Senin, 07 September 2026

Sampai Jumpa Lagi

Sejak semula
Telah kutabur bibit harapan
Kucuri dari sekuntum wajahmu yang menawan
Dari peristiwa yang engkau abaikan
Pada lahan tanpa nama

Di mana kamu?
Semoga bertumbuh baik dan bahagia
Sebagai bunga matahari yang menari-menyinari hari-hari yang berduri

Pada malam ini
Dalam tenang gelap
Dari arah yang tak terbaca
Saat lelap memungkinkan semua
Kupasrah niat kepada penguasa taman
Untuk menemukanmu kembali di dalam mimpi
Bersemi, harum, dan menyenangkan
Untuk kubiarkan begitu saja
Untuk berharap berjumpa lagi
Seperti malam-malam yang lalu


Tafsir Warna

Agung angkasa
Kau datang dari cahaya
Putih hadirmu seperawan suci surgawi
Berdiam polos menuntut makna mengada
Serupa rona ketenteraman dipudar kejemuan
Hingga kau merebahkan diri pada kelam dunia
Terlentang bebas seperti kanvas yang pasrah
Menanti pelukis menerjemahkan tubuhmu
Menjadi hijau padang yang kelabu
Menjadi biru laut yang oranye
Menjadi cerah langit yang suram
Menjadi bening hujan yang keruh
Lalu berpendar pelangi setelahnya
Menyusun motif rasa di dalam hatimu
Dengan merah amarah, jingga curiga, kuning pening, hijau galau, biru cemburu, ungu mangu, dan nila gila
Atau berupa merah gairah, jingga bangga, kuning hening, hijau pukau, ungu melagu, dan nila menyala
Yang membuatmu berserah membasuh kekalutan dengan air mata setelah luapan keringat tak sanggup mendamaikan warna-warni itu di dalam hidupmu

Tiba akhirnya, gejolak mereda
Kau jadi lukisan yang tak terterjemah
Terbingkai dan berpulang menuju cahaya
Dengan putih kebaikan dan hitam keburukan
Dengan corak kelabu yang tak bisa kau takar sendiri

Setelah segalanya, apa kau menyesal pernah terlahir dan terluka? 
Atau kau bersyukur telah menuntaskan rasa penasaranmu untuk menemukan bahagia yang sementara? 


Minggu, 06 September 2026

Menjadi Sama

Sudah terlampau jauh
Aku letih mengejar khayalan
Dalam impian yang berulur cepat
Tak terserak makna untuk kusesapi
Kecuali pedihnya kecewa dan cemburu
Atas rentetan kegagalan dan ketertinggalan
Untuk harapan bijak demi ketenangan
Sekadar keinginan pada keadilan
Menjadi setara atau sewajarnya

Aku mendamba dunia yang dahulu
Saat hidup hanyalah tentang hidup
Menguntai napas langsung dari alam
Membarter untuk kenyamanan lebih
Tanpa daya uang untuk memperalat
Tanpa kasta kuasa untuk menindas

Kini, setelah keterlambatan telanjur
Pada kekacauan aku menuai penghiburan
Ketika nasib serasa melebur dalam kemalangan
Dengan pemadaman yang menidurkan
Dengan bencana yang meliburkan
Dengan wabah yang menganggurkan
Atau dengan kiamat yang mengugurkan


Pandangan Dunia

Mengembara di hamparan bumi
Bagi kami yang berguru pada alam
Atas kesabaran dan kemurahan buana
Untuk memperturut godaan tanya dunia
Perihal ilmu-ilmu yang dirahasiakan semesta 
Adalah permainan dan perlombaan semata
Dengan menungkup jangkrik atau mencongkel cacing
Dengan menangkup udang atau memanah ikan
Dengan menangkap capung atau mengetapel burung
Sampai kedewasaan membuat kami mengerti
Bahwa jagat raya menyembunyikan bakal kenikmatan yang melimpah
Sehingga kami mengarungi laut sejauh-jauhnya, menggali tanah sedalam-dalamnya, menjelajahi angkasa setinggi-tingginya

Alam kemudian berpindah pada kertas dan layar kaca
Menjelmakan bumi sebagai misteri jebakan yang mengancam
Menyulut ketakutan pada dunia nyata yang makin terlupa
Menggantungkan hidup pada hasil kerja mesin
Mengurung kalian dalam jerat bius permainan gawai 
Menumpuk pengetahuan imajinatif tanpa pengalaman hidup
Dengan gim kehidupan tanah, laut, dan udara
Yang membuat alam menjadi rumah segala makhluk selain kalian
Yang membuat samudra bebas dari kotoran, hutan bebas dari pembalakan, dan antariksa bebas dari polusi

Entah siapa yang lebih menghargai berkat alam di antara kita