Senin, 31 Agustus 2026

Ujung Kembara

Teruntuk adamu, aku menjadi bisu
Kata-kata kehilangan makna, dan aku mencetuskan bahasa sendiri
Dengan gerak tangan dan kaki, dengan pasang telinga, dengan segala irama tubuhku
Membuka tutup botol air minummu, menurunkan pijakan kaki sepeda motor untukmu, berbagi lagu melankolis pilihanku bersamamu, dan segala yang mungkin kau butuh untuk nyaman sampai tujuan
Lalu kita menjurus ke segala penjuru dengan isyarat diam yang multitafsir
Sampai kau kesulitan mengeja detak jantung dan desau napasku di tengah desir bising udara
Sampai kau menuntut maksud dari mulutku yang semampunya mengumamkan kilahan yang menyesatkan
Sebab tutur kata hanya kiasan tak berguna bagi niatku yang senantiasa berupa raga yang mengawanimu sepatutnya
Berupa keheningan yang mengundang seseorang mencurimu dari punggungku dengan gombalan murahan yang bagimu jawaban keresahan
Yang bagi diriku mewujud kecemburuan yang membuat tubuhku lumpuh kehilangan cakap, dan lidahku mesti belajar kembali membicarakan rasa
Kembali berlatih keras memuisikan kata untuk membangun gudang kenangan dari rintihan patah hati dan seruan doaku yang tak putus-putus
Dari sisa harapanku semoga kehidupan berakhir cepat dan baik, dan aku mendapatkanmu sebagai bidadari balasan atas tekad muliaku meredam sanubari
Sebagai satu-satunya jalan untuk berhenti menyaksikan dirimu bahagia dengan seseorang yang sanggup melayangkanmu ke mana saja, dengan sambutan karpet merah, dengan segala rasa minuman, dengan pilihan lagu yang bebas



Tidak ada komentar:

Posting Komentar