Sekelabu matahari yang sedang malu
Bulat matamu teduh berpayung legam
Menafsir titik-titik pesan dari kitab langit
Mengintip dingin dari lensa yang berembun
Menyembunyikan gelisah asa yang buram
Sebimbang rasa yang tak berselera
Tegas bibirmu terbelai lembut lidahmu
Mengangkat berat suara berbenteng sula
Menggumamkan mantra dengan ketakutan
Merahasiakan alamat hati di dalam doa
Segamang getar rambat gelombang
Halus telingamu berhijab gerai sutra
Menyingkap morse yang terjahit cepat
Menguping dendang tanpa tuntunan lirik
Menikmati album kesenangan sendiri
Setawar embusan bau udara
Lekung cuping membangirkan hidungmu
Memerangkap aroma kembang kenangan
Menghirup haru dari cita-cita yang layu
Menanti musim menyemikan yang baru
Sehambar uluran yang tak terjabat
Lembut kulitmu tak pernah kusentuh
Karena nyata kata hanya bisa diraba-raba
Karena momentum tak berhasil merengkuhkan kepantasan
Sampai akhirnya, segalanya mungkin selain saling memiliki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar