Kepulanganku kali ini beserta perasaan yang berbunga-bunga. Sebagai bentuk perayaan atas keberhasilanku sendiri, aku pun membawakan hadiah untukmu. Aku telah membeli sekantong makanan instan yang cukup mahal, yang pasti kausuka. Setidaknya, begitulah yang kulihat pada iklan-iklan merek makanan kucing itu.
Sudah sepatutnya aku berterima kasih atas kehadiranmu. Sebagai lelaki lajang yang berjuang sendiri untuk hidup di tengah kehidupan kota yang keras, kau cukup menawar kepenatan dan kesedihanku dengan tingkah acak dan cuekmu. Karena itulah, setelah aku mendapatkan surel pemberitahuan kalau aku diterima sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan ekspedisi, aku merasa kau mesti merasakan kesenanganku juga.
Hasratku menyenangkanmu dengan makanan istimewa, makin menjadi setelah aku mendapatkan perlakuan yang sama dari seseorang. Dengan begitu saja, menjelang jam pulang kerja, aku mendapatkan informasi dari seorang kurir bahwa seseorang telah memesankan sekotak hidangan berupa nasi campur dari sebuah restoran mewah untukku, yang kemudian digantung sang kurir di depan pintu kamar kosku. Aku tak bisa menebak dengan yakin siapa sang pemurah itu. Tapi kukira itu ada hubungannya dengan hari ulang tahunku kemarin.
Karena itulah, aku memilih tidak membeli hidangan tambahan untuk diriku sendiri, demi berhemat. Dengan tabungan yang seadanya, kurasa cukup jika aku sedikit berkorban untukmu. Selama ini, atas pendapatanku yang memprihatinkan sebagai pramuniaga toko perabotan rumah tangga, kau turut hidup melarat. Makananmu sebatas sisihan dari makanan sederhanaku. Nasi putih dengan suwiran daging ikan atau ayam, cukup membuatmu bersetia denganku. Bahkan tak jarang bagianmu sekadar tulang belulang atau nasi berkaldu kalau aku sedang berhemat ketat.
Akibat kondisi kehidupan itu, keadaanmu tak sebaik kucing-kucing peliharaan orang berada. Tubuhmu terhitung kurus, dan bulu-bulumu masih rontok. Karena itu pula, sudah beberapa kali aku mencoba membuatmu sejahtera dengan menyelundupkanmu ke halaman rumah keluarga kaya yang kutaksir pencinta kucing. Tetapi sialnya, kau selalu menemukan jalan untuk pulang ke kamarku, dan memilih tetap bersamaku. Sampai akhirnya, aku menyerah untuk membuat kita terpisah.
Dengan semua itu, kau sepatutnya bersyukur atas kebaikanku dalam segala keterbatasanku. Tidak saja menyelamatkan nyawamu, aku juga menghidupimu semampuku. Hingga akhirnya, kau tumbuh sehat dan kuat. Keadaanmu jelas jauh lebih baik ketimbang tiga bulan yang lalu, saat aku menemukanmu dalam keadaan yang begitu memprihatinkan. Saat itu, kau hanya meringkuk lemas dan berbalut air comberan di tepi selokan persimpangan jalan yang sepi. Kau seperti hanya menunggu mati dalam keadaan terabaikan. Sebuah pemandangan yang membuatku miris, hingga aku memilih untuk menolongmu
Kini kusadari, keputusanku untuk membawamu dan merawatmu dengan cara sederhana adalah keputusan yang tepat. Kalau saja tidak begitu, aku pasti dihantui rasa bersalah sepanjang waktu. Aku yakin, kau akan mati kedinginan dan tak pernah dikuburkan. Aku yakin begitu, karena di tengah kehidupan perkotaan yang berat secara ekonomi, orang-orang akan memilih untuk mengabaikanmu demi menghindari beban-beban untuk menghidupimu. Bahkan aku yakin orang-orang yang mengasihanimu akan enggan menyelamatkanmu, dengan pikiran, setidaknya, bukan mereka yang membunuhmu.
Pikiran-pikiran semacam itu, tak bisa kuhindari, karena aku menyaksikan sendiri kalau kemiskinan menggerayangi orang-orang di sekitarku. Setidaknya, banyak penghuni kamar kos di sekitarku, hidup dalam keadaan yang tidak lebih baik dariku. Mereka berjuang keras untuk bertahan dalam impitan ekonomi dengan kebutuhan yang makin mahal. Ada yang bekerja sebagai pengemis, pengamen, atau pedagang asongan. Bahkan ada beberapa yang kuketahui bekerja sebagai pengedar obat terlarang, penagih utang, dan pelayan di tempat hiburan malam.
Kenyataan kerasnya kehidupan kota makin kusadari setelah mengetahui kalau aku harus bersaing dengan ratusan orang untuk mendapatkan pekerjaan yang kini berhasil kumenangkan, meski pekerjaan itu hanyalah pekerjaan level rendah dengan gaji yang secukupnya. Aku pun makin memahami keadaan itu empat hari yang lalu, setelah menjalani tes wawancara, seusai mengobrol dengan salah satu dari dua orang pesaing terakhirku dalam memperebutkan satu pekerjaan tersebut.
"Hidup di kota ini terasa makin berat. Persaingan makin ketat. Pendapatan menurun, sedangkan kebutuhan meningkat. Kita mesti pandai-pandai mencari cara untuk bertahan," kata lelaki itu kemudian, dengan nada mengeluh, setelah menerangkan kalau pendapatannya makin sulit memenuhi kebutuhannya di tengah pesaingan perebutan penumpang yang makin sengit di antara pengemudi ojek daring setelah banyak orang menjadikan penghidupan tersebut sebagai pekerjaan sampingan atau pelarian dari status pengangguran.
Aku sekadar mengangguk setuju dan membebaskannya untuk terus menumpahkan keresahannya. Aku merasa sepatutnya menjadi penenang dengan menjadi pendengar yang baik atas kebaikannya mengajak dan mentraktirku makan bersama di sebuah warung makan di tengah pendapatan kami yang sama-sama pas-pasan.
Ia lantas mengembuskan napas yang panjang, kemudian menyambung keluh kesahnya, "Aku tak tahu lagi bagaimana kalau aku tidak segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaanku sekarang," tuturnya, untuk merangkum kekalutannya akibat jeratan utang, termasuk pinjaman daring, demi menghidupi istri dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil.
Dengan penuh pengertian, aku pun menanggapi sekenanya, "Sesulit apa pun kehidupan kita, setidaknya, kita masih bisa bertahan hidup dengan cara-cara yang baik."
Seolah sepaham, dengan perasaan berat, ia pun mendengus dan melayangkan senyuman miris.
Sekian lama kemudian, kami hanya saling mendiamkan. Aku fokus menghabiskan salah satu hidangan favoritku berupa nasi campur dengan lauk ikan bandeng goreng, sedangkan ia khidmat menikmati isapan rokoknya. Hingga akhirnya, setelah turut menandaskan hidangan dan memulai gelagat untuk berpisah, kami pun sama-sama sadar untuk sepatutnya berbagi nama dan informasi pribadi. Setelah itu, kami lalu berpisah tanpa menyinggung bagaimana kemungkinan akhir dari persaingan kerja di antara kami.
Tetapi tentu, sebagai orang yang sekian lama hidup dengan keuangan yang pas-pasan, demi kehidupan yang lebih baik, aku jelas ingin mengalahkannya dalam mendapatkan pekerjaan tersebut. Aku ingin jadi lebih berdaya dalam membeli segala macam keperluan, termasuk perihal kebutuhanmu. Aku ingin menjadi pemelihara yang berkelas dengan senantiasa memberikan makanan yang istimewa untukmu. Dengan begitu, badanmu akan jadi makin berisi dengan bulu hitam-putih yang menawan, dan aku akan makin suka melihatmu dan membelaimu.
Sampai akhirnya, harapanku terwujud hari ini, setelah aku mendapatkan surel pemberitahuan kalau aku terpilih sebagai pemenang dalam perebutan pekerjaan itu. Aku hanya perlu memenuhi persyaratan pemberkasan untuk benar-benar menjabat pekerjaan tersebut. Karena itulah, kali ini, aku pulang dengan perasaan yang berbunga-bunga. Aku tak sabar untuk tiba dan menjumpaimu di area kamarku seperti biasa. Aku ingin segera berbagi kesenangan denganmu, dengan makan bersama, dengan hidangan kesukaan masing-masing.
Namun aneh. Setelah tiba di halaman kos-kosan dan memarkir sepeda motor, aku tak mendengarmu mengeong sambil menghampiriku cepat-cepat. Dengan penuh tanya, aku lalu melangkah ke arah kamarku sembari melayangkan pandangan. Dari jarak sekian meter, aku pun melihatmu berbaring di teras depan.
Tetapi keganjilan malah makin terasa. Tak seperti biasanya, kau tak segera bangun dan menyambut kedatanganku. Hingga akhirnya, aku menyaksikan kenyataan yang memilukan. Dari mulutmu, keluar gelembung busa, sedang di sampingmu, berserakan sekotak nasi campur dengan lauk ikan bandeng goreng.
Kau telah menyelamatkan nyawaku dengan kematianmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar