Jumat, 15 Juli 2016

Aku Bangga Jadi Petani

“Samin, cita-citamu apa?” tanya ibu guru, sewaktu aku masih duduk di kelas I SD.

Waktu itu, aku bingung harus jawab apa. Apalagi, aku yang lebih dahulu ditanya. Tak ada cita-cita teman sekelasku yang bisa kutiru. Tapi sepengetahuanku, cita-cita adalah pekerjaan. Maka teringatlah olehku sosok ayah yang bekerja sebagai petani. Ia mengurus sepetak sawah setiap hari.

“Aku ingin jadi petani Bu!” pungkasku.

Sontak, seisi ruang kelas menertawakanku. Mereka seakan menganggap jawabanku adalah lelucon. Padahal sungguh, aku ingin jadi petani!

Berselang beberapa saat, teman sekelasku pun ditanyai satu persatu. Cita-cita mereka beragam. Ada yang ingin jadi dokter, polisi, tentara, atau guru. Dan akhirnya, hanya aku yang bercita-cita jadi petani.

Setelah kejadian itu, julukan petani menjadi olok-olokan untukku. Kala masih kanak-kanak, aku tentu gusar dengan keadaan itu. Menangis dan marah menjadi senjata ampuhku untuk membela diri. Tapi beranjak usia remaja, pemuda, dewasa, sampai menjadi orang tua seperti sekarang, aku tak mempersoalkannya, walaupun masih ada yang mempermasalahkannya. 

Entah kanapa masih banyak orang menganggap petani adalah pekerjaan murahan. Kupikir sebaliknya, petani adalah pekerjaan yang mulia dan memberi banyak manfaat bagi sesama. Karena petanilah, orang kota yang gengsian dan hedonis, bisa makan. Presiden dan para politisi yang mengobrol tentang pertanian tanpa aksi nyata, juga tak akan kuat berpotek-potek tanpa pangan dari petani. Cara pikir inilah yang ditegaskan ayahku dahulu. 

Masyarakat di kampungku sendiri, masih menganggap petani adalah pekerjaan yang harus dihindari. Anak-anak disekolahkan agar kelak menjadi pegawai kantoran, jangan petani. Kala aku memilih fakultas pertanian sebagai bidang keilmuan yang kugeluti di kampus, banyak cibiran menerpaku. Sampai selepas aku sarjana, mereka menganggap pendidikanku gagal, sebab aku hanya sarjana pertanian, dan kembali jadi petani, seperti orang tuaku. 

Tak masalah bagiku dianggap sarjana gagal. Kupikir, keberhasilan pendidikan bukanlah tentang pekerjaan apa yang akan kita geluti, tapi bagaimana kita melaksanakan sebuah pekerjaan. Pendidikan seseorang tercermin pada cara kerjanya yang penuh tanggung jawab, bukan pada tampakannya. Dan pastinya, aku akan bertanggung jawab sebagai petani. Aku sunguh-sungguh.

Untuk mengamalkan ilmuku, aku juga dengan senang hati mendidik para petani di desaku. Banyak di antara mereka yang kurang paham tentang teknik penggunaan pupuk dan racun. Sedangkan pegawai penyuluh dari pemerintah, tak bisa diandalkan. Selain itu, aku juga mengajari mereka tentang ternik pengolahan dan penjualan hasil panen, agar mereka tak dijebak para pedagang nakal yang ingin mengeruk keuntungan secara berlebihan. Kurasa, dengan begitu, ilmuku tak sia-sia.

Sampai kini, aku tak pernah merasa menyesal menjadi petani. Malah, semakin kusadari, pekerjaan ini begitu menenangkan. Aku dapat mengatur waktu kerjaku sesuai kemampuan. Tak seperti pekerja kantoran yang terikat waktu: pergi pagi, pulang sore. Aku jadi memiliki banyak waktu untuk memperhatikan keluargaku, terutama mendidik anakku, Raja. Dia adalah anak semata wayangku bersama seorang bunga desa yang kupersunting enam tahun lalu, Sarminah. Kupikir, orang terdidik harus mendidik, paling tidak mendidik keluarganya.

Sepulang dari sawah, kulepas penat dengan berleha-leha di beranda rumah, sembari menonton berita di televisi yang tak henti-hentinya menyiarkan laku korupsi orang-orang yang katanya terdidik. Hanya itu yang mendingan ditonton. Siaran lain hanya menyiarkan sinetron yang semakin tak mendidik.

Di samping, ada istriku yang tengah melanjutkan jahitan baju pesanan tetangga.

“Pak, tahun ini Raja akan masuk sekolah. Butuh biaya Pak. Kita tak boleh berpikir pendek. Mungkin sekarang biaya sekolah masih ringan. Tapi pikirkan belasan tahun ke depan Pak, saat Raja sudah kuliah di kota, kan biayanya besar. Kalau dengan penghasilan tak menentu dari sawah, aku khawatir kita kewalahan Pak,” kelur Sarminah, istriku.

 “Ibu ingin aku bagaimana? Sejak kita sepakat untuk menikah dahulu, kan sudah kubilang kalau aku bukan siapa-siapa. Ibu tahu sendiri. Orang di kampung malah menjulukiku sarjana gagal. Toh, ibu menerima lamaranku.” Aku mencoba meledeknya agar pembicaraan tak berujung pada perdebatan. “Tak usah khawatir. Meski keadaan kita begini, kita masih hidup berkecukupan. Selama kita bekerja secara sungguh-sungguh, pasti rezeki kita terjamin Bu,” balasku.

“Karena itulah. Bukankah sebaiknya Bapak mencari pekerjaan sampingan yang penghasilannya lebih menjamin. Bapak kan punya ijazah sarjana. Bisa jadi pegawai penyuluh pertanian, guru, pekerja kantoran, pegawai swasta, atau kepala desa. Terserahlah. Nanti, sawah kan masih bisa diurus di  sela-sela waktu. Dengan begitu, keluarga kita akan terpandang di mata masyarakat desa Pak,” tangkisnya.

“Ibu ingin aku jadi pegawai negeri yang makan gaji buta? Jadi pejabat yang korupsi? Ibu ingin aku jadi kaya raya, lalu tergoda untuk menikah lagi? Bukankah sudah cukup aku jadi kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab? Menjadi suami yang mengimami Ibu. Menjadi ayah yang mendidik Raja, dan semuanya,” tuturku, lalu berpaling menatap dalam-dalam matanya.

Istriku hanya terdiam. Seperti mencoba mendalami makna jawabanku.

“Bu, aku tak ingin Raja jadi anak yang tidak berguna karena tak terurus. Lihatlah anak-anak yang tak dididik baik, orang tuanya terpandang, tapi dihinakan sendiri oleh anaknya. Aku tak ingin Raja begitu Bu,” tambahku, berharap ia sepakat.

Kurasa, ia telah paham tentang cara pikir dan jalan hidupku. Tapi ia segera berpaling dariku, menaruh jahitannya, dan bergegas pergi. Sepertinya ia butuh waktu untuk menerima pandanganku secara lapang dada.

Kutatap lagi anakku yang tengah belajar mengenakan seragam sekolahnya yang baru dibeli kemarin. Sudah sedari tadi ia mengenakan seragam itu, lengkap dengan topi, dasi, tas, dan sepatu. Sesekali, ia menghadap ke cermin dan mengagumi sendiri penampilannya. 

Dengan gagahnya, ia menghampiriku.

“Ayah, aku sudah terlihat gagah kan?” tanyanya, sambil berpose bak model.

“Iya, anakku memang gagah, pintar, dan baik,” balasku sambil tersenyum bangga padanya. 
 
Timbullah inginku untuk menerawang bayangan masa depannya. 

“Kalau sudah besar nanti, Raja ingin jadi apa?” tanyaku.

“Aku ingin jadi bos Ayah. Bisa memerintah orang-orang dan punya banyak uang. Atau seperti yang di televisi ayah, jadi hakim, polisi, atau pejabat. Yang penting berdasi, punya mobil, dan pakaiannya bagus-bagus. Kan keren Ayah. Atau bisa juga jadi artis ngetop, agar nanti banyak yang minta tanda tangan padaku Ayah,” tuturnya. 

Aku serius mendengarnya. Berusaha mengesankan bahwa jawabannya tak ada masalah. Ia ternyata sudah tahu banyak tentang pekerjaan berkelas, sesuai ukuran layar kaca televisi.

“Atau, jadi koruptor,” tuturnya, setelah sedari tadi terlihat menerawang pikirannya sendiri. “Ayahnya temanku di sekolah (baca: taman kanak-kanak), yang punya mobil dan sering masuk TV, katanya koruptor. Kalau begitu, kan keren Ayah. Aku bisa diantar pake mobil ke sekolah. Ayah pasti banggakan kalau aku bisa jadi koruptor?"

Aku tersentak dengan jawabannya. Memiriskan. “Asalkan pekerjaanmu bermanfaat dan tidak merugikan bagi orang lain, Ayah bangga Nak. Yang penting jangan jadi koruptor ya. Itu tidak baik Nak.”

“Lah, kenapa tidak baik Ayah?” tanyanya segera. “Hidup koruptor kan enak.”

Aku tak ingin menjelaskannya lebih detail. Bisa jadi ia akan mengejek dan bertengkar dengan temannya jika aku menguraikannya panjang lebar. Suatu saat ia akan paham.

“Kalau jadi petani seperti Ayah, kamu tak mau? Kan, enak, bisa main-main di sawah,” balasku, mencoba mengalihkan perhatiannya.

“Tidak ah. Waktu ditanya ibu guru di kelas tentang cita-cita, aku bilang ingin jadi seperti ayah, petani. Tapi semua teman-teman sekelas, malah menertawakanku. Katanya, petani kerjanya susah Ayah. Terus dapat uangnya juga sedikit,” jawabnya, penuh kepolosan.

Pandangan Raja membuatku bingung sendiri. Entah bagaimana menyanggah dan membuatnya sepaham denganku. Sepertinya, tak mungkin sekarang. Aku memilih mendiamkannya.

Sepertinya memang benar kalau cita-cita tak bisa dipaksakan. Dunia memang telah banyak berubah, termasuk juga cara setiap orang memandang dunia. Aku hanya berharap, ia paham tentang tujuan hidup, tentang kebahagiaan tak melekat pada kenyamanan dan kekayaan, tetapi pada kesabaran dan kesyukuran. Entah kelak dia akan jadi apa. Kalau pun ia tak jadi petani, aku berharap nilai-nilai seorang petani tetap menjadi prinsip hidupnya, sebagaimana pesan ayahku, kakeknya sendiri.

Nak, kelak ketika kau dewasa dan menjadi orang yang benar-benar terdidik, kau akan menyadari kalau petani adalah pekerjaan yang mulia.

Aku menoleh ke belakang. Ternyata istriku tengah melanjutkan jahitannya. Dia pun memandang ke arahku, sambil tersenyum. Entah, ia sepakat denganku, atau Raja, aku tak tahu.

Konsistensi Individual


Kompleksnya kebutuhan manusia kekinian, mendorong maraknya pembentukan kelompok manusia. Bentuknya bermacam-macam, misalnya  organisasi atau komunitas, baik formal maupun informal. Pembentukan kelompok itu ditujukan untuk menghimpun orang-orang yang punya kepentingan yang sama. Tujuannya adalah menciptakan gerakan sinergis menuju satu tujuan.

Di dalam satu kelompok, orang-orang akan diikat dengan prinsip solidaritas. Penanamannya dimulai pada tahap kaderisasi anggota, dan senantiasa dijaga untuk waktu-waktu selanjutnya. Solidaritaslah yang nantinya memperkuat ikatan anggota dalam upaya mencapai tujuan kelompok secara efektif dan efisien. Dengan begitu, solidaritas menjadi penting bagi kelompok.

Terciptanya kelompok yang sarat solidaritas, dapat terjadi di semua lini kehidupan. Misalnya pada aspek sosial, budaya, ekonomi, dan keagamaan. Kenyataan itu tentu tak bisa dihindari. Alasannya karena secara kodrati, manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan manusia yang lain. 

Pada sisi lain, ternyata solidaritas kelompok membawa pengaruh besar terhadap konsistensi individual seseorang dalam bertindak. Solidaritas kelompok yang mencengkram kuat, mengikis kemandirian seseorang. Ikatan kelompok telah mampu membuat anggotanya menjadi tak bebas dalam memperjuangkan kata batinnya. Dipatok bahwa semua tingkah laku, harus berdasarkan legitimasi kelompok. 

Tidak sekadar membuat seseorang mengabaikan dorongan individualnya, dalam bentuk yang ekstrim, solidaritas kelompok bahkan dapat membuat seseorang berbuat di luar kehendak pribadinya. Atas nama kebersamaan, seseorang tak menghiraukan lagi apakah perilakunya baik atau buruk, benar atau salah. Hati nurani telah terbunuh demi kepatuhan pada kelompok. Orang-orang jadi lupa kalau kelompok adalah bentukan individu. Kelompok tak berjiwa tunggal.

Anggapan bahwa tanggung jawab tindakan atas nama kelompok, harus diemban secara bersama-sama, menambah kekolotan seseorang untuk membunuh nuraninya. Dianggap solidaritas lebih penting dari segalanya. Intinya, anggota kelompok menganggap bahwa kebersamaan dalam keburukan lebih baik daripada sendiri dalam kebaikan.

Kalau benar, di masa kini, banyak orang yang telah menumbalkan hati nuraninya pada sebuah kelompok, maka tak heran jika terjadi banyak tindakan beringas yang dilakukan atas nama kelompok. Akan jadi pemandangan biasa bahwa secara berkelompok, orang-orang bak hantu. Tapi dalam keadaannya sebagai individu, yang terpisah dari kelompoknya, ia mendadak jadi malaikat. 

Dapat disimpulkan bahwa solidaritas kelompok, secara ekstrim akan membuat seseorang berkepribadian ganda. Perilakunya dalam kelompok, akan berbeda saat ia tampil sebagai individu. Keberadaan dua sisi tersebut, akan terwujud pada pertentangan nilai perilaku pada pribadi seseorang. Kalau begitu, maka nyata bahwa kodrat manusia sebagai makhluk individual dan makhluk sosial, tidak disinergikan secara baik.

Akhirnya, setiap manusia harus kembali merefleksikan kehadirannya sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok sosial. Setiap orang harus berpatokan pada hati nurani dan pikirannya dalam berperilaku. Berbarengan dengan itu, upaya pembenahan budaya kelompok perlu dilakukan. Itu sangat mungkin dilakukan, sebab kelompok tidak lain adalah bentukan individu. Maka, sisa konsistensi anggota kelompok untuk berubah dan bertahan pada nuraninya masing-masing. Secara tidak langsung, seiring waktu, “jiwa” kelompok pun akan berubah.


Pertempuran Hati

Kawan, di balik keangkuhanku, diam-diam, besar terima kasihku padamu. Jika aku dipaksa menyebut seseorang yang paling berarti di antara teman-temanku, aku pasti menyebut namamu. Kau sangat berarti bagiku. Kuharap kita jadi dua sejoli yang tak terpisahkan, sampai kapanpun.

Kita adalah sekawan sesama jenis yang mencintai lebih dari sekadar cinta lawan jenis. Bukan homoseksual tentunya. Bisa dibilang, pasangan kekasih sesungguhnya, tanpa unsur seksualitas. Sampai jadinya, kita pun sama-sama tak tergoyahkan hiruk-pikuk pemuda di luar yang sibuk tebar pesona di hadapan lawan jenis. Itu tak penting lagi.

Cinta kita terwujud dalam kebersamaan yang tulus. Sama-sama saling membutuhkan. Jujur tanpa segan-segan. Lebih suka memberi daripada menerima. Kedudukan kita dalam relasi ini, seimbang. Tak ada tuan dan budak seperti pada hubungan muda-mudi kekinian. Entah bagaimana mengistilahkannya. Intinya, kita adalah sahabat sejati.

Memang baru sekitar tiga tahun aku mengenalmu, di awal kita sebagai mahasiswa. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk menobatkanmu sebagai seseorang yang berarti dalam hidupku. Karena kamulah, aku bergelut pada sebuah organisasi olahraga otak, catur. Di medan perang persegi empat itulah, kita menghabiskan waktu bersama sama. Kutemukan hidupku di situ, bersamamu.

Mungkin karena keseringan beradu denganmu, aku dipandang masuk di level pemain catur hebat, setidaknya di tingkat kampus kita. Buktinya, kini, sudah tiga piala aku koleksi. Dua untuk kejuaraan kampus, dan satunya untuk kompetisi umum tingkat kota. Semua itu berkat dirimu, kawan. Kaulah partner handalku. Sepertinya memang benar, kalau melawan orang hebat, akan mengantarkan diri kita menjadi orang hebat juga. 

Sudah menjadi kebiasaan, setiap kali menjelang kompetisi, kita akan menghabiskan banyak waktu beradu taktik di atas papan hitam putih. Hari-hari dalam seminggu, tak terlewatkan tanpa pertempuran kita. Entah kau yang menantang, ataukah aku, kita sama-sama selalu siap untuk saling meladeni. Kita selalu larut dalam permainan yang menantang. Waktu jadi tak terasa menjemukan.

Dan, minggu depan, akan ada kompetisi catur tingkat nasional yang diselenggarakan organisasi kita. Pesertanya terbuka untuk umum, tanpa batasan jenis kelamin. Jika tak ada aral melintang, maka jadwal latihan akan kita padatkan dalam seminggu, seperti sebelum-sebelumnya.

Di satu sore yang hangat, kita sedang melepas penat di beranda organisasi. Aku merencanakan rutinitas kita lagi. 

“Joni, siap maraton lagi? Aku tak ada kesibukan berarti minggu ini,” ajakku padamu.

“Sepertinya, aku tak berhasrat untuk kompetisi kali ini. Aku tak yakin tahan bertarung dengan pemain-pemain tingkat nasional,” balasmu dengan sangat malas. 

“Aduh, ayolah, kawan! Setidaknya, kau mencoba. Ini juga kesempatan untukmu membuktikan kalau kau lebih baik dariku di kompetisi sesungguhnya,” pancingku, mencoba meledek agar kau berubah pikiran.

“Hah, kau bukan tandinganku!” tangkismu.

Tiba-tiba, seorang gadis berwajah lugu, menghampiri kita.

“Kak, aku ingin mengembalikan formulir pendaftaran kompetisi catur. Tempatnya di mana, ya?” tanyanya, lemah lembut.

Aku melirikmu, kau melirikku.

“Ozal, antarkan!” tuturmu, seperti membentak.

“Kau saja. Hitung-hitung belajar bagaimana cara berlaku perhatian kepada wanita,” olokku. “Lelaki tampan ini, yang akan mengantarmu, Dek,” tuturku, sambil menepuk-nepuk punggungmu.

Dengan gaya malas, kau akhirnya mengantarkan gadis itu. Dari kejauhan, aku melihat kalian bercakap dengan akrab. Kau tampak menutupi kegugupanmu. Pastinya kau gerogi berdampingan dengan wanita sememesona itu. Menurutku kecantikannya di atas rata-rata. Tapi mungkin seleramu berbeda. Aku tak tahu. 

Malam menjelang. Pesan singkat darimu masuk di ponselku. “Zal, aku jadi ikut deh. Aku rasa kau perlu bukti bahwa aku lebih baik darimu.”

“Langkah bunuh diri! Baiklah, kita butikan saja. Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa berubah pikiran? Kukira kau orangnya konsisten? Sekali tidak, ya, tidak,” tanyaku penasaran.

Kau tak menjawab pertanyaanku. Akhirnya, aku hanya menduga-duga. Masalahnya, tempo hari, kurasa kau belum jujur tentang alasanmu enggan turut berkompetisi. Kalau alasannya karena wanita memesona itu, kurasa bukan. Kau tak mungkin semudah itu takluk di bawah keanggunan ataupun kemanjaan wanita. Entahlah. Alasanmu, bukan urusanku.

Hari-hari mendebarkan di antara arena catur, kupikir akan kita lalui. Nyatanya tidak. Kau beralasan punya banyak kesibukan di luar. Akhirnya, dari sisa tujuh hari menuju kompetisi, kita hanya sempat baradu di waktu sengggang selama empat hari. Pada tiga hari lainnya, aku tak tahu apa yang menghalangimu menghabiskan waktu beberapa jam saja bersamaku.

Waktu berlalu cepat, pertandingan pun dilangsungkan. Sejumlah kompetitor jatuh di tahap penyisihan. Kudengar, kau bertahan. Di babak selanjutnya, kau masih juga tak terkalahkan. Tapi aku yakin, kau tak akan sampai babak final. Tapi nyatanya, aku salah. Kita akhirnya sama-sama masih bertahan. Termasuk juga wanita memesona di tempo hari.

Setelah pengundian dilakukan, sial! Kau berlawan denganku. Pupus sudah kesempatan kita beradu untuk memperebutkan posisi juara I. Harus ada yang kalah di antara kita. 

Kita akhirnya bertempur sungguhan. Dari hasil latihan yang berimbang, aku tak mungkin meremehkanmu. Kau jelas lihai menerapkan taktik jebakan. Tapi pertahananku tentu tak mudah kau jebol. Pertarungan kita berjalan sengit. 

“Ayolah, mengalah saja! Itu lebih terhormat kawan. Daripada aku mengalahkanmu?” ledekku.

“Ya, mengalahkanmu. Aku mengalahkanmu. Sekak mati!” tegasmu, lalu tertawa terbahak-bahak.

Aku terkejut, bagaimana bisa aku begitu ceroboh. Tapi sudahlah. Kemenanganmu adalah kemenangan bagiku. Kemenanganku, pastilah kemenangan juga untukmu. Kita tak sedang mempertaruhkan harga diri di sini. Kuduga, kita sama-sama berusaha tampil professional. Dan untuk persahabatan kita, kuharap kau juara I.

Di arena lain, kejutan lagi-lagi terjadi. Si wanita memesona yang kudengar bernama Yori, juga mengalahkan lawannya. Di partai puncak, kau pun berlawan dengan wanita berwajah manis itu.

Pertarungan kalian berlangsung sengit. Aku menjadadak menjadi pengamat. Tapi berkomentar, tentu tindakan terlarang. Aku pun hanya bisa menyimak kalian baik-baik. 

Kau melakukan gerakan awal yang berarti. Seranganmu sejauh ini, terlihat terencana. Hulubalang lawanmu, bertumbangan. Sepertinya, ia mulai tersudut. 

Sampai akhirnya, perjuangnmu menjadi sia-sia. Tembok pelindung rajamu, terbuka. Peluncur miliknya pun menikam sang rajamu. Tak kuduga, kau akan seceroboh itu. Jelas, kau cermat dalam bermain. Apa yang terjadi denganmu kawan? Apa karena kau gugup berhadapan dengan wanita?

“Hei kawan, kenapa bisa?” tanyaku, sesaat setelah kau beranjak dengan sikap biasa-biasa saja.  

“Bisa apanya? Bisa kalah? Ya, bisalah, namanya juga pertandingan,” jawabmu, santai.

“Tapi itu bukan karena ia hebat. Itu karena kecerobohanmu, kawan!” bantahku.

“Alah, kau sok menilai lagi,” balasmu sembari cekikan. “Yang penting, aku berhasil mengalahkanmu. Itu sudah cukup membuatku puas.” 

Aku tak mengerti jalan pikiranmu. “Hei, ini kompetisi bergengsi, sobat!”

“Aduh, sudahlah. Semua telah berlalu, kawan,” balasmu, terkesan menasihati. “Aku akui, dia wanita yang hebat. Tapi seperti katamu, kita harus mengalahkan orang hebat untuk menjadi hebat. Kita harus mengalahkan yang terhebat untuk menjadi yang terhebat. Dan, nanti, aku pasti akan menaklukkannya,” tegasmu, lalu beranjak pergi.

Sikapmu semakin mengherankan dan membingungkan.

Kau lalu membalik badanmu. Sepertinya ada yang lupa kau ucapkan. “Kawan, satu lagi, pertempuran sesungguhnya ada di luar lapangan. Bukan di sini,” kau menunjuk kepalamu, “Tapi di sini,” kau menunjuk ke arah hatimu.

Di hari-hari berikutnya, sikapmu semakin berubah. Kau seperti lelaki lain yang tampak kebingungan pada dirinya sendiri. Memilih menyendiri daripada berkawan. Mendadak banyak rahasia. Kebersamaan kita jadinya tak semencair dahulu lagi. Kau malah semakin sering menolak ajakanku untuk bertanding catur. Dan, akhirnya aku tahu, kau menghabiskan banyak waktu-waktumu bersama Yori.

Kini, pertempuran tengah berkecamuk di hatimu, kawan. Semoga kau tak membunuh akal. Berakallah dalam berhati. Hanya dengan begitu kau akan memenangkan pertempuran itu! 

Nyali dan taktik caturmu, harus semakin terasah bersama Yori. Tak mengapa dia menggantikanku sebagai partnermu. Tak usah pedulikan bagaimana aku akan melewati hari-hariku tanpa keseruan bersamamu.

Kita memang semakin menua tanpa terasa. Akan sampai waktunya kita harus mengikuti ajakan hati. Ini hanya masalah waktu. Jika bukan kau, maka akulah yang akan meninggalkanmu menuju pertempuran sejati itu. Tunggulah, suatu saat, kenyataan akan memaksaku juga untuk menyusulmu. Aku akan menyegerakannya.

Seperti yang kuyakini sebelum mengenalmu, benar tak ada ikatan yang abadi, kecuali ikatan terhadap diri sendiri. Maka, aku ikatkan tentang kita pada diriku. Kawan, dalam keangkuhanku, diam-diam, kuabadikan persahabatan kita dalam kenanganku.  

Selasa, 12 Juli 2016

Kerusuhan Media Sosial

Psywar (psychological warfare) atau perang urat saraf, belakangan menjadi sering disebut-sebut. Istilah ini berarti penggunaan pendekatan psikologi untuk menjatuhkan mental lawan sebelum bertanding. Caranya dengan menggembar-gemborkan kelebihan pihak sendiri, dan merendahkan kemampuan pihak lawan. Taktik semacam ini biasa juga dilakukan melalui media sosial. Pernyataan-pernyataan bernuasa sindiran yang provokatif, sengaja dilayangkan di dunia maya untuk “memanas-manasi” pihak kontra.
 
Masyarakat di abad XXI, sulit dipisahkan dari media sosial berbasis internet. Faktor kepraktisan, menjadi pendorong utama fenomena kehidupan ini. Berkomunikasi di media sosial, akhirnya, tidak lagi menjadi selingan di celah waktu, tapi telah menjadi kebutuhan yang menyita begitu banyak waktu. Apalagi, pengguna internet, biasanya menggunakan lebih dari satu aplikasi media sosial. Jadinya, komunikasi tanpa berbatas yang dapat berujung pada perang urat saraf pun, mengalir deras di ranah dunia maya, media sosial. 

Tujuan utama dari pengembangan aplikasi media sosial, terus diingkari dari waktu ke waktu. Media sosial yang seharusnya dijadikan wadah perekat antarindividu yang terpisah ruang dan waktu, nyatanya malah membuat manusia terasing dari nuraninya. Karena media sosiallah, belakangan, orang-orang tak lagi saling menghargai. Sejumlah orang menjadi “ringan jari” mengetik kata-kata, tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Etika yang berlaku di dunia nyata, acap kali diabaikan di media sosial, bahkan sampai berujung pada pelanggaran hukum. 

Kerusahan-kerusuhan di media sosial, tak terkendali dan sulit untuk dihindari. Pertikaian pernyataan sudah menjadi pemandangan umum. Grasak-grusuk tak keruan, terus berlangsung. Tapi, pertikaian di media sosial itu, bukanlah sungguhan. Sering terjadi, perbincangan panas di media sosial hanya berlangsung dalam kurun waktu yang singkat, dan lambat-laun akan berakhir dengan sendirinya. Alasannya karena kerusuhan itu tak lebih dari sekadar pertikaian pernyataan yang didasari kelabilan emosi atau keusilan belaka.

Banyak persolan yang menjadi besar atau sengaja dibersar-besarkan di media sosial. Persoalan yang kelihatannya sederhana, dapat menjadi masalah jika setiap orang, tanpa rasa, turut andil memanas-manaskan suasana melalui komentar miringnya. Pertikaian pendapat pun, bisa ditafsir berujung pada kerusuhan di dunia nyata. Kehidupan jadinya sangat menakutkan. Padahal sesungguhnya, persoalan itu menjadi masalah akibat kebiasaan menganggap bahwa kanyataan di media sosial yang maya, linear dengan kenyataan dalam dunia nyata. Dikira, pertikaian pendapat di dunia maya, akan terwujud, persis sama di dunia nyata. Akhirnya, setiap orang merasakan ketakutan di dunia nyata, setara dengan ketakutannya di dunia maya. 

Kecerdasan dalam bermedia sosial, sudah saatnya dianut setiap orang. Memisahkan secara jernih antara kenyataan di media sosial dan dunia nyata, perlu dijadikan prinsip. Menerima mentah-mentah pernyataan di media sosial tanpa pertimbangan secara bijak, akan membuat orang buta dalam melihat kenyataan seungguhnya. Intinya, kesan-kesan yang timbul dari media sosial, tak semestinya dicitrakan sama persis dalam dunia nyata. Dunia maya media sosial yang penuh kerusuhan, tak boleh membuat dunia nyata yang sebenarnya tenang-tenang saja, malah ikut menjadi rusuh.

Tentu, tak semua informasi yang diperoleh di media sosial, tak berkorelasi dengan dunia nyata. Apa yang hangat diperbincangkan di media sosial, kadang kala, memang berangkat dari kenyataan sesungguhnya di dunia nyata. Meski begitu, pernyataan-pernyataan yang terungkap di media sosial, selayaknya hanya dijadikan referensi untuk direfleksikan kembali dalam dunia nyata. Upaya verifikasi menjadi sangat penting. Jangan sampailah, kerusuhan di dunia nyata, hanya diakibatkan oleh penafiran atau pernyataan pribadi seseorang yang diungkapkan melalui media sosial.