Senin, 31 Agustus 2026

Ujung Kembara

Teruntuk adamu, aku menjadi bisu
Kata-kata kehilangan makna, dan aku mencetuskan bahasa sendiri
Dengan gerak tangan dan kaki, dengan pasang telinga, dengan segala irama tubuhku
Membuka tutup botol air minummu, menurunkan pijakan kaki sepeda motor untukmu, berbagi lagu melankolis pilihanku bersamamu, dan segala yang mungkin kau butuh untuk nyaman sampai tujuan
Lalu kita menjurus ke segala penjuru dengan isyarat diam yang multitafsir
Sampai kau kesulitan mengeja detak jantung dan desau napasku di tengah desir bising udara
Sampai kau menuntut maksud dari mulutku yang semampunya mengumamkan kilahan yang menyesatkan
Sebab tutur kata hanya kiasan tak berguna bagi niatku yang senantiasa berupa raga yang mengawanimu sepatutnya
Berupa keheningan yang mengundang seseorang mencurimu dari punggungku dengan gombalan murahan yang bagimu jawaban keresahan
Yang bagi diriku mewujud kecemburuan yang membuat tubuhku lumpuh kehilangan cakap, dan lidahku mesti belajar kembali membicarakan rasa
Kembali berlatih keras memuisikan kata untuk membangun gudang kenangan dari rintihan patah hati dan seruan doaku yang tak putus-putus
Dari sisa harapanku semoga kehidupan berakhir cepat dan baik, dan aku mendapatkanmu sebagai bidadari balasan atas tekad muliaku meredam sanubari
Sebagai satu-satunya jalan untuk berhenti menyaksikan dirimu bahagia dengan seseorang yang sanggup melayangkanmu ke mana saja, dengan sambutan karpet merah, dengan segala rasa minuman, dengan pilihan lagu yang bebas



Ingin Hidup Kembali

Pada antah-berantah
Di dalam balai sederhana yang tumbuh asing di tengah padang
Makhluk bersayap menari dan bernyanyi mengantarkan pagi yang dingin
Mengembuskan gigil dari kisi-kisi jendela atau sela-sela dinding kayu
Menimpakan kesenangan untuk bermalas-malasan di dalam selimut
Menanti bumi menghangat untuk membangun kebun dan ternak
Menghidupkan hidup dari kehidupan yang dipersembahkan alam

Pada nyata impian
Di dalam ruang yang tersesak sekat-sekat beton yang berbaris dan menumpuk
Alarm mengoceh lagi pada rentang menit yang kesekian setelah kesekian
Memperingatkan untuk mematikan pendingin ruangan yang bekerja semalaman
Menuntut perjuangan untuk bangkit dari kasur dan mengalahkan godaan kantuk
Menagih segera untuk bergumul dalam sesak asap dan kemacetan
Memperkaya manusia tamak yang telah menggajimu seadanya

Selama hari-hari
Kau merutuki keberadaan dirimu dalam perangkap kutukan kota
Mengulang kemarin untuk esok saat anganmu dalam hampa waktu
Pada alam imajinasi yang kau bangun dari cerita dongeng atau kitab suci
Karena batinmu selalu ingin kembali pada kehidupan leluhur yang dahulu sekali
Saat kedamaian bisa engkau dapatkan tanpa menggadaikan nilai sebagai manusia


Minggu, 30 Agustus 2026

Dunia Malam

Gelap dan sunyi
Hambar dan kesepian
Kutilik dan kucuri lagi awur polahmu yang lugu
Kurekam dan kususun ulang dalam semesta imajiku
Perlahan lepas kendali, lantas mengulur tanpa kerangka
Tanpa arah panduan skenario atau tuntunan sutradara
Terangkai saja sinema yang misterius dan menegangkan
Tentang kita yang bersikap dengan kehendak sendiri
Saat kita bersinggungan dalam belantara  kesesatan
Saat kita sama-sama terbuang dan mencari tempat berarti
Saat kita sama-sama ketakutan dan mencari persembunyian aman
Saat kau bertandang ke dalam bilik perlindunganku dan merasa tenang di sisiku
Saat kau memasrahkan dirimu ke dalam pelukanku dan mengandalkan diriku sepenuhnya
Sampai aku jadi diriku yang sesungguhnya, yang mengharapkan kehadiranmu sekian lama
Sampai timbul kekhawatiran batinku kalau-kalau aku menggila dan mencelakaimu
Sampai aku ingin mati saja sebelum mengganas dan menyakitimu
Sampai aku berharap kau segera sadar dan lenyap dari pengindaraanku
Tetapi nafsuku telanjur merajai untuk menunaikan adegan yang kuangankan
Aku kalah dan merangkulmu, membekapku, menghantanmu, melumatmu, menamatkanmu
Hingga aku tersadar dengan penyesalan dan sejumlah kerepotan
Hingga aku merasa tenang sebab semua tidak benar-benar terjadi

Terhadap dirimu, aku tak tahu pada mana diriku yang sebenarnya; di dalam alam sadarku, atau di bawah alam sadarku
Sebab sepanjang kedewasaan, aku hanya anak adam yang terus berjuang meredam naluri buas binatang di dalam diriku
Jadi kuminta, waspadalah pada jarak yang aman sebelum kedekatan membuatku hilang kewarasan dan menerkammu


Jumat, 28 Agustus 2026

Yang Maha

Kita berbatas
Upaya cuma percobaan
Doa sekadar permohonan
Ikhtiar hanya kemungkinan
Demi hidup semua diri

Kita rakus
Ingin menjadi segalanya
Untuk memiliki semuanya
Tanpa berbagi selayaknya
Demi nikmat seorang diri

Kita lupa
Dunia punya takaran
Hidup dalam kebercukupan
Lalu nafsu berkekurangan
Merasa pantas jadi pengadil


Kamis, 27 Agustus 2026

Teruntuk Kalian

Lama terlelap suasana
Antara kita yang terselubung
Hangat menawar, menjadi dingin
Melindapkan rencana yang sempurna
Melenyapkan cahaya bahagia
Sebelum rasa terkata

Dalam beku dan buta
Bunga api liar menjalar
Ke taman asa, sampai habis
Kelam rahasiaku, dan terang jalanmu
Kobar asmaramu, dan hangus kecewaku
Setelah mentari membuyarkan mimpi

Masa tenang telah tiba
Damai terpancar selepas hujan
Pada haru mataku, juga cerah langitmu
Terangkai pelangi citaku pada nyata cintamu
Setelah dirinya mewujudkan rencanaku
Untuk dirimu, begitulah sebaiknya


Rabu, 26 Agustus 2026

Kita setelah Mereka

Kembali bencana berkali petaka
Menggila tragedi bangsa pelupa
Selama negara dalam durjana
Selamanya buana gelimang duka
Mencipta kasta papa yang lara
Beserta saf ulama yang kecewa
Juga para cendekia yang terjaga
Satu armada menerjang cuaca
Dipandu nakhoda atas nama cita
Dipercaya katanya sesama hamba
Seturut citra maya media berita
Menjadi duta tanpa ada curiga
Sampai ganda siklus masa bahala
Sebab manis bahasa, berdua muka
Berlawan karena dengki semata
Berpura menista kuasa yang dusta
Memenjara raga penjarah dana
Mengganti mereka mencuri laba
Menimbun harta, mengumbar angka
Membungkam massa dengan senjata
Sampai gana mafia memicu sengketa
Sampai nyawa suaka dan membahaya
Sampai masanya melawan sang raja
Mengerahkan tipu daya segala gaya
Menjaja surga dalam pesta yang hina
Merebut tahta dan mengulang bala
Hingga cua sukma kita terlenyap asa
Sisa berdoa untuk tobatnya penguasa
Atau menerima saja cara dunia bekerja
Dengan pasrah pada durhaka manusia
Bahwa adikara punya pencinta angkara
Agar ada beda antara dosa dan pahala
Agar bermakna membela yang menderita
Agar berarti surga sebagai imbalan Yang Maha
Atau lagi, kita bersepakat mencoba
Meniti peta gerakan nurani yang terencana
Menjadi bijaksana sebelum bersinggasana
Berbudi mulia sebelum memikul dunia
Terbiasa berpuasa sebelum berkuasa
Tetapi, apa masih tersisa percaya di antara kita?
Atau kita masih akan saling curiga perihal siapa di antara kita yang akan berhasil mengkhianati selainnya?


Minggu, 23 Agustus 2026

Untuk Hidup Sehari Lagi

Buram nalarmu, dan ingin menggelapkan semua
Melihat tali, racun, pisau, dan mulai menimbang rencana
Tetapi khawatir juga kesialan menggantung tanggung nasibmu
Melenyapkan daya untuk selamanya meratapi ketidakbergunaan
Hingga kau menyusup lewat jendela, untuk terjun, hancur, dan sirna
Membebaskan diri dari kemalangan dunia yang sambung-menyambung
Perihal cita yang merana, cinta yang sungkawa, dan citra yang nista
Melahap kesabaran untuk bertahan mengharapkan perubahan
Namun ragu mempertanyakan lagi detik mendatang untuk sekali lagi
Merenungkan takdir yang tersangkal, yang barangkali menuju bahagia
Seiring kembali juga ketakutan merongrong dari pelajaran masa kecilmu
Mengancamkan siksa jahanam dengan pedih yang sepedih-pedihnya
Lalu kau terombang di antara kesangsian dan kenekatan
Menyadari kalau semua akan berakhir jua tanpa harus engkau akhiri
Sampai kekacauan itu mengacaukanmu dengan pilihan dari pilihanmu
Menggoyahkan tegapmu, tergelincir, jatuh, dengan keinsafan yang kembali
Tepat pada pembaringan kamarmu, saat kau teringat lagi pada semua yang berkorban untukmu
Menguatkan batinmu untuk memperjuangkan hidup sehari lagi, dan lagi


Sabtu, 22 Agustus 2026

Larut dan Terurai

Berangkat dari sahaja
Terambang ambisi dan apati
Sepanjang bantaran kita berdansa
Di atas tanah berpasir atau lumpur berkerikil
Bertatak belukar dan berpayung pepohonan
Dengan gemercik arus dan gemerisik dedaunan
Diiringi padu tarian burung dan jogetan ikan
Yang begitu nikmat dengan cara sederhana
Sebab kita meninggikan berkat yang lahir
Tanpa merendahkan rahmat yang jatuh
Sampai terpisah angan tentang pesta
Karena kau benci hujan dan aku benci terik
Karena kau takut ombak membawa kita pulang
Sedang aku takut kobar menghanguskan kita
Lalu sendiri, kau menyimpang ke bukit
Setelah tengadahmu menjurus ke puncak
Saat segala tanya menggodamu mendaki
Tinggi, dan makin tinggi, menuju langit
Sampai hilang dalam impian masa depan
Ketika aku masih sejauh ujung jalan yang sama
Pada terakhir kita dalam alam ugahari
Dengan sendiri meresapi yang lalu
Sebelum terhanyut lagi dengan tenang
Kembali, dan terus kembali, dalam samudra kenangan
Tenggelam berulang sampai dasar palung cerita
Terkubur dengan sepenuh kisah dari sepenggal kisahmu


Senin, 17 Agustus 2026

Esa Juang

Duka luka dalam sejarah
Dari bengis musuh yang merata
Telah membawa nasib menuju takdir
Pada kesatuan derita dalam perlawanan

Lalu merdeka memperdaya
Kita sama mencari perbedaan
Atas ketidakadilan atau kecurigaan
Menjadi sebab menentukan nasib sendiri

Kita lantas melemah
Sendiri-sendiri dalam ikatan lepas
Mencipta kacung, raja kecil, hingga pemberontak
Membebaskan selatan, merenggangkan timur, barat, dan utara

Entah bagaimana garis tangan kita
Adakah alasan selamanya untuk kita teguh memegang janji persatuan?
Mungkinkah keadaan membaik untuk kita saling merangkul dalam perjuangan?
Atau kita hanya bertahan untuk saling menggenggam dalam kerapuhan?


Minggu, 16 Agustus 2026

Sejak Semula

Akan berbiak kepedihan
Bertumbuh dari luka yang basah
Terlahir dari dendam yang mengakar
Dari kita yang membenihkan kemalangan
Dalam pergumulan yang bersimbah peluh
Selama kebersamaan yang kerontang
Setelah kita mengikat kesetiaan yang rapuh
Demi menenangkan perasaan yang labil
Dengan pikiran yang kabur terbekap nafsu
Akibat sihir perjumpaan yang tidak terencana
Selepas terusir dari persinggahan yang kacau
Atau terbuang dari rumah yang porak-poranda
Karena kita terlahir tanpa bisa memilih tempat
Sebab kita ada tanpa bisa menjadi tidak pernah ada

Pada kelak, entah di mana salahnya setelah penderitaan yang mewariskan penderitaan itu
Apakah pada kelahiran, pertemuan, atau kebersamaan kita?
Atau pada kelalaian kita karena memperturut kenikmatan semu yang membuat kita abai menentukan waktu yang tepat untuk berhenti menjadi kita?

Tetapi semasih kini, saat riwayat itu belum sempurna, akankah kita mampu tercerai menjadi kami dan kalian demi mereka-mereka yang tidak berhak menanggung penderitaan karena kita?
Atau kita sanggup untuk selamanya tidak menjadi kita, lalu mati dengan penderitaan sendiri-sendiri?


Jumat, 14 Agustus 2026

Makna Kedua

Termakan khayal gelap layar
Terkembang alur dalam kepala
Memandu mungkin yang bisa
Meracuni ragu sebanyak kali
Membanjir asa di semak jarak
Bertumbuh subur sejauh bulan
Agustus luka yang ranggas bunga
Terbayar impas sekian pukul
Satu malam saat tubuh rapat
Membicarakan yang tak tahu

Rabu, 12 Agustus 2026

Sebuah Pernyataan

Ah, kutilik lagi keajaiban itu
Sendiri, dalam genggaman dunia
Sebelum kebosanan menjeda hasratku

Ya, akan begitu akhirnya
Tanpa belahan hati untuk memuja
Segala keindahan terasa menjemukan

Oh, andai kamu di sini
Kutatap kesempurnaan itu selamanya
Dalam matamu, seutuh dunia dalam semestaku