Senin, 08 Juli 2019

Seorang Bisu

Sungguh malang nasib Rinto. Ia hidup dalam kondisi luar biasa. Ia seorang yang tuli dan bisu. Menurut cerita, ia terjatuh dari loteng rumah panggungnya saat berumur lima tahun. Bokongnya mendarat dari ketinggian sekitar delapan meter. Seketika, ia kehilangan kemampuan mendengar dan berbicara. 
 
Atas ketunaannya, Rinto akhirnya menjalani kehidupan yang keras. Ia harus menanggung beban atas ketidaknormalan yang tak pernah juga ia inginkan. Tidak tanggung-tanggung, orang tuanya pun memperlakukan dirinya secara buruk. Ia diperlakukan bukan sebagaimana anggota keluarga. Ia diperlakukan sebagai pesuruh kala kedua adiknya diperlakukan sebagai pangeran. 

Betapa kehidupan memang tak berpihak pada Rinto. Ia sengsara kerena keadaan dirinya yang tidak biasa. Padahal, jika saja ia memiliki kondisi diri yang normal, dan ia memiliki orang tua yang peduli, aku yakin ia akan menjadi orang yang hebat, semacam arsitek atau kartunis. Setidaknya, itu karena ia punya bakat menggambar yang sangat luar biasa sedari kecil.

Masih teringat ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Setiap kali jam istirahat, aku dan anak-anak yang lain akan menghampiri Rinto yang mengurus seekor sapi di belakang sekolah. Kami lantas memintanya menggambar apa saja. Lalu, dalam waktu yang singkat, ia akan menyelesaikan gambar pesanan kami dalam bentuk yang kasar.

Namun akhirnya, karena keadaan, bakat luar biasa tak membuat Rinto memiliki cita-cita seperti orang yang lain. Ia tak pernah sekolah, dan mungkin tak penah tahu tentang cita-cita. Usia sekolahnya berlalu hanya untuk mengurus ternak dan kebun, dan barangkali ia hanya peduli soal urusan perut dan perintah kerja dari ayahnya.

Demi mewujudkan kesenangannya sendiri di tengah kehidupan yang menyengsarakan, Rinto akhirnya terbentuk menjadi pribadi yang licik. Untuk mendapatkan perihal sekunder yang ia batuhkan dan tak mungkin bisa ia peroleh dari orang tuanya, akan ia usahakan dengan jalan mencuri, khususnya di rumah-rumah kosong.

Namun uniknya, ia bukanlah seorang pencuri yang serakah. Setiap kali beraksi, ia hanya akan mengambil barang bernilai sederhana yang seolah-olah ia dapatkan sebagai pemberian orang lain atau sebagai barang tak bertuan, semisal alat tulis, korek, rokok, dan baterai. Ia sama sekali tak tertarik mencuri barang bernilai dan berukuran besar semacam televisi atau motor, juga hasil tani seperti cokelat, cengkeh, atau merica, sebab asal usulnya akan dipertanyakan para warga.

Atas perilaku Rinto, segenap warga pun jadi kehilangan simpati kepadanya. Jika dahulu Rinto sesekali mendapatkan belas kasih dari para warga, sembari sesekali menjadikannya bahan olok-olokan –karena mereka yakin Rinto tak tahu dan tak mengerti-, maka saat ini, Rinto menjadi bahan pergunjingan yang memancing kekesalan dan kemarahan warga. 

Namun dilematiknya, Rinto bukanlah anak polos yang mudah mengakui kejahatannya. Setiap kali diinterogasi para warga, ia akan menggeleng yakin, meskipun segenap warga tahu dan yakin bahwa Rinto adalah pelaku dari hilangnya barang-barang kecil milik warga. Sampai akhirnya, para warga pasrah dan lebih memilih memperbaiki kuncian rumahnya ketimbang memperkarakan Rinto.

Meski Rinto tak juga jera dan tetap bertingkah biasa di tengah kampung, tetapi yang pasti, ia telah menjadi seseorang yang paling tidak dipercaya para warga. Setiap kali ada kasus penucurian, maka pikiran warga otomatis akan tertuju kepadanya sebagai pelaku, seolah-olah ia adalah satu-satunya pencuri di muka bumi.

Hingga akhirnya, terjadilah peritiwa pencurian dengan nilai kehilangan yang terbilang besar. Rumah seorang warga yang kosong disatroni maling, dan ia kehilangan sekarung cengkeh, sejumlah uang, dan juga beberapa gram emas. Maka tanpa perlu pikir panjang, warga desa pun menuding Rinto sebagai pelaku, dan ia pun kembali diinterogasi, lebih keras dari sebelumnya.

Namun lagi-lagi, Rinto menggeleng yakin menangggapi tudingan para warga dengan bahasa isyarat yang berbeda-beda. Ia mengelak keras kalau dituduh sebagai pembobol sebuah rumah warga yang menyendiri di tengah tanjakan. Bahkan ketika Ayahnya bertanya garang sembari sesekali menepak kepalanya, Rinto masih saja menyangkal.

Setelah para warga kelelahan dan kehabisan cara, Rinto pun menguraikan kesaksiannya. Dengan bahasa isyarat, ia mengaku tahu siapa pelakunya. Ia mengaku melihat dua orang pelaku dengan ciri-ciri yang berusaha ia gambarkan sedetail mungkin. Namun para warga yang tetap meyakininya sebagai pelaku, hanya menganggap Rinto sedang mengarang-ngarang.

Sampai akhinya, seorang warga berinisiatif memberikan kertas dan alat tulis kepada Rinto, sembari memerintahkan agar ia menggambar kedua pelaku menurut versinya. Tanpa keraguan, Rinto pun menyanggupi. Maka untuk sementara, para warga yang sedari tadi menuding Rinto sebagai pelaku, terpaksa menahan kekesalan, sembari menunggu Rinto menyelesaikan gambarnya. 

Tak sampai satu jam, Rinto akhirnya berhasil melukis gambaran kedua terduga pelaku yang ia maksud. Para warga pun serentak berkerumun dan menebak-nebak siapa sosok yang mirip dengan hasil lukisan Rinto. Namun akhirnya, tak ada seorang pun warga yang mengaku memiliki bayangan pasti tentang siapa pemilik rupa yang berhasil digambarkan Rinto.

Peradilan kampung akhirnya ditempuh. Para tetua mengambil keputusan. Demi keamanan warga, Rinto pun diminta untuk keluar dari kampung. Atas keputusan itu, semua warga yang hadir, tampak menerima. Bahkan orang tua dan saudara Rinto pun tak mengucapkan kata-kata penolakan. Mereka menerima begitu saja.

Setelah persiapan diri yang berlangsung cepat, Rinto akhirnya beranjak ke kampung neneknya.

Sesaat kemudian, aku pun teringat kejadian pagi tadi. Saat itu, aku berpapasan dengan Rinto yang tengah menapaki tanjakan perkebunan untuk mencari pakan kambing. Kemudian setelahnya, aku pun sempat melihat dua orang lelaki yang juga sedang menanjak dengan menyimpang dari jalan setapak.

Kini, aku pun jadi berpikir-pikir, barangkali Rinto benar, atau ia malah sudah berani menuduh orang lain. Entahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar