Senin, 22 Juni 2026

Panggilan Sekolah

Pagi terasa kelam baginya. Sebuah kekacauan membawanya menyusuri masa yang lampau. Beserta perasaan yang berkecamuk, ia kembali memasuki gerbang sekolahnya dahulu. Banyak yang berubah pada rupa bangunan dan lingkungan itu, tetapi ingatannya tetap mengabadikan serangkaian peristiwa yang sama.

Sembari berupaya meredakan ketegangan hatinya, ia terus saja mengayun langkahnya untuk menemui seorang siswa setingkatnya dahulu. Tekadnya bulat untuk menunaikan penebusan, meski kenangan di dalam benaknya terus menggugah ragunya. Tubuhnya seolah terseret jiwanya yang setengah mati, demi tujuan yang entah bagaimana akhirnya.

Tetapi kemudian, kekalutan batin memaksanya mengambil jeda. Ia lalu melipir ke dalam toilet untuk menenangkan diri. Ia paham kalau emosi yang tidak terkendali, malah akan membuat rencananya kacau balau. Ia jelas butuh kekuatan mental untuk melumpuhkan momok di dalam memorinya, demi melancarkan aksinya.

Seketika pula, ia kembali merenungkan peristiwa memilukan yang terjadi kemarin. Setibanya di rumahnya, sepulang dari rumah sakit tempatnya bekerja, ia mendapati anaknya dengan kondisi yang mengenaskan. Sang anak hanya meringkuk murung di sofa setelah menjadi korban pengeroyokan teman sekolahnya. Pelipisnya lebam, dan bibirnya bonyok.

"Temanku dipalak bos preman yang kutahu untuk pesta miras gengnya di gubuk belakang sekolah. Aku minta uang itu dikembalikan, tetapi ia malah memukulku," terang sang putra yang duduk di kelas X, setelah ia bertanya dengan penuh keprihatinan.

"Kau melawan?" selidiknya, begitu penasaran.

Sambil mengusap-usap pelipisnya, sang anak mengangguk lemas. "Aku menghantam hidungnya sampai berdarah, lalu menendang perutnya sampai terjungkal. Tetapi dua orang temannya segera membantunya mengeroyokku."

Mendengar keterangan itu, ia ikut duduk di sofa, lalu menepuk-nepuk pundak sang anak. "Aku bangga padamu, Nak. Kau berani melawan dan mempertahankan harga dirimu sebagai lelaki. Bagaimanapun akhirnya, kaulah pemenangnya. Lelaki yang bertarung dengan keroyokan, adalah penakut yang kalah sedari awal."

Mendengar pujiannya tersebut, sang anak malah tampak malas memperpanjang cerita, dan memilih beralih memainkan ponselnya.

"Tetapi setelah apa yang terjadi, kukira, kau mesti turut saran Ayah untuk ikut organisasi karate, agar kau lebih andal dalam membela diri, seperti Ayah semasa sekolah," pesannya, seturut dengan kisah yang senantiasa ia ceritakan kepada sang anak, bahwa dahulu ia adalah jagoan sekolah yang tak terkalahkan.

Sang anak malah mendengus dan menggeleng-geleng. Ia lalu menoleh gusar dan merespons kesal, "Sudahlah, Ayah. Aku sudah tahu kalau dahulu, selama sekolah, Ayah hanyalah seolah pecundang."

"Maksudmu?" sergahnya, terheran.

"Aku sudah tahu semuanya dari Pak Gugun, Wakil Kepala Sekolah. Katanya, dahulu, Ayah hanya seorang kacung penakut di sekolah," terang sang anak.

Ia sontak kikuk. "Di mana kau dengar dia bilang begitu?"

Sang anak menjelaskan dengan raut lesu, "Setelah perkelahian, kami yang terlibat dipanggil ke ruangannya. Dia pun menceritakan soal Ayah, dan aku jadi bahan tertawaan orang-orang."

Ia bergeming. Tak kuasa menyanggah.

"Dia lalu mewanti-wanti agar aku tak macam-macam lagi di sekolah. Dia meminta agar aku jadi anak baik seperti Ayah. Kalau tidak, aku bakal diperkarakan dan disanksi," sambung sang anak.

"Terserah apa katanya. Yang pasti, kau perlu tahu, kalau dia itu doyan membual," tanggapnya, membela diri.

Seolah bingung harus percaya siapa, sang anak kembali beralih fokus ke layar ponselnya, kemudian melanjutkan tuturan dengan sikap tak acuh, "Dia juga menyalahkanku atas perkelahian itu. Dia tidak percaya padaku setelah aku menjelaskan semuanya. Lalu, kata dia, kalau pun keteranganku benar, aku tetap salah karena ikut campur urusan orang lain. Karena itu pula, ia meminta agar aku tak bicara-bicara soal pesta miras geng itu, agar tak menodai nama baik sekolah. Tapi aku tahu, sikap dan keputusannya itu hanya untuk membela dan melindungi keponakannya yang tukang palak dan suka mabuk itu."

Seketika pula, ia memendam kekesalan kepada sang Wakil Kepala Sekolah (Wakasek).

"Karena aku yang divonis bersalah, ia meminta Ayah menghadap kepadanya di sekolah, besok," pungkas sang anak.

Ia mengangguk saja.

Akhirnya, setelah mendengar cerita anaknya, sampai saat ini, kekesalannya makin menumpuk menjadi kegeraman. Ia sungguh tidak terima sang anak yang mendaku berada di posisi yang benar sebagai pemberantas kezaliman, malah diperlakukan tidak adil. Ia jelas tak ingin sang anak mengalami penderitaan seperti yang ia rasakan semasa sekolah.

Kini, di dalam toilet sekolah, ia terus teringat kejadian yang menyesakkan dadanya. Serangkaian peristiwa yang telah lama ia kubur dan ia rahasiakan dari pengetahuan anaknya. Tetapi setelah perkara yang diceritakan putranya itu, kenangan perihal rentetan kasus memilukan semasa sekolah, akhirnya kembali mengacaukan pikiran dan perasaannya.

Dengan tayangan kejadian yang masih jenih di dalam memorinya, ia lalu meresapi adegan demi adegan pahit selama berada di sekolah menengah atas itu. Tak terhitung lagi berada kali ia mengalami aksi perundungan dari para siswa preman di sekolah. Disahuti dengan julukan mengejek, dijahili dengan beragam sentuhan fisik, ditimpuki dengan barang-barang, hingga disuruh menjadi kurir untuk membeli camilan di kantin; sudah menjadi penderitaan rutinnya.

Sesaat kemudian, ia kembali terkenang beberapa perlakuan yang cukup membuat kewarasannya mengeruh. Satu waktu, celananya pernah dilucuti para preman, lalu ia dikuncikan di dalam toilet perempuan, hingga ia harus menanggung malu setelah kawanan siswi mendapatinya. Pada lain waktu, ia dipaksa para bandit untuk mengisap tiga batang rokok secara bersamaan, hingga ia mengalami sakit batuk berhari-hari setelahnya. Bahkan pernah sekali waktu, saat praktik renang di sebuah permandian, ia ditunggangi dan dibenamkan ke dalam air oleh tiga orang berandal, sampai penghujung napasnya, hingga ia nyaris celaka.

Sekian lama berselang, ingatannya tertuju pada satu perlakuan buruk yang akibatnya begitu menyiksa perasaannya dalam waktu yang panjang. Pada satu momen jam istirahat, ia dipanggil dan diarahkan ke satu sudut gedung sekolah oleh seorang antek preman. Saat sampai pada kerumunan anggota geng, ia pun dirisak dan dipermainkan. Lalu, entah dengan maksud apa, sang pemimpin begundal menyemprot baju pramukanya dengan cat semprot berwarna merah muda. Ukuran memang hanya sebentuk tanda seru kecil di sisi samping kanan, tetapi itu cukup menodai warna alaminya.

Dengan kepedihan hati, ia lalu berupaya membenahinya dengan larutan peluntur. Cara itu memang ampuh merontokkan noda semprotan, tetapi malah membuat warna seragamnya ikut luntur. Dengan terpaksa, ia menerima keadaan baju peninggalan almarhum kakaknya itu sebagai warna cokelat muda yang makin memudar. Pada hari Jumat dan Sabtu, ia tetap mengenakannya, meski harus meredam rasa malu, sebab warnanya jelas tampak asing di antara warna baju teman-temannya. Ia berusaha bersabar dengan keasingan itu selama delapan bulan akhir masa SMA-nya, demi berhemat.

Kemiskinan memang menjadi pokok permasalahan bagi ketenangan dan kemerdekaannya sebagai seorang siswa. Dengan status anak yatim yang hidup dari pendapatan kecil ibunya sebagai pengasong sayur mayur, ia sudah semestinya tidak banyak tingkah. Ia mesti menghemat uang untuk hal yang benar-benar perlu, termasuk meredam keinginan besarnya untuk membeli baju pramuka yang baru demi tampil setara dengan teman-temannya.

Kemiskinan pula yang membuat dirinya menjadi seorang pecundang di sekolah. Tanpa memiliki siapa-siapa yang punya kuasa untuk membela, ia memilih mengalah demi menghindari perkara yang malah bisa membuat keadaannya makin rumit. Apalagi, ia punya pengalaman buruk saat berupaya membebaskan diri dari perundungan. Pada satu kali, saat semester pertama kelas X, ia dipalak oleh pasukan begundal. Ia pun jujur mengaku tak punya uang jajan. Maka sebagai gantinya, ia disuruh memalak siswa-siswi dalam sebuah kelas, sampai dapat jumlah uang yang ditargetkan. Ia pun terpaksa melakukannya, hingga ia mendapatkan perlawanan dari dua orang siswa, dan mereka terlibat perkelahian yang tidak seimbang.

Setelah seorang guru menyaksikan keributan itu, ia lalu diperhadapkan kepada kepala sekolah. Dengan kepolosan, ia pun menceritakan kejadian yang sebenar-benarnya. Tetapi sial, ia malah diminta sang kepala sekolah untuk memaklumi kezaliman teman-temannya sebagai keisengan belaka. Ia diminta tidak mudah memperkarakan tindakan buruk teman-temannya, apalagi mengumbarnya ke mana-mana, demi menjaga nama baik sekolah. Ia pun diperingatkan soal bantuan iuran pendidikan yang ia dapatkan, yang bisa saja dicabut kalau ia tak pandai-pandai bersikap.

Dari kejadian itulah, ia mengerti kalau lingkungan sekolah memang keras untuk dirinya yang bukan anak siapa-siapa. Ia pun tak bisa apa-apa selain bertahan dengan tidak melawan arus kezaliman. Ia merasa cukup baik asalkan tidak bergabung dengan kawanan penjahat. Apalagi, ia paham kalau keadaan buruk itu tidak akan bisa diubah. Ia yakin kalau pihak sekolah tidak akan menganggap dan menanggapi serius perilaku bejat para perundung, sebab pimpinan preman sekolah yang kerap kali merisaknya adalah kemanakan sang kepala sekolah.

Keadaan pelik yang membelenggunya, dan serangkaian aksi perundungan yang menimpanya, memang tidak benar-benar melukainya secara fisik, tetapi sungguh telah menghancurkannya secara batin. Diam-diam, ia bahkan menyadari kalau perangainya yang penyendiri dan emosional, dibentuk oleh pengalaman buruknya semasa sekolah. Karena itu, ia tak mau keadaan serupa menimpa anaknya. Ia pun bekerja keras menjadi orang berada demi memenuhi kebutuhan sekolah sang anak. Ia ingin sang anak merasa setara dengan teman-temannya, dan menjadi percaya diri. Ia ingin sang anak memiliki mental yang kuat, sehingga berani bertarung membela yang hak dan melawan kezaliman.

Dalam waktu sekian lama, ia pun berupaya memendam sendiri perihal kenangan masa SMA-nya yang kelam. Segenap cerita buruk yang menyakitkan hatinya, ia kubur saja di dalam memorinya sebagai kisah pribadi. Selain terhadap ibunya, semua pengalaman pahit itu, juga ia tutup rapat-rapat dari anaknya. Jelas saja, ia tak mau sang anak memiliki persepsi yang buruk terhadapnya. Bahkan demi mengokohkan citra baiknya sebagai pemberani yang patut diteladani, ia menuturkan cerita karangan untuk sang anak, bahwa dahulu, ia adalah jagoan baik yang disegani di sekolah.

Namun kini, setelah ia mendengar penuturan sang anak, kedamaiannya pun terguncang. Kenangan memilukan dari masa sekolah, seketika berputar kembali di dalam benaknya. Ia jelas tak terima sang anak yang melawan kemungkaran, malah diperlakukan secara buruk. Ia juga tak terima penderitaan masa lalunya malah dijadikan lelucon untuk merendahkan dirinya di mata sang anak dan orang lain. Karena itulah, kegeramannya jadi tak terbendung lagi. Ia bertekad melampiaskan amarahnya kepada sang Wakasek yang tiada lain adalah pemimpin preman sekolah yang dahulu kerap menindasnya selama masa SMA.

Sampai akhirnya, setelah membasuh wajah dan mengatur emosi, ia pun melangkah tenang menuju titik tujuannya. Sesaat kemudian, ia menjumpai seorang pesuruh dan menyampaikan maksud kedatangannya. Dengan penuh keramahan, perempuan paruh baya itu lantas mempersilakannya masuk ke ruang sang Wakasek dan memintanya menunggu.

Dalam kesendirian, ia lalu memperhatikan keadaan sekitar dan mencari jalan terbaik untuk menunaikan rencananya. Sekian lama menerka-nerka, ia pun mengancang opsi keduanya sebagai pilihan, meski membutuhkan kecekatan yang lebih. Namun akhirnya, acangannya berubah seketika saat sang persuruh muncul kembali membawa dua cangkir teh dan sepiring gorengan. Ia beralih pada opsi pertama dengan peluang keberhasilan yang lebih tinggi.

Tak begitu lama menanti dengan berdiri di depan jendela sambil mengecap masa lalu, akhirnya, sang Wakasek datang menemuinya dengan sikap tegas.

Dengan begitu saja, bara dendam membakar dadanya.

"Selamat datang," kata sang Wakasek, lantas mengulurkan tangan.

Dengan sikap tenang, ia menjabat tangan itu tanpa membalas dengan kata.

"Akhirnya kita bertemu lagi," singgung sang Wakasek, dengan raut bersahabat. "Kukira kau sudah lupa jalan ke sekolah kita ini."

Dengan gejolak amarah di dalam hatinya, ia mendengkus dan menyengir saja. Lalu, tanpa persilaan, ia duduk di depan Wakasek.

Sang Wakasek lantas meneguk teh bagiannya, kemudian bertutur dengan pemahaman soal maksud kedatangannya, "Kuharap anakmu sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya." Ia menjeda untuk mengatur napas. "Permasalahan itu, terkait seorang perempuan. Ya, wajar, anak muda. Jadi ...." la kembali menjeda. Tampak linglung.

Dengan kepercayaan penuh kepada anaknya, tanpa merasa perlu menunggu penjelasan lengkap dari lelaki berkumis itu, ia pun melayangkan bogemnya tepat di pelipis kiri sang Wakasek.

Sontak, tubuh tambun sang Wakasek terdepak ke sandaran kursi. Ia pun mengeluh lemah, tanpa daya mengembalikan kesadarannya yang kacau secara cepat.

"Manusia bajingan!" geramnya, lantas meninju keras bagian bibir dan hidung sang Wakasek dengan penuh dendam. Lalu, tanpa berlama-lama, demi meloloskan diri, ia bergegas pergi dengan perasaan puas.

Sesaat kemudian, saat ia telah berada di tempat parkir, di samping mobilnya, ia pun mendengar keriuhan di dalam gedung sekolah. Sebagai seorang apoteker, ia yakin, efek obat halusinasi yang ia masukkan ke dalam teh sang Wakasek, telah bekerja dengan baik. Ia menduga kuat kalau lelaki berkepala botak itu telah berperilaku seperti zombi. Ia menaksir kalau lelaki tersebut telah berlari-lari tanpa arah, setelah melepas semua pakaiannya karena kegerahan.

Dengan perasaan menang, tanpa memusingkan apa yang akan terjadi selanjutnya, ia kemudian pulang dengan keyakinan kalau mata kamera para penghuni sekolah akan merekam peristiwa itu, lalu mengabadikannya di dunia maya, lantas membentuk nilai baru untuk nama sekolahnya dahulu yang ia vonis penuh kemungkaran dan kemunafikan sampai saat ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar