Senin, 08 Juli 2019

Lukisan Pantai

Lagi-lagi, aku kembali tenggelam ke dalam pesona laut kenanganku kala senja. Sejak tiga bulan lalu, aku kerap datang ke sini setiap kali rinduku membuncah kepadamu. Aku hanya akan duduk di pasir pantai, sembari menikmati bayang-bayangmu yang berserakan. Lalu ketika gelap menjelang, aku akan pulang dengan kehampaan yang tiada tara. 
 
Barangkali memang sebaiknya aku berhenti mencarimu di sela-sela kemungkinan. Sudah semestinya aku menyadari bahwa pada tiga bulan yang lalu, kau hanya hadir secara kebetulan di antara orang-orang yang datang mencari hiburan sesaat. Sudah seharusnya aku meyakini bahwa untuk selama-lamanya, kau tak akan hadir lagi di sini.

Namun dilematiknya, setiap kali aku terjatuh dalam keputusasaan, seketika pula aku berdiri demi harapan dan tak ingin mengalah pada perihal yang belum menjadi kenyataan. Aku merasa kaulah khayalan terbaik dan satu-satunya yang telah berhasil merangsang imajinasiku, dan aku harus mendapatkanmu demi masa depanku sebagai pelukis. 

Sejak menemukan dirimu, aku memang tak lagi menjadi diriku sendiri. Aku bangkit karena dirimu, dan aku terpuruk karena dirimu pula. Karena itu, setelah kepergianmu, aku tak berdaya lagi mencipta apa-apa, seolah-olah aku kehilangan inspirasi dan motivasi secara bersamaan. Aku jadi tak bersemangat lagi untuk melukis, dan aku jadi lupa bagaimana cara tepat untuk melukis.

Akhirnya, seperti sebelumnya, saat ini aku hanya duduk merenungi keadaanku sebagai seorang pelukis yang telah kehilangan gairah seni. Sedang orang-orang tengah khidmat melukis dengan cara mereka sendiri, aku hanya memandang kosong pada kanvas yang tak ternoda. Dan untuk kondisi yang ruwet ini, kadang aku berpikir untuk berhenti saja menjadi pelukis.

Tetapi nahasnya, di tengah kekosongan hidupku yang tanpa kesibukan, aku tak punya pelarian selain melukis. Aku seolah-olah dikutuk sebagai pelukis, dan tak bisa apa-apa selain menikmatinya. Aku seakan-akan dipaksa untuk menemukan dirimu yang telah tiada, meskipun kau hanya akan hadir dalam bentuk lukisan.

Dan akhirnya, untuk momentum kali ini, aku tak ingin pulang dengan kehampaan lagi. Demi membantu anak-anak berkebutuhan khusus, aku ingin menghasilkan karya yang bisa laku dan bernilai sumbangan. Setidaknya, untuk sore ini, aku harus memulai sebuah karya yang mesti kurampungkan sampai tiga sore ke depan.

Seiring dengan pertempuran hati, aku pun memulai misi. Aku kembali membayangkan detail wajahmu seperti yang pernah kucuri di pantai ini tiga bulan yang lalu. Lekas kemudian, aku pun melukiskan dirimu seperti yang pernah kulakukan dan berhasil menjelma sebagai sebuah lukisan yang telah terjual entah ke mana setelah aku tak kuasa lagi memandangnya setiap saat.

Beberapa waktu bergulat dengan imajinasi, aku akhirnya sanggup merampungkan setengah lukisan wajahmu. Tetapi kemudian, aku jadi ragu-ragu sendiri apakah mungkin kau hanya secantik apa yang kulukiskan ataukah lebih, seolah-olah aku ingin mencocokkan gambaran wajahmu di kepalaku dengan wajahmu saat ini.

Namun sore semakin larut, dan langit telah menyembunuyikan matahari. Untuk sementara, aku memutuskan untuk pulang dan akan melanjutkannya esok hari.

Perlahan-lahan, aku pun beranjak pulang dengan sedikit rasa tenang. Aku merasa mulai belajar melawan diriku sendiri. Aku merasa mulai masuk pada tahap pendamaian antara kenangan dan imajinasiku sendiri. Aku merasa mulai bisa memaknai harapan yang tandas sebagai perangsang imajinasi, bukan malah sebagai alasan pembunuh jiwa.

Namun seiring langkahku dengan harapan hidup yang baru, aku kembali harus mengoreksi anggapanku tentang arti harapan atas imajinasi. Entah bagaimana, tiba-tiba mataku melihatmu di sisi jalan pulang. Kau berdiri tenang di antara pelukis dan pengunjung yang lalu lalang, seolah tak menyadari kehadiranku. Hingga akhirnya, pada jarak terdekat, mata kita pun beradu.

“Sudah lama di sini?” tanyaku, dengan jantung yang berdegup kencang, seolah-olah itu adalah pertanyaan yang pantas, dan seolah-olah kita adalah dua orang yang pernah berkenalan secara resmi dan telah terlibat di dalam kebersamaan yang akrab.

Kau menatapku heran, seperti tak menyangka kalau aku akan lancang bertanya. “Aku panitia kegiatan,” jawabmu, begitu saja, dengan nada suara dan sorot mata yang berhasil menggetarkan hatiku.

Tanpa sanggup berkata-kata lagi, aku pun mengangguk-angguk kikuk, sembari memberikan isyarat pamit, lalu lekas berbalik badan dan menjauh sebelum kegugupan kembali menampakkan tingkahku yang konyol.

Lalu seketika juga, aku merasa sangat beruntung telah berhasil berbagi kata denganmu, meski dengan setengah mati. Jadi demi napasku sendiri, untuk hari-hari esok, aku akan kembali ke pantai ini dengan semangat hidup yang berkobar, meski dengan kewaspadaan untuk tetap menjaga jarak darimu agar aku bisa mencuri tampakanmu dari sisi yang tidak kau duga-duga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar