudian menepak-nepak lenganku. “Marilah, Nak!”

Aku lalu mengikutinya menuju teras.

“Silakan duduk, Nak,” tawarnya kemudian.

Aku lalu duduk di sebuah kursi kayu bermotif elegan yang berhadapan dengannya.

“Ah, syukurlah kau bertandang ke sini,” tuturnya, lalu mengela dan menghembuskan napas yang panjang. “Sejak dahulu, aku selalu ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah menjadi teman yang baik untuk Mardan,” katanya, dengan raut yang tulus.

Aku merasa terharu. “Akulah yang patut berterima kasih atas kebaikan Tante dan Mardan kepadaku.”
Ia pun tersenyum lepas, lantas melontarkan pertanyaan yang menyentak keakuanku, “Jadi, kau sibuk apa sekarang? Apa kau punya urusan kerja di sini?”

Aku bingung harus menjawab apa. Namun atas kerendahan hatinya, aku merasa memang sebaiknya aku berterus terang. “Tidak sibuk apa-apa, Tante,” jawabku, berat. “Aku kembali ke kota ini, malah untuk mencari pekerjaan.”

Ia pun tertawa pendek, seolah menganggap keadaanku bukanlah kenelangsaan yang patut disedihkan. “Setiap keinginan memang ada waktunya, Nak,” ucapnya, kemudian tersenyum sepintas dan lekas menyambung, “Tapi berangkali kau hanya belum mendapatkan pekerjaan yang kau inginkan saja, namun senyatanya kau telah bekerja. Kau masih mengurus kebun seperti dulu, kan?”

Aku mengangguk tegar, seolah-olah menerima keadaan hidup dengan lapang dada. “Tapi bagaimana pun, aku adalah sarjana, dan aku ingin pekerjaan yang lebih baik dari itu, Tante. Ibuku juga berharap demikian,” balasku, lantas berupaya menyepelekan keadaanku dengan mengalihkan pembicaraan pada keadaan hidup anak tunggalnya, Mardan, yang berkebalikan denganku, “Ibu patut berbahagia sebab Mardan telah menjadi anak yang sukses seperti harapannya, dan seperti harapan ibu juga, pastinya.”

Rona cerah wajahnya seketika meredup. Ia lantas mengeluh lesu. “Kadang-kadang, aku malah kurang senang atas apa yang ia capai saat ini. Karena urusan pekerjaan, ia jadi sangat jarang pulang ke sini. Tiga tahun terakhir, ia hanya pulang dua kali. Itu pun tak sampai seminggu. Keadaan itu mambuatku harus menahan rindu padanya, pada menantuku, pada cucuku.”

Perasaanku pun tersentuh mendengar curahan hatinya yang tampak mendalam.

“Di masa tua begini, yang sebenarnya dibutuhkan oleh seorang ibu adalah kebersamaan dengan anggota keluarga, Nak. Dan aku kehilangan itu sekarang,” sambungnya, dengan raut yang penuh kesedihan.

Aku pun jadi prihatin terhadapnya.

Ia lantas melepas batuk yang kering, kemudian kembali menyinggung soal kehidupanku, “Kau sadari atau tidak, aku yakin, ibumu beruntung memilikimu, Nak. Di masa tuanya, kau masih berada di sampingnya.”

Aku pun melayangkan senyum simpul. Merasa tergugah atas pandangannya. “Aku harap begitu, Tante.”

Tiba-tiba, telepon genggamku berdering.  Aku permisi padanya untuk menjawab sebuah panggilan dari seorang tetanggaku di kampung. Sebuah panggilan yang ternyata mengabarkan kalau ibuku kembali jatuh sakit. 

Seketika, aku ingin pulang. “Maaf, Tante, aku harus bergegas kembali ke kampung. Penyakit ibuku kumat lagi,” terangku kemudian.

Sontak, ia tampak prihatin. “Segerakanlah, Nak. Itu hal yang sangat urgen,” katanya, sambil melepas batuk kering yang berulang. “Setelah semuanya membaik, aku harap kau sudi kembali ke sini. Kau bisa tinggal di sini kalau kau mau. Kau pun bisa membantuku mengurus restoran jika kau butuh pekerjaan sementara waktu.”

Aku mengangguk haru mendengar kemurahan hatinya. “Terima kasih, Tante.”

Ia pun tersenyum simpul.

Aku lantas beranjak pergi, di tengah pikiran-pikiran tentang apakah aku harus kembali ke kota untuk mencari penghidupan, atau menetap saja di desa demi menjaga ibuku yang renta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar