Rabu, 14 Desember 2016

Cerita Terselubung

Dalam kepolosannya, Riko merasa anak yang paling beruntung di dunia. Ia punya Udin, sosok ayah yang selalu ia bangga-banggakan. Walau ibunya telah tiada, pergi jauh setelah bercerai, itu tak ia persoalkan. Apalagi, kehadiran ayahnya mampu menutupi segala kekurangan. Sempurna. Ayahnya adalah sosok yang tangguh, sekaligus penuh kelembutan. 

Tiap kali beradu dengan teman-temannya tentang kehandalan ayah masing-masing, Riko jelas tak kalah bersaing. Ia selalu menyerukan kalau ayahnya adalah kapten kapal yang handal, penjelajah dunia, serta penakluk para penghuni laut. Penuturannya mengagumkan. Hingga, ceritanya tentang sosok ayah, menjadi serupa dongeng yang dinanti dan dieluh-eluhkan anak yang lain.

Siang ini, sepulang dari sekolah, Riko terlihat murung. Padahal tak ada rutinitas ayahnya yang berubah sebagaimana hari-hari sebelumnya. Ayahnya tetap mengantar dan menjemputnya di sekolah tepat waktu, juga menyiapkan segala kebutuhannya sehari-hari. 

“Kamu kenapa, Nak? Kok murung begitu?” tanya Udin pada anaknya.
 
Raut wajah Riko tampak bersungut-sungut. “Aku tak suka pada teman-temanku!”

Udin segera mendekat, lalu membungkuk, menatap mata sang anak yang masih duduk di kelas 2 sekolah dasar itu. “Lah, kenapa bisa? Kau tak boleh membenci temanmu, Nak.”

Rona wajah Riko semakin kesal. “Mereka tak percaya lagi kalau Ayah adalah seorang kapten kapal yang handal. Mereka menganggapku bergurau tentang Ayah. Aku tak suka!”

Udin setengah kaget mendengar penuturan anaknya. “Kok bisa begitu? Kau sudah jelaskan baik-baik pada mereka, kan?”

“Sudah, Ayah,” tegas Riko. “Aku sudah jelaskan semua, seperti apa yang Ayah ceritakan padaku. Tapi, mereka malah mengolok-olokku.” Sejenak, Riko berhenti berucap, kemudian menelan ludah yang tertahan di tenggorokannya. “Kata mereka, seorang kapten tak mungkin pulang setiap hari ke rumah. Ayah kan tak pernah pergi lama lewat sehari.” sambungnya. “Mereka sok tahu!”

Udin duduk di samping sang anak, lalu mengusap-usap rambutnya. “Ya, jelas saja aku tak ingin meninggalkanmu walau sehari. Aku selalu mengkhawatirkanmu, Nak. Besok-besok, bilang saja ke mereka kalau aku punya banyak anak buah. Aku tak mesti turun tangan untuk mengendalikan kapal. Mereka pasti percaya.”

Lama-lama, otot-otot wajah Riko mulai meregang. Hingga akhirnya satu senyuman merekah di wajahnya. 

“Kapan-kapan, kau ajak saja teman-temanmu ke rumah. Biar mereka lihat sendiri peralatan melaut dan seragam kapten Ayah,” tawar Udin.

Seketika, Riko menjadi senang, kemudian memeluk ayahnya. Kebanggaan di dalam dirinya, kembali menyeruak kala menatap satu setelan seragam yang menggantung di dinding. Jas itulah yang selalu ditenteng ayahnya tiap kali beranjak ke pelabuhan. 

Riko lalu mengurai pelukannya. “Ayah, makanan ringan di kulkas sudah habis. Kemarin, beberapa aku berikan kepada seorang pengemis yang datang ke rumah. Aku kasihan melihatnya. Aku minta maaf tidak bilang-bilang terlebih dahulu pada Ayah,” akunya.

“Tak apa-apa, Nak. Itu tindakan yang terpuji. Kau harus membiasakan dirimu menjadi orang yang baik. Jangan suka berbuat jahat, karena suatu saat, kejahatan itu bisa jadi candu, Nak,” nasihat Udin. “Untuk makanan ringanmu yang habis, akan kuganti. Nanti, aku belikan lagi di pelabuhan.”
 
Tiba-tiba, telepon genggam Udin berdering. Ia pun segera melangkah menjauh dari anaknya untuk memberikan jawaban. Raut wajahnya tampak sangat serius. Ia larut dalam percakapan yang alot. Nada suaranya tak terkendali.

Seketika sambungan telepon terputus, Udin pun bergegas mempersiapkan diri. Ia berencana pergi ke satu tempat rahasia untuk bersembunyi. Pasalnya, polisi mengendus urusannya di tepi laut. Barang selundupan yang selalu ia jemput di pelabuhan "tikus", terendus radar kepolisian. Barang itu adalah paket terlarang: narkoba. 

“Nak, maafkan aku. Ada urusan mendadak di pelabuhan. Aku harus pergi." Udin lalu memeluk anaknya erat-erat. Air matanya, nyaris tak tertahan. “Jaga dirimu baik-baik. Jika aku tak kembali sampai besok pagi, hubungilah ibumu,” pesannya, kemudian menyerahkan sebuah nomor telepon pada secarik kertas.

Riko mengangguk. Nasihat itu sudah sering ia dengar, meski saran untuk menghubungi sang ibu, baru sekali ini. “Aku akan baik-baik saja, Ayah.”

Dengan sekali kecupan di dahi sang anak, Udin pun bergegas pergi, tanpa membawa seragam kapten kapalnya. Dan hari ini, ia tak akan pulang dengan sejumlah oleh-oleh dari pelabuhan. Entah berapa lama. Mungkin, untuk beberapa hari, sebagaimana kapten kapal sungguhan. Atau bisa jadi selamanya, sebagaimana pelayar sejati yang gugur di tengah laut.

Posting Komentar