Senin, 08 Juli 2019

Tentang Laki-Laki

Barangkali, Tuhan menciptakan dirimu bukan untuk dirimu sendiri, tetapi untuk diriku saja. Selama ini, kau hidup bukan untuk mendapatkan segala yang kau inginkan, tetapi memberikan segala yang aku butuhkan. Kau bahkan rela mengorbankan kebaikan yang harusnya menjadi hakmu, dan merasa berkewajiban untuk melimpahkannya kepadaku.
 
Kita memang lahir dari rahim yang sama. Namun kenyataan itu tidak seharusnya membuatmu lebih peduli padaku ketimbang dirimu sendiri. Bagaimana pun, kita adalah dua sosok lelaki yang punya kepentingan masing-masing, dan sesekali malah bertentangan. Karena itu, kau semestinya memperjuangkan cita-cita untuk dirimu sendiri, begitu pun aku.

Sampai saat ini, aku sendiri tak memahami pandanganmu tentang kita. Apalagi kita tidak pernah membahas arti persaudaraan secara terbuka. Secara alamiah, kita menerima takdir sebagai kakak-adik begitu saja, meskipun kau terkesan menyayangiku secara berlebihan, sedang aku menghormatimu dengan biasa saja, dan itulah yang membuatku bertanya-tanya.

Mungkin karena aku adalah bungsu terhadap kau yang sulung, aku jadi tak mengerti bagaimana rasanya bertanggung jawab atas seorang adik. Aku pun jadi tak mengerti bagaimana perasaan cinta seorang kakak kepada adiknya. Namun aku memahami bahwa seorang adik tak terlalu memedulikan kakaknya yang ia rasa lebih dewasa dan lebih bisa menjaga diri. Entahlah.

Yang pasti, aku menilai pengorbananmu sudah berlebihan untukku, dan aku tak tahu bagaimana cara membalasnya. Paling tidak, kau telah mengorbankan masa depanmu untukku. Kau rela menguburkan impianmu untuk menjadi seorang arsitek seperti yang kau idam-idamkan, lalu mengupayakan agar aku menjadi seorang dokter seperti yang kuidam-idamkan.

Atas niat baikmu itu, kau pun rela untuk tidak melanjutkan pendidikan ke bangku sekolah menengah atas, dan tetap tinggal di kampung untuk membantu ayah mengurus kebun kakao. Kau rela memeras peluh untuk mencari biaya penghidupanku di kota, sembari menjaga ayah dan ibu supaya aku tak perlu merisaukan apa-apa selain fokus mengejar cita-citaku sendiri.

Perekonomian keluarga kita memang sangat pas-pasan, dan kau ingin agar aku tak terperangkap dalam kemiskinan yang menyedihkan. Aku yakin, kau pun masih mengingat peristiwa dahulu, ketika setengah karung biji kakao kering hilang di bawah kolong rumah, dan kau lantas mendapatkan hardikan yang keras dari ayah, meski itu bukan salahmu.

Sedang di sisi lain, sebagai bungu, aku malah lebih sering dimanja dan dibela. Aku tentu masih menginggat peristiwa-peristiwa kecil ketika kau mengizinkan aku beristirahat setiap kali aku gusar mengurus kebun. Juga ketika Ayah marah atas kenakalanku yang terlalu, kau selalu menjadi tameng yang ampuh.

Untuk segenap kebaikan yang telah kau lakukan untukku, sampai saat ini, aku tak pernah sekali pun mengucapkan terima kasih kepadamu. Bukan berarti aku tak hendak mengucapkannya, tetapi aku yakin, sebagai sesama lelaki, kau tak pernah mengharapkan ucapan formal semacam itu dariku, sebagaimana kau yang tak pernah mengucapkan kata sayang untukku.

Namun kurasa, kepulanganku kali ini, sudah sedikit melunasi utang terima kasihku padamu dalam bentuk tindakan. Setidaknya, aku telah menghabiskan waktu liburku selama dua minggu untuk membantumu mengurus kebun kakao peninggalan ayah. Aku telah sedikit membantumu mencari biaya untuk urusan pendidikanku sendiri.

Dan hari ini, aku akan kembali meninggalkanmu di sini. Aku akan kembali ke kota untuk melanjutkan pendidikanku di bangku kuliah, sebagaimana yang kau inginkan. Katamu, aku harus sekolah tinggi-tinggi demi dirimu yang hanya tamatan sekolah menengah pertama. Katamu, keberhasilanku adalah keberhasilanmu juga.

“Ini hasil panen kakao. Ambillah untuk bekalmu di kota,” pintamu, dengan sikap yang tenang.

Diam-diam, perasaanku terenyuh. “Kurasa ini terlalu banyak. Ambillah separuhnya untuk kepentingan Kakak sendiri,” balasku, sembari menyodorkan kembali sejumlah uang yang kau berikan untukku.

Kau lantas menggenggam kepalan tanganku, seolah memaksa agar aku menerima seluruh uang pemberianmu. “Jangan mengkhawatirkan aku. Tanah kampung sudah cukup menghidupi untukku,” katamu, lalu tersenyum singkat. “Kau lebih membutuhkan ini. Terimalah!”

Dengan rasa haru di dalam hati, akhirnya, kuterimalah uang hasil kerja kerasmu, sembari bertekad untuk membalas kebaikanmu suatu saat nanti, juga berdoa agar Tuhan senantiasa melimpahkan kebaikan untukmu. 

Sesaat kemudian, aku pun beranjak meninggalkanmu di bawah kolong rumah panggung kita yang sederhana dan penuh kenangan. Aku meninggalkanmu tanpa pelukan dan tangisan. Hanya ada salam dan jabat tangan sebagaimana kebiasaan kita selama ini. Sebuah prosesi sederhana yang ampuh membuat perasaan kita lebih sanggup untuk saling berpisah.

Namun akhirnya, di atas roda-roda yang terus menjauh darimu, aku tak kuasa juga membendung air mataku. Seketika, aku pun menangis haru atas semua kebaikanmu padaku, juga atas semua kesalahanku padamu, termasuk soal setengah karung biji kakao kering yang hilang di bawah kolong rumah kita dahulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar