Senin, 08 Juli 2019

Penggenggam Rahasia

Aku hidup dengan rahasia yang mungkin akan kusimpan sepanjang hidupku. Sebuah rahasia tentang seorang sahabat baikku sendiri. Rahasia tentang rahasia hatinya yang terdalam. Sebuah kepercayaan yang hanya diketahui olehku sebagai teman baiknya, dan aku punya tanggung jawab untuk tidak mengungkapkannya kepada orang yang lain.
 
Rahasia yang kugenggam tentang dirinya bukanlah perihal yang memalukan, tetapi perihal yang mengharukan. Satu rahasia tentang kata hatinya yang tak sampai kepada sang gadis pujaan, kepadamu, hingga akhirnya ia meninggal saat masih di tengah perjuangan untuk mewujudkan cintanya. Sebuah rahasia yang menyentuh hati setiap perjuang dan pencinta rahasia, termasuk diriku sendiri.

Aku tahu jelas, lima tahun yang lalu, ia pergi ke kota seberang untuk mencari penghidupan yang menjamin. Aku tahu ia mempertaruhkan segalanya demi menyongsong kehidupan masa depan bersamamu. Aku tahu, ia berusaha menjadi orang berada demi menyatakan mimpinya untuk menikah denganmu, sebab ia paham kalau dalam kehidupan yang sangat materialistis ini, tak ada artinya cinta tanpa harta-benda.

Pemahamannya soal perwujudan cinta yang mensyaratkan ini-itu, tidaklah lahir dari ketakutannya saja, tetapi lahir dari sebuah pengalaman yang memilukan. Seminggu sebelum perantauannya ke pulau seberang, aku dan dia sempat menemui ayahmu untuk menyampaikan maksud hatinya, tetapi ia malah mendapatkan penolakan mentah-mentah, layaknya pengemis. Dan sejak saat itu, ia memutuskan pergi untuk kembali sebagai konglomerat.

Hingga saat ini, kau yang menjadi cinta rahasianya, kuyakin, sama sekali tidak tahu-menahu tentang rahasia yang kugenggam tentangnya. Bahkan bisa kupastikan bahwa kau tak sedikit pun menduga bahwa ia menyimpan rahasia hatinya terhadapmu. Itu karena ia sungguh seorang lelaki yang teguh menjaga kesucian cintanya, sebagaimana teguhnya aku menjaga kesucian cintaku sendiri.

Sampai akhirnya, datanglah hari ketika kau mempertanyakan rahasia yang kupendam di dalam hatiku. Kau ingin mengetahui rahasia hatiku sendiri, bukan rahasia yang kupendam atas rahasia hatinya:

“Apa yang kau cari dariku?” tanyamu, sambil menatap hamparan danau, lalu menunduk dan memain-mainkan jari.

Aku lekas menelisik tanpa dugaan apa-apa, “Maksudmu?”

“Aku hanya bertanya-tanya tentang alasanmu sampai betah menghabiskan waktu-waktu bersamaku di antara banyak perempuan yang barangkali lebih menyenangkan untukmu.” Kau lantas menjeda sejenak, lalu menelan ludah yang tertahan di tenggorokanmu. “Aku ingin mengetahui perasaanmu padaku.”

Seketika, aku jadi kelimpungan, tetapi lekas menuturkan jawaban yang bermakna biasa, “Tentu saja aku senang bersamamu. Kau perempuan yang menyenangkan.”

“Apa sekadar begitu?”

“Ya, apa lagi?”

Kau pun menunduk, lantas bertanya pelan, “Tak maukah kau menikah denganku?”

Sontak, aku terkesiap. Aku seolah-olah baru saja dibenamkan di dalam salju, lantas dibuang ke dalam api yang berkobar.

Hening beberapa saat.

Kau lalu menatapku sayup, seolah menagih jawaban.

Atas kebimbanganku sendiri, kuputuskanlah untuk balik bertanya, “Apa yang kau harapkan dari seorang lelaki sepertiku?”

“Aku tak mengharapkan apa-apa selain dirimu.”

“Tapi kita bicara soal pernikahan. Kita bicara soal masa depan. Dan kau tahu, aku belum memiliki apa-apa untuk membahagiakan dirimu.”

“Kita bisa mengurusnya bersama setelah kita menikah.”

“Tapi bagaimana dengan orang tuamu?”

Seketika, mulutmu tersekat.

Hening lagi beberapa saat. Kita seolah sama-sama kebingungan meramu pertanyaan dan jawaban lebih lanjut.

“Aku tak pernah menyalahkan dirimu karena telah mengatakan itu. Kau pun tak semestinya menyalahkan dirimu sendiri. Aku hanya menyalahkan diriku yang belum pantas untukmu, dan aku butuh waktu untuk memantaskan diri,” pungkasku kemudian, sebelum akhirnya pergi meninggalkanmu tanpa kepastian dan janji apa-apa.

Setelah saat itu, aku pun beranjak ke kota perjuangan sahabat baikku yang meninggal sembari menggenggam rahasia hatinya untukmu. Aku beranjak beserta niat besar untuk kembali dan menemui ayahmu jika takdir mautku tak mendahului takdir jodohku, sebagaimana tekadnya. Aku beranjak dengan kesadaran sebagai lelaki kedua yang menjadi pejuang cinta rahasia untukmu, dan aku ingin berjuang sesemangat perjuangan sang pejuang pertama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar