Senin, 14 September 2026

Melebur Waktu

Hari ini, kau kembali memujiku
Seperti kemarin, aku menakutkan esok yang jauh
Pada masa depan, ketika waktu merenggut keindahanku dari masa lalu, dan kau kesulitan menemukan alasan untuk mengagumi

Terhadap matamu, segala keraguanmu
Berkembang, menjadi ketakutanku terhadap tubuhku sendiri
Yang fana, mungkin juga cintamu

Aku ingin kita menuju akhir yang sama
Merenta, membusuk, dan terurai bersama
Menjadi sepasang jiwa yang tak lagi tersekat batas raga


Hampir Sempurna

Berulang kali bangun untuk membangun
Puncak karier yang tergapai, dari dasar terbawah
Merangkak, menerjang semalu, mengurai benalu
Menjadi majikan gerombolan jelata yang merana
Menjadi semena-mena demi kuasa selamanya
Menistakan muruah sebagai perintis

Terkuras dahsyat daya untuk berdaya
Status hartawan yang tercapai, dari lembah kefakiran
Mengais, menumpuk dana, menimbun aset
Menjadi juragan kawanan buruh yang melarat
Menjadi serakah demi memuaskan keinginan
Merusak martabat sebagai pekerja

Jutaan bunga untuk hidup berbunga-bunga
Sepasang yang setia, dari sekian pengkhianatan
Mendendam, menabur godaan, menjerat simpanan
Menjadi gembala sejumlah raga yang menggelandang 
Menjadi pengkhianat demi syahwat berahi
Menodai kesucian sebagai pecinta

Segalanya hampir sempurna
Dari kehampaan menuju kecukupan
Lalu memuncak kepuasan dan menuntut pembaruan
Untuk waktu yang terus berlanjut, untuk nafsu yang tetap bergelora
Menghancurkan cita masa muda untuk menjadi terhormat, terpandang, dan tercinta
Menyisakan masa tua untuk meratapi riwayat hidup yang berujung penyesalan


Minggu, 13 September 2026

Pertahanan Terakhir

Keanjingan membabi buta
Kita kesulitan memahami kekacauan
Anjing dan babi telah bersekutu dalam penggarongan

Pada mana kita harus berbenah?

Padang ini, berpayung hukum
Tersusun dari anjuran dan ancaman
Namun kata-kata hanyalah kehampaan
Makna sebenarnya adalah tafsir yang bebas

Kita lalu berharap pada aparat
Hukum pasti tegak dengan niat mulia
Tetapi semua bejat dan korup sedari jadi
Memburamkan aturan, mengaburkan kejahatan

Tersisa kita, pertahanan terakhir
Untuk membarunya kehidupan dengan hukum nurani
Dengan upaya terbaik untuk menyelamatkan peradaban
Sebagai manusia yang berusaha menjadi manusia yang sejati


Alpa

Muda dan merdeka
Serupa seniman yang berpesta
Kau menurut bisikan batin semata
Untuk pujian yang cukup berarti bagimu
Sampai kau mengenal nominal penghargaan

Lalu kau jadi pekerja
Menagih rupiah sebagai upah
Menyusun kemapanan demi kemandirian
Menikmati kesederhanaan yang menenteramkan
Sampai kesepian membuatmu mendambakan kehangatan

Kemudian, kau menikah
Bercinta dan melanjutkan keturunan
Bersukaria dalam keramaian yang meriah
Hingga kau terpikir perihal masa depan anak-cucumu
Sampai kau mati, meninggalkan impian yang tak sudah-sudah

Demikianlah keinginan membuatmu tidak pernah hadir di dalam hidupmu
Sejak dunia membuatmu merasa hidup adalah masa depan yang mesti terus dikejar
Sampai kau abai menikmati segala yang sedang engkau miliki, dan lupa mensyukuri semua yang pernah engkau dapatkan


Kamis, 10 September 2026

Tabung Tanya

Segalanya mungkin kutemukan
Penampilanmu, dan jawaban dirimu
Pada layar kaca, tempatmu berkeluh kesah
Menjadi sesungguhnya, yang rapuh dan kesepian

Tetapi kuredam penasaran
Menguji teguhku memendam gelisah
Menakar tangguhmu merahasiakan gejolak
Supaya mekar angan indah sampai waktu yang belum pasti
Saat kusingkap keajaiban dirimu pelan-pelan dan penuh perhitungan

Aku ingin kita bertemu sebagai sepasang orang asing
Bersama dengan kesungguhan untuk saling memahami
Dengan basa-basi yang masih berlaku dan perkenalan yang mengesankan
Dengan tetap menyisakan misteri tentang diri kita untuk hari esok yang panjang
Agar tetap berkobar gairah kita untuk saling mencari dan mempertanyakan masa depan kita
Agar kita tetap saling mempertahankan dan memperjuangkan harapan kita yang semoga mewujud baik

Huru-Hara

Barangkali, kami yang kurang ajar
Memohon kasih dengan suara mengancam
Menuntut kehidupan yang mungkin tidak bisa juga kami wujudkan dengan kuasa sendiri

Atau barangkali, kalianlah yang terlalu angkuh
Merasa paling tahu dan enggan menimbang pendapat
Memaksa kami menerima segala yang kalian anggap baik untuk kami

Kita sudah sama-sama lelah bertarung kata
Saling menghakimi niat dan menghinakan nalar
Mengesampingkan tujuan yang sama karena cara yang berbeda

Untuk semua, seharusnya kita saling mengalah untuk mengawinkan pandangan
Menjadi beradab untuk memadukan harkat kebaruan dan martabat pengalaman
Memuliakan kembali penghormatan pemula dan pengorbanan pendahulu


Rabu, 09 September 2026

Kaca Pembesar

Godaan menggelincirkan niat
Menyasar guna, tertuju sia-sia
Tersebab bujuk gairah penasaran
Bernafsu menilik kerlap duniawi
Yang tersembunyi demi kepatutan

Tersulut kejenuhan dan keisengan
Kesendirian memancing kepolosan
Yang merahasia dari mata orang lain
Agar diri tetap terlihat baik dan mulia
Meski batin rusuh mengurung keliaran
Untuk suatu saat lepas tanpa kekangan
Melindas muruah yang telah lama terjaga

Akhirnya terwujud kecemasan
Peralatan nyatanya memperalat
Perkenalan berujung pelecehan
Permainan berujung perjudian
Perdebatan berujung penistaan
Semuanya berakhir penyesalan

Demikianlah jebak belantara maya
Jari-jari bersuara tanpa mempertimbangkan kenistaan dosa
Kata-kata menjadi kunci yang memungkinkan segala kekhilafan
Bagi siapa saja yang tidak benar-benar lepas atau tidak mampu menguasainya


Selasa, 08 September 2026

Alasan Pemungkas

Malang
Pecundang
Tersisih dalam perjuangan
Tanpa kemampuan untuk ketenteraman
Tanpa menjamin kehidupan

Nahas
Papa
Tertinggal dalam kemapanan
Tanpa kemewahan untuk kesenangan
Tanpa menjanjikan kebahagiaan

Lemah
Kacung
Terdepak dalam peraduan
Tanpa kekuasaan untuk kebebasan
Tanpa memastikan keamanan

Akulah ketidakberartian
Tampak merupa segala yang tak diharapkan
Masih tetap dengan perasaan menang, kaya, dan berdaya
Seandainya aku memilikimu

Apakah kau akan mencintaiku saat aku membenci diriku sendiri?

Dinding Rumah

Telah dingin sajian
Di meja ini, hanya keheningan
Seorang makan sendiri, dan seorang datang dengan perut kenyang
Atau sekadar berhadap-hadapan dengan rasa masing-masing
Tanpa berbagi jamuan atau suapan kasih sayang
Dengan tatapan yang menyantap gawai sendiri
Sampai tandas dan saling melalaikan

Telah asing pelukan
Di kasur ini, hanya kesepian
Seorang tidur lebih dahulu, dan seorang begadang larut lembur
Atau sekadar bersamping-sampingan dengan mimpi masing-masing
Tanpa berbagi selimut atau kecupan selamat tidur
Dengan dekapan yang merangkul raga sendiri
Sampai terjaga dan saling meninggalkan

Telah pudar kemesraan
Di bilik ini, hanya kedinginan
Seorang sedang mandi, dan seorang telah pergi terbawa cepat roda
Atau sekadar berpunggung-punggungan dengan rencana masing-masing
Tanpa berbagi godaan atau pelukan penuh cinta
Dengan sentuhan yang mengusap tubuh sendiri
Sampai elok dan saling mengabaikan

Demikianlah adanya
Rumah ini hanya pelarian
Ruang sembunyi dari kejaran dunia untuk kembali menguatkan diri
Mengulang rutinitas untuk menyambung kehidupan yang melelahkan
Tanpa sisa daya untuk bercanda
Tanpa sisa waktu untuk bermain-main
Dengan sendiri-sendiri, pulang dan melawan kebosanan untuk bersetia


Suara Kediaman

Kita menyukai ombak
Menyusup seperti paus
Sebelum air menabung limbah kejahilan
Sungai tertimbun, dan samudra tercemar

Kita menyenangi bukit
Menjelajah seperti macan
Sebelum tanah menanggung residu keserakahan
Dataran terkeruk, dan hutan tergerus

Kita menikmati angin
Melayang seperti elang
Sebelum udara menampung ampas keberingasan
Ruang tersesak, dan awang-awang ternoda

Kita adalah makhluk segalanya
Hidup menyelam, menapak, dan melambung
Sebelum berkhianat dan merusak kediaman sendiri
Karena kita hanya peduli sejauh jangkauan mata
Karena kita hanya peduli selama hari ini

Kini, kita berkehendak berpindah alam
Mungkin hanya untuk mengulang cerita

Senin, 07 September 2026

Sampai Jumpa Lagi

Sejak semula
Telah kutabur bibit harapan
Kucuri dari sekuntum wajahmu yang menawan
Dari peristiwa yang engkau abaikan
Pada lahan tanpa nama

Di mana kamu?
Semoga bertumbuh baik dan bahagia
Sebagai bunga matahari yang menari-menyinari hari-hari yang berduri

Pada malam ini
Dalam tenang gelap
Dari arah yang tak terbaca
Saat lelap memungkinkan semua
Kupasrah niat kepada penguasa taman
Untuk menemukanmu kembali di dalam mimpi
Bersemi, harum, dan menyenangkan
Untuk kubiarkan begitu saja
Untuk berharap berjumpa lagi
Seperti malam-malam yang lalu


Tafsir Warna

Agung angkasa
Kau datang dari cahaya
Putih hadirmu seperawan suci surgawi
Berdiam polos menuntut makna mengada
Serupa rona ketenteraman dipudar kejemuan
Hingga kau merebahkan diri pada kelam dunia
Terlentang bebas seperti kanvas yang pasrah
Menanti pelukis menerjemahkan tubuhmu
Menjadi hijau padang yang kelabu
Menjadi biru laut yang oranye
Menjadi cerah langit yang suram
Menjadi bening hujan yang keruh
Lalu berpendar pelangi setelahnya
Menyusun motif rasa di dalam hatimu
Dengan merah amarah, jingga curiga, kuning pening, hijau galau, biru cemburu, ungu mangu, dan nila gila
Atau berupa merah gairah, jingga bangga, kuning hening, hijau pukau, ungu melagu, dan nila menyala
Yang membuatmu berserah membasuh kekalutan dengan air mata setelah luapan keringat tak sanggup mendamaikan warna-warni itu di dalam hidupmu

Tiba akhirnya, gejolak mereda
Kau jadi lukisan yang tak terterjemah
Terbingkai dan berpulang menuju cahaya
Dengan putih kebaikan dan hitam keburukan
Dengan corak kelabu yang tak bisa kau takar sendiri

Setelah segalanya, apa kau menyesal pernah terlahir dan terluka? 
Atau kau bersyukur telah menuntaskan rasa penasaranmu untuk menemukan bahagia yang sementara? 


Minggu, 06 September 2026

Menjadi Sama

Sudah terlampau jauh
Aku letih mengejar khayalan
Dalam impian yang berulur cepat
Tak terserak makna untuk kusesapi
Kecuali pedihnya kecewa dan cemburu
Atas rentetan kegagalan dan ketertinggalan
Untuk harapan bijak demi ketenangan
Sekadar keinginan pada keadilan
Menjadi setara atau sewajarnya

Aku mendamba dunia yang dahulu
Saat hidup hanyalah tentang hidup
Menguntai napas langsung dari alam
Membarter untuk kenyamanan lebih
Tanpa daya uang untuk memperalat
Tanpa kasta kuasa untuk menindas

Kini, setelah keterlambatan telanjur
Pada kekacauan aku menuai penghiburan
Ketika nasib serasa melebur dalam kemalangan
Dengan pemadaman yang menidurkan
Dengan bencana yang meliburkan
Dengan wabah yang menganggurkan
Atau dengan kiamat yang mengugurkan


Pandangan Dunia

Mengembara di hamparan bumi
Bagi kami yang berguru pada alam
Atas kesabaran dan kemurahan buana
Untuk memperturut godaan tanya dunia
Perihal ilmu-ilmu yang dirahasiakan semesta 
Adalah permainan dan perlombaan semata
Dengan menungkup jangkrik atau mencongkel cacing
Dengan menangkup udang atau memanah ikan
Dengan menangkap capung atau mengetapel burung
Sampai kedewasaan membuat kami mengerti
Bahwa jagat raya menyembunyikan bakal kenikmatan yang melimpah
Sehingga kami mengarungi laut sejauh-jauhnya, menggali tanah sedalam-dalamnya, menjelajahi angkasa setinggi-tingginya

Alam kemudian berpindah pada kertas dan layar kaca
Menjelmakan bumi sebagai misteri jebakan yang mengancam
Menyulut ketakutan pada dunia nyata yang makin terlupa
Menggantungkan hidup pada hasil kerja mesin
Mengurung kalian dalam jerat bius permainan gawai 
Menumpuk pengetahuan imajinatif tanpa pengalaman hidup
Dengan gim kehidupan tanah, laut, dan udara
Yang membuat alam menjadi rumah segala makhluk selain kalian
Yang membuat samudra bebas dari kotoran, hutan bebas dari pembalakan, dan antariksa bebas dari polusi

Entah siapa yang lebih menghargai berkat alam di antara kita


Senin, 31 Agustus 2026

Ujung Kembara

Teruntuk adamu, aku menjadi bisu
Kata-kata kehilangan makna, dan aku mencetuskan bahasa sendiri
Dengan gerak tangan dan kaki, dengan pasang telinga, dengan segala irama tubuhku
Membuka tutup botol air minummu, menurunkan pijakan kaki sepeda motor untukmu, berbagi lagu melankolis pilihanku bersamamu, dan segala yang mungkin kau butuh untuk nyaman sampai tujuan
Lalu kita menjurus ke segala penjuru dengan isyarat diam yang multitafsir
Sampai kau kesulitan mengeja detak jantung dan desau napasku di tengah desir bising udara
Sampai kau menuntut maksud dari mulutku yang semampunya mengumamkan kilahan yang menyesatkan
Sebab tutur kata hanya kiasan tak berguna bagi niatku yang senantiasa berupa raga yang mengawanimu sepatutnya
Berupa keheningan yang mengundang seseorang mencurimu dari punggungku dengan gombalan murahan yang bagimu jawaban keresahan
Yang bagi diriku mewujud kecemburuan yang membuat tubuhku lumpuh kehilangan cakap, dan lidahku mesti belajar kembali membicarakan rasa
Kembali berlatih keras memuisikan kata untuk membangun gudang kenangan dari rintihan patah hati dan seruan doaku yang tak putus-putus
Dari sisa harapanku semoga kehidupan berakhir cepat dan baik, dan aku mendapatkanmu sebagai bidadari balasan atas tekad muliaku meredam sanubari
Sebagai satu-satunya jalan untuk berhenti menyaksikan dirimu bahagia dengan seseorang yang sanggup melayangkanmu ke mana saja, dengan sambutan karpet merah, dengan segala rasa minuman, dengan pilihan lagu yang bebas



Ingin Hidup Kembali

Pada antah-berantah
Di dalam balai sederhana yang tumbuh asing di tengah padang
Makhluk bersayap menari dan bernyanyi mengantarkan pagi yang dingin
Mengembuskan gigil dari kisi-kisi jendela atau sela-sela dinding kayu
Menimpakan kesenangan untuk bermalas-malasan di dalam selimut
Menanti bumi menghangat untuk membangun kebun dan ternak
Menghidupkan hidup dari kehidupan yang dipersembahkan alam

Pada nyata impian
Di dalam ruang yang tersesak sekat-sekat beton yang berbaris dan menumpuk
Alarm mengoceh lagi pada rentang menit yang kesekian setelah kesekian
Memperingatkan untuk mematikan pendingin ruangan yang bekerja semalaman
Menuntut perjuangan untuk bangkit dari kasur dan mengalahkan godaan kantuk
Menagih segera untuk bergumul dalam sesak asap dan kemacetan
Memperkaya manusia tamak yang telah menggajimu seadanya

Selama hari-hari
Kau merutuki keberadaan dirimu dalam perangkap kutukan kota
Mengulang kemarin untuk esok saat anganmu dalam hampa waktu
Pada alam imajinasi yang kau bangun dari cerita dongeng atau kitab suci
Karena batinmu selalu ingin kembali pada kehidupan leluhur yang dahulu sekali
Saat kedamaian bisa engkau dapatkan tanpa menggadaikan nilai sebagai manusia


Minggu, 30 Agustus 2026

Dunia Malam

Gelap dan sunyi
Hambar dan kesepian
Kutilik dan kucuri lagi awur polahmu yang lugu
Kurekam dan kususun ulang dalam semesta imajiku
Perlahan lepas kendali, lantas mengulur tanpa kerangka
Tanpa arah panduan skenario atau tuntunan sutradara
Terangkai saja sinema yang misterius dan menegangkan
Tentang kita yang bersikap dengan kehendak sendiri
Saat kita bersinggungan dalam belantara  kesesatan
Saat kita sama-sama terbuang dan mencari tempat berarti
Saat kita sama-sama ketakutan dan mencari persembunyian aman
Saat kau bertandang ke dalam bilik perlindunganku dan merasa tenang di sisiku
Saat kau memasrahkan dirimu ke dalam pelukanku dan mengandalkan diriku sepenuhnya
Sampai aku jadi diriku yang sesungguhnya, yang mengharapkan kehadiranmu sekian lama
Sampai timbul kekhawatiran batinku kalau-kalau aku menggila dan mencelakaimu
Sampai aku ingin mati saja sebelum mengganas dan menyakitimu
Sampai aku berharap kau segera sadar dan lenyap dari pengindaraanku
Tetapi nafsuku telanjur merajai untuk menunaikan adegan yang kuangankan
Aku kalah dan merangkulmu, membekapku, menghantanmu, melumatmu, menamatkanmu
Hingga aku tersadar dengan penyesalan dan sejumlah kerepotan
Hingga aku merasa tenang sebab semua tidak benar-benar terjadi

Terhadap dirimu, aku tak tahu pada mana diriku yang sebenarnya; di dalam alam sadarku, atau di bawah alam sadarku
Sebab sepanjang kedewasaan, aku hanya anak adam yang terus berjuang meredam naluri buas binatang di dalam diriku
Jadi kuminta, waspadalah pada jarak yang aman sebelum kedekatan membuatku hilang kewarasan dan menerkammu


Jumat, 28 Agustus 2026

Yang Maha

Kita berbatas
Upaya cuma percobaan
Doa sekadar permohonan
Ikhtiar hanya kemungkinan
Demi hidup semua diri

Kita rakus
Ingin menjadi segalanya
Untuk memiliki semuanya
Tanpa berbagi selayaknya
Demi nikmat seorang diri

Kita lupa
Dunia punya takaran
Hidup dalam kebercukupan
Lalu nafsu berkekurangan
Merasa pantas jadi pengadil


Kamis, 27 Agustus 2026

Teruntuk Kalian

Lama terlelap suasana
Antara kita yang terselubung
Hangat menawar, menjadi dingin
Melindapkan rencana yang sempurna
Melenyapkan cahaya bahagia
Sebelum rasa terkata

Dalam beku dan buta
Bunga api liar menjalar
Ke taman asa, sampai habis
Kelam rahasiaku, dan terang jalanmu
Kobar asmaramu, dan hangus kecewaku
Setelah mentari membuyarkan mimpi

Masa tenang telah tiba
Damai terpancar selepas hujan
Pada haru mataku, juga cerah langitmu
Terangkai pelangi citaku pada nyata cintamu
Setelah dirinya mewujudkan rencanaku
Untuk dirimu, begitulah sebaiknya


Rabu, 26 Agustus 2026

Kita setelah Mereka

Kembali bencana berkali petaka
Menggila tragedi bangsa pelupa
Selama negara dalam durjana
Selamanya buana gelimang duka
Mencipta kasta papa yang lara
Beserta saf ulama yang kecewa
Juga para cendekia yang terjaga
Satu armada menerjang cuaca
Dipandu nakhoda atas nama cita
Dipercaya katanya sesama hamba
Seturut citra maya media berita
Menjadi duta tanpa ada curiga
Sampai ganda siklus masa bahala
Sebab manis bahasa, berdua muka
Berlawan karena dengki semata
Berpura menista kuasa yang dusta
Memenjara raga penjarah dana
Mengganti mereka mencuri laba
Menimbun harta, mengumbar angka
Membungkam massa dengan senjata
Sampai gana mafia memicu sengketa
Sampai nyawa suaka dan membahaya
Sampai masanya melawan sang raja
Mengerahkan tipu daya segala gaya
Menjaja surga dalam pesta yang hina
Merebut tahta dan mengulang bala
Hingga cua sukma kita terlenyap asa
Sisa berdoa untuk tobatnya penguasa
Atau menerima saja cara dunia bekerja
Dengan pasrah pada durhaka manusia
Bahwa adikara punya pencinta angkara
Agar ada beda antara dosa dan pahala
Agar bermakna membela yang menderita
Agar berarti surga sebagai imbalan Yang Maha
Atau lagi, kita bersepakat mencoba
Meniti peta gerakan nurani yang terencana
Menjadi bijaksana sebelum bersinggasana
Berbudi mulia sebelum memikul dunia
Terbiasa berpuasa sebelum berkuasa
Tetapi, apa masih tersisa percaya di antara kita?
Atau kita masih akan saling curiga perihal siapa di antara kita yang akan berhasil mengkhianati selainnya?


Minggu, 23 Agustus 2026

Untuk Hidup Sehari Lagi

Buram nalarmu, dan ingin menggelapkan semua
Melihat tali, racun, pisau, dan mulai menimbang rencana
Tetapi khawatir juga kesialan menggantung tanggung nasibmu
Melenyapkan daya untuk selamanya meratapi ketidakbergunaan
Hingga kau menyusup lewat jendela, untuk terjun, hancur, dan sirna
Membebaskan diri dari kemalangan dunia yang sambung-menyambung
Perihal cita yang merana, cinta yang sungkawa, dan citra yang nista
Melahap kesabaran untuk bertahan mengharapkan perubahan
Namun ragu mempertanyakan lagi detik mendatang untuk sekali lagi
Merenungkan takdir yang tersangkal, yang barangkali menuju bahagia
Seiring kembali juga ketakutan merongrong dari pelajaran masa kecilmu
Mengancamkan siksa jahanam dengan pedih yang sepedih-pedihnya
Lalu kau terombang di antara kesangsian dan kenekatan
Menyadari kalau semua akan berakhir jua tanpa harus engkau akhiri
Sampai kekacauan itu mengacaukanmu dengan pilihan dari pilihanmu
Menggoyahkan tegapmu, tergelincir, jatuh, dengan keinsafan yang kembali
Tepat pada pembaringan kamarmu, saat kau teringat lagi pada semua yang berkorban untukmu
Menguatkan batinmu untuk memperjuangkan hidup sehari lagi, dan lagi


Sabtu, 22 Agustus 2026

Larut dan Terurai

Berangkat dari sahaja
Terambang ambisi dan apati
Sepanjang bantaran kita berdansa
Di atas tanah berpasir atau lumpur berkerikil
Bertatak belukar dan berpayung pepohonan
Dengan gemercik arus dan gemerisik dedaunan
Diiringi padu tarian burung dan jogetan ikan
Yang begitu nikmat dengan cara sederhana
Sebab kita meninggikan berkat yang lahir
Tanpa merendahkan rahmat yang jatuh
Sampai terpisah angan tentang pesta
Karena kau benci hujan dan aku benci terik
Karena kau takut ombak membawa kita pulang
Sedang aku takut kobar menghanguskan kita
Lalu sendiri, kau menyimpang ke bukit
Setelah tengadahmu menjurus ke puncak
Saat segala tanya menggodamu mendaki
Tinggi, dan makin tinggi, menuju langit
Sampai hilang dalam impian masa depan
Ketika aku masih sejauh ujung jalan yang sama
Pada terakhir kita dalam alam ugahari
Dengan sendiri meresapi yang lalu
Sebelum terhanyut lagi dengan tenang
Kembali, dan terus kembali, dalam samudra kenangan
Tenggelam berulang sampai dasar palung cerita
Terkubur dengan sepenuh kisah dari sepenggal kisahmu


Senin, 17 Agustus 2026

Esa Juang

Duka luka dalam sejarah
Dari bengis musuh yang merata
Telah membawa nasib menuju takdir
Pada kesatuan derita dalam perlawanan

Lalu merdeka memperdaya
Kita sama mencari perbedaan
Atas ketidakadilan atau kecurigaan
Menjadi sebab menentukan nasib sendiri

Kita lantas melemah
Sendiri-sendiri dalam ikatan lepas
Mencipta kacung, raja kecil, hingga pemberontak
Membebaskan selatan, merenggangkan timur, barat, dan utara

Entah bagaimana garis tangan kita
Adakah alasan selamanya untuk kita teguh memegang janji persatuan?
Mungkinkah keadaan membaik untuk kita saling merangkul dalam perjuangan?
Atau kita hanya bertahan untuk saling menggenggam dalam kerapuhan?


Minggu, 16 Agustus 2026

Sejak Semula

Akan berbiak kepedihan
Bertumbuh dari luka yang basah
Terlahir dari dendam yang mengakar
Dari kita yang membenihkan kemalangan
Dalam pergumulan yang bersimbah peluh
Selama kebersamaan yang kerontang
Setelah kita mengikat kesetiaan yang rapuh
Demi menenangkan perasaan yang labil
Dengan pikiran yang kabur terbekap nafsu
Akibat sihir perjumpaan yang tidak terencana
Selepas terusir dari persinggahan yang kacau
Atau terbuang dari rumah yang porak-poranda
Karena kita terlahir tanpa bisa memilih tempat
Sebab kita ada tanpa bisa menjadi tidak pernah ada

Pada kelak, entah di mana salahnya setelah penderitaan yang mewariskan penderitaan itu
Apakah pada kelahiran, pertemuan, atau kebersamaan kita?
Atau pada kelalaian kita karena memperturut kenikmatan semu yang membuat kita abai menentukan waktu yang tepat untuk berhenti menjadi kita?

Tetapi semasih kini, saat riwayat itu belum sempurna, akankah kita mampu tercerai menjadi kami dan kalian demi mereka-mereka yang tidak berhak menanggung penderitaan karena kita?
Atau kita sanggup untuk selamanya tidak menjadi kita, lalu mati dengan penderitaan sendiri-sendiri?


Jumat, 14 Agustus 2026

Makna Kedua

Termakan khayal gelap layar
Terkembang alur dalam kepala
Memandu mungkin yang bisa
Meracuni ragu sebanyak kali
Membanjir asa di semak jarak
Bertumbuh subur sejauh bulan
Agustus luka yang ranggas bunga
Terbayar impas sekian pukul
Satu malam saat tubuh rapat
Membicarakan yang tak tahu

Rabu, 12 Agustus 2026

Sebuah Pernyataan

Ah, kutilik lagi keajaiban itu
Sendiri, dalam genggaman dunia
Sebelum kebosanan menjeda hasratku

Ya, akan begitu akhirnya
Tanpa belahan hati untuk memuja
Segala keindahan terasa menjemukan

Oh, andai kamu di sini
Kutatap kesempurnaan itu selamanya
Dalam matamu, seutuh dunia dalam semestaku


Senin, 22 Juni 2026

Lagu Posesif

Kesepian telah membawanya ke dalam sangkar kesunyian yang sebenarnya. Keinginan untuk memeriahkan hidupnya dengan seorang pasangan hidup, malah membuatnya mendekam di balik jeruji besi. Mata hatinya buta atas nama cinta untuk seorang perempuan, hingga ia nekat melakukan tindakan yang gila bagi pikiran yang jernih.

Dalam sekian waktu yang lama, ia telah berusaha menjalani kehidupan yang nyata. Ia sudah berjuang menaklukkan sosok pujaan hati demi menjadi lelaki sejati. Terhitung lima kali ia menyatakan perasaannya kepada perempuan yang berbeda. Tetapi sayang, ia selalu mendapatkan penolakan, seolah ia hanya baik sebagai teman dan tidak pantas menjadi pangeran cinta.

Kekecewaan pada kenyataan, lalu membuatnya menarik diri dari medan perjuangan. Ia menepi dalam kesunyian, dan membiasakan diri dengan kesendirian. Tanpa berkawan siapa-siapa, ia kemudian hanyut di dalam dunia maya. Sampai akhirnya, jalan perkawanan yang acak, mempersangkutkannya dengan seseorang perempuan di balik sebuah akun, yang membuatnya kembali berangan-angan tentang kasih sepasang manusia.

Waktu demi waktu, mereka terus mengakrabkan diri. Terpisah tembok kota yang sesak, bukanlah satu penghalang. Pesan tulis atau suara via ponsel pintar, menjadi jalan jitu mereka berbagi cerita. Dari serangkaian obrolan itulah, mereka merasakan kenyamanan dengan berbalas penghargaan. Ia senantiasa memberikan pujian pada tulisan sang perempuan, sedang ia mendapatkan pujian untuk kepiawaiannya bermusik.

Perlahan, keakraban mereka berubah menjadi ketergantungan. Mereka saling membutuhkan untuk merasa diri bernilai. Mereka seolah sama-sama terasing dan ingin menyatu untuk menyemarakkan kehidupan. Mereka bak belahan jiwa yang terhubung layar ponsel masing-masing. Karena itulah, setelah keterikatan maya dalam hitungan bulan, mereka bersepakat untuk bertemu pada sebuah pagelaran sastra. Dengan maksud hati yang sejalan, mereka berniat menjajaki hubungan di dunia nyata.

Tetapi sudut pandang senantiasa membuat mata berubah penilaian terhadap kenyataan. Setelah bertemu dan saling bertatapan untuk pertama kalinya, cita-cita mereka atas masa depan, malah jadi berbeda akibat ekspektasi dan perspektif nilai fisik yang berbeda pula. Ia merasa begitu beruntung sebab sang perempuan lebih rupawan daripada yang terlihat pada berkas foto di media sosial, sedang sang perempuan malah menilai dirinya secara sebaliknya.

Dengan sewajarnya dan sepatutnya, sebagai sepasang kenalan baru di dunia nyata, mereka kemudian melewatkan hari-hari berdua, meski dengan harapan yang tak searah. Mereka sama-sama berupaya menyampatkan waktu untuk menjalani aktivitas bersama, meski dalam pemaknaan yang berbeda. Ia meniatkan kebersamaan mereka sebagai awalan menuju hubungan yang serius, sedangkan sang perempuan sekadar menghargainya sebagai seorang teman.

Akhirnya, atas keyakinannya sendiri, ia pun membulatkan tekad untuk menyatakan perasaannya. Demi tujuan itu, ia mengajak sang perempuan untuk melewatkan malam Minggu bersama di sebuah kafe favorit sang perempuan sendiri. Pada momen itulah, dengan penuh percaya diri, ia naik ke atas panggung musik bebas untuk mempersembahkan sebuah lagu gubahannya sebagai kado ungkapan perasaan cintanya.

"Lagu ini kupersembahkan untuk Wanita Cantik di sana," tuturnya, sebagai kata pengantar, sambil menuding ke arah pujaan hatinya.

Mata orang-orang seketika tertuju pada sang perempuan.

"Ini lagu ciptaanku sendiri, sebagai ungkapan perasaanku," terangnya.

Sekian menit berjalan, berbekal petikan gitarnya sendiri, ia menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Tetapi malang baginya, sebab sebelum lagu itu benar-benar tandas, ia melihat kalau sang perempuan telah menghilang dari mejanya.

Akhirnya, malam itu, dengan perasaan malu, ia turun dari panggung. Tanpa berlama-lama, ia bergegas menyusul sang perempuan dengan sepeda motornya. Dalam waktu yang singkat, ia pun tiba di kos-kosan sang dambaan hatinya itu.

"Apa ada yang salah denganku?" tanyanya, setelah sang perempuan membuka pintu untuk menemuinya di teras kamar.

Dengan tatapan nanar, sang perempuan balik bertanya, "Apa kau masih kanak-kanak sampai kau tak tahu kesalahanmu?"

"Apa?" tanggapnya, bingung. "Apa kau tak suka laguku? Atau kau tak suka aku menyanyi untukmu?"

Sang perempuan menggeleng-geleng saja dengan raut kesal.

"Apa? Katakanlah," desaknya.

"Aku tak suka kau menyatakan perasaanmu seperti itu kepadaku! Itu sama saja kau mempermalukan aku di depan umum," tegas sang perempuan.

"Kenapa? Bukankah selama ini kau menyukaiku juga? Tidakkah sikap baikmu kepadaku berarti kau mau menjadi kekasihku?" selidiknya, heran.

"Aku tidak punya perasaan kepadamu lebih dari sekadar rasa pertemanan!" tutur sang perempuan, seperti tanpa keraguan.

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan diriku?" selidiknya lagi, seolah tak bisa memahami.

Sang perempuan terdiam gusar.

"Setidaknya, beri aku alasan sampai kau tak mau padaku," pintanya.

"Karena kau jelek, dan kau tak punya rasa malu! Puas?" ketus sang perempuan, lantas berbalik dan menutup pintu.

Ia pun terperanjat dengan hati yang terluka. Ia butuh sekian detik untuk menginsafi kenyataan pahit atas harapan cintanya itu.

Sejak saat itu, ia menjalani hari-harinya dalam kesedihan. Setelah gagal mendapatkan kekasih untuk kesekian kalinya, ia merasa kegagalan yang terakhir itu adalah kegagalan terpedih. Semua angan-angan yang indah tentang masa depan, mesti susah payah ia lenyapkan dari dalam benaknya. Segenap persembahan berupa gubahan lagu-lagu cinta untuk sang perempuan, juga harus ia arsipkan dengan penuh kepiluan.

Setelah semua yang terjadi, ia benar-benar terpuruk atas duka cintanya. Ia jadi putus asa menghadapi kehidupan, dan butuh pelampiasan untuk tetap bertahan. Hingga akhirnya, kepedihan itu memberinya kekuatan untuk kembali menciptakan karya sebagai bentuk terapi. Sebuah lagu kemudian rampung, perihal cinta yang tak akan mati untuk seseorang yang tidak bisa dimiliki. Satu lagu yang ia unggah pada laman akun-akun barunya di sejumlah kanal media sosial, dengan nama samaran pekarya yang tak diketahui orang selain dirinya.

Tetapi ternyata, seiring waktu, lagu dengan polesan musik yang minimalis itu, tak bisa menyerap dan meredam segenap kerisauan hatinya. Tetap saja kekalutannya bergejolak untuk harapan cinta yang tak bisa ia bunuh. Apalagi, pada waktu kemudian, dalam aksi pemantauannya akibat rasa penasarannya, ia acap kali menyaksikan sang perempuan berkunjung ke kafe tersebut bersama seorang lelaki yang entah dalam status apa. 

Hingga akhirnya, kegalauannya itu menjadi kecemburuan yang mengacaukan kewarasannya. Mata hatinya gelap, hingga ia tega membuntuti dan menendang sisi belakang sebuah sepeda motor seorang lelaki yang memboncengkan sang perempuan sepulang dari kafe. Kenekatan itu tak menimbulkan kematian, tetapi cukup mencederai dan merugikan. Lelaki pembonceng sang perempuan mengalami luka gores ringan pada punggung kakinya, dan tak perlu perawatan khusus; sang perempuan mengalami luka parah pada betis dan wajahnya, sehingga ia dilarikan ke rumah sakit; ia sendiri tak mengalami luka-luka, tetapi ia akhirnya dijebloskan ke dalam sel penjara tersebab aksinya terekam jelas kamera pemantau.

Waktu pun bergulir cepat.

Kini, pada sudut pandang kehidupan yang lain, pada ruang kamar sang perempuan, entah untuk kali keberapa sebuah lagu berputar. Terus saja berulang, seperti mantra. Merasuki telinganya lewat perangkat jemala nirkabel. Membungkam pendengarannya dari dunia luar. Melambungkan angannya ke alam imajinasi.

Jadi milikku sepenuhnya
Cintaku lebih dari hidup
Jangan akhiri selamanya
Rinduku lebih dari mati

Selalu saja perenungannya makin meninggi setiap kali bagian refrein itu mengudara, layaknya berada di puncak ekstase. Musik yang melankolis, dan lirik yang mendalam, membuatnya hanyut tenggelam. Saat melanglang di pusat alam jiwanya itulah, ia kerap menemukan keajaiban sebagai ilham penciptaan karyanya.

Begitulah kebiasaannya selalu, seolah ia telah kehilangan rasa bosan atas pengulangan. Sejak menemukan lagu itu di dunia maya, seketika pula ia jatuh hati. Ia merasa telah menemukan sebuah lagu yang sempurna untuk seorang pencinta sejati seperti dirinya. Ia merasa lagu itu adalah karya terbaik untuk menginspirasi pengungkapan perasaannya yang agung.

Karena itu pula, setiap kali menulis puisi tentang rasa cintanya kepada lelaki pujaan hatinya, ia senantiasa menyetel lagu itu. Suasana surgawi akan terbentuk, dan ia jadi mudah meramu kata untuk menyiratkan pemujaannya. Sudah beberapa gubahan ia ciptakan dengan cara itu, dan ia tidak pernah kecewa dengan hasil akhirnya.

Tanpa keraguan, ia yakin kalau lagu itu diciptakan oleh dan untuk pemuja cinta yang sejati. Diciptakan seseorang yang juga memperjuangkan cinta yang mendalam, yang tak akan terhenti sampai menang, atau mati. Untuk seseorang seperti dirinya sebagai pencinta yang mencintai sepenuhnya, tanpa ada kemungkinan untuk berpaling ke lain hati. Dan memang begitulah adanya, bahwa di luar jangkauan pengetahuannya, penciptaan lagu itu didasari oleh cinta buta seorang pendamba terhadap pujaan hatinya; antara dirinya dan seorang pencipta lagu yang pernah ia campakkan.

Sampai akhirnya, sekian lama berselang, ia merdeka dari pergulatan imajinasinya. Ia kembali berhasil merangkai kata menjadi sebuah puisi yang utuh. Sebuah puisi yang seolah menjadi kesimpulan dari rangkaian puisinya sebelumnya. Satu puisi pengakuan dan pernyataan cinta yang tidak menerima penolakan sebagai balasan.

Terimalah bunga ini dari gersang asa
Semaikan, mencipta taman nirwana
Atau ia akan gugur di atas pusara
Mengurai cinta jadi duka yang baka

Demikianlah sebuah bait yang memungkaskan gubahan itu. Sebuah puisi yang ia rampungkan untuk seorang lelaki yang menyenangkan perasaannya sekian lama dengan senantiasa memuji karyanya. Seorang yang memboncengkannya dengan sepeda motor saat seorang yang menggilainya menghantam kendaraan mereka dari belakang. Seorang penyanyi tetap di sebuah kafe favoritnya, tempat dahulu ia merasa begitu malu terhadap sang pujaan saat cintanya dipinang begitu saja oleh seorang lelaki yang sangat mendambakannya menjadi kekasih.

Seturut rencananya sekian lama, ia pun hendak mengakhiri kerisauan hatinya dengan puisi itu. Setelah lama berkawan dengan sang pujaan dan tak kunjung pendapatkan kepastian, ia bertekad mengambil langkah yang berani. Ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya lebih dahulu dengan gubahannya itu, sebab ia tak tahan lagi mengulur waktu dalam ketidakpastian. Karena itulah, dengan perasaan yang berdebar, ia akhirnya mengirimkan puisi itu kepada sang idaman melalui kolom pesan.

Setelah sekian lama tak mendapatkan balasan, ia pun mengirimkan permintaan: Aku butuh tanggapanmu

Tak lama berselang, sang lelaki membalas: Seperti biasa, puisimu mengagumkan. Tidak diragukan lagi

Dia: Aku tidak butuh tanggapanmu sebagai komentator. Aku menulis puisi itu untukmu, dan aku butuh jawabanmu untuk ungkapanku di dalam puisi itu

Sang lelaki: Seandainya saja aku bukan teman baikmu, dan aku memendam perasaan yang istimewa kepadamu, aku pasti menerima bunga itu dengan senang hati

Dia: Tapi aku menginginkanmu lebih dari sekadar teman biasa

Sang lelaki: Jangan bercanda... Oh, ya, kau sebaiknya kuberitahu sekarang, kalau bulan depan, aku akan menikah. Ini undangan yang rencananya aku kusebarkan minggu depan (menautkan sebuah berkas undangan pernikahan dalam format video pendek)

Dia: (sebuah tanggapan dengan emotikon senyuman yang canggung)

Dengan jantung yang berdebar keras, ia lantas membuka berkas undangan itu dan mengejanya dengan perasaan yang hancur. Sekian detik kemudian, ia terpaku pada momen video yang menampilkan foto sang pujaan bersama calon istrinya dengan senyuman yang lepas. Seketika pula, ia menginsafi bentuk senyumannya sendiri, yang tak lagi semanis dahulu setelah kedua bibirnya teriris luka yang dalam dan meninggalkan bekas yang sangat jelas. Dengan begitu saja, ia larut dalam perbandingan yang menyakitkan.

Perlahan-lahan, kedengkian makin mengacaukan pikiran dan perasaannya. Beserta emosi yang tidak lagi terkendali, dengan iringan lagu posesif yang masih terus mengalun, ia pun membuka aplikasi lokapasar di ponselnya, lalu mengetik kata pencarian: Air Keras

Panggilan Sekolah

Pagi terasa kelam baginya. Sebuah kekacauan membawanya menyusuri masa yang lampau. Beserta perasaan yang berkecamuk, ia kembali memasuki gerbang sekolahnya dahulu. Banyak yang berubah pada rupa bangunan dan lingkungan itu, tetapi ingatannya tetap mengabadikan serangkaian peristiwa yang sama.

Sembari berupaya meredakan ketegangan hatinya, ia terus saja mengayun langkahnya untuk menemui seorang siswa setingkatnya dahulu. Tekadnya bulat untuk menunaikan penebusan, meski kenangan di dalam benaknya terus menggugah ragunya. Tubuhnya seolah terseret jiwanya yang setengah mati, demi tujuan yang entah bagaimana akhirnya.

Tetapi kemudian, kekalutan batin memaksanya mengambil jeda. Ia lalu melipir ke dalam toilet untuk menenangkan diri. Ia paham kalau emosi yang tidak terkendali, malah akan membuat rencananya kacau balau. Ia jelas butuh kekuatan mental untuk melumpuhkan momok di dalam memorinya, demi melancarkan aksinya.

Seketika pula, ia kembali merenungkan peristiwa memilukan yang terjadi kemarin. Setibanya di rumahnya, sepulang dari rumah sakit tempatnya bekerja, ia mendapati anaknya dengan kondisi yang mengenaskan. Sang anak hanya meringkuk murung di sofa setelah menjadi korban pengeroyokan teman sekolahnya. Pelipisnya lebam, dan bibirnya bonyok.

"Temanku dipalak bos preman yang kutahu untuk pesta miras gengnya di gubuk belakang sekolah. Aku minta uang itu dikembalikan, tetapi ia malah memukulku," terang sang putra yang duduk di kelas X, setelah ia bertanya dengan penuh keprihatinan.

"Kau melawan?" selidiknya, begitu penasaran.

Sambil mengusap-usap pelipisnya, sang anak mengangguk lemas. "Aku menghantam hidungnya sampai berdarah, lalu menendang perutnya sampai terjungkal. Tetapi dua orang temannya segera membantunya mengeroyokku."

Mendengar keterangan itu, ia ikut duduk di sofa, lalu menepuk-nepuk pundak sang anak. "Aku bangga padamu, Nak. Kau berani melawan dan mempertahankan harga dirimu sebagai lelaki. Bagaimanapun akhirnya, kaulah pemenangnya. Lelaki yang bertarung dengan keroyokan, adalah penakut yang kalah sedari awal."

Mendengar pujiannya tersebut, sang anak malah tampak malas memperpanjang cerita, dan memilih beralih memainkan ponselnya.

"Tetapi setelah apa yang terjadi, kukira, kau mesti turut saran Ayah untuk ikut organisasi karate, agar kau lebih andal dalam membela diri, seperti Ayah semasa sekolah," pesannya, seturut dengan kisah yang senantiasa ia ceritakan kepada sang anak, bahwa dahulu ia adalah jagoan sekolah yang tak terkalahkan.

Sang anak malah mendengus dan menggeleng-geleng. Ia lalu menoleh gusar dan merespons kesal, "Sudahlah, Ayah. Aku sudah tahu kalau dahulu, selama sekolah, Ayah hanyalah seolah pecundang."

"Maksudmu?" sergahnya, terheran.

"Aku sudah tahu semuanya dari Pak Gugun, Wakil Kepala Sekolah. Katanya, dahulu, Ayah hanya seorang kacung penakut di sekolah," terang sang anak.

Ia sontak kikuk. "Di mana kau dengar dia bilang begitu?"

Sang anak menjelaskan dengan raut lesu, "Setelah perkelahian, kami yang terlibat dipanggil ke ruangannya. Dia pun menceritakan soal Ayah, dan aku jadi bahan tertawaan orang-orang."

Ia bergeming. Tak kuasa menyanggah.

"Dia lalu mewanti-wanti agar aku tak macam-macam lagi di sekolah. Dia meminta agar aku jadi anak baik seperti Ayah. Kalau tidak, aku bakal diperkarakan dan disanksi," sambung sang anak.

"Terserah apa katanya. Yang pasti, kau perlu tahu, kalau dia itu doyan membual," tanggapnya, membela diri.

Seolah bingung harus percaya siapa, sang anak kembali beralih fokus ke layar ponselnya, kemudian melanjutkan tuturan dengan sikap tak acuh, "Dia juga menyalahkanku atas perkelahian itu. Dia tidak percaya padaku setelah aku menjelaskan semuanya. Lalu, kata dia, kalau pun keteranganku benar, aku tetap salah karena ikut campur urusan orang lain. Karena itu pula, ia meminta agar aku tak bicara-bicara soal pesta miras geng itu, agar tak menodai nama baik sekolah. Tapi aku tahu, sikap dan keputusannya itu hanya untuk membela dan melindungi keponakannya yang tukang palak dan suka mabuk itu."

Seketika pula, ia memendam kekesalan kepada sang Wakil Kepala Sekolah (Wakasek).

"Karena aku yang divonis bersalah, ia meminta Ayah menghadap kepadanya di sekolah, besok," pungkas sang anak.

Ia mengangguk saja.

Akhirnya, setelah mendengar cerita anaknya, sampai saat ini, kekesalannya makin menumpuk menjadi kegeraman. Ia sungguh tidak terima sang anak yang mendaku berada di posisi yang benar sebagai pemberantas kezaliman, malah diperlakukan tidak adil. Ia jelas tak ingin sang anak mengalami penderitaan seperti yang ia rasakan semasa sekolah.

Kini, di dalam toilet sekolah, ia terus teringat kejadian yang menyesakkan dadanya. Serangkaian peristiwa yang telah lama ia kubur dan ia rahasiakan dari pengetahuan anaknya. Tetapi setelah perkara yang diceritakan putranya itu, kenangan perihal rentetan kasus memilukan semasa sekolah, akhirnya kembali mengacaukan pikiran dan perasaannya.

Dengan tayangan kejadian yang masih jenih di dalam memorinya, ia lalu meresapi adegan demi adegan pahit selama berada di sekolah menengah atas itu. Tak terhitung lagi berada kali ia mengalami aksi perundungan dari para siswa preman di sekolah. Disahuti dengan julukan mengejek, dijahili dengan beragam sentuhan fisik, ditimpuki dengan barang-barang, hingga disuruh menjadi kurir untuk membeli camilan di kantin; sudah menjadi penderitaan rutinnya.

Sesaat kemudian, ia kembali terkenang beberapa perlakuan yang cukup membuat kewarasannya mengeruh. Satu waktu, celananya pernah dilucuti para preman, lalu ia dikuncikan di dalam toilet perempuan, hingga ia harus menanggung malu setelah kawanan siswi mendapatinya. Pada lain waktu, ia dipaksa para bandit untuk mengisap tiga batang rokok secara bersamaan, hingga ia mengalami sakit batuk berhari-hari setelahnya. Bahkan pernah sekali waktu, saat praktik renang di sebuah permandian, ia ditunggangi dan dibenamkan ke dalam air oleh tiga orang berandal, sampai penghujung napasnya, hingga ia nyaris celaka.

Sekian lama berselang, ingatannya tertuju pada satu perlakuan buruk yang akibatnya begitu menyiksa perasaannya dalam waktu yang panjang. Pada satu momen jam istirahat, ia dipanggil dan diarahkan ke satu sudut gedung sekolah oleh seorang antek preman. Saat sampai pada kerumunan anggota geng, ia pun dirisak dan dipermainkan. Lalu, entah dengan maksud apa, sang pemimpin begundal menyemprot baju pramukanya dengan cat semprot berwarna merah muda. Ukuran memang hanya sebentuk tanda seru kecil di sisi samping kanan, tetapi itu cukup menodai warna alaminya.

Dengan kepedihan hati, ia lalu berupaya membenahinya dengan larutan peluntur. Cara itu memang ampuh merontokkan noda semprotan, tetapi malah membuat warna seragamnya ikut luntur. Dengan terpaksa, ia menerima keadaan baju peninggalan almarhum kakaknya itu sebagai warna cokelat muda yang makin memudar. Pada hari Jumat dan Sabtu, ia tetap mengenakannya, meski harus meredam rasa malu, sebab warnanya jelas tampak asing di antara warna baju teman-temannya. Ia berusaha bersabar dengan keasingan itu selama delapan bulan akhir masa SMA-nya, demi berhemat.

Kemiskinan memang menjadi pokok permasalahan bagi ketenangan dan kemerdekaannya sebagai seorang siswa. Dengan status anak yatim yang hidup dari pendapatan kecil ibunya sebagai pengasong sayur mayur, ia sudah semestinya tidak banyak tingkah. Ia mesti menghemat uang untuk hal yang benar-benar perlu, termasuk meredam keinginan besarnya untuk membeli baju pramuka yang baru demi tampil setara dengan teman-temannya.

Kemiskinan pula yang membuat dirinya menjadi seorang pecundang di sekolah. Tanpa memiliki siapa-siapa yang punya kuasa untuk membela, ia memilih mengalah demi menghindari perkara yang malah bisa membuat keadaannya makin rumit. Apalagi, ia punya pengalaman buruk saat berupaya membebaskan diri dari perundungan. Pada satu kali, saat semester pertama kelas X, ia dipalak oleh pasukan begundal. Ia pun jujur mengaku tak punya uang jajan. Maka sebagai gantinya, ia disuruh memalak siswa-siswi dalam sebuah kelas, sampai dapat jumlah uang yang ditargetkan. Ia pun terpaksa melakukannya, hingga ia mendapatkan perlawanan dari dua orang siswa, dan mereka terlibat perkelahian yang tidak seimbang.

Setelah seorang guru menyaksikan keributan itu, ia lalu diperhadapkan kepada kepala sekolah. Dengan kepolosan, ia pun menceritakan kejadian yang sebenar-benarnya. Tetapi sial, ia malah diminta sang kepala sekolah untuk memaklumi kezaliman teman-temannya sebagai keisengan belaka. Ia diminta tidak mudah memperkarakan tindakan buruk teman-temannya, apalagi mengumbarnya ke mana-mana, demi menjaga nama baik sekolah. Ia pun diperingatkan soal bantuan iuran pendidikan yang ia dapatkan, yang bisa saja dicabut kalau ia tak pandai-pandai bersikap.

Dari kejadian itulah, ia mengerti kalau lingkungan sekolah memang keras untuk dirinya yang bukan anak siapa-siapa. Ia pun tak bisa apa-apa selain bertahan dengan tidak melawan arus kezaliman. Ia merasa cukup baik asalkan tidak bergabung dengan kawanan penjahat. Apalagi, ia paham kalau keadaan buruk itu tidak akan bisa diubah. Ia yakin kalau pihak sekolah tidak akan menganggap dan menanggapi serius perilaku bejat para perundung, sebab pimpinan preman sekolah yang kerap kali merisaknya adalah kemanakan sang kepala sekolah.

Keadaan pelik yang membelenggunya, dan serangkaian aksi perundungan yang menimpanya, memang tidak benar-benar melukainya secara fisik, tetapi sungguh telah menghancurkannya secara batin. Diam-diam, ia bahkan menyadari kalau perangainya yang penyendiri dan emosional, dibentuk oleh pengalaman buruknya semasa sekolah. Karena itu, ia tak mau keadaan serupa menimpa anaknya. Ia pun bekerja keras menjadi orang berada demi memenuhi kebutuhan sekolah sang anak. Ia ingin sang anak merasa setara dengan teman-temannya, dan menjadi percaya diri. Ia ingin sang anak memiliki mental yang kuat, sehingga berani bertarung membela yang hak dan melawan kezaliman.

Dalam waktu sekian lama, ia pun berupaya memendam sendiri perihal kenangan masa SMA-nya yang kelam. Segenap cerita buruk yang menyakitkan hatinya, ia kubur saja di dalam memorinya sebagai kisah pribadi. Selain terhadap ibunya, semua pengalaman pahit itu, juga ia tutup rapat-rapat dari anaknya. Jelas saja, ia tak mau sang anak memiliki persepsi yang buruk terhadapnya. Bahkan demi mengokohkan citra baiknya sebagai pemberani yang patut diteladani, ia menuturkan cerita karangan untuk sang anak, bahwa dahulu, ia adalah jagoan baik yang disegani di sekolah.

Namun kini, setelah ia mendengar penuturan sang anak, kedamaiannya pun terguncang. Kenangan memilukan dari masa sekolah, seketika berputar kembali di dalam benaknya. Ia jelas tak terima sang anak yang melawan kemungkaran, malah diperlakukan secara buruk. Ia juga tak terima penderitaan masa lalunya malah dijadikan lelucon untuk merendahkan dirinya di mata sang anak dan orang lain. Karena itulah, kegeramannya jadi tak terbendung lagi. Ia bertekad melampiaskan amarahnya kepada sang Wakasek yang tiada lain adalah pemimpin preman sekolah yang dahulu kerap menindasnya selama masa SMA.

Sampai akhirnya, setelah membasuh wajah dan mengatur emosi, ia pun melangkah tenang menuju titik tujuannya. Sesaat kemudian, ia menjumpai seorang pesuruh dan menyampaikan maksud kedatangannya. Dengan penuh keramahan, perempuan paruh baya itu lantas mempersilakannya masuk ke ruang sang Wakasek dan memintanya menunggu.

Dalam kesendirian, ia lalu memperhatikan keadaan sekitar dan mencari jalan terbaik untuk menunaikan rencananya. Sekian lama menerka-nerka, ia pun mengancang opsi keduanya sebagai pilihan, meski membutuhkan kecekatan yang lebih. Namun akhirnya, acangannya berubah seketika saat sang persuruh muncul kembali membawa dua cangkir teh dan sepiring gorengan. Ia beralih pada opsi pertama dengan peluang keberhasilan yang lebih tinggi.

Tak begitu lama menanti dengan berdiri di depan jendela sambil mengecap masa lalu, akhirnya, sang Wakasek datang menemuinya dengan sikap tegas.

Dengan begitu saja, bara dendam membakar dadanya.

"Selamat datang," kata sang Wakasek, lantas mengulurkan tangan.

Dengan sikap tenang, ia menjabat tangan itu tanpa membalas dengan kata.

"Akhirnya kita bertemu lagi," singgung sang Wakasek, dengan raut bersahabat. "Kukira kau sudah lupa jalan ke sekolah kita ini."

Dengan gejolak amarah di dalam hatinya, ia mendengkus dan menyengir saja. Lalu, tanpa persilaan, ia duduk di depan Wakasek.

Sang Wakasek lantas meneguk teh bagiannya, kemudian bertutur dengan pemahaman soal maksud kedatangannya, "Kuharap anakmu sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya." Ia menjeda untuk mengatur napas. "Permasalahan itu, terkait seorang perempuan. Ya, wajar, anak muda. Jadi ...." la kembali menjeda. Tampak linglung.

Dengan kepercayaan penuh kepada anaknya, tanpa merasa perlu menunggu penjelasan lengkap dari lelaki berkumis itu, ia pun melayangkan bogemnya tepat di pelipis kiri sang Wakasek.

Sontak, tubuh tambun sang Wakasek terdepak ke sandaran kursi. Ia pun mengeluh lemah, tanpa daya mengembalikan kesadarannya yang kacau secara cepat.

"Manusia bajingan!" geramnya, lantas meninju keras bagian bibir dan hidung sang Wakasek dengan penuh dendam. Lalu, tanpa berlama-lama, demi meloloskan diri, ia bergegas pergi dengan perasaan puas.

Sesaat kemudian, saat ia telah berada di tempat parkir, di samping mobilnya, ia pun mendengar keriuhan di dalam gedung sekolah. Sebagai seorang apoteker, ia yakin, efek obat halusinasi yang ia masukkan ke dalam teh sang Wakasek, telah bekerja dengan baik. Ia menduga kuat kalau lelaki berkepala botak itu telah berperilaku seperti zombi. Ia menaksir kalau lelaki tersebut telah berlari-lari tanpa arah, setelah melepas semua pakaiannya karena kegerahan.

Dengan perasaan menang, tanpa memusingkan apa yang akan terjadi selanjutnya, ia kemudian pulang dengan keyakinan kalau mata kamera para penghuni sekolah akan merekam peristiwa itu, lalu mengabadikannya di dunia maya, lantas membentuk nilai baru untuk nama sekolahnya dahulu yang ia vonis penuh kemungkaran dan kemunafikan sampai saat ini.


Sumpah Sampah

Entah pada mana kata hati mereka terikat
Tekad berjuang sebatas ikrar dalam kelompok
Sekongkol, bersiasat, menebar benih cita-cita
Membawa panji yang tercerai warna penafsiran
Bagai sihir pelangi meninabobokan mara bahaya
Mengancam ketenangan yang terjaga dari mimpi
Mengaburkan penglihatan batin yang hitam-putih
Memasrahkan ketidakberdayaan untuk memilih
Dengan sebaik-baiknya merendahkan keburukan
Dari sekawanan penjahat kepada penjahat yang lain

Demikianlah, sebab kata kehilangan kekuatan
Melumpuh kala janji surga menjadi wabah
Menjangkit sebagai pelet manjur pesilat lidah
Menular dari drama apik panggung perdebatan
Yang kita nikmati sebagai pentas keculasan
Yang cukup berarti dengan menyajikan harapan

Sampai kini, masih seperti kemarin yang lampau
Terucap sumpah atas nama kita semua
Dari kelompok, oleh segelintir, untuk mereka saja


Jumat, 12 Juni 2026

Mata Kaki

Hari mulai menghangat saat adik perempuanku membuka pintu pagar. Sayup-sayup kudengar ia berbincang dengan seorang lelaki. Detak-detak langkah yang asing kemudian mengarah ke posisiku, lalu berhenti pada jarak sekian meter di depanku. 

"Hai!"

Sapaan itu, sontak menghunjam memoriku. Mengutak-atik berkas cerita yang telah lama kuarsipkan sebagai kenangan.

Aku pun bergeming. Aku jelas mengenal pemilik suara itu sebagai dirimu. Aku sungguh tak menyangka kalau kau akan datang setelah semua kerumitan yang terjadi di antara kita. 

Hening saja dalam sekian detik, seolah kita sama-sama berusaha mencerna alur cerita hingga kita sampai pada saat ini. Satu rangkaian kisah yang seakan membuat kita cukup mengerti hingga sama-sama bingung meramu pertanyaan yang pantas. 

Beberapa saat kemudian, dari pertanda suara, kuterka kau makin mendekat, lantas duduk di sampingku, pada sebuah bangku di teras depan rumahku. Tanpa merasa perlu bertanya kabar, kau lalu melontarkan singgungan, "Kuharap kau masih mengingatku," katamu, seolah kau tak pernah meninggalkan arti di dalam hidupku.

Sembari berusaha meredam kecamuk batin, aku mengangguk saja. Setelah menimbang-nimbang, aku lalu melontarkan tanya sekenanya, "Kapan kau datang dari kota seberang?"

Kau lekas menjawab dengan nada datar, "Lima hari yang lalu." 

"Ada urusan apa?" selisikku. 

"Pamanku meninggal."

Seketika, perasaanku tersentak. "Pamanmu yang punya kebun di bukit itu?"

"Iya."

Aku pun terenyuh. "Aku turut berduka."

"Terima kasih."

Sekian lama, keheningan kembali menjeda kita, seolah sama-sama membutuhkan waktu untuk menafakuri kedukaan. 

Perlahan-lahan, ingatanku kembali mengulang satu kisah kita di kebun jagung milik pamanmu itu. Sebuah kebun yang berada di perut perbukitan, tempat kita dan beberapa teman sekolah kita yang lain kerap mengadakan pesta bakar jagung saat masa panen. Di sanalah kebersamaan kita yang terakhir, yang menjadi momentum yang telah menggantung kita dalam ikatan batin yang tak berkesudahan. 

Satu kisah kita itu, terjadi lima tahun yang lalu, selepas kita tamat sekolah menengah atas dan sedang mengancang rencana masa depan. Tiba-tiba saja, pada satu sore yang cerah selepas hujan, kau bertandang ke rumahku dan menyahutiku. Kau lalu memintaku untuk segera menurutimu ke satu tempat yang kaurahasiakan. Katamu, kau akan memperlihatkan keajaiban yang selama ini kunantikan. 

Dengan rasa percaya bercampur penasaran, aku lekas mengenakan kacamata minusku, kemudian menunggangi sadel sepeda motormu. Kita lalu mengarah ke titik awal pendakian menuju kebun tersebut. Namun di tengah perjalanan, rencana kejutanmu tidak lagi membuatku bertanya-tanya. Di langit, aku melihat separuh bentuk pelangi. Aku yakin, itulah yang hendak kautunjukkan kepadaku, sebab aku pernah bertutur kepadamu kalau aku sangat ingin melihat pelangi yang belum pernah kulihat secara langsung selama hidupku. 

"Ah, ternyata kau sudah tahu," ujarmu, setengah kesal, setelah memarkirkan sepeda motor pada pangkal jalan pendakian yang merupakan jalan setapak, dan kau melihatku mendongak dengan pandangan kagum ke arah langit. "Ayo, cepat, kita ke balai-balai kebun pamanku. Di sana, kita akan melihat pelangi itu secara utuh. Kalau kita gesit, kita pasti masih akan melihatnya di sana sebelum menghilang."

Aku mengangguk saja dengan persetujuan penuh. Demi keindahan yang sempurna itu, aku lalu mengekorimu dengan langkah cepat. 

Tetapi ternyata, hasrat besar itu mesti diwujudkan dengan mengarungi tantangan yang berat. Jalan yang basah selepas hujan, membuat pendakian kita tidak semudah biasanya. Berkali-kali kakiku terpeleset, entah karena alas sandalku tak kuat mencengkeram tanah yang licin, atau karena permukaan sandalku itulah yang licin dan menggelongsorkan telapak kakiku. Sudah kucoba mendaki tanpa alas kaki agar langkahku kokoh, tetapi telapak kakiku malah tak bisa menahan sakitnya tusukan kerikil yang runcing, atau duri putri malu yang tumbuh liar. 

Akhirnya, demi misi besar yang berbatasan waktu, kau pun melucuti sepatumu dan menyodorkannya kepadaku. Dengan setengah memaksa, kau memintaku menanggalkan dan meninggalkan saja sandalku di tepi jalan, lalu mengenakan sepatumu itu. Kau mewanti-wanti dan menginstruksikan kalau kita mesti mendaki cepat agar kita tidak terlambat. Maka dengan perasaan tersentuh, aku pun memakainya, kemudian berupaya melangkah dengan lebih tangkas dan tangguh. 

Tetapi dengan bantuan itu, aku masih saja kepayahan. Karena kecapaian, aku makin goyah dan lambat menapak. Aku bahkan sesekali salah langkah dan terjatuh karena keterbatasan pandanganku akibat kacamata minusku yang tertutup embun napasku atau tetesan keringatku sendiri. Karena itu, aku terus saja merepotkanmu demi cita-citaku sendiri. Aku kerap kali berpegangan pada ekor bajumu, atau  genggaman tanganmu. 

Hingga akhirnya, dengan napas yang tersengal-sengal dan tubuh penuh keringat, kita tiba di dataran kebun milik pamanmu. Dengan tenaga yang tersisa, kita segera naik ke atas balai kebun itu. Kita lantas duduk di teras depan rumah panggung tersebut dengan kaki menyelonjor, sembari bersandar lepas pada dinding. Kita kemudian berupaya mengatur napas dan meredakan kepenatan, sembari memandangi pelangi yang menawan di atas lembah dan perbukitan sebelah.

"Syukurlah, kita masih mendapatinya," katamu, dengan raut bangga, disusul senyuman yang lebar. 

"Ya. Indah sekali," tanggapku, dengan napas yang masih memburu. 

Berselang sesaat, kau lantas melontarkan saran yang menarik, "Sebelum terlambat, berharaplah untuk perihal yang kaucita-citakan. Kata orang-orang, segala harapan yang dipanjatkan sembari memandangi pelangi, akan menjadi kenyataan yang indah, sebagaimana pelangi," tuturmu, sembari melirikku dengan tatapan yang hangat. 

Karena kau pernah mengajarkan itu sebelumnya, saat dahulu aku masih berharap melihat pelangi, aku pun mafhum dan telah menunaikannya. "Sudah kulakukan tadi."

"Apa?" sidikmu, tampak penasaran. 

"Semoga aku berjodoh dengan orang yang baik," jawabku, setengah malu, lantas melayangkan senyuman simpul. 

Kau lantas mengangguk-angguk manyun, kemudian menelisik dengan sikap segan, "Tapi itu terlalu umum. Harapanmu mesti spesifik. Kalau soal jodoh, kau mesti meniatkan seseorang."

Aku pun mengangguk paham. "Ya, sudah kulakukan juga."

Sontak, kau menyergah dengan raut datar, "Siapa?"

Dengan separuh enggan, aku lantas menguraikan, "Seorang polisi yang dijodohkan denganku oleh orang tua kami. Keluarga besar kami bahkan sudah merencanakan untuk menikahkan kami secepatnya," terangku, sepolosnya, tanpa memedulikan pandanganmu. "Aku harap dia orang yang baik untukku. Kalau tidak, aku harap kami tidak sampai pada jenjang yang serius."

Kau pun mengangguk-angguk pelan. Aku yakin kau terkejut, sebab aku memang belum pernah menceritakan soal itu kepadamu. 

Seolah kehilangan rasa penasaran, kau lantas terdiam saja dan hanya menatap pelangi yang makin memudar. 

Aku lalu balas menyidik, "Kau sendiri memanjatkan harapan apa di hadapan pelangi saat ini?"

Kau menggeleng-geleng. "Tak ada harapan apa-apa. Sebagai teman, aku hanya berharap segala yang terbaik untukku."

"Ah, curang!" protesku. "Katakanlah!"

Kau lantas tergelak pendek, kemudian memampang ekspresi cuek, seperti berusaha menyamarkan keengananmu untuk berkata jujur. "Aku serius. Aku memang tak ada niat untuk memanjatkan harapan. Sedari awal, pelangi itu sekadar kurencanakan untuk kaujumpai, untuk engkau berharap."

Akhirnya, aku menyerah untuk menelisik.

Keheningan kemudian menyelimuti kita seiring warna pelangi yang makin memudar. Kita tidak lagi berbagi kata, hingga pelangi itu benar-benar lenyap.

"Sudah waktunya kita pulang," katamu, dengan raut sayu. 

Aku mengangguk tenang. 

Akhirnya, kita mulai melipat langkah pada jalan setapak yang telah susah payah kita daki. 

Sepanjang perjalanan menurun itu, aku pun merasakan jelas perubahan sikapmu. Tiba-tiba saja kau jadi pendiam dan kehilangan nafsu untuk memancing percakapan. Kau tak lagi banyak bicara dan malas mempertanyakan apa saja kepadaku. Kau bahkan tak lagi tertarik untuk sekadar mengulas kisah kebersamaan kita selama masa sekolah menengah atas sebelum kita benar-benar terpisah arah masa depan. Padahal, sebelumnya, bahkan saat perjalanan mendaki, kau masih dengan perangaimu yang banyak omong dan suka memancing tawaku.

Beberapa lama kemudian, kita pun menggapai sepeda motormu yang terparkir. Kau lantas memberiku aba-aba agar aku kembali duduk pada sadel sisi belakangmu. Lalu tanpa percakapan lagi, roda berputar menuju ke rumahku. Hingga akhirnya, dengan laju yang lebih cepat dari biasanya kau memboncengkan aku, dalam waktu singkat, kendaraan tua itu membawa kita sampai di halaman rumahku. 

"Terima kasih telah mewujudkan keinginanku melihat pelangi," kataku, setulusnya, setelah turun dari dudukan. 

Kau hanya mengangguk dengan senyuman simpul yang terkesan terpaksa. 

Dalam sekian detik kemudian, kita hanya terdiam-berhadapan dengan tatapan yang tiba-tiba segan untuk beradu. 

"Kenapa belum pergi? Ada yang ingin kausampaikan?" tanyaku, begitu saja, setelah kita terperangkap dalam adegan yang aneh. 

"Sepatuku," jawabmu, singkat, bermaksud meminta kembali sepatumu yang masih tepasang rapat di kakiku. 

Aku pun tersadar dan merasa bodoh. "Oh, iya. Aku lupa," ujarku, kemudian mengutarakan niatku sebelumnya, "Tapi biar aku cuci dulu. Kau bisa mengambilnya besok atau lusa."

"Tidak usah," tolakmu, tampak berkeras. 

"Aku memaksa soal ini," bantahku, tak mau kalah. 

Kau pun mendengkus dan mengalah. "Baiklah," pungkasmu, dengan ekspresi datar. 

Tanpa berlama-lama lagi, kau lalu memutar posisi sepeda motormu cepat-cepat. Tidak seperti biasanya, kau kemudian pergi tanpa pamit dengan kata-kata yang bersahabat. 

Hari demi hari berganti. Nyatanya, kau tak kunjung datang ke rumahku untuk mengambil sepatumu. Sudah kucoba menghubungimu lewat telepon, tetapi kau tak menanggapi dengan alasan yang tak jelas. Karena itu, lima hari berselang, aku memutuskan untuk mengantarkan sepatu itu kepadamu, ke tempat tinggalmu, ke rumah pamanmu yang seolah orang tuamu di kota kecil ini. Tetapi ternyata, kau telah beranjak ke kota seberang, ke kota kelahiranmu, ke tempat tinggal ibumu. Dengan rasa kecewa, aku pun membawa pulang sepatu itu dan menyimpannya untukmu. 

Sejak kepergianmu, kita tidak lagi pernah bertemu atau sekadar berkomunikasi. Aku pun jadi tak tahu bagaimana keadaanmu. Namun dari jendela dunia maya, pada akun media sosialmu, aku mendapatkan informasi kalau kau kemudian berkuliah di sebuah politeknik sembari bekerja di bidang konstruksi. Aku turut senang mengetahui kehidupanmu yang baik itu. Tetapi akhirnya, dengan penelusuran daring yang intens dan berkala, aku kemudian mendapatkan laman berita yang mengabarkan perihal seorang pekerja perbaikan jalan dengan identitas yang sama sepertimu. Kabarnya, lelaki itu terserempet mobil saat sedang mengerjakan perbaikan ruas jalan raya. Untungnya, pekerja tersebut selamat dari maut, meski mengalami luka-luka. Dan jika benar itu adalah kau, aku berharap kau baik-baik saja. 

Namun setelah semua yang terjadi, atas sikapmu yang tiba-tiba berubah pada momen terakhir kebersamaan kita, aku pun menerka kalau itu ada hubungannya dengan percakapan singkat kita di balai kebun pamanmu. Kuduga kau memendam kekesalan setelah aku mengungkapkan soal perjodohanku dengan seorang lelaki. Tetapi aku tak bisa menebak dengan jelas alasan di balik ketidaksukaanmu itu, apakah karena kau tak suka aku akan menikah dengan seorang polisi karena kau membenci polisi setelah ayahmu meninggal akibat tembakan polisi yang salah sasaran sebagaimana ceritamu, ataukah karena kau memiliki perasaan suka kepadaku. 

Andai saja waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke masa lalu, saat kita masih bersama dalam keadaan yang baik-baik saja. Jikalau demikian, aku akan nekat mengupayakan agar kebersamaan kita berujung pada cerita yang indah. Sebab sejujurnya, dahulu, seiring waktu dalam keakraban kita, aku memendam perasaan yang lebih dari sekadar rasa persahabatan terhadapmu. Karena itu, aku selalu berharap kau pun begitu terhadapku, kemudian menyatakan perasaan kepadaku, lalu kita menjadi sepasang manusia menuju ikatan yang suci. Tetapi sepanjang kebersamaan kita pula, aku tak bisa meyakini kalau harapanku itu akan terwujud. Kau tampak hanya mengakrabiku sebagai seorang teman dekat. Tidak lebih. 

Hingga akhirnya, di tengah hubungan kita yang menyenangkan dalam batas persahabatan, aku mendapatkan penawaran dari ibuku perihal rencana perjodohanku dengan anak kawan lamanya. Dengan penuh pertimbangan, aku pun menerima perjodohan itu sebagai jalan takdir yang baik untuk diriku dan keluargaku yang sedehana. Sebagai perempuan, aku jelas memilih kepastian untuk menjalin hubungan yang serius. Apalagi, kepastian itu direncanakan dengan seorang yang terhitung mapan untuk membangun rumah tangga. 

Namun malang tak bisa kuhindari. Waktu demi waktu, daya mataku makin memburuk. Pengobatan gagal mengatasinya. Kacamata pun tak bisa menanggulanginya. Sampai akhirnya, penyakit glaukoma itu menghilangkan penglihatanku secara total. Akibatnya, rencana perjodohanku dibatalkan oleh pihak lelaki. Dengan rasa kecewa, aku sadar diri dan pasrah menerimanya. Jelas, berat bagi siapa pun untuk menerimaku sebagai pendamping hidup dengan kondisiku yang mengenaskan. 

Hingga akhirnya, aku sampai di hari ini, saat kau tiba-tiba datang dan membangkitkan kenangan tentang kita di dalam benakku. 

"Barangkali kau ada keperluan khusus sampai kau datang ke sini setelah sekian lama? Apa kau bermaksud mengambil kembali sepatu yang kaupinjamkan kepadaku dahulu?" selisikku, setelah jeda hening sekian lama. 

"Tidak ada apa-apa. Bukan juga untuk sepatu itu," sangkalmu, lalu memberikan alasan yang diplomatis, "Aku hanya ingin bersua denganmu."

"Untuk apa?" selidikku, dengan perasaan yang meragukan. "Lalu, kenapa dahulu kau tak segera datang mengambil sepatu itu?"

"Entahlah," tanggapmu, dengan nada bimbang. "Aku hanya merasa tak membutuhkannya lagi."

"Lalu kenapa kau tak mengabariku, agar aku tak perlu menyimpan dan menjaganya demi mengembalikannya kepadamu?" selidikku lagi.

"Maaf," ucapmu, seolah merasa bersalah dan menyesal. 

"Itu bukan jawaban. Aku butuh alasan yang sebenar-benarnya," tuntutku. 

Kau terdiam saja. 

Akhirnya, aku mendesak, "Katakanlah, kenapa kau bersikap seperti itu kepadaku sejak hari terakhir kebersamaan kita dahulu?"

Kau lantas mengembuskan napas yang panjang, kemudian menjawab lemah, "Aku tak suka mendengar kenyataan kalau kau akan menikah dengan seorang lelaki."

"Kenapa?" sergahku. 

"Karena aku menyukaimu; aku mencintaimu."

Seketika, hatiku terasa dingin mendengar kejujuranmu untuk segala tanyaku tentang kita selama ini. Aku sungguh merasa lega. 

Hening sekian detik. 

"Lalu, kau memanjatkan harapan apa di bawah pelangi di sore itu?" tanyaku lagi, dengan begitu penasaran. 

"Aku berharap, kita akan menikah dan menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya," terangmu, polos, untuk menyempurnakan kejujuranmu. 

Sontak, batinku tersentuh. Air pun menangis terharu. Aku merasa bahagia karena kisah kita telah menemukan alasan untuk kuabadikan sebagai kenangan yang indah. Tetapi atas keadaanku yang berkekurangan, aku kukuh meredam angan untuk hidup bersamamu. Di tengah ketidaktulusanku menerima keadaan diriku sendiri, aku sadar kalau siapa pun, termasuk kau, akan berat menerimaku sebagai pasangan hidup, dan kau berhak mencari perempuan yang jauh lebih baik. 

"Maaf kalau kau tak berkenan dengan semua yang telah kukatakan," ujarmu. 

Aku pun menggeleng keras. "Terima kasih karena kau telah mengungkapkan semuanya dengan jujur."

Kau tergelak pendek. "Akulah yang semestinya berterima kasih, karena kau bersedia menerima pengakuanku," tangkismu. "Kini, aku merasa lega."

Aku lalu menagih penegasan, "Apakah itu alasan sesunguhnya sampai kau datang menemuiku?"

"Iya," akumu, disusul isakan yang samar. 

Aku pun merasa damai. 

Untuk sekian lama, kita hanya saling mendiamkan dalam keharuan masing-masing. 

Hingga akhirnya, kau mengambil ancang-ancang untuk berpisah kembali, "Aku pamit, ya. Sudah waktunya aku pergi. Banyak yang mesti kupersiapkan menjelang jadwal penerbangan," tuturmu, tanpa merasa perlu menanyakan perihal bagaimana perasaanku kepadamu. Tetapi kurasa, memang begitulah semestinya, sebab jawabanku sebagai seorang tuna, tidak akan memiliki pengaruh apa-apa untuk masa depan kita. 

"Tetapi kau sebaiknya mengambil kembali sepatumu dan membawanya serta," ajuku, sembari berusaha mengikhlaskan perpisahan kita lagi, sebab aku memang tak punya hak untuk menahanmu.
 
"Tidak usah. Simpanlah saja sebagai kenang-kenangan. Lagi pula, aku tidak membutuhkannya lagi," responsmu, dengan maksud hati yang tak kutahu jelas. 

Aku pun mengangguk pasrah. Mengisyaratkan penerimaanku.

"Aku harap segala yang terbaik untukmu di sini," pungkasmu, lantas menepak-nepak punggung tanganku. 

"Aku harap begitu juga untukmu di sana," balasku. 

Seketika pula, kudengar bunyi tapakan di ubin teras. Kuterka, kau telah mengambil langkah pergi, tanpa merasa perlu mengucapkan sampai jumpa. Tetapi kukira, begitulah seharusnya. 

Sesaat kemudian, setelah terdengar dentingan kunci pagar, kudengar lagi tapakan kaki menuju ke arahku, yang kubaca jelas sebagai langkah kaki adikku. 

"Laki-laki itu teman sekolah Kakak yang dulu sering ke sini, kan?" selidik adikku. 

"Ternyata kau masih mengenalnya juga," tanggapku. "Memangnya kenapa?"

"Kasihan ya, dia."

"Kasihan kenapa?"

"Jalannya pincang dan pakai kaki kanan buatan."

Seketika, perasaanku tersentak. Perlahan-lahan, aku memahami kenapa kau tak mempertanyakan perasaanku kepadamu, lalu pergi tanpa ucapan sampai jumpa. 

Tetapi diam-diam, atas kemalangan dan rasa rendah diriku, dan mungkin demikian pula dirimu, terjadilah pergulatan di dalam batinku perihal kemungkinan dan ketidakmungkinan tentang akhir kita. Aku jadi bertanya-tanya, apakah mungkin ada inginmu menyatukan diri denganku dan menyempurnakan kehidupan kita yang penuh ketidaksempurnaan? Adakah mungkin kau mau jadi mataku, dan aku jadi kakimu? 


Makan Bersama

Kepulanganku kali ini beserta perasaan yang berbunga-bunga. Sebagai bentuk perayaan atas keberhasilanku sendiri, aku pun membawakan hadiah untukmu. Aku telah membeli sekantong makanan instan yang cukup mahal, yang pasti kausuka. Setidaknya, begitulah yang kulihat pada iklan-iklan merek makanan kucing itu.

Sudah sepatutnya aku berterima kasih atas kehadiranmu. Sebagai lelaki lajang yang berjuang sendiri untuk hidup di tengah kehidupan kota yang keras, kau cukup menawar kepenatan dan kesedihanku dengan tingkah acak dan cuekmu. Karena itulah, setelah aku mendapatkan surel pemberitahuan kalau aku diterima sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan ekspedisi, aku merasa kau mesti merasakan kesenanganku juga.

Hasratku menyenangkanmu dengan makanan istimewa, makin menjadi setelah aku mendapatkan perlakuan yang sama dari seseorang. Dengan begitu saja, menjelang jam pulang kerja, aku mendapatkan informasi dari seorang kurir bahwa seseorang telah memesankan sekotak hidangan berupa nasi campur dari sebuah restoran mewah untukku, yang kemudian digantung sang kurir di depan pintu kamar kosku. Aku tak bisa menebak dengan yakin siapa sang pemurah itu. Tapi kukira itu ada hubungannya dengan hari ulang tahunku kemarin.

Karena itulah, aku memilih tidak membeli hidangan tambahan untuk diriku sendiri, demi berhemat. Dengan tabungan yang seadanya, kurasa cukup jika aku sedikit berkorban untukmu. Selama ini, atas pendapatanku yang memprihatinkan sebagai pramuniaga toko perabotan rumah tangga, kau turut hidup melarat. Makananmu sebatas sisihan dari makanan sederhanaku. Nasi putih dengan suwiran daging ikan atau ayam, cukup membuatmu bersetia denganku. Bahkan tak jarang bagianmu sekadar tulang belulang atau nasi berkaldu kalau aku sedang berhemat ketat.

Akibat kondisi kehidupan itu, keadaanmu tak sebaik kucing-kucing peliharaan orang berada. Tubuhmu terhitung kurus, dan bulu-bulumu masih rontok. Karena itu pula, sudah beberapa kali aku mencoba membuatmu sejahtera dengan menyelundupkanmu ke halaman rumah keluarga kaya yang kutaksir pencinta kucing. Tetapi sialnya, kau selalu menemukan jalan untuk pulang ke kamarku, dan memilih tetap bersamaku. Sampai akhirnya, aku menyerah untuk membuat kita terpisah.

Dengan semua itu, kau sepatutnya bersyukur atas kebaikanku dalam segala keterbatasanku. Tidak saja menyelamatkan nyawamu, aku juga menghidupimu semampuku. Hingga akhirnya, kau tumbuh sehat dan kuat. Keadaanmu jelas jauh lebih baik ketimbang tiga bulan yang lalu, saat aku menemukanmu dalam keadaan yang begitu memprihatinkan. Saat itu, kau hanya meringkuk lemas dan berbalut air comberan di tepi selokan persimpangan jalan yang sepi. Kau seperti hanya menunggu mati dalam keadaan terabaikan. Sebuah pemandangan yang membuatku miris, hingga aku memilih untuk menolongmu

Kini kusadari, keputusanku untuk membawamu dan merawatmu dengan cara sederhana adalah keputusan yang tepat. Kalau saja tidak begitu, aku pasti dihantui rasa bersalah sepanjang waktu. Aku yakin, kau akan mati kedinginan dan tak pernah dikuburkan. Aku yakin begitu, karena di tengah kehidupan perkotaan yang berat secara ekonomi, orang-orang akan memilih untuk mengabaikanmu demi menghindari beban-beban untuk menghidupimu. Bahkan aku yakin orang-orang yang mengasihanimu akan enggan menyelamatkanmu, dengan pikiran, setidaknya, bukan mereka yang membunuhmu.

Pikiran-pikiran semacam itu, tak bisa kuhindari, karena aku menyaksikan sendiri kalau kemiskinan menggerayangi orang-orang di sekitarku. Setidaknya, banyak penghuni kamar kos di sekitarku, hidup dalam keadaan yang tidak lebih baik dariku. Mereka berjuang keras untuk bertahan dalam impitan ekonomi dengan kebutuhan yang makin mahal. Ada yang bekerja sebagai pengemis, pengamen, atau pedagang asongan. Bahkan ada beberapa yang kuketahui bekerja sebagai pengedar obat terlarang, penagih utang, dan pelayan di tempat hiburan malam.

Kenyataan kerasnya kehidupan kota makin kusadari setelah mengetahui kalau aku harus bersaing dengan ratusan orang untuk mendapatkan pekerjaan yang kini berhasil kumenangkan, meski pekerjaan itu hanyalah pekerjaan level rendah dengan gaji yang secukupnya. Aku pun makin memahami keadaan itu empat hari yang lalu, setelah menjalani tes wawancara, seusai mengobrol dengan salah satu dari dua orang pesaing terakhirku dalam memperebutkan satu pekerjaan tersebut.

"Hidup di kota ini terasa makin berat. Persaingan makin ketat. Pendapatan menurun, sedangkan kebutuhan meningkat. Kita mesti pandai-pandai mencari cara untuk bertahan," kata lelaki itu kemudian, dengan nada mengeluh, setelah menerangkan kalau pendapatannya makin sulit memenuhi kebutuhannya di tengah pesaingan perebutan penumpang yang makin sengit di antara pengemudi ojek daring setelah banyak orang menjadikan penghidupan tersebut sebagai pekerjaan sampingan atau pelarian dari status pengangguran.

Aku sekadar mengangguk setuju dan membebaskannya untuk terus menumpahkan keresahannya. Aku merasa sepatutnya menjadi penenang dengan menjadi pendengar yang baik atas kebaikannya mengajak dan mentraktirku makan bersama di sebuah warung makan di tengah pendapatan kami yang sama-sama pas-pasan.

Ia lantas mengembuskan napas yang panjang, kemudian menyambung keluh kesahnya, "Aku tak tahu lagi bagaimana kalau aku tidak segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaanku sekarang," tuturnya, untuk merangkum kekalutannya akibat jeratan utang, termasuk pinjaman daring, demi menghidupi istri dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil.

Dengan penuh pengertian, aku pun menanggapi sekenanya, "Sesulit apa pun kehidupan kita, setidaknya, kita masih bisa bertahan hidup dengan cara-cara yang baik."

Seolah sepaham, dengan perasaan berat, ia pun mendengus dan melayangkan senyuman miris.

Sekian lama kemudian, kami hanya saling mendiamkan. Aku fokus menghabiskan salah satu hidangan favoritku berupa nasi campur dengan lauk ikan bandeng goreng, sedangkan ia khidmat menikmati isapan rokoknya. Hingga akhirnya, setelah turut menandaskan hidangan dan memulai gelagat untuk berpisah, kami pun sama-sama sadar untuk sepatutnya berbagi nama dan informasi pribadi. Setelah itu, kami lalu berpisah tanpa menyinggung bagaimana kemungkinan akhir dari persaingan kerja di antara kami.

Tetapi tentu, sebagai orang yang sekian lama hidup dengan keuangan yang pas-pasan, demi kehidupan yang lebih baik, aku jelas ingin mengalahkannya dalam mendapatkan pekerjaan tersebut. Aku ingin jadi lebih berdaya dalam membeli segala macam keperluan, termasuk perihal kebutuhanmu. Aku ingin menjadi pemelihara yang berkelas dengan senantiasa memberikan makanan yang istimewa untukmu. Dengan begitu, badanmu akan jadi makin berisi dengan bulu hitam-putih yang menawan, dan aku akan makin suka melihatmu dan membelaimu.

Sampai akhirnya, harapanku terwujud hari ini, setelah aku mendapatkan surel pemberitahuan kalau aku terpilih sebagai pemenang dalam perebutan pekerjaan itu. Aku hanya perlu memenuhi persyaratan pemberkasan untuk benar-benar menjabat pekerjaan tersebut. Karena itulah, kali ini, aku pulang dengan perasaan yang berbunga-bunga. Aku tak sabar untuk tiba dan menjumpaimu di area kamarku seperti biasa. Aku ingin segera berbagi kesenangan denganmu, dengan makan bersama, dengan hidangan kesukaan masing-masing.

Namun aneh. Setelah tiba di halaman kos-kosan dan memarkir sepeda motor, aku tak mendengarmu mengeong sambil menghampiriku cepat-cepat. Dengan penuh tanya, aku lalu melangkah ke arah kamarku sembari melayangkan pandangan. Dari jarak sekian meter, aku pun melihatmu berbaring di teras depan.

Tetapi keganjilan malah makin terasa. Tak seperti biasanya, kau tak segera bangun dan menyambut kedatanganku. Hingga akhirnya, aku menyaksikan kenyataan yang memilukan. Dari mulutmu, keluar gelembung busa, sedang di sampingmu, berserakan sekotak nasi campur dengan lauk ikan bandeng goreng.

Kau telah menyelamatkan nyawaku dengan kematianmu.


Persatuan Bahaya

Sebagai anak negeri
Dari tanah tercuri
Kaum kawula terbentuk
Merangkai keremehan
Membangun kebodohan
Menderita kelaparan
Membakar kemarahan
Menjadikan ancaman

Terhadap segelintir
Dari bangsat terdidik
Para penunggang kuasa
Dengan tameng suara
Memanjakan nafsu
Melampaui batasan
Melalaikan peringatan
Menjemput kehancuran

Untuk kita mewarisi
Dalam silang pendapat
Tanpa satu rencana
Dari puing kebiadaban
Menyusun peradaban
Merayakan perubahan
Mewarnai kepalsuan
Mengulang kegagalan

Ikatan Batin

Bila saja sesuai rencana, sejak tujuh hari yang lalu, aku semestinya berada di kampung bersamamu. Mulai hari itu, aku akan melewatkan hari dengan membantumu mengurus kebun lada kita. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Engkaulah yang beranjak ke kota ini. Kau terpaksa datang menemaniku menjalani perawatan di rumah sakit setelah aku mengalami komplikasi penyakit asam lambung. 

Aku tak pernah membayangkan kenyataan akan begitu. Sebagai seorang anak, akulah yang seharusnya menandangimu dan mendampingimu dalam kelemahan dan kerentananmu. Aku seharusnya menjaga kondisi tubuhku agar aku tidak malah merepotkanmu sebagai seorang ayah yang sudah nyaris lanjut usia. Tetapi malang tak bisa kuelakkan. Penyakit mengalahkan pertahanan tubuhku, dan aku tak bisa apa-apa. 

Jauh sebelumnya, pada hari-hari yang lampau, selama terpisah jarak, aku selalu mengkhawatirkan kondisimu. Sejak Ibu meninggal, dan kau tinggal seorang diri, aku senantiasa mencemaskan keadaanmu. Aku takut celaka menimpamu karena bekerja terlalu keras di kebun, atau penyakit menggerogoti tubuhmu karena ketidaksanggupanmu mengurus pekerjaan rumah untuk menjaga kesehatanmu. 

Kekhawatiranku makin menjadi-jadi karena kondisi tubuhmu tak lagi sekuat dahulu. Kekuatan ototmu sudah melemah, dan kebugaran tubuhmu merawan. Aku cemas kalau-kalau kebiasaanmu bekerja tanpa mengenal batas, akan membuatmu benar-benar tumbang tak berdaya. Aku takut tak berada di sampingmu saat kau kehilangan harapan tanpa bantuan, dan tak ada siapa-siapa yang hadir untuk menolong. 

Sebenarnya, sudah berkali-kali aku memintamu untuk tidak lagi bekerja berat, sebab kau tak lagi punya tanggungan setelah aku sebagai anak tunggalmu telah hidup mandiri. Aku bahkan berapa kali memintamu untuk berhenti dari pekerjaan kebun dan tinggal di kota ini bersamaku dalam penanggunganku, atau sekadar rehat untuk sekian lama, tetapi kau selalu menolak, seolah batinmu telah terikat pada kebun. 

Atas keadaan itu, aku akhirnya mengambil jalan tengah. Aku senantiasa menyisihkan dan mengirimkan pendapatanku untukmu sembari berpesan agar kau menggaji orang lain untuk membantumu mengurus kebun. Tetapi tetap saja, seakan sudah tabiat, kau selalu turun tangan sendiri mengurus tanaman sampai batas kemampuanmu. Kau tampak begitu menggandrungi rutinitasmu itu. 

"Setiap pekerjaan ada risikonya. Begitu pula pekerjaanmu. Kita hanya bisa berusaha menghindarinya," katamu, lewat telepon, sebulan yang lalu, setelah aku menyinggung pekerjaanmu yang berat karena menguras tenaga di bawah terik matahari, sembari menyepelekan beban pekerjaanku sendiri di ruang ber-AC. 

"Asal Ayah tahu batas saja kalau begitu. Jangan terlalu memaksakan diri," tanggapku, mewanti-wanti. 

"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja di sini. Sedari kecil, aku telah terbiasa dengan pekerjaan kebun, dan aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai beban. Aku bahkan menikmatinya, layaknya hiburan pengisi waktu. Dan menikmati pekerjaan itulah yang penting, yang bisa menghindarkan kita dari beban batin yang bisa mendatangkan penyakit," tuturmu, mencoba menepis ketakutanku, sekaligus menyiratkan petuah. 

Dengan responsmu itu, sebagaimana selalu, aku berpasrah saja. Tetapi diam-diam, aku tetap memendam kecemasan. 

Akhirnya, demi menawar kekhawatiranku atas dirimu, untuk hari kerja di sela-sela tanggal merah dan hari libur kerja, aku memutuskan mengambil cuti. Aku merencanakan untuk membantumu mengurus kebun selama seminggu. Kupikir, setidaknya, keberadaanku dalam waktu selama itu, sudah cukup untuk meringankan bebanmu dalam membereskan pekerjaan kebun yang membutuhkan tenaga ekstra. 

Sampai kemudian, terjadilah apa yang tak pernah kubayangkan. Akulah yang kalah atas keadaanku sendiri. Akulah yang terserang penyakit hingga kau harus datang untuk membantuku pulih. Hingga akhirnya, karena itu, aku memahami pernyataanmu soal hubungan kesehatan dengan pekerjaan fisik dan beban pikiran. Dari keterangan dokter, aku memahami kalau sakitku disebabkan pula oleh istirahat yang kurang dan beban pikiran yang berat. Jelas, itu soal pekerjaan kantor yang menguras waktu dan pikiranku. 

Namun beruntung, sebab setelah perawatan yang baik di rumah sakit selama lima hari, aku akhirnya berhasil melawan penyakit. Bahkan pagi ini, aku merasa keadaanku mendekati kepulihan yang sempurna. Tetapi saat kondisiku makin membaik, aku malah menyaksikan pertanda buruk yang begitu menakutkan. Raut wajahmu kuyu dan terlihat makin lesu. Batukmu terdengar makin sering dan keras. Bahkan saluran hidungmu sering tersumbat sampai kau jadi sering bersungut-sungut. Meski awalnya kau berkilah kalau itu biasa dan hanya gejala kecapaian, tetapi akhirnya aku merasa ngeri. 

Untuk mencegah keadaanmu memburuk, aku pun menghampirimu saat kau tengah berjemur di bawah terpaan sinar matahari pagi, di teras depan rumahku. "Kondisi Ayah tampak mengkhawatirkan. Sebaiknya aku antar Ayah ke dokter, ya?" tawarku. 

Kau lekas menggeleng. "Tidak usah. Aku cuma demam dan flu biasa. Mungkin karena tubuhku belum menyesuaikan dengan hawa di kota ini."

"Kalau begitu, aku belikan obat saja," saranku. 

Kau kembali menggeleng. "Tidak perlu. Keadaanku akan baik-baik saja. Mungkin aku hanya perlu menghangatkan diri dengan sinar matahari dan menghirup udara segar. Aku sepertinya tidak cocok dengan AC," kilahmu, lantas melesitkan ingusmu. 

Aku pun mengangguk maklum dengan sedikit rasa bersalah. Tetapi tak ada pilihan lain yang lebih baik, karena lazimnya, di kota, keadaan ruangan akan terasa pengap tanpa menyalakan pendingin ruangan, sedang udara bebas akan masuk bersama debu atau nyamuk. "Mungkin Ayah lebih cocok dengan kipas angin. Nanti aku belikan."

Lagi-lagi, kau menggeleng. "Karena keadaanmu sudah membaik, aku sebaiknya pulang hari ini juga. Aku khawatir hama akan merusak tanaman lada di kebun kalau tidak segera disemprot."

"Tidak maukah Ayah tinggal lebih lama lagi?" tanyaku, mencoba menawar. "Aku belum membawa Ayah jalan-jalan ke tengah kota."

Kau lantas melepaskan gelakan yang pendek. "Tidak usah. Aku lebih cocok dan lebih nyaman berada di kampung. Kehidupanku di sana."

Akhirnya, aku mengalah dengan pemahaman kalau begitulah adanya, bahwa suasana kota akan makin mengancam kesehatanmu, dan suasana pedesaan akan lekas memulihkanmu kembali. "Baiklah. Nanti aku antar Ayah ke terminal."

Dengan senyuman lepas, kau pun mengangguk tegas, kemudian memberikan nasihati. "Rajinlah berjemur, seperti ini. Tubuh kita butuh paparan sinar matahari." Kau melepas batuk dua kali, lantas menambahkan, "Kau juga harus rajin berolahraga. Tubuh mesti berkeringat, supaya sehat."

Aku mengangguk saja. Membenarkan. 

"Jagalah kesehatanmu baik-baik," pesanmu lagi. 

"Tentu, Ayah," tanggapku, dengan kesungguhan, sebab aku tak ingin ketakutanku menjadi kenyataan, bahwa tubuhmu benar-benar dilumpuhkan penyakit tersebab aku jatuh sakit lagi.