Senin, 27 Maret 2017

Dua Jiwa

Hujan tengah deras-derasnya. Darto yang sendiri di ruang sunyi, kembali memeluk sepi. Pada suasana seperti itu, terbersit lagi di benaknya, tentang sosok istri yang dulu sangat ia cintai. Teringat kembali, pada hari-hari yang lampau, saat ia dan istrinya, memadu kasih tanpa rasa bosan. Sungguh, tak bisa dilupakannya wajah cantik dan laku manja kekasihnya itu.
 
Dan seketika, emosinya kembali melonjak. Ia bernafsu untuk segera memberi hukuman yang setimpal kepada diri yang telah membuat istrinya pergi. Maka tanpa pikir panjang, ia segera mengambil sebilah pisau yang sedari dulu disembunyikannya di bawah kasur. Ia tak ingin menunggu waktu yang lama, sebab emosinya bisa kembali meredup.

Dengan langkah hati-hati, ia pun menuju satu pojok ruang yang gelap. Ia ingin menunaikan misinya secepat mungkin, tanpa ada seorang pun yang tahu. Jelas, kematian adalah tujuannya. Tak boleh ada pertolongan apa-apa, sampai nyawa benar-benar melayang. Jika tidak begitu, ia akan tetap hidup bersama rasa penyesalan yang tak terperi.

Setelah keadaan dirasanya cukup aman, ia pun menggapai sasarannya. Segera saja ia melentangkan tangan yang dulu gemar menampar dan memukuli sang istri. Memandanginya dengan rasa benci, sambil sesekali diselingi tangis dan tawa yang kecil. Dan bersama dengan kenangan pahit yang kembali terusun rapi di benaknya, ia lekas menyayat pergelangan tangan, hingga nadinya nyaris terputus.

Seketika, pandangan Darto jadi sayup-sayup. Ia tak mampu lagi mengendalikan dirinya. Hilang kesadaran. Ia terjatuh di lantai. Badannya tepat mengenai rangka kasur, hingga menimbulkan suara gaduh. Dalam ketidaksadarannya, ia pun lupa atas semua laku buruknya pada sang istri, yang membuatnya membenci dirinya sendiri, yang membuatnya ingin membunuh setan bengis dalam dirinya.

Waktu berganti. Kala pagi menjelang, setelah beberapa hari berlalu, rencana Darto untuk mengakhiri hidupnya, terbukti gagal. Nyawanya masih tertolong.

“Bagaimana keadaan Bapak?” tanya, Ariani, istri Darto, yang meninggalkannya tanpa proses perceraian yang formal.

Darto tampak terkejut menyaksikan keberadaan mantan istrinya. Ia sama sekali tak ingat kejadian sebelumnya. “Ibu? Kenapa Ibu ada di sini?”

“Pak, sadarlah atas apa yang telah Bapak lakukan!” tegas Ariani. Rasa kesal bercampur sedih, tegambar di wajahnya.

“Yang telah kulakukan? Aku tak melakukan apa-apa selain melakukan apa pun yang terbaik untuk Ibu,” balas Darto, kemudian tersenyum lepas. “Ibu dari mana saja? Ayo kita pulang ke rumah.”

“Pak, aku mohon, sadarlah! Kasihan anak-anak jika melihat keadaan Bapak masih begini,” keluh Ariani.

Darto malah tampak kebingungan mengamati dirinya. “Keadaan bagaimana, Bu? Aku baik-baik saja. Yang pasti, jika Ibu kembali ke rumah, aku akan membahagiakan Ibu.”

“Sudahlah, Pak. Semuanya sudah berlalu,” kata Ariani.

Wajah Darto tiba-tiba berubah kuyu. Ia lalu memohon dan meminta belas kasih sang mantan istri, “Aku mohon, Bu, pulanglah ke rumah bersamaku.”

Tiba-tiba, seorang anak menghampiri mereka. “Ibu,” sahut anak itu pada Ariani, “Orang ini siapa?” tanyanya sambil menunjuk ke arah Darto.
 
“Ini ayah, Nak,” jawab Darto seketika. “Masa kamu tak kenal Ayah?”

Anak itu menggeleng. “Kau bukan ayahku. Ayahku ada di luar.”

“Apa? Ariani, tolong jelaskan, anak siapa ini? Apa ini anak hasil perselingkuhanmu dengan si bangsat itu?” Suara Darto seketika meninggi.

Ariani malah tampak kasihan melihat keadaan Darto. “Maafkan aku, Pak. Aku tak bermaksud menghianati Bapak. Tapi Bapak bukan yang dulu lagi.”

Darto tampak geram. “Apa kau bilang? Apa hanya karena harta, kau tega meninggalkanku? Ingat, dahulu, saat perusahaanku masih berjaya, kau enak-enak bergantung padaku. Sekarang, saat perusahaanku bangkrut, kau malah meninggalkanku. Dasar wanita kurang ajar!”

“Ingat Pak, semua ini bukan karena harta. Apa bapak lupa, kebiasaan buruk Bapak yang suka mabuk-mabukan dan memukuli aku dan anak-anak, Bapak lupa?” tutur Ariani, sambil terisak tangis. “Sudahlah, Pak. Sadarlah. Anak-anak masih berharap keadaan Bapak normal kembali.”

“Kau bilang apa? Aku memukulimu dan anak-anak? Kau kira aku ini gila? Aku ini suami yang bertanggung jawab! Lakumu saja yang tak benar. Dasar wanita jalang! wanita tak tahu diuntung!” bentak Darto, kemudian melecutkan ludah tepat di wajah Ariani. “Pergi kau dari sini!”

Tangis Ariani pun semakin menjadi-jadi.

“Pergi!” bentak Darto lagi, sambil meronta-ronta. Menarik-narik rantai besi yang mengikat kedua kakinya. “Pergi!”

Bersama tangisnya, Ariani pun pergi dengan seorang anak yang masih tak tahu siapa ayah kandungnya.

Kini, Darto ditingalkan lagi oleh mantan istrinya. Melihat kejadian itu, amarahnya pun jadi tak terkendali. Akhirnya, para perawat harus menenangkannya, kemudian menuntunnya menuju satu ruang yang sepi, di sebuah rumah sakit jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar