Minggu, 24 Juli 2016

Arus Waktu

Musim silih berganti. Kini, hujan turun lagi. Ingatan Seno masih samar-samar tentang kejadian delapan tahun lalu. Saat itu, umurnya masih tiga tahun. Terjadilah banjir besar yang melululantakkan perkampungan di desanya. Beberapa rumah di tepi sungai, hanyut terbawa arus. Syukurlah, rumahnya berada di dataran yang agak tinggi. Ia selamat bersama bibinya, Midun.
 
Di balik pergantian musim itu, alam lekas menyembuhkan dirinya. Namun tidak bagi Samidin, tetangga Seno yang berperilaku aneh. Orang kebanyakan mengecapnya gila. Sekitar sebelas tahun lalu, sepeninggal istrinya, ia mulai suka menyendiri. Malas bersosialisasi dengan warga kampung. Waktu-waktunya habis di pelataran rumah, merenung, sambil memandangi aliran sungai yang keruh lagi.

Suasana kampung semakin sepi kala musim hujan. Meski para warga berdiam diri di rumah, tetap saja tak semarak. Apalagi, rumah-rumah warga memang berjarak. Sulit kerap saling bertamu. Setiap orang membangun rumah di dekat lahan pertaniannya sendiri. Rumah Seno pun hanya berdekatan dengan rumah Samidin. Dua ratus meter dari situ, dan selanjutnya, baru akan dijumpai kumpulan rumah, yang terdiri kurang dari lima buah. 

Kala tak ada kegiatan berarti, Seno sering kali memperhatikan perilaku Samidin. Biasanya, ia akan mengintip lelaki berusia lebih dari empat puluh tahun itu di celah dinding rumahnya. Ia takut membuat Samidin tersinggung, lalu bertindak nekat padanya. Walaupun sebenarnya, tak sekali pun Samidin membentak, apalagi memukulnya. Hanya saja, raut muka Samidin selalu tak bersahabat padanya. Seakan menegaskan bahwa ia tak suka melihat Seno.

Di sore yang hampir gelap, lagi-lagi Seno melihat Samidin bertindak aneh. Jika sebelumnya ia pernah menendang-nendang boneka sambil memeluk bantal guling, kali ini, lebih parah lagi. Di sela-sela butiran hujan, Seno melihat Samidin menggali tanah di samping rumahnya. Seperti tengah menggali liang besar. Dalamnya mungkin semeter. Samidin lalu memasukkan kotak ke dalam lubang itu, lalu menimbunnya. Tidak lama, Samidin terlihat meratap.

Kejadian itu, tak jelas membuat Seno penasaran. Tapi ia tak berpikir macam-macam. Apalagi, membayangkan kalau Samidin telah membunuh seseorang, memutilasi mayatnya, lalu menguburkannya untuk menghilangkan jejak, seperti yang sering diberitakan di televisi. Jelas, tak ada seorang pun yang serumah dengan Samidin. Pun, tak ada sejarahnya ia melukai orang lain.

Lama-lama, Seno merasa bodoh sendiri serius memperhatikan seseorang yang kurang waras. Ia pun berhenti menjadi mata-mata, tapi mungkin hanya untuk saat ini.

Dan, sebagaimana siklusnya, malam-malam, tepat di tanggal yang sama pada delapan tahun lalu, banjir besar menerjang perkampungan. Desas-desus di kampung mewanti-wanti kalau banjir besar akan datang lagi, sesuai teori siklus delapan tahunan. Entah bagaimana bisa begitu. Bisa jadi, pembalakan liar marak setiap delapan tahun sekali di hulu sungai yang jauh. Mereka yang tinggal di hilir pun, hanya bisa menerima akibat dari penderitaan alam itu.

Biar pun siklus delapan tahunan itu terbukti sesuai sejarah, masih banyak juga warga yang tidak memercayainya. Mereka hanya menganggapnya mitos. Meski sebenarnya was-was juga, mereka tetap abai. Pindah rumah ke pegunungan jelas merepotkan. Selain itu, juga menjauhkan mereka dari sumber air dan jalan umum desa.

Semakin larut, hujan semakin deras saja. Sudah sejak empat hari lalu, hujan terus mengguyur. Matahari pun tak pernah benar-benar mengeringkan bumi. Gerimislah yang menjadi jeda tangisan alam yang seharusnya jadi berkah. 

Air sungai semakin mengeruh. Tingginya pun, sudah mencapai tiga meter lebih. Bertambah ganas. Deras membawa tumpukan kayu kering dari hulu. Tapi itu belum dianggap mengkhawatirkan. Banjir biasanya, memang setinggi itu. 

Sampai akhirnya, dugaan warga kembali menjadi kenyataan. Limpahan air hujan yang tak tertahan di pegunungan, meluncur ke sungai. Semakin menumpuk, dan menumpuk. Dan, banjir besar terjadi lagi. Lebih besar dari sebelumnya.

Di tengah deru suara butiran hujan dan gemuruh aliran sungai itu, Seno terjaga. Rumah panggungnya terasa mulai bergetar. Ia pun segera membangunkan Bibinya, Midun. Tanpa pikir panjang, mereka berdua pun bergegas menuruni tangga, dan berlari ke bukit. Menuju tempat aman. Mereka selamat. 

Tapi nahas bagi Samidin. Mungkin karena ia tengah tidur pulas di kamar privatnya seperti biasa, ia tak merasakan apa-apa. Sampai akhirnya, rumahnya yang lebih dekat ke tepi sungai dibanding rumah Seno, hanyut terbawa arus. Tak ada sepuing pun yang tertinggal. Semua hanyut bersama dirinya.

Meninggalnya Samidin, menjadi kedukaan bagi Seno dan Bibinya. Meski selama hidup, lelaki kurus kerempeng itu tak memberi manfaat apa-apa, sisi kemanusiaannya tetap tergugah. Setidaknya Samidin tak menyusahkan.

Berhari-hari dicari, Samidin akhirnya ditemukan warga, tersangkut di tepi sungai desa seberang. Ia kemudian dikuburkan.

Setelah penguburannya usai, dalam suasana duka, rasa penasaran Seno memuncak. Ia tak bisa menahan dirinya untuk segera mengetahui apa gerangan yang telah dikubur Samidin, lelaki aneh, sebelum banjir besar itu datang dan merenggut nyawanya. Dengan senyap-senyap, ia menggali kembali timbunan yang sudah tak jelas itu. Ia tahu, lokasi persisnya di samping kiri pohon durian yang masih berdiri kokoh.

Lama-lama menggali, tampaklah sebuah kotak kayu. Seno pun segera menyibaknya. Di dalam, ada kota besi. Disibaknya lagi. Dan, betapa kagetnya ia menjumpai foto dalam album dan beberapa bingkai. Ia terperanjat melihat sosok-sosok yang terpampang di sana. 

Teringat lagi olehnya satu wajah wanita di sebuah foto yang menggantung di dinding rumahnya. Itu mirip dengan wajah wanita di foto milik Samidin. Bibinya pernah menjelaskan, kalau wanita cantik itu, adalah ibu kandung Seno. Ya, ibunya.

Tidak hanya itu. Pada satu foto, juga terlihat Samidin berdiri berdampingan dengan ibu Seno, di pelaminan. Ada juga foto yang memperlihatkan mereka berdua duduk sambil mengapit seorang anak laki-laki yang tak bisa diperupa Seno. Yang Seno tahu, Bibinya pernah bercerita kalau ia tak punya saudara.

Dengan gelisah hati, Seno pun segera mendatangi Bibinya yang tengah membersihkan tumpukan sampah yang terbawa banjir, di bawah kolong rumahnya. 

“Kenapa Bibi merahasiakan semua ini dariku? Kenapa, Bi…?” tanya Seno, mengadu sambil menangis sejadi-jadinya. Ia memperlihatkan sejumlah foto pada Bibinya.

“Maafkan aku, Nak. Aku tak bermaksud merahasiakan apa-apa. Hanya saja…” Suara Midun tertahan. Ia jadi tak kuasa menahan air mata. “Ayahmu itu tak menerima kehadiranmu di dunia ini, Nak. Dia tak mencintaimu.”

“Bibi jangan mengarang lagi. Aku mohon, ceritakan yang sejujurnya, Bi!” pinta Seno dengan sungguh-sunguh. Emosinya meninggi kala mendengar penuturan Bibinya.

“Aku tak membohongimu, Nak. Karena kamulah, istri yang sangat dicintainya, meninggal. Dia menyalahkanmu. Dia menyalahkanmu atas kematian Ibumu sendiri saat melahirkanmu. Dia membencimu,” jelas Midun, sambil menangis tersedu-sedu.

Tangis Seno semakin menjadi-jadi. Semua sisi perasaannya tercampur aduk.

Midun mencoba menenangkan Seno yang tampak begitu terpukul.

“Semua telah berlalu. Iklaskan dia, Nak. Maafkan dia,” tutur Midun.

Seno tak berkata apa-apa lagi. Perasaannya berkecamuk. Ia tak sanggup menyalahkan Ayahnya, sebab ia menyalahkan dirinya sendiri atas meninggalnya sang Ibu. Ia hanya terdiam.

Hujan pun telah reda. Mentari sore akhirnya membias di perbukitan. Warnanya jingga. Dan waktu akan memaksa Seno menerima semua yang telah terjadi. 

Pengukir Rasa

Sekeras apa pun kau memaksaku menyukaimu, aku tetap tak bisa. Perasaan tak mungkin dibohongi. Itu bukan karena parasmu yang tak menawan. Jelas, lelaki biasa akan merasa bola matamu menggetarkan, lengkungan hidungmu mengagumkan, garis-garis bibirmu menawan, dan semuanya. Kau layak dikategorikan cantik. Tapi bagiku, mungkin berbeda. Kau bukan tipeku. Aku punya kriteria sendiri tentang wanita yang kukagumi dan akan kucintai, bukan kau.
 
Entah berapa kali sudah kau memberiku tanda bila kau punya perasaan padaku, tapi sebanyak itu pula aku mengabaikannya. Kau selalu mengandalkanku, senang mengobrol denganku, bahkan sering kali memujiku. Itu sangat terbaca. Tapi jika aku tak menanggapinya, bukan berarti aku tak peka. Aku cuma menahan diri. Tak ingin memberimu kesan kalau aku menolak atau mengiyakan tawaran perasaanmu. Setidaknya, aku tak membuatmu terluka atau berharap.

Sejujurnya, aku memiliki wanita idaman. Dialah satu-satunya yang membuatku terkesan dan terkagum-kagum. Mungkin selamanya. Itulah alasan terbesarku terus mengabaikan godaan wanita, juga melawan kerapuhanku sebagai laki-laki, termasuk terhadapmu. Kuyakin, dia akan menjadi milikmu, maka sepantasnyalah aku mengabaikanmu.

Kuingat lagi empat tahun lalu, kala kami masih duduk di bangku SMA. Aku dan wanita idamanku itu, sama-sama mengikuti kegiatan perkemahan dan pelatihan penulisan untuk siswa-siswi. Di waktu itulah, kali pertama aku tertegun menatap wajahnya. Cantik sekali. Seketika juga, perasaanku direnggutnya. Aku tak bisa berpaling, sampai kapan pun. Jika tak ada penegasan kalau aku diharamkan memilikinya, aku akan tetap berharap. 

Momen yang paling berkesan adalah, saat kami tengah berdiskusi tentang beragam perspektif penulisan tentang cinta.

Cinta menurutku, tidak lain dari kerelaan kita untuk saling menerima kekurangan, saling menyayangi dan mencintai tanpa pamrih, sebab tak ada manusia yang sempurna. 

Begitulah definisiku tentang cinta ketika instruktur meminta pendapatku. Entah bagaimana bisa aku secepat itu membuat definisi cinta.  Yang pasti, aku mengkonstruksikannya sambil berharap dia yang duduk di sampingku, merasa terkesima atas pikiranku. Dan, kukira, harapanku itu tercapai. Dia tampak menolehi dan memandangiku dengan tatapan yang aneh. Seakan mengatakan: Aku suka cara berpikirmu, karena itu, aku juga menyukaimu.

Ketika instruktur memerintahkan kami untuk menulis esai tentang cinta, beruntung lagi, ternyata dia lupa membawa pulpen. Untunglah, waktu itu aku membawa pulpen cadangan. Kuserahkanlah padanya. Dan, senyum di bibirnya menjadi tanda terima kasih yang kurasa terlalu berharga. Jelas, waktu itu aku jadi malaikat penolong untuknya.

Seusai kegiatan perkemahan penuh kenangan itu, semua kembali pada kehidupan masing-masing. Kami tak berkenalan apa-apa. Tapi perasaanku padanya, tetap. Hatiku telah tercuri olehnya, bersama pena yang lupa ia kembalikan. Sampai sekarang, saat aku menempuh semester II di perguruan tinggi, harapan itu masih sama. Sebuah keputusan hidup yang membabi-buta tentunya: memaksakan takdir. Apalagi, sama sekali aku tak pernah melihatnya lagi. Tapi, suatu saat, aku akan mencarinya jika aku telah siap mencintainya. 

Sebagai rintisan jalanku, sampai sekarang, aku masih suka menulis tentang kerinduanku padanya. Terus terang, jika aku menulis tentang persoalan cinta di setiap gubahanku, dia adalah satu-satunya inspirasi dan motivasiku. Aku ingin terus menulis untuk mengabadikan tentang kami. Jika takdir mengiyakan, kala suatu saat aku punya nama, aku akan katakan, semua itu karena dirinya. Dengan jalan itulah, aku menemukannya. 

Aku yakin, ia pun tak akan tersesat ke hati yang lain. Kami pernah sama-sama berjanji, akan bertemu di alam yang sama: dunia penulisan. Karena itu, aku sudah beberapa kali menulis tentang dia, termasuk tentang keteguhanku menolak tawaran hati wanita, termasuk dirimu, untuk parasaanku padanya. 

Dan, nyatanya, kini aku begelut di dunia penulisan denganmu. Ya, kita sekarang sedunia. Tentang kebersamaanku di dunia aksara dengan dirinya yang kukagumi, kami, masih menjadi harapan terbesarku. 

Datanglah hari ketika kau menghampiriku di sebuah bangku pelataran kampus. Ini untuk kesekian kalinya kau mendatangiku tanpa ada keperluan apa-apa. Biasanya kau akan mengajakku berbasa-basi, dan meluap-luapkan perasaanmu padaku. Ataukah menyanyaiku tentang cerita fiksi gubahanmu, yang jelas menjadikan aku sebagai tokoh utama. Kau memang gemar mengekor kepadaku sejak kita saling mengenal. Tapi nyatanya, dugaanku salah. Tujuan kedatanganmu kali ini berbeda. Kau menghampiriku dengan sikapmu yang tak ceria seperti biasanya, lalu bicara sepolos hatimu.

“Hai, aku minta kau jelaskan padaku, bagaimana pendapatmu tentang cinta?” tanyamu dengan mimik sangat serius. Matamu menatapku dalam-dalam. 

“Maksudmu?” tanyaku balik. Aku jelas heran dengan sikap lancangmu kali ini. Terlalu berani bagi seorang wanita. Aneh.

“Aku ingin kau mengulanginya! Kau pernah mengucapkannya!” tegasmu.

Aku semakin bingung. “Kapan aku mengucapkan tentang cinta padamu?”

“Kau tak ingat? Dulu, aku disampingmu ketika kau mengatakan ‘Cinta menurutku tidak lain dari kerelaan kita untuk saling menerima kekurangan, saling menyayangi dan mencintai tanpa pamrih, sebab tak ada manusia yang sempurna’. Kau ingat itu?!” tuturmu, dengan intonasi yang semakin meninggi.

“Aku tak paham maksudmu,” jawabku, dengan sikap yang biasa saja. 

Jelas, aku tahu kalau arti cinta yang kau sebutkan barusan adalah definisiku sendiri. Tapi aku tak bisa menebak dari mana kau tahu. Apakah kau gadis idamanku? Aku tak yakin. Jelas kau berbeda dengannya. Kau memang cantik, tapi tak mungkin melebihinya. Jika kalian disandingkan, maka pastilah kau akan terlihat jelek, dan dia malah tampak semakin rupawan.

Aku jelas tak mengerti kau saat ini.

Akhirnya, kau jadi tak berhasrat lagi menyanyaiku yang masih saja kebingungan. Kau pun memalingkan wajahmu, membalikkan badanmu, lalu melangkah pergi. Aku lihat, di balik itu, kau meneteskan air mata.

Apa salahku?

Tidak berselang lama, aku melihat sebuah pulpen tergeletak di atas meja. Model pulpen favoritku. Jenis pupen yang dahulu kupinjamkan padanya, si wanita idamanku, sembari berucap: menulislah! Tentang kita juga tak mengapa. Ya, kedua pulpen itu persis. Gulungan kertas yang membungkus silinder tintanya, menunjukkan namaku, dengan model tulisan tangan yang persis tulisanku sendiri.

Apakah kau adalah…? Tapi kenapa penampilanmu telah berubah? Kenapa kau tak cantik lagi?

Kubayangkan lagi sejenak raut wajahnya. Kupikirkan dalam-dalam. Sampai akhirnya aku mulai memberitahu diriku sendiri, bahwa dalam waktu yang berubah dan mengubah apa pun, wajahnya tersamar di balik wajahmu yang tak lebih rupawan. 

Aku telah dibutakan obsesiku tentang kecantikan. Maafkan aku. Jika suatu saat rasa perih yang kuukir di hatimu telah sembuh, kumohon, berilah aku kesempatan untuk menegakkan prinsipku tentang cinta, seperti definisiku tentang cinta, untukmu. Aku akan belajar mencintaimu. Tapi jika pun tidak, tak mengapa bagiku, asalkan kau baik-baik saja. Dan, kuharap, satu waktu, kau membaca gubahan ceritaku ini, yang tak menyebut satu nama pun di dalamnya. Aku ingin kau tahu, tak ada tokoh lain dalam ceritaku selain dirimu, begitu pun dalam hatiku. Kalau benar kau telah tahu, maka janganlah cemburu, sebab dia adalah kau. Ya, kau!

Rahasia Ayah

Masa remaja memang penuh gairah. Selalu semangat mencoba hal baru. Melakukan apa pun demi mencuri perhatian banyak orang. Haus pujian. Gemar ikut-ikutan. Tak peduli bertindak benar atau salah. Asalkan kesetiakawanan masih kuat, akal sehat dan hati nurani jadi tak berguna. Maka diukirlah sebanyak mungkin kenangan untuk jadi bahan nostalgia di masa mendatang.
 
Kisahku ini, bercerita tentang masa-masa itu.

Dahulu, aku punya teman baik di bangku SMP. Namanya Harun. Tapi orang-orang memanggilnya Binggo, sebuah istilah yang biasa dituturkan Mr. Bean kala mendapatkan keberuntungan. Perilakunya memang konyol seperti sang komedian dunia. Rajin membuat lelucon yang menyenangkan. Semisal kesanggupannya mencabut bulu hidung hanya dengan imbalan satu permen. Uniknya, ia tetaplah sosok yang cerdas, alim, dan tampak rupawan. Darinyalah aku banyak belajar tentang kepribadian remaja yang baik. Aku beruntung berkawan dengannya. 

Setelah kami duduk di bangku SMA, di sekolah favorit yang sama, ia berubah. Wataknya berkebalikan dari sebelumnya. Begitu labil. Mungkin karena di usia itu adalah masa peralihan dalam mencari jati diri. Ia jadi tak bisa mengendalikan gairahnya. Aku, tetap seperti yang dulu. Masih kuasa melawan diri sendiri. Imbasnya, kelompok pergaulan kami pun berbeda karena perbedaan sikap. Aku menjadi pengurus OSIS, sedangkan ia menjadi anggota Geng Sabit, kumpulan anak bandel khas anak SMA pada umumnya.

Sesekali, Binggo menyarankanku bergabung pada gengnya. Katanya, supaya terlihat keren dan gaul. Ditakuti. Menjadi penguasa sekolah. Tapi kutolak. Aku tetap memilih menjadi anak penurut pada kata orang tua dan guru. Pilihan hidup yang menurut mereka kuno. Ketinggalan zaman. Tapi beruntung, ia tak memaksaku. Bahkan, ia setia menjadi pelindungku. Menghindarkan aku dari aksi palak Geng Sabit. Apalagi, ia memang petinggi geng, satu level di bawah sang ketua, Jongos. 

Masa-masa itu, kini telah terukir sebagai kenangan. Dan, sekarang kami berdua bernostalgia kembali. Tanpa sengaja, setelah sembilan tahun tak bertemu, kami berpapasan di sebuah pusat perbelanjaan. Aku pun mengajaknya mampir ke rumahku. Terakhir, kebersamaan kami waktu setahun setelah lulus SMA. Setelah itu, aku meninggalkannya untuk pergi ke kota, di pulau seberang, tempat tinggal orang tuaku, untuk melanjutkan kuliah. Sampai sekarang, kami telah sama-sama berkeluarga.

Sore ini, kami tengah duduk berdua di teras rumahku. Berbicang-bincang sembari menyeruput kopi. 

“Agus, masih ingat masa sekolah kita dahulu? Waktu aku masih sang jagoan,” tutur Binggo, memancing petualangan kami ke masa lalu.

“Iyalah. Aku tak akan lupa itu. Masa kau masih labil. Jadi monster yang ditakuti siswa lain,” akuku. 

“Ya, benar. Dulu, aku memang raja di sekolah. Kau tahu, si Jongos itu, ketua Geng Sabit, tak ada apa-apanya dibanding aku. Mulutnya saja yang besar,” tuturnya sambil tertawa. Tampak meremahkan mantan ketuanya. “Kau tahu tidak, siapa orang yang mencuri komputer di laboratorium sekolah, yang membuat perpustakaan nyaris ludes terbakar, yang merusak pagar sekolah, yang mengecet dinding kelas dengan kata-kata sadis? Itu aku, Gus!”

Sungguh? Serangkaian peristiwa yang disebutkannya itu, jelas membuat pihak sekolah dahulu, kalang-kabut. Memang sudah kuduga kalau Geng Sabit adalah pelaku. Tapi menganggap Binggo sebagai pelaku utama, tak pernah terpikirkan olehku. “Memang tak ada yang meragukan keberanianmu saat itu, Bing. Kau memang hebat,” tuturku, membesar-besarkannya. Aku tahu ucapanku itu akan membuat ia semakin besar kepala.

“Terus, kau tahu tidak, kenapa Ratih, si gadis manis, pidah sekolah?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng. Tak ingin menebak lebih dulu. Meski kuduga, ia akan mengakui lagi dirinya sebagai pelaku.

“Aku mempermainkannya, Gus! Aku dekati dia, eh, ternyata mau juga sama aku. Biasalah, kan dulu aku tampan dan berwibawa. Benar kan?” katanya, sembari tersenyum bangga. “Saat ia sedang kasmaran karenaku, aku masih menjalin hubungan dengan empat wanita lain, sekaligus. Hebat kan? Tapi sial, akhirnya, ia tahu kalau aku playboy. Ia begitu terpukul, Gus.”

Kuberi senyuman padanya. Seakan mengiyakan bahwa melukai perasaan wanita yang jelas berbekas sampai kapan pun, adalah prestasi, “Kau memang hebat, Bing,” tuturku. Lagi-lagi menjilati nafsunya untuk terus membanggakan diri.

“Dan, puncaknya, Gus, kau tak akan mengira. Kau tahu siapa yang membakar markas Geng Sabit?” tanyanya, sembari memandangi mataku dalam-dalam. Jawabanku seakan sangat dinantinya.

Pertanyaannya itu, jelas membuatku tersentak. Aku deg-degan mengetahui jawaban yang segera meluncur dari mulutnya sendiri. Kugelengkan lagi kepalaku. Kali ini, aku pura-pura tak tahu.
 
“Aku, Gus!” tegasnya, lalu tertawa terbahak-bahak. Ia tak menjelaskan lebih detail alasannya melakukan itu. 

Aku pun tak berhasrat melanjutkan obrolan dengannya. Kurasa, nostalgia ini tak terlalu penting. Tak ada makna kebaikan yang sepatutnya direfleksikan. Karena itu, aku enggan menjadi seperti wartawan yang mengulik masa lalu ini, sebab ia pasti terus-terusan membanggakan diri. Itu tak baik.

Lama-lama terdiam dalam perenungan masing-masing, ia pun mengalihkan percakapan dengan bahasan yang baru.

“Gus, kau sibuk apa sekarang?” tanya Binggo dengan santai.

“Ya, biasalah. Aku bekerja sebagai karyawan swasta, sambil mengurusi usaha warung makan yang kurintis dua tahun lalu,” balasku. “Kamu sendiri?”

“Ya, beginilah aku. Tak punya kesibukan apa-apa. Aku baru sibuk kalau bosku dapat proyek pembangunan. Biasalah, jadi pemborong. Pekerjaan kasar,” jelasnya dengan mimik yang tak sesemringah sebelumnya. “Jalan hidupku memang tak sebaik dirimu, Gus. Andai saja aku serius belajar sepertimu, sampai sarjana, mungkin sekarang aku sudah jadi bos di sebuah perusahaan. Penyesalan memang selalu datang di belakang, Gus.”

“Ah, jangan merendah begitu. Apalah aku ini,” balasku. Kali ini, rasa kasihan membuatku berusaha membesarkan hatinya. “Pemborong kan juga mendatangkan untung banyak. Yang benting halal, Bing.”

“Iya. Kau benar. Tapi terus terang, bagaimana pun juga, aku menyesali jalan hidupku,” tegasnya lagi. “Aku jelas tak ingin anakku seperti diriku. Karena itu, semua kisah hidupku yang kelam di masa lalu, telah kuceritakan padanya. Kuharap ia tak meniruku.”

Kali ini, aku mengangguk-anggukkan saja tuturnya.

Di sela-sela obrolan kami yang tengah mengulas tentang rencana masa depan, anakku, Amin, datang bersama anak Binggo, Johan. Umur mereka hanya beda setahun. Johan 7 tahun, sedangkan Amin 6 tahun. Syukurlah, mereka bisa akrab, meski baru bertemu. Mereka sedari tadi pergi bersama, entah bermain apa. 

Sambil berjalan menghampiri kami, Johan terus berucap, “Pokoknya, ayahku lebih hebat dari ayahmu! Laki-laki, ya, seperti ayahku!” tegas Johan, lalu duduk di samping ayahnya. 

Amin yang tampak lesu, lalu duduk di sampingku.

“Ayahku pernah bercerita, kalau dulu, ia adalah penguasa di sekolah. Tak ada yang berani padanya. Jago kan? Karena itu juga, dulu, dia punya banyak pacar loh. Ada lebih sepuluh kalau tak salah. Benar, kan?” ucap Johan, lalu berpaling ke ayahnya, meminta penegasan.

Binggo tersenyum mendengar penuturan anaknya.

Amin hanya cemberut dan keseringan menunduk. Ia mungkin takut membalas seruan Johan tentang kehebatan Ayahnya. Mungkin juga karena ia tak punya bahan untuk dibanggakan. Aku memang tak pernah menceritakan masa laluku, tentang aku yang melawan kelabilan, meski harus dicap cupu. Kurasa tak ada yang perlu dibangga-banggakan, walaupun kuyakin, itu punya nilai yang patut dicontohinya.

“Apa benar Ayah tak gaul waktu sekolah? Tak pernah punya pacar? Bukan jagoan?” tanya Amin dengan suara rendah, menggerutu.

“Iya, Nak. Ayahmu memang seperti itu,” balasku, sambil mengusap-usap kepalanya. “Tapi anak yang hebat itu, ya anak yang tidak nakal, seperti Ayah dulu, seperti kau sekarang.”

Kuyakin jawaban itu tak akan memuaskannya. Persepsinya tentang lelaki hebat, mungkin berbeda. Tapi sekali lagi, aku tak ingin jadi pahlawan di benaknya. Tak perlu menelanjangi diri dengan masa lalu, untuk menunjukkannya arti kemaluan. Biarlah ia jadi dirinya sendiri. Ia berhak atas kenangannya sendiri. Tugasku hanya mendidiknya, memperdengarkannya cerita-cerita tentang para pengalah dan pelawan yang konsisten pada kebenaran dan kebaikan, serta menunjukkan perilakuku yang patut ia teladani.

Di dalam hatiku yang terdalam, sebenarnya aku punya cerita kepahlawanan yang kupendam sendiri. Kurasa kalian perlu tahu, agar mengerti kalau banyak hal yang memang sebaiknya dipendam, meski itu patut untuk diceritakan pada anak-anak. Sebenarnya, akulah yang membakar markas Geng Sabit dahulu. Kemarahanku memuncak setelah menyaksikan perilaku mereka yang kerap tak menghormati guru. Apalagi setelah kutahu kalau seorang guru wanita menangis akibat kabandelan mereka. 

“Bosku, ayo pulang!” seru Johan pada ayahnya. “Aku tak suka sama anak cupu ini. Bodoh dan tak gaul.”

Binggo nyengir mendengar ucapan anaknya. “Baiklah, anakku yang hebat, kita pulang sekarang,” balasnya pada sang anak.

Amin hanya menunduk.

Aku tersenyum terpaksa. Merasa miris mendengar etika mengobrol anak-ayah di depanku. Entahlah. Aku tak bisa memastikan bagaimana watak kedua anak ini di masa mendatang. Yang pasti, aku adalah pagar nilai untuk anakku.

Jumat, 22 Juli 2016

Melarang Kesenangan


Hak bagi setiap orang untuk merasakan kesenangan. Itu juga berarti, setiap orang berhak mencari sumber kesenangan, baik bentuknya materi ataupun nonmateri, melalui pendekatan jasmani ataupun rohani. Jadi, mencari dan merasakan kesenangan, merupakan hak individual. Karena ranahnya yang individual, maka di sisi lain, setiap orang harus mengupayakan untuk tidak mengganggu hak kesenangan orang lain.

Mencari kesenangan, tidak berarti bebas, sampai menimpakan kerugian kepada orang lain. Bisa jadi, seseorang senang atas sebuah hal, tapi bagi orang lain malah merasakan derita. Keadaan itulah yang perlu dihindari. Namun, selagi kesenangan hanya berdampak secara individual bagi pencari kesenangan, maka siapa pun, harus menghargainya. Bahkan campur tangan otoritas yang mengatasnamakan kepentingan umum, juga harus diminimalisir. 

Kesenangan bagi setiap orang, sama pentingnya dengan kebutuhan dasar atas meteri. Jika makan diperuntukan bagi pemenuhan kebutuhan fisik, maka kesenangan yang bersumber dari aktivitas hiburan, merupakan kebutuhan jiwa. Untuk itu, di hidup yang membutuhkan keseimbangan ini, jelas tidak tepat kalau salah satu kebutuhan saja yang terpenuhi, lalu mengabaikan kebutuhan yang lain.

Tapi belakangan, tindakan melarang kesenangan terus bermunculan. Entah karena latah atau memang kolot, banyak kebijakan yang mengatasnamakan kebaikan bersama, malah merampas kesenangan individual yang notabene asasi. Atas nama kepentingan umum, otoritas tertentu merampas kesenangan seseorang. Individu dipaksa merelakan sumber kesenangannya diboikot. Dilarang senang sendiri-sendiri.

Tindakan melarang kesenangan, terlihat pada sejumlah fenomena kehidupan. Misalnya saja pelarangan atas sejumlah produk makanan, perangkat teknologi, buku-buku, karya seni, sampai pada aplikasi game. Padahal kesemua itu adalah sumber kesenangan yang harusnya menjadi pilihan bebas setiap orang. Kalau pun dianggap mendatangkan keburukan, kebijakan pelarangan, bukanlah jalan terbaik.

Memberedel sumber kesenangan, sama saja dengan menutup jalan menggapai rasa senang. Padahal, naluri individual pada setiap orang, akan terus memberikan dorongan untuk mencari dan merasakan kesenangan. Memusnahkan sumber kesenangan tanpa alasan objektif, nantinya malah membuat seseorang kehilangan nikmat kehidupan, ataukah mencari sumber kesenangan yang terlarang. 

Kekhawatiran beberapa orang yang menilai sumber kesenangan tertentu mendatangkan dampak negatif, sama sekali tidak patut jadi alasan pembenaran terhadap tindakan pelarangan kesenangan. Sebab pada banyak hal, yang dibutuhkan hanyalah pengaturan agar kesenangan sebagai hak, tidak membuat seseorang terlena dan melupakan kewajibannya. Kalau semisal sumber kesenangan hanya dijelajahi di sela-sela waktu, atau bahwa sebagai pelepas penat, maka jelas itu penting.

Kalau pun pada akhirnya, atas pertimbangan rasional, ternyata sebuah sumber kesenangan mendatangkan dampak negatif yang luar biasa, sehingga harus dilarang, maka pelarangan itu, harus diikuti upaya pengalihan sumber kesenangan. Kebutuhan setiap orang untuk mencari kesenangan, harus tetap terwadahi. Jika pelarangan itu tanpa pengalihan, maka pencari kesenangan akan mencari jalannya sendiri, yang mungkin saja lebih buruk.

Merujuk pada kejadian belakangan ini, jika pihak tertentu merasa bahwa game berbasis teknologi membuat anak-anak jadi antisosial, maka melarangan bermain game, bukanlah solusi tepat. Apalagi dunia anak-anak, memang berorientasi pada kesenangan. Maka, jalan terbaik yang harusnya dilakukan adalah membangun suasana, serta memfasilitasi kesenangan anak-anak agar beralih ke permainan tradisional yang jitu dalam membangun relasi sosial. Teknisnya dengan membangun pusat permainan tradisional, diikuti festival dan kompetisi secara rutin.