Jumat, 12 Juni 2026

Mata Kaki

Pagi sudah menghangat saat adik perempuanku membuka pintu pagar. Sayup-sayup kudengar ia berbincang dengan seorang lelaki. Detak-detak langkah yang asing kemudian mengarah ke posisiku, lalu berhenti pada jarak sekian meter di depanku. 

"Hai!"

Sapaan itu, sontak menghunjam memoriku. Mengutak-atik berkas cerita yang telah lama kuarsipkan sebagai kenangan.

Aku pun bergeming. Aku jelas mengenal pemilik suara itu sebagai dirimu. Aku sungguh tak menyangka kalau kau akan datang setelah semua kerumitan yang terjadi di antara kita. 

Hening saja dalam sekian detik, seolah kita sama-sama berusaha mencerna alur cerita hingga kita sampai pada saat ini. Satu rangkaian kisah yang seakan membuat kita cukup mengerti hingga sama-sama bingung meramu pertanyaan yang pantas. 

Beberapa saat kemudian, dari pertanda suara, kuterka kau makin mendekat, lantas duduk di sampingku, pada sebuah bangku di teras depan rumahku. Tanpa merasa perlu bertanya kabar, kau lalu melontarkan singgungan, "Kuharap kau masih mengingatku," katamu, seolah kau tak pernah meninggalkan arti di dalam hidupku.

Sembari berusaha meredam kecamuk batin, aku mengangguk saja. Setelah menimbang-nimbang, aku lalu melontarkan tanya sekenanya, "Kapan kau datang dari kota seberang?"

Kau lekas menjawab dengan nada datar, "Lima hari yang lalu." 

Ada urusan apa?" selisikku. 

"Pamanku meninggal."

Seketika, perasaanku tersentak. "Pamanmu yang punya kebun di bukit itu?"

"Iya."

Aku pun terenyuh. "Aku turut berduka."

"Terima kasih."

Sekian lama, keheningan kembali menjeda kita, seolah sama-sama membutuhkan waktu untuk menafakuri kedukaan. 

Perlahan-lahan, ingatanku kembali mengulang satu kisah kita di kebun jagung milik pamanmu itu. Sebuah kebun yang berada di perut perbukitan, tempat kita dan beberapa teman sekolah kita yang lain kerap mengadakan pesta bakar jagung saat masa panen. Di sanalah kebersamaan kita yang terakhir, yang menjadi momentum yang telah menggantung kita dalam ikatan batin yang tak berkesudahan. 

Satu kisah kita itu, terjadi lima tahun yang lalu, selepas kita tamat sekolah menengah atas dan sedang mengancang rencana masa depan. Tiba-tiba saja, pada satu sore yang cerah selepas hujan, kau bertandang ke rumahku dan menyahutiku. Kau lalu memintaku untuk segera menurutimu ke satu tempat yang kaurahasiakan. Katamu, kau akan memperlihatkan keajaiban yang selama ini kunantikan. 

Dengan rasa percaya bercampur penasaran, aku lekas mengenakan kacamata minusku, kemudian menunggangi sadel sepeda motormu. Kita lalu mengarah ke titik awal pendakian menuju kebun tersebut. Namun di tengah perjalanan, rencana kejutanmu tidak lagi membuatku bertanya-tanya. Di langit, aku melihat separuh bentuk pelangi. Aku yakin, itulah yang hendak kautunjukkan kepadaku, sebab aku pernah bertutur kepadamu kalau aku sangat ingin melihat pelangi yang belum pernah kulihat secara langsung selama hidupku. 

"Ah, ternyata kau sudah tahu," ujarmu, setengah kesal, setelah memarkirkan sepeda motor pada pangkal jalan pendakian yang merupakan jalan setapak, dan kau melihatku mendongak dengan pandangan kagum ke arah langit. "Ayo, cepat, kita ke balai-balai kebun pamanku. Di sana, kita akan melihat pelangi itu secara utuh. Kalau kita gesit, kita pasti masih akan melihatnya di sana sebelum menghilang."

Aku mengangguk saja dengan persetujuan penuh. Demi keindahan yang sempurna itu, aku lalu mengekorimu dengan langkah cepat. 

Tetapi ternyata, hasrat besar itu mesti diwujudkan dengan mengarungi tantangan yang berat. Jalan yang basah selepas hujan, membuat pendakian kita tidak semudah biasanya. Berkali-kali kakiku terpeleset, entah karena alas sandalku tak kuat mencengkeram tanah yang licin, atau karena permukaan sandalku itulah yang licin dan menggelongsorkan telapak kakiku. Sudah kucoba mendaki tanpa alas kaki agar langkahku kokoh, tetapi telapak kakiku malah tak bisa menahan sakitnya tusukan kerikil yang runcing, atau duri putri malu yang tumbuh liar. 

Akhirnya, demi misi besar yang berbatasan waktu, kau pun melucuti sepatumu dan menyodorkannya kepadaku. Dengan setengah memaksa, kau memintaku menanggalkan dan meninggalkan saja sandalku di tepi jalan, lalu mengenakan sepatumu itu. Kau mewanti-wanti dan menginstruksikan kalau kita mesti mendaki cepat agar kita tidak terlambat. Maka dengan perasaan tersentuh, aku pun memakainya, kemudian berupaya melangkah dengan lebih tangkas dan tangguh. 

Tetapi dengan bantuan itu, aku masih saja kepayahan. Karena kecapaian, aku makin goyah dan lambat menapak. Aku bahkan sesekali salah langkah dan terjatuh karena keterbatasan pandanganku akibat kacamata minusku yang tertutup embun napasku atau tetesan keringatku sendiri. Karena itu, aku terus saja merepotkanmu demi cita-citaku sendiri. Aku kerap kali berpegangan pada ekor bajumu, atau  genggaman tanganmu. 

Hingga akhirnya, dengan napas yang tersengal-sengal dan tubuh penuh keringat, kita tiba di dataran kebun milik pamanmu. Dengan tenaga yang tersisa, kita segera naik ke atas balai kebun itu. Kita lantas duduk di teras depan rumah panggung tersebut dengan kaki menyelonjor, sembari bersandar lepas pada dinding. Kita kemudian berupaya mengatur napas dan meredakan kepenatan, sembari memandangi pelangi yang menawan di atas lembah dan perbukitan sebelah.

"Syukurlah, kita masih mendapatinya," katamu, dengan raut bangga, disusul senyuman yang lebar. 

"Ya. Indah sekali," tanggapku, dengan napas yang masih memburu. 

Berselang sesaat, kau lantas melontarkan saran yang menarik, "Sebelum terlambat, berharaplah untuk perihal yang kaucita-citakan. Kata orang-orang, segala harapan yang dipanjatkan sembari memandangi pelangi, akan menjadi kenyataan yang indah, sebagaimana pelangi," tuturmu, sembari melirikku dengan tatapan yang hangat. 

Karena kau pernah mengajarkan itu sebelumnya, saat dahulu aku masih berharap melihat pelangi, aku pun mafhum dan telah menunaikannya. "Sudah kulakukan tadi."

"Apa?" sidikmu, tampak penasaran. 

"Semoga aku berjodoh dengan orang yang baik," jawabku, setengah malu, lantas melayangkan senyuman simpul. 

Kau lantas mengangguk-angguk manyun, kemudian menelisik dengan sikap segan, "Tapi itu terlalu umum. Harapanmu mesti spesifik. Kalau soal jodoh, kau mesti meniatkan seseorang."

Aku pun mengangguk paham. "Ya, sudah kulakukan juga."

Sontak, kau menyergah dengan raut datar, "Siapa?"

Dengan separuh enggan, aku lantas menguraikan, "Seorang polisi yang dijodohkan denganku oleh orang tua kami. Keluarga besar kami bahkan sudah merencanakan untuk menikahkan kami secepatnya," terangku, sepolosnya, tanpa memedulikan pandanganmu. "Aku harap dia orang yang baik untukku. Kalau tidak, aku harap kami tidak sampai pada jenjang yang serius."

Kau pun mengangguk-angguk pelan. Aku yakin kau terkejut, sebab aku memang belum pernah menceritakan soal itu kepadamu. 

Seolah kehilangan rasa penasaran, kau lantas terdiam saja dan hanya menatap pelangi yang makin memudar. 

Aku lalu balas menyidik, "Kau sendiri memanjatkan harapan apa di hadapan pelangi saat ini?"

Kau menggeleng-geleng. "Tak ada harapan apa-apa. Sebagai teman, aku hanya berharap segala yang terbaik untukku."

"Ah, curang!" protesku. "Katakanlah!"

Kau lantas tergelak pendek, kemudian memampang ekspresi cuek, seperti berusaha menyamarkan keengananmu untuk berkata jujur. "Aku serius. Aku memang tak ada niat untuk memanjatkan harapan. Sedari awal, pelangi itu sekadar kurencanakan untuk kaujumpai, untuk engkau berharap."

Akhirnya, aku menyerah untuk menelisik.

Keheningan kemudian menyelimuti kita seiring warna pelangi yang makin memudar. Kita tidak lagi berbagi kata, hingga pelangi itu benar-benar lenyap.

"Sudah waktunya kita pulang," katamu, dengan raut sayu. 

Aku mengangguk tenang. 

Akhirnya, kita mulai melipat langkah pada jalan setapak yang telah susah payah kita daki. 

Sepanjang perjalanan menurun itu, aku pun merasakan jelas perubahan sikapmu. Tiba-tiba saja kau jadi pendiam dan kehilangan nafsu untuk memancing percakapan. Kau tak lagi banyak bicara dan malas mempertanyakan apa saja kepadaku. Kau bahkan tak lagi tertarik untuk sekadar mengulas kisah kebersamaan kita selama masa sekolah menengah atas sebelum kita benar-benar terpisah arah masa depan. Padahal, sebelumnya, bahkan saat perjalanan mendaki, kau masih dengan perangaimu yang banyak omong dan suka memancing tawaku.

Beberapa lama kemudian, kita pun menggapai sepeda motormu yang terparkir. Kau lantas memberiku aba-aba agar aku kembali duduk pada sadel sisi belakangmu. Lalu tanpa percakapan lagi, roda berputar menuju ke rumahku. Hingga akhirnya, dengan laju yang lebih cepat dari biasanya kau memboncengkan aku, dalam waktu singkat, kendaraan tua itu membawa kita sampai di halaman rumahku. 

"Terima kasih telah mewujudkan keinginanku melihat pelangi," kataku, setulusnya, setelah turun dari dudukan. 

Kau hanya mengangguk dengan senyuman simpul yang terkesan terpaksa. 

Dalam sekian detik kemudian, kita hanya terdiam-berhadapan dengan tatapan yang tiba-tiba segan untuk beradu. 

"Kenapa belum pergi? Ada yang ingin kausampaikan?" tanyaku, begitu saja, setelah kita terperangkap dalam adegan yang aneh. 

"Sepatuku," jawabmu, singkat, bermaksud meminta kembali sepatumu yang masih tepasang rapat di kakiku. 

Aku pun tersadar dan merasa bodoh. "Oh, iya. Aku lupa," ujarku, kemudian mengutarakan niatku sebelumnya, "Tapi biar aku cuci dulu. Kau bisa mengambilnya besok atau lusa."

"Tidak usah," tolakmu, tampak berkeras. 

"Aku memaksa soal ini," bantahku, tak mau kalah. 

Kau pun mendengkus dan mengalah. "Baiklah," pungkasmu, dengan ekspresi datar. 

Tanpa berlama-lama lagi, kau lalu memutar posisi sepeda motormu cepat-cepat. Tidak seperti biasanya, kau kemudian pergi tanpa pamit dengan kata-kata yang bersahabat. 

Hari demi hari berganti. Nyatanya, kau tak kunjung datang ke rumahku untuk mengambil sepatumu. Sudah kucoba menghubungimu lewat telepon, tetapi kau tak menanggapi dengan alasan yang tak jelas. Karena itu, lima hari berselang, aku memutuskan untuk mengantarkan sepatu itu kepadamu, ke tempat tinggalmu, ke rumah pamanmu yang seolah orang tuamu di kota kecil ini. Tetapi ternyata, kau telah beranjak ke kota seberang, ke kota kelahiranmu, ke tempat tinggal ibumu. Dengan rasa kecewa, aku pun membawa pulang sepatu itu dan menyimpannya untukmu. 

Sejak kepergianmu, kita tidak lagi pernah bertemu atau sekadar berkomunikasi. Aku pun jadi tak tahu bagaimana keadaanmu. Namun dari jendela dunia maya, pada akun media sosialmu, aku mendapatkan informasi kalau kau kemudian berkuliah di sebuah politeknik sembari bekerja di bidang konstruksi. Aku turut senang mengetahui kehidupanmu yang baik itu. Tetapi akhirnya, dengan penelusuran daring yang intens dan berkala, aku kemudian mendapatkan laman berita yang mengabarkan perihal seorang pekerja perbaikan jalan dengan identitas yang sama sepertimu. Kabarnya, lelaki itu terserempet mobil saat sedang mengerjakan perbaikan ruas jalan raya. Untungnya, pekerja tersebut selamat dari maut, meski mengalami luka-luka. Dan jika benar itu adalah kau, aku berharap kau baik-baik saja. 

Namun setelah semua yang terjadi, atas sikapmu yang tiba-tiba berubah pada momen terakhir kebersamaan kita, aku pun menerka kalau itu ada hubungannya dengan percakapan singkat kita di balai kebun pamanmu. Kuduga kau memendam kekesalan setelah aku mengungkapkan soal perjodohanku dengan seorang lelaki. Tetapi aku tak bisa menebak dengan jelas alasan di balik ketidaksukaanmu itu, apakah karena kau tak suka aku akan menikah dengan seorang polisi karena kau membenci polisi setelah ayahmu meninggal akibat tembakan polisi yang salah sasaran sebagaimana ceritamu, ataukah karena kau memiliki perasaan suka kepadaku. 

Andai saja waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke masa lalu, saat kita masih bersama dalam keadaan yang baik-baik saja. Jikalau demikian, aku akan nekat mengupayakan agar kebersamaan kita berujung pada cerita yang indah. Sebab sejujurnya, dahulu, seiring waktu dalam keakraban kita, aku memendam perasaan yang lebih dari sekadar rasa persahabatan terhadapmu. Karena itu, aku selalu berharap kau pun begitu terhadapku, kemudian menyatakan perasaan kepadaku, lalu kita menjadi sepasang manusia menuju ikatan yang suci. Tetapi sepanjang kebersamaan kita pula, aku tak bisa meyakini kalau harapanku itu akan terwujud. Kau tampak hanya mengakrabiku sebagai seorang teman dekat. Tidak lebih. 

Hingga akhirnya, di tengah hubungan kita yang menyenangkan dalam batas persahabatan, aku mendapatkan penawaran dari ibuku perihal rencana perjodohanku dengan anak kawan lamanya. Dengan penuh pertimbangan, aku pun menerima perjodohan itu sebagai jalan takdir yang baik untuk diriku dan keluargaku yang sedehana. Sebagai perempuan, aku jelas memilih kepastian untuk menjalin hubungan yang serius. Apalagi, kepastian itu direncanakan dengan seorang yang terhitung mapan untuk membangun rumah tangga. 

Namun malang tak bisa kuhindari. Waktu demi waktu, daya mataku makin memburuk. Pengobatan gagal mengatasinya. Kacamata pun tak bisa menanggulanginya. Sampai akhirnya, penyakit glaukoma itu menghilangkan penglihatanku secara total. Akibatnya, rencana perjodohanku dibatalkan oleh pihak lelaki. Dengan rasa kecewa, aku sadar diri dan pasrah menerimanya. Jelas, berat bagi siapa pun untuk menerimaku sebagai pendamping hidup dengan kondisiku yang mengenaskan. 

Hingga akhirnya, aku sampai di hari ini, saat kau tiba-tiba datang dan membangkitkan kenangan tentang kita di dalam benakku. 

"Barangkali kau ada keperluan khusus sampai kau datang ke sini setelah sekian lama? Apa kau bermaksud mengambil kembali sepatu yang kaupinjamkan kepadaku dahulu?" selisikku, setelah jeda hening sekian lama. 

"Tidak ada apa-apa. Bukan juga untuk sepatu itu," sangkalmu, lalu memberikan alasan yang diplomatis, "Aku hanya ingin bersua denganmu."

"Untuk apa?" selidikku, dengan perasaan yang meragukan. "Lalu, kenapa dahulu kau tak segera datang mengambil sepatu itu?"

"Entahlah," tanggapmu, dengan nada bimbang. "Aku hanya merasa tak membutuhkannya lagi."

"Lalu kenapa kau tak mengabariku, agar aku tak perlu menyimpan dan menjaganya demi mengembalikannya kepadamu?" selidikku lagi.

"Maaf," ucapmu, seolah merasa bersalah dan menyesal. 

"Itu bukan jawaban. Aku butuh alasan yang sebenar-benarnya," tuntutku. 

Kau terdiam saja. 

Akhirnya, aku mendesak, "Katakanlah, kenapa kau bersikap seperti itu kepadaku sejak hari terakhir kebersamaan kita dahulu?"

Kau lantas mengembuskan napas yang panjang, kemudian menjawab lemah, "Aku tak suka mendengar kenyataan kalau kau akan menikah dengan seorang lelaki."

"Kenapa?" sergahku. 

"Karena aku menyukaimu; aku mencintaimu."

Seketika, hatiku terasa dingin mendengar kejujuranmu untuk segala tanyaku tentang kita selama ini. Aku sungguh merasa lega. 

Hening sekian detik. 

"Lalu, kau memanjatkan harapan apa di bawah pelangi di sore itu?" tanyaku lagi, dengan begitu penasaran. 

"Aku berharap, kita akan menikah dan menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya," terangmu, polos, untuk menyempurnakan kejujuranmu. 

Sontak, batinku tersentuh. Air pun menangis terharu. Aku merasa bahagia karena kisah kita telah menemukan alasan untuk kuabadikan sebagai kenangan yang indah. Tetapi atas keadaanku yang berkekurangan, aku kukuh meredam angan untuk hidup bersamamu. Di tengah ketidaktulusanku menerima keadaan diriku sendiri, aku sadar kalau siapa pun, termasuk kau, akan berat menerimaku sebagai pasangan hidup, dan kau berhak mencari perempuan yang jauh lebih baik. 

"Maaf kalau kau tak berkenan dengan semua yang telah kukatakan," ujarmu. 

Aku pun menggeleng keras. "Terima kasih karena kau telah mengungkapkan semuanya dengan jujur."

Kau tergelak pendek. "Akulah yang semestinya berterima kasih, karena kau bersedia menerima pengakuanku," tangkismu. "Kini, aku merasa lega."

Aku lalu menagih penegasan, "Apakah itu alasan sesunguhnya sampai kau datang menemuiku?"

"Iya," akumu, disusul isakan yang samar. 

Aku pun merasa damai. 

Untuk sekian lama, kita hanya saling mendiamkan dalam keharuan masing-masing. 

Hingga akhirnya, kau mengambil ancang-ancang untuk berpisah kembali, "Aku pamit, ya. Sudah waktunya aku pergi. Banyak yang mesti kupersiapkan menjelang jadwal penerbangan," tuturmu, tanpa merasa perlu menanyakan perihal bagaimana perasaanku kepadamu. Tetapi kurasa, memang begitulah semestinya, sebab jawabanku sebagai seorang tuna, tidak akan memiliki pengaruh apa-apa untuk masa depan kita. 

"Tetapi kau sebaiknya mengambil kembali sepatumu dan membawanya serta," ajuku, sembari berusaha mengikhlaskan perpisahan kita lagi, sebab aku memang tak punya hak untuk menahanmu.
 
"Tidak usah. Simpanlah saja sebagai kenang-kenangan. Lagi pula, aku tidak membutuhkannya lagi," responsmu, dengan maksud hati yang tak kutahu jelas. 

Aku pun mengangguk pasrah. Mengisyaratkan penerimaanku.

"Aku harap segala yang terbaik untukmu di sini," pungkasmu, lantas menepak-nepak punggung tanganku. 

"Aku harap begitu juga untukmu di sana," balasku. 

Seketika pula, kudengar bunyi tapakan di ubin teras. Kuterka, kau telah mengambil langkah pergi, tanpa merasa perlu mengucapkan sampai jumpa. Tetapi kukira, begitulah seharusnya. 

Sesaat kemudian, setelah terdengar dentingan kunci pagar, kudengar lagi tapakan kaki menuju ke arahku, yang kubaca jelas sebagai langkah kaki adikku. 

"Laki-laki itu teman sekolah Kakak yang dulu sering ke sini, kan?" selidik adikku. 

"Ternyata kau masih mengenalnya juga," tanggapku. "Memangnya kenapa?"

"Kasihan ya, dia."

"Kasihan kenapa?"

"Jalannya pincang dan pakai kaki kanan buatan."

Seketika, perasaanku tersentak. Perlahan-lahan, aku memahami kenapa kau tak mempertanyakan perasaanku kepadamu, lalu pergi tanpa ucapan sampai jumpa. 

Tetapi diam-diam, atas kemalangan dan rasa rendah diriku, dan mungkin demikian pula dirimu, terjadilah pergulatan di dalam batinku perihal kemungkinan dan ketidakmungkinan tentang akhir kita. Aku jadi bertanya-tanya, apakah mungkin ada inginmu menyatukan diri denganku dan menyempurnakan kehidupan kita yang penuh ketidaksempurnaan? Adakah mungkin kau mau jadi mataku, dan aku jadi kakimu? 


Makan Bersama

Kepulanganku kali ini beserta perasaan yang berbunga-bunga. Sebagai bentuk perayaan atas keberhasilanku sendiri, aku pun membawakan hadiah untukmu. Aku telah membeli sekantong makanan instan yang cukup mahal, yang pasti kausuka. Setidaknya, begitulah yang kulihat pada iklan-iklan merek makanan kucing itu.

Sudah sepatutnya aku berterima kasih atas kehadiranmu. Sebagai lelaki lajang yang berjuang sendiri untuk hidup di tengah kehidupan kota yang keras, kau cukup menawar kepenatan dan kesedihanku dengan tingkah acak dan cuekmu. Karena itulah, setelah aku mendapatkan surel pemberitahuan kalau aku diterima sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan ekspedisi, aku merasa kau mesti merasakan kesenanganku juga.

Hasratku menyenangkanmu dengan makanan istimewa, makin menjadi setelah aku mendapatkan perlakuan yang sama dari seseorang. Dengan begitu saja, menjelang jam pulang kerja, aku mendapatkan informasi dari seorang kurir bahwa seseorang telah memesankan sekotak hidangan berupa nasi campur dari sebuah restoran mewah untukku, yang kemudian digantung sang kurir di depan pintu kamar kosku. Aku tak bisa menebak dengan yakin siapa sang pemurah itu. Tapi kukira itu ada hubungannya dengan hari ulang tahunku kemarin.

Karena itulah, aku memilih tidak membeli hidangan tambahan untuk diriku sendiri, demi berhemat. Dengan tabungan yang seadanya, kurasa cukup jika aku sedikit berkorban untukmu. Selama ini, atas pendapatanku yang memprihatinkan sebagai pramuniaga toko perabotan rumah tangga, kau turut hidup melarat. Makananmu sebatas sisihan dari makanan sederhanaku. Nasi putih dengan suwiran daging ikan atau ayam, cukup membuatmu bersetia denganku. Bahkan tak jarang bagianmu sekadar tulang belulang atau nasi berkaldu kalau aku sedang berhemat ketat.

Akibat kondisi kehidupan itu, keadaanmu tak sebaik kucing-kucing peliharaan orang berada. Tubuhmu terhitung kurus, dan bulu-bulumu masih rontok. Karena itu pula, sudah beberapa kali aku mencoba membuatmu sejahtera dengan menyelundupkanmu ke halaman rumah keluarga kaya yang kutaksir pencinta kucing. Tetapi sialnya, kau selalu menemukan jalan untuk pulang ke kamarku, dan memilih tetap bersamaku. Sampai akhirnya, aku menyerah untuk membuat kita terpisah.

Dengan semua itu, kau sepatutnya bersyukur atas kebaikanku dalam segala keterbatasanku. Tidak saja menyelamatkan nyawamu, aku juga menghidupimu semampuku. Hingga akhirnya, kau tumbuh sehat dan kuat. Keadaanmu jelas jauh lebih baik ketimbang tiga bulan yang lalu, saat aku menemukanmu dalam keadaan yang begitu memprihatinkan. Saat itu, kau hanya meringkuk lemas dan berbalut air comberan di tepi selokan persimpangan jalan yang sepi. Kau seperti hanya menunggu mati dalam keadaan terabaikan. Sebuah pemandangan yang membuatku miris, hingga aku memilih untuk menolongmu

Kini kusadari, keputusanku untuk membawamu dan merawatmu dengan cara sederhana adalah keputusan yang tepat. Kalau saja tidak begitu, aku pasti dihantui rasa bersalah sepanjang waktu. Aku yakin, kau akan mati kedinginan dan tak pernah dikuburkan. Aku yakin begitu, karena di tengah kehidupan perkotaan yang berat secara ekonomi, orang-orang akan memilih untuk mengabaikanmu demi menghindari beban-beban untuk menghidupimu. Bahkan aku yakin orang-orang yang mengasihanimu akan enggan menyelamatkanmu, dengan pikiran, setidaknya, bukan mereka yang membunuhmu.

Pikiran-pikiran semacam itu, tak bisa kuhindari, karena aku menyaksikan sendiri kalau kemiskinan menggerayangi orang-orang di sekitarku. Setidaknya, banyak penghuni kamar kos di sekitarku, hidup dalam keadaan yang tidak lebih baik dariku. Mereka berjuang keras untuk bertahan dalam impitan ekonomi dengan kebutuhan yang makin mahal. Ada yang bekerja sebagai pengemis, pengamen, atau pedagang asongan. Bahkan ada beberapa yang kuketahui bekerja sebagai pengedar obat terlarang, penagih utang, dan pelayan di tempat hiburan malam.

Kenyataan kerasnya kehidupan kota makin kusadari setelah mengetahui kalau aku harus bersaing dengan ratusan orang untuk mendapatkan pekerjaan yang kini berhasil kumenangkan, meski pekerjaan itu hanyalah pekerjaan level rendah dengan gaji yang secukupnya. Aku pun makin memahami keadaan itu empat hari yang lalu, setelah menjalani tes wawancara, seusai mengobrol dengan salah satu dari dua orang pesaing terakhirku dalam memperebutkan satu pekerjaan tersebut.

"Hidup di kota ini terasa makin berat. Persaingan makin ketat. Pendapatan menurun, sedangkan kebutuhan meningkat. Kita mesti pandai-pandai mencari cara untuk bertahan," kata lelaki itu kemudian, dengan nada mengeluh, setelah menerangkan kalau pendapatannya makin sulit memenuhi kebutuhannya di tengah pesaingan perebutan penumpang yang makin sengit di antara pengemudi ojek daring setelah banyak orang menjadikan penghidupan tersebut sebagai pekerjaan sampingan atau pelarian dari status pengangguran.

Aku sekadar mengangguk setuju dan membebaskannya untuk terus menumpahkan keresahannya. Aku merasa sepatutnya menjadi penenang dengan menjadi pendengar yang baik atas kebaikannya mengajak dan mentraktirku makan bersama di sebuah warung makan di tengah pendapatan kami yang sama-sama pas-pasan.

Ia lantas mengembuskan napas yang panjang, kemudian menyambung keluh kesahnya, "Aku tak tahu lagi bagaimana kalau aku tidak segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaanku sekarang," tuturnya, untuk merangkum kekalutannya akibat jeratan utang, termasuk pinjaman daring, demi menghidupi istri dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil.

Dengan penuh pengertian, aku pun menanggapi sekenanya, "Sesulit apa pun kehidupan kita, setidaknya, kita masih bisa bertahan hidup dengan cara-cara yang baik."

Seolah sepaham, dengan perasaan berat, ia pun mendengus dan melayangkan senyuman miris.

Sekian lama kemudian, kami hanya saling mendiamkan. Aku fokus menghabiskan salah satu hidangan favoritku berupa nasi campur dengan lauk ikan bandeng goreng, sedangkan ia khidmat menikmati isapan rokoknya. Hingga akhirnya, setelah turut menandaskan hidangan dan memulai gelagat untuk berpisah, kami pun sama-sama sadar untuk sepatutnya berbagi nama dan informasi pribadi. Setelah itu, kami lalu berpisah tanpa menyinggung bagaimana kemungkinan akhir dari persaingan kerja di antara kami.

Tetapi tentu, sebagai orang yang sekian lama hidup dengan keuangan yang pas-pasan, demi kehidupan yang lebih baik, aku jelas ingin mengalahkannya dalam mendapatkan pekerjaan tersebut. Aku ingin jadi lebih berdaya dalam membeli segala macam keperluan, termasuk perihal kebutuhanmu. Aku ingin menjadi pemelihara yang berkelas dengan senantiasa memberikan makanan yang istimewa untukmu. Dengan begitu, badanmu akan jadi makin berisi dengan bulu hitam-putih yang menawan, dan aku akan makin suka melihatmu dan membelaimu.

Sampai akhirnya, harapanku terwujud hari ini, setelah aku mendapatkan surel pemberitahuan kalau aku terpilih sebagai pemenang dalam perebutan pekerjaan itu. Aku hanya perlu memenuhi persyaratan pemberkasan untuk benar-benar menjabat pekerjaan tersebut. Karena itulah, kali ini, aku pulang dengan perasaan yang berbunga-bunga. Aku tak sabar untuk tiba dan menjumpaimu di area kamarku seperti biasa. Aku ingin segera berbagi kesenangan denganmu, dengan makan bersama, dengan hidangan kesukaan masing-masing.

Namun aneh. Setelah tiba di halaman kos-kosan dan memarkir sepeda motor, aku tak mendengarmu mengeong sambil menghampiriku cepat-cepat. Dengan penuh tanya, aku lalu melangkah ke arah kamarku sembari melayangkan pandangan. Dari jarak sekian meter, aku pun melihatmu berbaring di teras depan.

Tetapi keganjilan malah makin terasa. Tak seperti biasanya, kau tak segera bangun dan menyambut kedatanganku. Hingga akhirnya, aku menyaksikan kenyataan yang memilukan. Dari mulutmu, keluar gelembung busa, sedang di sampingmu, berserakan sekotak nasi campur dengan lauk ikan bandeng goreng.

Kau telah menyelamatkan nyawaku dengan kematianmu.


Persatuan Bahaya

Sebagai anak negeri
Dari tanah tercuri
Kaum kawula terbentuk
Merangkai keremehan
Membangun kebodohan
Menderita kelaparan
Membakar kemarahan
Menjadikan ancaman

Terhadap segelintir
Dari bangsat terdidik
Para penunggang kuasa
Dengan tameng suara
Memanjakan nafsu
Melampaui batasan
Melalaikan peringatan
Menjemput kehancuran

Untuk kita mewarisi
Dalam silang pendapat
Tanpa satu rencana
Dari puing kebiadaban
Menyusun peradaban
Merayakan perubahan
Mewarnai kepalsuan
Mengulang kegagalan

Ikatan Batin

Bila saja sesuai rencana, sejak tujuh hari yang lalu, aku semestinya berada di kampung bersamamu. Mulai hari itu, aku akan melewatkan hari dengan membantumu mengurus kebun lada kita. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Engkaulah yang beranjak ke kota ini. Kau terpaksa datang menemaniku menjalani perawatan di rumah sakit setelah aku mengalami komplikasi penyakit asam lambung. 

Aku tak pernah membayangkan kenyataan akan begitu. Sebagai seorang anak, akulah yang seharusnya menandangimu dan mendampingimu dalam kelemahan dan kerentananmu. Aku seharusnya menjaga kondisi tubuhku agar aku tidak malah merepotkanmu sebagai seorang ayah yang sudah nyaris lanjut usia. Tetapi malang tak bisa kuelakkan. Penyakit mengalahkan pertahanan tubuhku, dan aku tak bisa apa-apa. 

Jauh sebelumnya, pada hari-hari yang lampau, selama terpisah jarak, aku selalu mengkhawatirkan kondisimu. Sejak Ibu meninggal, dan kau tinggal seorang diri, aku senantiasa mencemaskan keadaanmu. Aku takut celaka menimpamu karena bekerja terlalu keras di kebun, atau penyakit menggerogoti tubuhmu karena ketidaksanggupanmu mengurus pekerjaan rumah untuk menjaga kesehatanmu. 

Kekhawatiranku makin menjadi-jadi karena kondisi tubuhmu tak lagi sekuat dahulu. Kekuatan ototmu sudah melemah, dan kebugaran tubuhmu merawan. Aku cemas kalau-kalau kebiasaanmu bekerja tanpa mengenal batas, akan membuatmu benar-benar tumbang tak berdaya. Aku takut tak berada di sampingmu saat kau kehilangan harapan tanpa bantuan, dan tak ada siapa-siapa yang hadir untuk menolong. 

Sebenarnya, sudah berkali-kali aku memintamu untuk tidak lagi bekerja berat, sebab kau tak lagi punya tanggungan setelah aku sebagai anak tunggalmu telah hidup mandiri. Aku bahkan berapa kali memintamu untuk berhenti dari pekerjaan kebun dan tinggal di kota ini bersamaku dalam penanggunganku, atau sekadar rehat untuk sekian lama, tetapi kau selalu menolak, seolah batinmu telah terikat pada kebun. 

Atas keadaan itu, aku akhirnya mengambil jalan tengah. Aku senantiasa menyisihkan dan mengirimkan pendapatanku untukmu sembari berpesan agar kau menggaji orang lain untuk membantumu mengurus kebun. Tetapi tetap saja, seakan sudah tabiat, kau selalu turun tangan sendiri mengurus tanaman sampai batas kemampuanmu. Kau tampak begitu menggandrungi rutinitasmu itu. 

"Setiap pekerjaan ada risikonya. Begitu pula pekerjaanmu. Kita hanya bisa berusaha menghindarinya," katamu, lewat telepon, sebulan yang lalu, setelah aku menyinggung pekerjaanmu yang berat karena menguras tenaga di bawah terik matahari, sembari menyepelekan beban pekerjaanku sendiri di ruang ber-AC. 

"Asal Ayah tahu batas saja kalau begitu. Jangan terlalu memaksakan diri," tanggapku, mewanti-wanti. 

"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja di sini. Sedari kecil, aku telah terbiasa dengan pekerjaan kebun, dan aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai beban. Aku bahkan menikmatinya, layaknya hiburan pengisi waktu. Dan menikmati pekerjaan itulah yang penting, yang bisa menghindarkan kita dari beban batin yang bisa mendatangkan penyakit," tuturmu, mencoba menepis ketakutanku, sekaligus menyiratkan petuah. 

Dengan responsmu itu, sebagaimana selalu, aku berpasrah saja. Tetapi diam-diam, aku tetap memendam kecemasan. 

Akhirnya, demi menawar kekhawatiranku atas dirimu, untuk hari kerja di sela-sela tanggal merah dan hari libur kerja, aku memutuskan mengambil cuti. Aku merencanakan untuk membantumu mengurus kebun selama seminggu. Kupikir, setidaknya, keberadaanku dalam waktu selama itu, sudah cukup untuk meringankan bebanmu dalam membereskan pekerjaan kebun yang membutuhkan tenaga ekstra. 

Sampai kemudian, terjadilah apa yang tak pernah kubayangkan. Akulah yang kalah atas keadaanku sendiri. Akulah yang terserang penyakit hingga kau harus datang untuk membantuku pulih. Hingga akhirnya, karena itu, aku memahami pernyataanmu soal hubungan kesehatan dengan pekerjaan fisik dan beban pikiran. Dari keterangan dokter, aku memahami kalau sakitku disebabkan pula oleh istirahat yang kurang dan beban pikiran yang berat. Jelas, itu soal pekerjaan kantor yang menguras waktu dan pikiranku. 

Namun beruntung, sebab setelah perawatan yang baik di rumah sakit selama lima hari, aku akhirnya berhasil melawan penyakit. Bahkan pagi ini, aku merasa keadaanku mendekati kepulihan yang sempurna. Tetapi saat kondisiku makin membaik, aku malah menyaksikan pertanda buruk yang begitu menakutkan. Raut wajahmu kuyu dan terlihat makin lesu. Batukmu terdengar makin sering dan keras. Bahkan saluran hidungmu sering tersumbat sampai kau jadi sering bersungut-sungut. Meski awalnya kau berkilah kalau itu biasa dan hanya gejala kecapaian, tetapi akhirnya aku merasa ngeri. 

Untuk mencegah keadaanmu memburuk, aku pun menghampirimu saat kau tengah berjemur di bawah terpaan sinar matahari pagi, di teras depan rumahku. "Kondisi Ayah tampak mengkhawatirkan. Sebaiknya aku antar Ayah ke dokter, ya?" tawarku. 

Kau lekas menggeleng. "Tidak usah. Aku cuma demam dan flu biasa. Mungkin karena tubuhku belum menyesuaikan dengan hawa di kota ini."

"Kalau begitu, aku belikan obat saja," saranku. 

Kau kembali menggeleng. "Tidak perlu. Keadaanku akan baik-baik saja. Mungkin aku hanya perlu menghangatkan diri dengan sinar matahari dan menghirup udara segar. Aku sepertinya tidak cocok dengan AC," kilahmu, lantas melesitkan ingusmu. 

Aku pun mengangguk maklum dengan sedikit rasa bersalah. Tetapi tak ada pilihan lain yang lebih baik, karena lazimnya, di kota, keadaan ruangan akan terasa pengap tanpa menyalakan pendingin ruangan, sedang udara bebas akan masuk bersama debu atau nyamuk. "Mungkin Ayah lebih cocok dengan kipas angin. Nanti aku belikan."

Lagi-lagi, kau menggeleng. "Karena keadaanmu sudah membaik, aku sebaiknya pulang hari ini juga. Aku khawatir hama akan merusak tanaman lada di kebun kalau tidak segera disemprot."

"Tidak maukah Ayah tinggal lebih lama lagi?" tanyaku, mencoba menawar. "Aku belum membawa Ayah jalan-jalan ke tengah kota."

Kau lantas melepaskan gelakan yang pendek. "Tidak usah. Aku lebih cocok dan lebih nyaman berada di kampung. Kehidupanku di sana."

Akhirnya, aku mengalah dengan pemahaman kalau begitulah adanya, bahwa suasana kota akan makin mengancam kesehatanmu, dan suasana pedesaan akan lekas memulihkanmu kembali. "Baiklah. Nanti aku antar Ayah ke terminal."

Dengan senyuman lepas, kau pun mengangguk tegas, kemudian memberikan nasihati. "Rajinlah berjemur, seperti ini. Tubuh kita butuh paparan sinar matahari." Kau melepas batuk dua kali, lantas menambahkan, "Kau juga harus rajin berolahraga. Tubuh mesti berkeringat, supaya sehat."

Aku mengangguk saja. Membenarkan. 

"Jagalah kesehatanmu baik-baik," pesanmu lagi. 

"Tentu, Ayah," tanggapku, dengan kesungguhan, sebab aku tak ingin ketakutanku menjadi kenyataan, bahwa tubuhmu benar-benar dilumpuhkan penyakit tersebab aku jatuh sakit lagi.


Sabtu, 06 Juni 2026

Setelah Jeda Lelah Mereda

Redam salam dan kelam bohlam
Cukup meratap tanpa tertatap
Untuk dusta yang tak terkata
Dalam sunyi dan sembunyi
Agar mata memejamkan cerita
Perihal rahasia gelap manusia
Tentang serah yang pasrah
Setelah dihabisi seluruh ambisi
Selama hari-hari yang berlari
Melampaukan cinta demi cita
Berharap nanti sebelum mati
Untuk seia dan bahagia
Untuk bersama tanpa drama
Sebab waktu mesti menentu
Tanpa ragu yang menggangu
Tanpa dalih untuk beralih
Hanya berjanji lalu menjadi
Sampai getir membuat ketir
Dan kita terbata juga membuta
Menggantung semua dalam dua
Memilih berjauh sebelum mengutuh
Mencari dunia demi bahagia
Menguji arti mendewasakan hati
Mencoba mengukir garis takdir
Sendiri-sendiri sampai berdiri sendiri
Sampai tersesat perikatan sesaat
Hingga kepulangan tanpa kerinduan
Menjadi kesatuan tanpa penyatuan
Setelah suasana terusik di sana
Saat kini kita di sini
Suram dalam selimut silam
Menidurkan tanya tak sepatutnya:
"Apakah semata masih kita,
Saling memimpikan dalam kesepian,
Saat kenangan yang menyenangkan,
Lebih sempurna dari rencana?"


Kamis, 19 Maret 2026

Pernahkah Kita Bertemu Sebelumnya?

Seperti misteriusnya hujan yang tiba-tiba di tengah terik waktu itu, kau muncul tanpa pertanda apa-apa. Dengan sikap polos, kau mendekat ke arahku tanpa benar-benar menuju kepadaku. Dengan selugu-lugunya, kau menanggalkan kacamatamu, lalu melihat-lihat rupamu yang membayang pada permukaan dinding kaca reflektif yang setengah gelap. Tanpa peduli keberadaan siapa-siapa pada sisi yang lain, sorot mata indahmu lantas memeriksa penampilanmu lamat-lamat, seolah kau sedang khusyuk bercermin di dalam kamar sendirimu.

Pertama-tama, kau mengibas-ngibaskan jaket berkuplukmu yang telah terjilat titik-titik hujan. Selanjutnya, kau mengusap-usap celana jinmu dan menepak-nepak sepatu ketsmu. Setelahnya, kau menatap bayangan wajahmu dan menyeka kisaran matamu dengan punggung tanganmu. Setelahnya lagi, kau mengambil dua langkah mundur, lalu menyorot bayangan dirimu seluruhnya. Dan terakhir, kau mengenakan kembali kacamatamu setelah mengelapnya dengan ujung bajumu, kemudian tersenyum sendiri untuk memastikan penampilanmu sudah sempurna di dalam kaca yang remang-remang.

Dari sisi dalam ruang kafe itu, aku seketika terpaling dari layar laptopku yang memuat projek desain kacamata, kemudian jadi penonton dengan perasaan yang berkecamuk. Berbekal kacamata minus yang cepat-cepat kukenakan semenjak kehadiranmu, aku jadi bak seorang peneliti dengan temuan baru yang menakjubkan. Setiap adegan dirimu, kusaksikan tanpa kesudian untuk menyelanya dengan kedipan sekali pun. Aku berangan-angan saja kalau kau sengaja bertingkah untuk memancing kekaguman dari mata hatiku yang lemah. Aku merasa-rasa saja bahwa bola mata kita sudah akrab dan saling menatap dari balik kaca kacamata masing-masing, seolah tak ada dinding kaca dengan pandangan satu arah sebagai pembatas.

Tetapi setiap peristiwa ada masanya. Begitu pula penemuan dan pemantauan sepihakku terhadap dirimu waktu itu. Kala hasrat mataku masih juga ingin memperhatikanmu selama-lamanya, kau akhirnya berbalik dan beranjak setelah sebuah mobil memanggilmu dengan klakson. Seketika, kau tersembunyi dari pandanganku, dan kacamata rabunku tak mungkin lagi menembus batas-batas ruang. Kau pergi membawa kesejukan wajah dari binar matamu yang teduh di bawah alismu yang tebal, di balik kacamata yang membingkai kesatuan eloknya. Kau menghilang bersama kesempurnaan itu, dan perlahan memunculkan sebuah tanya di dalam benakku: pernahkah kita bertemu sebelumnya?

Dalam hitungan detik setelah kepergianmu kala itu, ingatan-ingatan sontak membuatku merasa dejavu. Bentuk matamu yang bulat, alismu yang melengkung lembut, dan lensa kacamatamu yang kotak, melambungkan mata batinku membaca kembali peristiwa dua bulan sebelumnya. Pada sebuah toko percetakan, saat aku hendak mencetak selebaran untuk mempromosikan usaha toko kacamata yang kurintis bersama kawanku, seturut alur semesta, aku bersinggungan dengan sesosok perempuan yang memiliki sekerat bentuk wajah yang tampak persis dengan kepunyaanmu.

"Dia lebih dahulu," kataku, lalu berpaling sepintas ke arahnya, di sampingku, ketika seorang karyawan percetakan meminta berkasku untuk dicetak. Aku bermaksud mengatakan kalau kepentingan perempuan itu sepatutnya diurus terlebih dahulu, sebab ia lebih dahulu mengantre.

"Punyaku sedang dikerjakan," tanggapnya seketika, sambil menunjuk seorang karyawan percetakan yang lain. Dari balik lensa kacamatanya yang berbentuk kotak dengan rangka bingkai yang tipis dan berwarna hitam, matanya lantas melayangkan pandangan sekilas yang hangat ke arah mataku.

"Oh," timpalku, sambil mengangguk-angguk bodoh dan mengerling canggung kepadanya.

Karyawan percetakan itu akhirnya mengambil fail berkasku dan mengerjakan pencetakannya.

Sekian lama waktu bergulir, kami yang berdiri bersampingan dan menumpu pada etalase kaca, hanya saling mendiamkan dan menunggu penyelesaian pesanan masing-masing. Sudah sewajarnya demikian, sebab jelas tak ada topik yang pas dan pantas untuk dua orang asing yang hanya bersinggungan secara situasional. Terlebih lagi, aku seturut dengan dirinya yang juga mengenakan masker di tengah cuaca yang panas dan berdebu, sehingga akan terasa janggal untuk memancing bahasan dan berbalas kata ketika kami belumlah terbuka untuk saling mengenal, bahkan untuk sekadar berbagi senyuman.

Akhirnya, kami terus membunuh waktu dalam kebisuan. Hanya menyenterkan pandangan ke arah depan, kepada para karyawan percetakan yang khidmat mengerjakan pesanan. Tetapi sesekali, mata kami bertabrakan juga dan berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda saat kami sama-sama berusaha menyamarkan kecanggungan dengan menoleh ke sisi samping. Namun kekikukan itu belum juga parah untuk membuat kami salah tingkah dan memaksa kami berbagi celetukan, atau sekadar melayangkan gumaman tawa.

Sampai akhirnya, kebekuan itu buyar sekian lama kemudian, saat sang karyawan menyelesaikan pesananku. Seketika pula, aku bisa mengalihkan fokus dari soal kehadirannya dan segala misteri aneh tentang itu. Setelah merasa bebas dari penjara kecanggungan, aku pun kembali percaya diri dan mampu bertingkah sewajarnya. Maka selepas membayar perongkosan, aku lantas memasukkan cetakan selebaranku ke dalam tas dan mengambil langkah pergi dengan tenang.

Namun tiba-tiba, dalam beberapa langkah, aku tersadar seharusnya mengenakan kacamata. Terpaksa, dengan cukup malu, aku kembali ke posisi semula dan menelisik sisi atas etalase.

"Cari apa?" tanya perempuan itu.

"Kacamataku. Aku tadi pakai kacamata ke sini," jawabku, dengan sikap kalang kabut.

"Itu," katanya, sambil menunjuk ke arah yang kukira menyasar ke sisi belakangku.

"Mana?" selidikku, setelah berbalik badan dan tak melihat keberadaannya.

Ia pun tergelak. "Itu, di kepalamu."

Seketika pula, aku mendapatinya terpancang di atas ubun-ubunku. Dengan perasaan hina, aku lalu menurunkannya ke sisi mataku. Lantas, untuk pertama kalinya, aku menghadapinya dengan posisi badan yang selurus. Aku pun memandang matanya di balik kacamatanya dengan sangat jelas. Sebuah mata bulat dengan rona permukaan yang tegas dan jernih. Sebuah mata yang memancarkan ketenteraman. Maka sejak saat itu, aku merasa telah menemukan mata dengan pemandangan terindah, dan aku memendam tanya besar tentang sang empunya.

"Terima kasih," ucapku.

Ia pun membalas dengan anggukan dan pancaran mata yang istimewa.

Akhirnya, dengan perasaan yang campur aduk, aku kembali melangkah pergi dan menilai peristiwa yang telah terjadi hanyalah kebetulan berkesan yang sepatutnya kupandang sebagai kejadian sepintas lalu. Sebuah peristiwa yang tak semestinya kuanggap sebagai awalan untuk akhir yang kucita-citakan. Namun sial, sebab setelahnya, aku malah merasa dikutuk oleh titah nasib yang tak terkira. Persinggungan penuh kekonyolan itu nyatanya malah menjadi sebuah kenangan yang tak bisa kuenyahkan dari dalam benakku. Mata indahnya di balik kacamatanya itu, seumpama permata milikku yang telah hilang, dan aku berhasrat menemukannya kembali.

Seiring waktu setelah itu, aku terus bergumul dengan harapan dan keputusasaan untuk kembali bertemu dengannya. Di atas belantara bumi, aku tak tahu di belahan mana aku harus mencarinya. Tak ada alamat atau sekadar peta yang menunjukkan titik keberadaannya. Tetapi sebagaimana awal pertemuan mataku dengan matanya yang persis matamu, kuyakin, takdir juga yang akan menentukan jalan nasibku selanjutnya. Sampai akhirnya, dengan begitu saja, kau muncul di balik dinding kaca kafe tempatku merenungkan kehidupan, dan aku yakin telah menemukannya kembali sebagai dirimu: pemilik mata terindah dengan seutuh wajah yang manis.

Namun setelah kau lenyap di tengah hujan terik waktu itu, lagi-lagi, aku kembali bergulat dalam kemungkinan dan ketidakmungkinan untuk menemukanmu. Kembali menjadi seorang pendoa ulung yang berpasrah pada garis takdir. Hingga akhirnya, sebulan setelahnya, pada satu hari yang masih pagi-pagi sekali, seorang bertandang ke tokoku yang mengandalkan tawaran berupa bingkai kacamata dengan komponen berbahan kayu dan bambu. Tamu bersuara perempuan itu, terus menyahut kala aku sedang membenahi mata pisau alat cukurku yang tumpul dan menimbulkan rasa perih saat aku tengah memangkas rambut di wajahku. Karena tak ingin kehilangan seorang calon pelanggan di tengah geliat usahaku yang mencemaskan, aku pun bergegas mengenakan kacamata dan menyambutnya, hingga aku mendapatinya sebagai dirimu.

"Maaf, aku ada urusan di belakang," kataku, dengan penuh kegugupan, bermaksud meminta pemakluman sebagai pelayan yang baik, tanpa perlu menjelaskan lebih rinci perihal urusanku di kamar mandi.

Seolah mafhum, kau mengangguk sambil tersenyum simpul. Kau lantas memicingkan matamu yang berbulu lentik dan tak berkacamata, seperti berupaya membaca wajahku.

Dalam sekian detik, setelah kita berdekatan, kutiliklah bola matamu yang serupa danau perawan yang jernih, yang membuatku berhasrat menyelaminya hingga dasar. "Ada yang bisa kubantu?" tanyaku, sebagaimana seharusnya.

Kau lantas menyodorkan kacamatamu dengan senyuman yang tampak tertahan, "Gagangnya patah. Aku ingin mengganti bingkainya sekalian, dengan model yang menarik."

"Oh, kami punya banyak model bingkai di sini," tanggapku, seprofesional mungkin, meski dengan jantung yang berdegup kencang. Setelah memperhatikan kacamatamu, aku lalu memberikan petunjuk, "Silakan pilih bingkai di dalam kotak ini, yang kupastikan sesuai dengan ukuran lensa kacamatamu," terangku, sambil menunjuk kumpulan bingkai untuk lensa kacamatamu yang berbentuk kotak.

Kau pun mengangguk tegas, kemudian mulai melihat-lihat berbagai jenis bingkai kacamata dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.

Diam-diam, saat kau tengah menunduk memperhatikan pilihan bingkai hasil desainku bersama seorang kawanku di dalam etalase yang berada di antara kita, aku pun jadi tak sanggup melewatkan kesempatan untuk memperhatikan raut wajahmu dari jarak dekat. Lalu, perlahan, penggalan-penggalan bentukan wajahmu yang kucuri pada persinggungan sebelumnya, kembali kurangkai menjadi kesatuan di dalam benakku. Lama-lama, bentukan itu pun menjadi utuh sebagai satu kesempurnaan yang begitu memikat hatiku.

Namun akhirnya, khayalanku berantakan saat kau mengungkapkan kebimbanganmu, "Yang lebih bagus mana; ini atau ini?" tanyamu, sambil menunjuk dua pilihan bingkai.

"Terserah saja. Pilihlah yang engkau rasa lebih cocok untukmu," tanggapku, dengan keterkejutan atas kelancanganmu melibatkanku dalam soal pilihanmu.

"Sebagai ahlinya, kau pasti lebih paham," ujarmu, dengan tatapan yang serius, yang menampakkan bola matamu yang memukau dengan iris serupa pelangi di antara hitamnya pupil dan putihnya sklera yang kontras.

Akhirnya, dengan setengah canggung, aku mengalah. "Baiklah," kataku, lantas menyorot matamu barang sedetik. Setelah itu, aku lalu menimbang-nimbang model dan warna bingkai mana yang lebih cocok untuk menyimpai matamu yang indah. Dan setelah perenungan sesaat, aku pun menjatuhkan pilihan, "Ini sepertinya lebih serasi untukmu," tuturku, lantas mengambil dan menyodorkan sebuah bingkai kacamata dengan rangka lensa berbahan titanium berwarna hitam, beserta tangkai gagang berbahan kayu berwarna cokelat muda dengan gurat-guratan yang tampak alami.

Kau pun menyambutnya dan menegaskan persetujuan. "Ya. Sepakat!"

Aku lalu mengambil kembali bingkai itu untuk memasangkannya dengan lensa kacamatamu.

Untuk sekian lama, kita hanya saling mengabaikan. Aku fokus mengerjakan kacamatamu, sedang kau asyik memperhatikan layar ponselmu. Aku membisu saja, sedang kau sesekali tergelak pendek, seolah menyaksikan adegan lucu. Saat begitu, mataku kadang tergoda menolehimu, tetapi aku lekas berpaling kala mendapati matamu sedang tertuju kepadaku. Maksudku sebenarnya sekadar ingin mengetahui sebab tawamu, tetapi aku merasa tidak sopan untuk mempertanyakannya. Begitu saja seterusnya, seakan-akan memang tak ada keganjilan yang mampu memancing obrolan.

Sampai akhirnya, aku berhasil menyelesaikan pengerjaan kacamatamu. Aku lalu menyerahkannya kepadamu, dan kau lekas memakainnya.

"Sempurna!" katamu, sambil menatap bayanganmu di dalam bentangan cermin yang terletak di sisi belakangku.

"Ya, sempurna," ketusku, begitu saja, tanpa kendali, atas dorongan batinku yang memuji tampakanmu yang paripurna dengan kacamata.

Kau lalu menatapku. "Terima kasih," tanggapmu, sambil tersenyum.

Dengan perasaan jengah, aku mengangguk-angguk saja dan menyesal telah melontarkan ujaran yang lancang, sampai aku kelimpungan menerka-nerka, apakah ucapan terima kasihmu itu teruntuk bantuanku telah memilihkan bingkai kacamata untukmu, atau karena kau menyadari kalau aku sedang takjub dan memuji keelokanmu.

Tetapi tiba-tiba setelahnya, kita mulai sama-sama berani beradu mata. Lalu, saat kita tengah berpandangan, entah mengapa, kau melontarkan pertanyaan yang ajaib, "Pernahkah kita bertemu sebelumnya?" selisikmu, dengan sibakan mata yang lebar, bak sibakan pintu ruang yang penuh rahasia.

Sontak, aku jadi mati kutu. "Entahlah," responsku, sekenanya.

"Ya, mungkin hanya perasaanku saja," akumu, dengan raut kebingungan, seolah berusaha mengingat perihal yang tak juga berhasil engkau ingat.

Aku tersenyum saja.

Kau balas tersenyum, lalu kembali tergelak singkat.

Sebagaimana seharusnya, kau lantas menanyakan harga, dan aku menyebutkan nominal yang semestinya, sebab aku tak tega mengorbankan masa depan usahaku hanya demi ilusiku atas dirimu yang mungkin mustahil menjadi kenyataan. Setelah menyelesaikan urusan transaksi itu, kau pun kembali mengucapkan terima kasih dengan susulan tawa yang pendek. Lalu tanpa mengulur waktu lagi, kau pergi dengan langkah enteng, seolah tak menyadari bahwa kau membawa serta separuh napasku yang mesti kunormalkan dengan sekuat daya.

Seketika, perasaanku membuncah setelah kau kembali menghilang dari pandanganku. Tak pelak, aku merutuki kepengecutan yang telah membuatku salah tingkah dan gagal memulai pendekatan. Aku pun merasa begitu malu kala mengingat-ingat lakuku yang bodoh di hadapanmu. Karena itu, aku lekas berbalik badan untuk merefleksikan diri, demi membenahi sikapku jikalau kita ditakdirkan bertemu lagi. Tetapi yang kulihat di dalam cermin adalah kenyataan yang malah membuatku makin merasa malu, sebab aku meyakini kalau gelak tawamu dipicu oleh tampakan kumisku yang baru tercukur sebagian setelah aku tak sempat merampungkannya demi menyambut kedatanganmu segera.

Akibat tingkahku yang bodoh dan memalukan itu, aku makin kehilangan semangat untuk kembali menemukanmu dan melakoni sesi perkenalan yang pantas. Aku merasa kalau kau tidak akan punya ketertarikan pada diriku yang tak memancarkan karisma dan kepercayaan diri. Karena itu pula, aku merasa sepatutnya menganggap persinggungan kita hanya rangkaian kebetulan yang tak sepantasnya kuanggap sebagai garisan takdir yang masih akan menyambung. Bahwa pandanganku terhadapmu hanyalah kekaguman yang berlebihan sebagai seorang pria jomlo yang kesepian, dan anganku bersamamu hanyalah hasil imajinasi liarku yang jauh dari kemungkinan.

Selama dua bulan setelahnya, di tengah kemelut perasaanku atas dirimu, aku pun berupaya mencari pelarian yang mendamaikan dengan larut dalam aktivitas hobi. Salah satu yang gandrung kulakoni adalah olahraga lari. Itu kurasa baik untuk diriku yang semestinya menjaga kesehatan fisik di tengah kondisi batin yang karut-marut. Bukan saja akibat keputusasaanku terhadap dirimu, tetapi juga kekecewaanku atas kondisi usahaku di tengah orang-orang yang tidak terbiasa dengan seni berkacamata. Kau menghilang entah ke mana, dan aku masih harus berupaya mencari lokasi baru yang strategis untuk membangun kembali usaha kacamataku itu. Dan tentu saja, aku makin tak bisa mengharapkanmu di tengah keadaanku sebagai seorang sarjana dengan penghidupanku yang masih terseok-seok.

Atas kemalangan tersebut, aku pun merasa rendah diri. Aku jadi khawatir bersua lagi denganmu, juga enggan bersinggungan dengan orang-orang yang mengenalku. Itu karena aku takut ditemukan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, lalu diberondong tanya-tanya tentang masa depan. Aku telah gagal dalam soal karir dan asmara, dan aku tak ingin makin tersiksa untuk menjawab pertanyaan perihal kenapa. Karena itulah, dengan keadaan mataku yang minus, aku suka melakukan aktivitas berlari tanpa mengenakan kacamata. Dengan begitu, aku jadi tak perlu khawatir berpapasan dengan orang-orang yang mengenalku, sebab aku tak harus pura-pura untuk tidak melihat mereka.

Akhirnya, pada satu sore, aku pun kembali berlari-lari mengelilingi lapangan sepak bola taman kota tanpa mengenakan kacamata. Seperti biasanya, setelah melintasi sekian putaran tanpa menghiraukan orang-orang sekitar, aku lalu duduk di bangku pemain cadangan untuk meredakan kepenatan dan menenangkan pikiran. Sampai kemudian, saat hari makin dekat menuju malam, langit mendung dan menggelap dengan cepat. Para pelari pun bergegas pergi demi lolos dari kejaran hujan dan perangkap malam.

Lalu, dari kejauhan, dengan mataku yang rabun parah, aku melihat siluet seseorang di sisi gawang sebelah kananku, yang tampak berlaku aneh. Kuperhatikan, berapa kali sudah ia mengitari perangkat gawang entah dengan maksud apa. Untuk beberapa saat, aku tak mau peduli. Namun saat semua orang telah meninggalkan area lapangan, dan ia masih saja begitu, aku pun jadi penasaran dan menghampirinya. Hingga akhirnya, pada jarak yang dekat darinya, aku pun mengenakan kacamataku dan melontarkan pertanyaan, "Sedang apa?"

Perempuan itu sontak menolehiku, dan seketika aku terkejut setelah mendapatinya sebagai dirimu.

"Aku sedang mencari kacamata minusku," jawabmu, singkat, lantas kembali menunduk-membungkuk dan memulai langkah keliling, seolah merasa tak perlu menerka jelas tentang sosok diriku. Sambil tetap berjibaku dengan suasana alam yang tak mendukung, kau lantas menerangkan, "Tadi aku menaruhnya di dekat tiang gawang ini sebelum berlari-lari, tapi aku tak menemukannya lagi."

Dengan kepedulian yang mendalam, aku pun mencoba membantumu dengan melayangkan pandangan ke sisi sekitar. Aku paham betul, di bawah langit yang gelap, orang rabun tanpa kacamata sepertimu, akan kesulitan melakukannya.

"Ah, sial," keluhmu sendiri. "Entah bagaimana bisa begini. Apa ada orang iseng yang sengaja menyembunyikannya, atau menyepaknya entah ke arah mana, atau mencurinya? Ah, sial!"

Aku pun jadi makin kasihan. "Memangnya, warnanya warna apa?" tanyaku, mencari titik fokus.

"Warna bingkai lensanya hitam, dan warna gagangnya cokelat muda," terangmu.

Akhirnya, aku turut dengan dirimu: mengelilingi gawang untuk mencari kacamata yang rangkanya kuyakin merupakan satu pilihanku untukmu. Tetapi setelah sekian lama, saat langit makin suram dan hujan mengancam, kita tidak juga menemukan benda tersebut.

"Kurasa, kacamatamu itu memang sudah tidak ada di sini. Kalau ada, kita pasti sudah menemukannya," ujarku kemudian, berharap kau bersabar dan merelakannya.

"Tapi aku harus menemukannya. Aku suka kacamata itu. Apalagi, pada awal malam ini, aku membutuhkannya untuk pergi ke satu tempat, untuk bertemu dengan temanku yang datang dari kota seberang," katamu, berkeras, seolah tak mau menyerah.

Aku terdiam saja dan membiarkanmu mencoba lagi.

Namun akhirnya, setelah kembali berupaya sekian lama, kau menegapkan badan dan bertolak pinggang. "Ya. Kau sepertinya benar. Mau bagaimana lagi," keluhmu, dengan nada penuh kecewa, kemudian mendengus keras.

Aku hanya mengangguk-angguk dan bersyukur kau bisa berdamai dengan tekadmu sendiri.

Seolah berupaya membaca jelas wajahku, kau lalu mendekatiku, kemudian menatapku dengan mata yang mengerjap-ngerjap. "Terima kasih sudah coba membantu."

Lagi-lagi, aku terpaku melihat bening kornea matamu yang tampak berpendar di bawah langit yang kelam, hingga aku hanya kuasa membalas dengan senyuman segan.

Kau lalu menengadah ke langit. "Gelap sekali. Sepertinya hujan deras akan turun."

"Ya," jawabku, sekenanya. Bingung harus berkata apa lagi.

"Kalau begitu, aku harus pulang sebelum hujan, dan sebelum cahaya benar-benar lenyap," katamu, seperti bermaksud menyinggung kepayahan pengelihatanmu yang tanpa kacamata. Kau lantas pamit, "Sampai jumpa lagi." 

Aku hanya mengangguk bodoh. 

Kau lantas berbalik badan, kemudian beranjak entah ke mana dengan langkah awas yang pelan, seolah khawatir kalau bahaya tiba-tiba menjegal kakimu. 

Dengan rasa peduli, juga kasih yang menyeruak dari dalam sanubariku, seketika, aku jadi tak bisa mengendalikan diri, hingga menyergah, "Hai, bolehkah aku mengantarmu pulang?"

Sontak, kau menyetop langkah. 

"Kukira, kau sama sepertiku, yang sudah sangat kesulitan melihat keadaan sekitar dalam situasi yang gelap seperti ini, tanpa kacamata," tambahku, mencari pembenaran agar tidak terkesan lancang. 

Kau lantas berputar kembali dengan sorot mata minus yang menembak ke arahku tanpa fokus. "Apa aku tidak merepotkanmu?"

"Sama sekali tidak," jawabku, lekas, dengan perasaan senang menyaksikan pertanda kesediaanmu. "Ayolah!" ajakku.

Kau pun mengangguk segan, kemudian melipat langkah ke sisiku dengan tatapan malu-malu.

Saat kita kembali dalam jarak yang dekat, aku lalu melangkah pelan menuju pada titik sepeda motorku terparkir. Lalu tanpa aba-aba, kau mengekoriku di sisi belakang. Kau turut saja tanpa berkata-kata, begitu pula aku yang diserang kegugupan. Begitu saja kita: sama-sama melangkah dalam keheningan. Sampai akhirnya, saat aku telah menunggangi sepeda motorku, dan kau sudah duduk di sisi belakangku dengan siap, aku pun memberanikan diri menanyakan alamatmu, dan kau mengutarakan tujuan yang alur posisinya bisa kuterka: sebuah area kos-kosan yang tidak terlalu jauh jika digapai dengan berjalan kaki melalui gang yang sempit, tetapi mesti menampuh jalan yang memutar dan bertambah jauh jikalau berkendara. 

Putaran roda kemudian mulai membawa kita menuju ke tempat persemayamanmu. Dengan isi pikiran masing-masing, kita akan melintasi jalan keluar taman, menuju jalan kota, menuju jalan lingkungan, menuju jalan lorong, hingga ke titik tujuan. Kita lagi-lagi menempuhnya tanpa berbagi kata, seolah bersepakat kalau obrolan di tengah deru tabrakan angin, begitu menyusahkan. Seolah bersepakat kalau suara hati di tengah nyanyian alam dan kebisingan kendaraan, sudah cukup baik sebagai pengiring. Seolah bersepakat kalau celetukan saja akan menghambat laju roda, dan kita bisa tergapai hujan di ujung sore. Hingga akhirnya, di bawah payungan langit gelap, kita tiba di depan gerbang sebuah kos-kosan besar berlantai tiga. 

Tetapi setelah kau turun dari sadel sepeda motormu, kau hanya mematung di sampingku dan tak lekas mengucapkan kata perpisahan. Kau malah mengusap-usap kelopak matamu, hingga memancing keheranan dan kekhawatiranku untuk bertanya, "Kau kenapa?"

Tanpa membuka mata, kau pun mengeluh dan menerangkan, "Aku kelilipan. Sepertinya, ada serangga atau benda kecil yang masuk ke mata kiriku."

Lekas saja, aku turun dari sepeda motor dan berdiri tepat di hadapanmu. Seketika pula, aku berhasrat menjadi seorang paramedis yang andal untukmu, meski hanya bermodal insting. "Coba buka matamu," pintaku, lalu begitu saja mendekatkan wajahku ke wajahmu, hingga aku melihat jelas bentuk bola matamu yang menakjubkan. 

Kau pun menuruti instruksiku dengan menarik kelopak bawah mata kirimu dengan jari telunjukmu. 

"Ya. Aku lihat," kataku, setelah mendapati setitik sumber masalah yang kau maksud. Aku lantas mengambil tisu di kantong motorku untuk melapisi jariku, kemudian memulai aksi di bawah pancaran lampu jalan yang tak cukup terang. "Maaf, ya," abaku, permisi, lalu mencongkel perihal kecil itu keluar, dan menunjukkannya kepadamu. "Ini. Serangga. Menjelang malam yang mendung seperti ini, memang akan banyak serangga kecil yang beterbangan."

Dengan raut penasaran, kau pun memperhatikannya dengan mata kananmu, sembari mengedip-ngedipkan mata kirimu. Tetapi sejenak berselang, kau kembali mengucek-ngucek mata kirimu itu dengan lebih keras. 

"Jangan dikucek terus. Bola matamu bisa iritasi," kataku, demi kebaikan matamu. 

"Tapi gatal sekali. Aku tak tahan," protesmu, dengan tetap menggosok-gosoknya. 

"Kalau boleh, coba aku tiupkan," tawarku, sebagaimana kebiasaan orang awam yang tak kupahami betul khasiatnya. 

Kau kembali turut dan menyibak lebar kedua sisi kelopak mata kirimu dengan kedua jari telunjukmu.

Aku pun meniupnya pelan, sebanyak dua kali. 

Kau kemudian mengedip-ngedipkannya. "Terima kasih," ucapmu, lantas sekadar memejamkan dan menutupnya dengan telapak tangan. 

Aku mengangguk saja dan tak tahu harus berbuat apa lagi selain memperhatikanmu. Diam-diam, aku berharap mata indahmu itu akan baik-baik saja.

Akhirnya, sekian lama berlalu untuk kau menyegarkan mata kirimu itu. Sedang aku, hanya diam saja agar kau tenang meredakan perih. 

Jeda keheningan itu kemudian usai saat kau tampak merasakan matamu membaik dan melontarkan permintaan yang tak kupahami jelas maksudnya, "Boleh pinjam kacamatamu?"

Aku lekas mengangguk. "Tentu," tanggapku, lalu melucutinya dari mataku dan menyerahkannya kepadamu. 

Kau lantas mengenakannya dan menatapku lamat-lamat, kemudian melayangkan pertanyaan dengan raut penasaran, "Pernahkah kita bertemu sebelumnya?"

Sontak saja, aku jadi gelagapan meramu balasan. Lalu, dengan segala pertimbangan, aku memberikan jawaban yang kabur, "Entahlah."

Diam-diam, aku berpikir sebaiknya begitu. Aku merasa tak perlu mengingatkanmu tentang pertemuan kita sebelumnya, di tokoku, yang kurasa memalukan. Aku pun merasa akan lebih baik kalau kau bisa mengingat pertemuan kita itu, atau persinggungan kita yang penuh teka-teki sebelumnya, berdasarkan kesan pribadimu atas diriku. Dengan begitu, aku bisa menakar seberapa bernilai kehadiranku di dalam benakmu.

Tetapi seolah benar-benar lupa, kau kembali menyerah dalam mengingat. "Ya. Sepertinya perasaanku saja."

Dengan cukup kecewa, aku pun kembali merahasiakan kenanganku terhadap dirimu yang tak balas mengenangku. Namun aku bisa memahami kelupaanmu itu, sebab kini, wajahku jauh berbeda dari rupa yang barangkali kau ingat, sebab rambut-rambutku telah melebat pada segala sisi. 

Kau lalu melayangkan pandangan ke segala arah, kemudian melontarkan celetukan, "Kacamatamu ini cocok untukku. Sepertinya, tingkat keparahan kerabunan kita, berada pada level yang sama."

Aku hanya tergelak pendek. 

Sesaat berselang, kau lantas melucuti kacamatan itu dari matamu, dan mengajukannya kembali kepadaku. 

Lagi-lagi, aku kembali melihat jelas mata kananmu yang tampak segar dan mata kirimu yang tampak pulih. Sepasang mata yang menyorot mataku dengan pupil legam serupa lubang hitam alam semesta yang mengisap dan memerangkap jiwaku. Lalu tiba-tiba, demi kebaikan matamu, atas perasaanku kepadamu, aku kembali terdorong untuk menjadi malaikat pengasih. "Kalau kau mau, kau boleh memakainya sampai kau punya kacamata baru. Apalagi, kau bilang sendiri kalau malam ini, kau ada pertemuan penting dengan temanmu."

Matamu seketika memancarkan binar serupa berlian. "Benarkah?" tanyamu, meminta penegasan. 

Aku menangguk tegas dengan senyuman simpul. "Aku punya kacamata cadangan di rumah."

Kau pun merekahkan senyuman dengan mata berkaca-kaca. Sebuah pemandangan yang membuatku merasa telah menawarkan bantuan yang tak akan menyesalkanku. 

Namun seketika pula, wajahmu berubah murung. "Tapi bagaimana kau bisa pulang tanpa kacamata ini?"

Aku sontak melepas gelak untuk mengisyaratkan kesungguhanku, kemudian berseloroh, "Jangan khawatir. Aku tak menjadi buta tanpa kacamata. Aku masih bisa melihat jalan. Tapi tentu saja, aku akan lebih berhati-hati."

Kau lantas mengangguk manyun. "Baiklah. Tapi aku tak akan meminjam kacamatamu ini lama-lama. Kukira, besok, aku bisa membeli kacamata yang baru. Karena itu, kalau kau bisa, besok sore, kita bertemu lagi di lapangan taman kota. Aku ingin mengembalikan kacamatamu ini sekaligus mengecek kalau-kalau ada jalannya, entah bagaimana, aku menemukan kembali kacamataku yang hilang di sana. Hitung-hitung, kalau dapat, aku bisa menjadikannya sebagai kacamata cadangan juga."

Tanpa pikir panjang, aku bersepakat, "Baiklah. Sampai jumpa di sana, besok sore."

Kau tersenyum lagi. Sempurna.

"Aku sebaiknya pulang sekarang. Mumpung belum hujan," tuturku, bermaksud pamit. 

"Ya. Berhati-hatilah," pesanmu, dengan cahaya mata serupa terang bulan yang kuharap akan menjadi pelita hatiku dalam mengarungi kegelapan duniawi. 

Aku pun mengangguk tegas, lalu kembali menunggangi sepeda motorku, kemudian melaju pergi dengan penuh bahagia. 

Sepanjang perjalanan pulang waktu itu, perasaanku sungguh berbunga-bunga. Aku tak menyangka bahwa takdir akan membawaku begitu dekat denganmu, meski hanya sebagai dua orang asing yang bahkan tak saling berbagi nama. Aku terus terbayang-bayang kejadian itu, kala aku bisa menatap mata indahmu dalam-dalam dengan cukup tangguh. Aku merasa telah berhasil mengimpaskan rasa maluku atas kepengecutanku pada pertemuan kita di toko kacamataku. Aku merasa sudah cukup jantan dalam bersikap sebagai lelaki. Aku merasa itu adalah perkembangan yang berarti menuju cita-citaku yang kembali bermekaran untuk hidup bersamamu. Terlebih lagi, kita telah memperjanjikan waktu bertemu, sehingga aku tak harus berpasrah pada kebetulan-kebetulan yang menegangkan. 

Karena itu, aku mulai merancang persiapan terbaik untuk pertemuan kita keesokan harinya. Aku berencana memotong rambut, juga memangkas janggut, kumis, dan comekku. Bahkan aku telah mengancang padanan baju, celana, dan sepatu yang akan kukenakan. Bagaimanapun, aku ingin memberimu kesan yang baik tentang diriku, agar kau mulai mengingatku, sehingga aku tak lagi asing bagimu. Untuk itu, aku mencanangkan pertemuan itu sebagai awalan untuk kita bisa benar-benar saling mengenal, demi harapan besarku tentang kita. 

Sebab itu pula, aku ingin memberikan kejutan kepadamu pada pertemuan terencana kita yang pertama kalinya tersebut. Aku ingin benar-benar menjadi orang yang berarti di dalam benakmu, yang tak akan bisa engkau lupakan. Maka tanpa keraguan lagi, aku merencanakan untuk membawakanmu sebuah kacamata dari koleksi tokoku, yang bentuk dan coraknya serupa dengan kacamatamu yang hilang. Aku akan berkilah saja kalau keesokan subuhnya, aku kembali mencari kacamatamu di lapangan itu, dan berhasil menemukannya, sebab aku yakin saja kalau kacamatamu itu benar-benar telah hilang digondol maling. Dengan begitu, kau akan menganggapku sebagai seorang pahlawan yang rela berkorban untukmu. 

Tetapi takdir yang mempertemukan kita, ternyata menggariskan jalan cerita yang berbeda. Di tengah kepulanganku dengan angan-angan yang melambung ke masa depan, aku malah terjerembab dalam kemalangan. Waktu itu, pada batas siang dan malam, hujan mulai turun, dan aku spontan mempercepat laju sepeda motorku. Hingga akhirnya, pada sebuah perempatan jalan, dengan mata yang tak bisa lagi kuandalkan di bawah cahaya temaram dan tirai hujan, aku tertabrak sepeda motor yang melaju kencang saat aku hendak menyeberang jalan dengan memotong lajur, hingga kaki kananku tertumbuk di antara dua bodi sepeda motor, sebelum badanku terbuang dan tergerus jalan beraspal. Aku pun dilarikan ke rumah sakit oleh warga, dan aku mendapati tulang paha kananku patah, juga dahi dan siku kananku tergores dalam. 

Akibat kejadian itu, aku tak bisa menemuimu pada sore yang kita perjanjikan. Bahkan sekian lama setelahnya, selepas opname untuk operasi pemasangan pen di tulang paha, aku belum juga bisa berkunjung ke lapangan taman kota itu untuk mencari kemungkinan bertemu denganmu. Pasalnya, aku seketika menjadi lumpuh dan tak berdaya. Untuk sekadar berpindah tempat saja, aku membutuhkan bantuan orang lain, atau mengandalkan kursi roda. Karena itu, di tengah pikiranku tentang dirimu, aku hanya terus bersabar untuk bolak-balik ke rumah sakit demi menjalani sesi pengobatan dan terapi, agar kemampuan mobilitasku membaik. 

Selama berbulan-bulan, aku berupaya pulih secepatnya, agar aku bisa menyelesaikan urusanku denganmu secepatnya pula. Aku yakin, setelah janji pertemuan kita yang gagal terwujud, kau jadi kelimpungan menelusuri keberadaanku demi mengembalikan kacamataku. Aku menduga, kau telah berulang kali datang ke lapangan taman kota untuk mencariku, tetapi hanya mendapatkan kekecewaan. Aku pun menaksir, bahwa atas tekadmu yang kuat untuk menemukanku, kau jadi mengingat bahwa akulah sosok yang telah memilihkan kacamata untukmu di sebuah toko. Karena itu, kukira, kau telah berkunjung ke toko tersebut, tetapi kau jadi patah semangat setelah menemukan bahwa kios itu telah berubah menjadi kedai minuman waralaba. Sialnya lagi bagimu, sebab selain upaya-upaya itu, kau tak punya opsi lain karena kau tak tahu alamatku, bahkan tak tahu namaku. 

Atas anggapanku tentang kekalutanmu dan upaya pencarianmu itu, aku jadi ingin cepat-cepat menemukanmu setelah aku punya daya untuk melakukannya. Niatku sekadar ingin mengambil kembali kacamataku sekaligus memberikan kacamata pengganti untukmu, dan perkara antara kita selesai sampai di situ. Hanya begitu, dan aku akan memusnahkan harapanku atas dirimu. Bagaimanapun, keadaanku yang malang telah membuatku jauh dari kepantasan untuk hidup bersamamu. Aku gagal membangun usaha, dan kini malah tak berdaya untuk sekadar membangkitkan raga. Karena itu, atas keadaanku yang mengenaskan dalam semua hal, aku tak mau menyeretmu dalam kerumitan hidupku. Dengan cara seperti itulah aku mencintaimu. 

Hingga akhirnya, hari ini, delapan bulan lebih setelah kecelakaan terjadi, aku kembali bisa bergerak ke mana-mana seorang diri. Yang kubutuhkan hanya sebuah tongkat yang menumpu di ketiak kananku, untuk membantu tumpuan kakiku yang masih terasa kebas dan kadang nyeri saat menapak. Dengan kemampuan itu pula, untuk sabtu sore yang ketiga kalinya, pada waktu yang serupa saat kau kehilangan kacamata, aku datang lagi ke taman kota untuk menanti-nanti kehadiranmu. Aku kembali duduk di sebuah bangku lapangan sepak bola tanpa mengenakan kacamata, dan kembali meletakkan kacamata pengganti untukmu di sampingku. Aku berharap saja kau muncul dan melihatku, lantas menyapaku untuk menuntaskan persoalan di antara kita.

Sampai akhirnya, di tengah menunganku tentang kita sekian lama, di bawah langit sore ini, aku pun menyaksikan pertanda kehadiranmu yang seketika mengacaukan perasaanku. Pada jarak sekian meter, di antara para pelari, aku menangkap kehadiran sosok yang perawakannya tampak sepertimu, yang sontak membuatku gugup. Satu sosok yang tampak memandangku dan perlahan-lahan melangkah ke arahku, hingga aku lekas memalingkan wajah darinya. Tetapi keteganganku mereda juga saat lirikanku menyaksikan kalau sosok itu malah menghadap ke sisi yang lain, kemudian melangkah menjauh, meninggalkan serta satu sosok yang tampak mengiringinya. Karena itu, aku yakin telah salah sangka. 

Detik demi detik kemudian bergulir seiring kebimbanganku perihal apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku kembali mengenang tentang kita, sembari memikirkan perihal bagaimana persoalan di antara kita akan selesai, dan kapan pula itu akan terjadi. Lalu, di tengah keruh perasaanku, tiba-tiba, dari arah serong sisi depan sebelah kananku, kembali muncul satu sosok yang sebelumnya kutaksir sebagai dirimu. Dengan langkah pasti, sosok itu makin mendekat kepadaku. Tak pelak, demi meredakan ketegangan, aku lekas membuang muka. Sampai akhirnya, saat selayang pandangku memindai wajahnya, aku pun memastikan kalau anggapanku sebelumnya benar, bahwa sosok itu adalah dirimu, yang kini berdiri di depanku sambil menenteng sebuah kacamata yang kutaksir sebagai kacamataku. 

"Hai," sapamu. 

Tetapi aku memilih untuk tetap memalingkan pandangan darimu, seolah tak menyadari kehadiranmu untukku. Demi tujuan yang kuanggap baik untukmu, aku meredam hasratku yang besar untuk kembali menatap matamu yang indah. 

"Halo," sahutmu lagi, sambil merunduk dan melambai-lambaikan tangan di depan wajahku. 

Seturut dengan rencana yang seketika rampung di dalam benakku sebagai langkah penyelesaian terbaik atas perkara kita, aku pun melontarkan tanya kecohan, "Maaf, apa yang engkau sapa adalah aku?"

"Ya," responsmu, dengan nada keluh. "Apa yang terjadi padamu?"

"Maksudmu?" tanyaku, pura-pura bodoh, dengan pandangan yang masih menyimpang dari wajahmu. 

"Apa matamu...?" Mulutmu tercekat. Kau terkesan kalut menuntaskan tanya, hingga kau bertanya lagi, "Apa kau tidak bisa melihatku?"

Aku mengangguk pelan. "Sekitar delapan bulan yang lalu, aku mengalami kecelakaan, dan pengelihatanku bermasalah," kataku, setengah berbohong. Aku lantas menengadah dengan ekor mata yang melirikmu sepintas, hingga aku melihat matamu yang sayu dan berkaca-kaca, seperti menyiratkan kesedihan yang mendalam. Demi memantapkan penyamaranku sekalian, aku lalu pura-pura menyenggol tongkatku di sisi sampingku, hingga rebah ke tanah. Setelah itu, aku lalu berjongkok dan pura-pura mencarinya dengan tangan yang meraba-raba tak berarah. 

Tanpa permintaan, kau pun memungut tongkat itu dan menyentuhkannya ke tanganku. "Ini."

"Oh, terima kasih. Hanya dengan bantuan benda ini, aku bisa berjalan dengan baik," kataku, separuh berdusta, lalu kembali memperbaiki posisi duduk. 

Akhirnya, aku mendengar dengusanmu yang berulang. Tanpa perlu melihat matamu, aku tahu kau sedang menangis.

Diam-diam, aku terenyuh dan merasa bersalah. Jelas, kau sedang menangis untukku dengan arti yang entah apa. Tetapi aku semestinya tak memedulikan dukacitamu yang sementara demi sukacitamu yang selamanya. Bagaimanapun, tekadku sudah bulat, bahwa aku mesti berlaku tega demi menuntaskan persoalan di antara kita, supaya kita sama-sama lega untuk kembali menjadi dua orang asing yang seolah tak pernah bersinggungan. 

Di tengah kebisuan kita, aku pun kembali melontarkan pertanyaan untuk menyempurnakan sandiwaraku, "Pernahkah kita bertemu sebelumnya? Maksudku, apakah kita saling mengenal?"

Kau lantas terdengar menghela dan mengembuskan napas yang panjang. "Entahlah," tanggapmu, mengelak dengan maksud hatimu sendiri, kemudian menyambung dengan singgungan yang bersifat umum, "Kita bisa saja bertemu dengan seseorang, atau bahkan mengobrol, tapi itu bukan berarti kita saling mengenal. Kan?"

Dengan setengah kecewa, aku bisa memaklumi penyangkalanmu atas persinggungan kita, sebab sudah sepantasnya dan sebaiknya demikian. "Ya, kau benar. Bisa jadi, kita begitu," kataku, sekenanya, lantas bertanya lagi dengan kepura-puraan, "Apa mungkin kau ada kepentingan terhadapku, yang menjadi alasanmu menghampiriku dan menyapaku?"

Untuk alasan pribadi, kau kembali berkilah, "Tak ada apa-apa. Aku hanya kelelahan dan ingin duduk di bangku ini, di sampingku. Boleh, kan?"

Lagi-lagi, aku patah hati mendengar ketidaksediaanmu mengakui perihal yang mempertautkan kita. Tetapi aku sadar kalau itu urusan batinmu, dan aku tak sepatutnya mempermasalahkan. 

"Tentu saja boleh. Bangku ini fasilitas umum. Aku tak punya hak untuk melarangmu," balasku, kemudian melepas gelakan pendek untuk mengisyaratkan sikap yang bersahabat. 

Dengan laku tubuh yang menyiratkan kekalutan, kau lalu menyingkir dari hadapanku, kemudian duduk di sampingku. 

Akhirnya, di bawah langit senja yang tenang, kita kembali duduk bersampingan tanpa berbagi suara, layaknya dua orang asing yang memang sepatutnya tidak saling mengusik tanpa kepentingan yang beralasan. Kita kukuh membisu dan larut dalam isi pikiran masing-masing, seolah kita memang tidak pernah bersinggungan dalam satu persoalan. Lalu, tiba-tiba, kau kembali terisak dengan motif rahasia, dan aku kembali bergumul dengan kegalauanku sendiri. Karena itu, aku membatu saja, seolah tak menghiraukanmu, demi rencana yang telah kulancarkan dalam sebuah sandiwara. 

Hingga akhirnya, setelah sekian lama terpasung dalam adegan-adegan yang mengingkari suara hati, terdengarlah sahutan yang mengarah pada keberadaan kita. Satu sahutan yang kukira merupakan nama panggilanmu, disusul ajakan agar kau segera menyusul. Dengan lirikan sepintas, dari jarak sekian meter, aku pun membaca sumber suara itu sebagai sosok lelaki yang berada di sampingmu saat kau menemukan keberadaanku. Satu sosok yang kuharap bisa meredakan kesedihanmu dalam segala persoalan. 

Sesaat berselang, kau pun bangkit dari posisi dudukmu. Sekilas, dari hasil lirikanku, kau terlihat menyeka kelopak matamu dengan punggung tanganmu, kemudian pergi dengan langkah yang tampak berat. Pergi, menjauh dariku, menuju sisi seorang lelaki yang lain. Sampai akhirnya, dari kejauhan, kulihat kalian berjalan berdampingan dengan posisi tubuh yang begitu dekat. Sebuah keadaan yang sengaja kuimajinasikan secara berlebihan, untuk sekalian membunuh harapanku tentang kita. Sebuah kenyataan yang menumbuhkan harapanku yang baru, bahwa semoga kau bahagia entah dengan siapa pun itu, dan biarlah aku dengan kemalangan hidupku sendiri. 

Sekian lama kemudian, setelah padanganku tak lagi menggapai tampakanmu, akhirnya kudapati kalau kacamata pengganti yang kusediakan untukmu, telah berganti dengan kacamata yang kupinjamkan untukmu. Dengan begitu, berarti kacamata-kacamata tersebut telah menemui takdirnya sesuai niat kita, meski itu berarti kau mendapatkan kacamata itu sebagai hadiah terakhir dariku, sedangkan aku mendapatkan kembali kecamataku sebagai bekas peminjamanmu. Dengan demikian, perkara di antara kita benar-benar telah selesai, meski kau akan memakai kacamata itu untuk mengukir kenangan yang baru, sedangkan aku mungkin akan memilih memuseumkan kacamataku demi menguburkan ingatan tentangmu, juga demi menghindarkan pandanganku dari perjumpaan yang ingin kuabaikan.

Kini, di bawah langit senja yang memukau, perlahan-lahan, aku merasakan kedamaian setelah merelakan semua perihal dirimu. Perlahan-lahan pula, aku merasakan ketenteraman setelah menerima semua kemalanganku sendiri. Lalu, dengan topangan tongkat, aku pun mengayun langkah pulang dengan keengganan untuk kembali lagi ke sini. Bukan karena rasa benci atas kehilangan, tetapi karena rasa cinta untuk mengikhlaskan. Karena itu, meski kisah kita telah berakhir tanpa benar-benar dimulai, aku akan mengenangnya sebagai kisah yang indah. Sebuah kisah perihal dua tokoh utama: aku sebagai aku, bersama kau yang kini kunamai dengan nama panggilan namamu yang manis itu.