Bila saja sesuai rencana, sejak tujuh hari yang lalu, aku semestinya berada di kampung bersamamu. Mulai hari itu, aku akan melewatkan hari dengan membantumu mengurus kebun lada kita. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Engkaulah yang beranjak ke kota ini. Kau terpaksa datang menemaniku menjalani perawatan di rumah sakit setelah aku mengalami komplikasi penyakit asam lambung.
Aku tak pernah membayangkan kenyataan akan begitu. Sebagai seorang anak, akulah yang seharusnya menandangimu dan mendampingimu dalam kelemahan dan kerentananmu. Aku seharusnya menjaga kondisi tubuhku agar aku tidak malah merepotkanmu sebagai seorang ayah yang sudah nyaris lanjut usia. Tetapi malang tak bisa kuelakkan. Penyakit mengalahkan pertahanan tubuhku, dan aku tak bisa apa-apa.
Jauh sebelumnya, pada hari-hari yang lampau, selama terpisah jarak, aku selalu mengkhawatirkan kondisimu. Sejak Ibu meninggal, dan kau tinggal seorang diri, aku senantiasa mencemaskan keadaanmu. Aku takut celaka menimpamu karena bekerja terlalu keras di kebun, atau penyakit menggerogoti tubuhmu karena ketidaksanggupanmu mengurus pekerjaan rumah untuk menjaga kesehatanmu.
Kekhawatiranku makin menjadi-jadi karena kondisi tubuhmu tak lagi sekuat dahulu. Kekuatan ototmu sudah melemah, dan kebugaran tubuhmu merawan. Aku cemas kalau-kalau kebiasaanmu bekerja tanpa mengenal batas, akan membuatmu benar-benar tumbang tak berdaya. Aku takut tak berada di sampingmu saat kau kehilangan harapan tanpa bantuan, dan tak ada siapa-siapa yang hadir untuk menolong.
Sebenarnya, sudah berkali-kali aku memintamu untuk tidak lagi bekerja berat, sebab kau tak lagi punya tanggungan setelah aku sebagai anak tunggalmu telah hidup mandiri. Aku bahkan berapa kali memintamu untuk berhenti dari pekerjaan kebun dan tinggal di kota ini bersamaku dalam penanggunganku, atau sekadar rehat untuk sekian lama, tetapi kau selalu menolak, seolah batinmu telah terikat pada kebun.
Atas keadaan itu, aku akhirnya mengambil jalan tengah. Aku senantiasa menyisihkan dan mengirimkan pendapatanku untukmu sembari berpesan agar kau menggaji orang lain untuk membantumu mengurus kebun. Tetapi tetap saja, seakan sudah tabiat, kau selalu turun tangan sendiri mengurus tanaman sampai batas kemampuanmu. Kau tampak begitu menggandrungi rutinitasmu itu.
"Setiap pekerjaan ada risikonya. Begitu pula pekerjaanmu. Kita hanya bisa berusaha menghindarinya," katamu, lewat telepon, sebulan yang lalu, setelah aku menyinggung pekerjaanmu yang berat karena menguras tenaga di bawah terik matahari, sembari menyepelekan beban pekerjaanku sendiri di ruang ber-AC.
"Asal Ayah tahu batas saja kalau begitu. Jangan terlalu memaksakan diri," tanggapku, mewanti-wanti.
"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja di sini. Sedari kecil, aku telah terbiasa dengan pekerjaan kebun, dan aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai beban. Aku bahkan menikmatinya, layaknya hiburan pengisi waktu. Dan menikmati pekerjaan itulah yang penting, yang bisa menghindarkan kita dari beban batin yang bisa mendatangkan penyakit," tuturmu, mencoba menepis ketakutanku, sekaligus menyiratkan petuah.
Dengan responsmu itu, sebagaimana selalu, aku berpasrah saja. Tetapi diam-diam, aku tetap memendam kecemasan.
Akhirnya, demi menawar kekhawatiranku atas dirimu, untuk hari kerja di sela-sela tanggal merah dan hari libur kerja, aku memutuskan mengambil cuti. Aku merencanakan untuk membantumu mengurus kebun selama seminggu. Kupikir, setidaknya, keberadaanku dalam waktu selama itu, sudah cukup untuk meringankan bebanmu dalam membereskan pekerjaan kebun yang membutuhkan tenaga ekstra.
Sampai kemudian, terjadilah apa yang tak pernah kubayangkan. Akulah yang kalah atas keadaanku sendiri. Akulah yang terserang penyakit hingga kau harus datang untuk membantuku pulih. Hingga akhirnya, karena itu, aku memahami pernyataanmu soal hubungan kesehatan dengan pekerjaan fisik dan beban pikiran. Dari keterangan dokter, aku memahami kalau sakitku disebabkan pula oleh istirahat yang kurang dan beban pikiran yang berat. Jelas, itu soal pekerjaan kantor yang menguras waktu dan pikiranku.
Namun beruntung, sebab setelah perawatan yang baik di rumah sakit selama lima hari, aku akhirnya berhasil melawan penyakit. Bahkan pagi ini, aku merasa keadaanku mendekati kepulihan yang sempurna. Tetapi saat kondisiku makin membaik, aku malah menyaksikan pertanda buruk yang begitu menakutkan. Raut wajahmu kuyu dan terlihat makin lesu. Batukmu terdengar makin sering dan keras. Bahkan saluran hidungmu sering tersumbat sampai kau jadi sering bersungut-sungut. Meski awalnya kau berkilah kalau itu biasa dan hanya gejala kecapaian, tetapi akhirnya aku merasa ngeri.
Untuk mencegah keadaanmu memburuk, aku pun menghampirimu saat kau tengah berjemur di bawah terpaan sinar matahari pagi, di teras depan rumahku. "Kondisi Ayah tampak mengkhawatirkan. Sebaiknya aku antar Ayah ke dokter, ya?" tawarku.
Kau lekas menggeleng. "Tidak usah. Aku cuma demam dan flu biasa. Mungkin karena tubuhku belum menyesuaikan dengan hawa di kota ini."
"Kalau begitu, aku belikan obat saja," saranku.
Kau kembali menggeleng. "Tidak perlu. Keadaanku akan baik-baik saja. Mungkin aku hanya perlu menghangatkan diri dengan sinar matahari dan menghirup udara segar. Aku sepertinya tidak cocok dengan AC," kilahmu, lantas melesitkan ingusmu.
Aku pun mengangguk maklum dengan sedikit rasa bersalah. Tetapi tak ada pilihan lain yang lebih baik, karena lazimnya, di kota, keadaan ruangan akan terasa pengap tanpa menyalakan pendingin ruangan, sedang udara bebas akan masuk bersama debu atau nyamuk. "Mungkin Ayah lebih cocok dengan kipas angin. Nanti aku belikan."
Lagi-lagi, kau menggeleng. "Karena keadaanmu sudah membaik, aku sebaiknya pulang hari ini juga. Aku khawatir hama akan merusak tanaman lada di kebun kalau tidak segera disemprot."
"Tidak maukah Ayah tinggal lebih lama lagi?" tanyaku, mencoba menawar. "Aku belum membawa Ayah jalan-jalan ke tengah kota."
Kau lantas melepaskan gelakan yang pendek. "Tidak usah. Aku lebih cocok dan lebih nyaman berada di kampung. Kehidupanku di sana."
Akhirnya, aku mengalah dengan pemahaman kalau begitulah adanya, bahwa suasana kota akan makin mengancam kesehatanmu, dan suasana pedesaan akan lekas memulihkanmu kembali. "Baiklah. Nanti aku antar Ayah ke terminal."
Dengan senyuman lepas, kau pun mengangguk tegas, kemudian memberikan nasihati. "Rajinlah berjemur, seperti ini. Tubuh kita butuh paparan sinar matahari." Kau melepas batuk dua kali, lantas menambahkan, "Kau juga harus rajin berolahraga. Tubuh mesti berkeringat, supaya sehat."
Aku mengangguk saja. Membenarkan.
"Jagalah kesehatanmu baik-baik," pesanmu lagi.
"Tentu, Ayah," tanggapku, dengan kesungguhan, sebab aku tak ingin ketakutanku menjadi kenyataan, bahwa tubuhmu benar-benar dilumpuhkan penyakit tersebab aku jatuh sakit lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar