Pagi sudah menghangat saat adik perempuanku membuka pintu pagar. Sayup-sayup kudengar ia berbincang dengan seorang lelaki. Detak-detak langkah yang asing kemudian mengarah ke posisiku, lalu berhenti pada jarak sekian meter di depanku.
"Hai!"
Sapaan itu, sontak menghunjam memoriku. Mengutak-atik berkas cerita yang telah lama kuarsipkan sebagai kenangan.
Aku pun bergeming. Aku jelas mengenal pemilik suara itu sebagai dirimu. Aku sungguh tak menyangka kalau kau akan datang setelah semua kerumitan yang terjadi di antara kita.
Hening saja dalam sekian detik, seolah kita sama-sama berusaha mencerna alur cerita hingga kita sampai pada saat ini. Satu rangkaian kisah yang seakan membuat kita cukup mengerti hingga sama-sama bingung meramu pertanyaan yang pantas.
Beberapa saat kemudian, dari pertanda suara, kuterka kau makin mendekat, lantas duduk di sampingku, pada sebuah bangku di teras depan rumahku. Tanpa merasa perlu bertanya kabar, kau lalu melontarkan singgungan, "Kuharap kau masih mengingatku," katamu, seolah kau tak pernah meninggalkan arti di dalam hidupku.
Sembari berusaha meredam kecamuk batin, aku mengangguk saja. Setelah menimbang-nimbang, aku lalu melontarkan tanya sekenanya, "Kapan kau datang dari kota seberang?"
Kau lekas menjawab dengan nada datar, "Lima hari yang lalu."
Ada urusan apa?" selisikku.
"Pamanku meninggal."
Seketika, perasaanku tersentak. "Pamanmu yang punya kebun di bukit itu?"
"Iya."
Aku pun terenyuh. "Aku turut berduka."
"Terima kasih."
Sekian lama, keheningan kembali menjeda kita, seolah sama-sama membutuhkan waktu untuk menafakuri kedukaan.
Perlahan-lahan, ingatanku kembali mengulang satu kisah kita di kebun jagung milik pamanmu itu. Sebuah kebun yang berada di perut perbukitan, tempat kita dan beberapa teman sekolah kita yang lain kerap mengadakan pesta bakar jagung saat masa panen. Di sanalah kebersamaan kita yang terakhir, yang menjadi momentum yang telah menggantung kita dalam ikatan batin yang tak berkesudahan.
Satu kisah kita itu, terjadi lima tahun yang lalu, selepas kita tamat sekolah menengah atas dan sedang mengancang rencana masa depan. Tiba-tiba saja, pada satu sore yang cerah selepas hujan, kau bertandang ke rumahku dan menyahutiku. Kau lalu memintaku untuk segera menurutimu ke satu tempat yang kaurahasiakan. Katamu, kau akan memperlihatkan keajaiban yang selama ini kunantikan.
Dengan rasa percaya bercampur penasaran, aku lekas mengenakan kacamata minusku, kemudian menunggangi sadel sepeda motormu. Kita lalu mengarah ke titik awal pendakian menuju kebun tersebut. Namun di tengah perjalanan, rencana kejutanmu tidak lagi membuatku bertanya-tanya. Di langit, aku melihat separuh bentuk pelangi. Aku yakin, itulah yang hendak kautunjukkan kepadaku, sebab aku pernah bertutur kepadamu kalau aku sangat ingin melihat pelangi yang belum pernah kulihat secara langsung selama hidupku.
"Ah, ternyata kau sudah tahu," ujarmu, setengah kesal, setelah memarkirkan sepeda motor pada pangkal jalan pendakian yang merupakan jalan setapak, dan kau melihatku mendongak dengan pandangan kagum ke arah langit. "Ayo, cepat, kita ke balai-balai kebun pamanku. Di sana, kita akan melihat pelangi itu secara utuh. Kalau kita gesit, kita pasti masih akan melihatnya di sana sebelum menghilang."
Aku mengangguk saja dengan persetujuan penuh. Demi keindahan yang sempurna itu, aku lalu mengekorimu dengan langkah cepat.
Tetapi ternyata, hasrat besar itu mesti diwujudkan dengan mengarungi tantangan yang berat. Jalan yang basah selepas hujan, membuat pendakian kita tidak semudah biasanya. Berkali-kali kakiku terpeleset, entah karena alas sandalku tak kuat mencengkeram tanah yang licin, atau karena permukaan sandalku itulah yang licin dan menggelongsorkan telapak kakiku. Sudah kucoba mendaki tanpa alas kaki agar langkahku kokoh, tetapi telapak kakiku malah tak bisa menahan sakitnya tusukan kerikil yang runcing, atau duri putri malu yang tumbuh liar.
Akhirnya, demi misi besar yang berbatasan waktu, kau pun melucuti sepatumu dan menyodorkannya kepadaku. Dengan setengah memaksa, kau memintaku menanggalkan dan meninggalkan saja sandalku di tepi jalan, lalu mengenakan sepatumu itu. Kau mewanti-wanti dan menginstruksikan kalau kita mesti mendaki cepat agar kita tidak terlambat. Maka dengan perasaan tersentuh, aku pun memakainya, kemudian berupaya melangkah dengan lebih tangkas dan tangguh.
Tetapi dengan bantuan itu, aku masih saja kepayahan. Karena kecapaian, aku makin goyah dan lambat menapak. Aku bahkan sesekali salah langkah dan terjatuh karena keterbatasan pandanganku akibat kacamata minusku yang tertutup embun napasku atau tetesan keringatku sendiri. Karena itu, aku terus saja merepotkanmu demi cita-citaku sendiri. Aku kerap kali berpegangan pada ekor bajumu, atau genggaman tanganmu.
Hingga akhirnya, dengan napas yang tersengal-sengal dan tubuh penuh keringat, kita tiba di dataran kebun milik pamanmu. Dengan tenaga yang tersisa, kita segera naik ke atas balai kebun itu. Kita lantas duduk di teras depan rumah panggung tersebut dengan kaki menyelonjor, sembari bersandar lepas pada dinding. Kita kemudian berupaya mengatur napas dan meredakan kepenatan, sembari memandangi pelangi yang menawan di atas lembah dan perbukitan sebelah.
"Syukurlah, kita masih mendapatinya," katamu, dengan raut bangga, disusul senyuman yang lebar.
"Ya. Indah sekali," tanggapku, dengan napas yang masih memburu.
Berselang sesaat, kau lantas melontarkan saran yang menarik, "Sebelum terlambat, berharaplah untuk perihal yang kaucita-citakan. Kata orang-orang, segala harapan yang dipanjatkan sembari memandangi pelangi, akan menjadi kenyataan yang indah, sebagaimana pelangi," tuturmu, sembari melirikku dengan tatapan yang hangat.
Karena kau pernah mengajarkan itu sebelumnya, saat dahulu aku masih berharap melihat pelangi, aku pun mafhum dan telah menunaikannya. "Sudah kulakukan tadi."
"Apa?" sidikmu, tampak penasaran.
"Semoga aku berjodoh dengan orang yang baik," jawabku, setengah malu, lantas melayangkan senyuman simpul.
Kau lantas mengangguk-angguk manyun, kemudian menelisik dengan sikap segan, "Tapi itu terlalu umum. Harapanmu mesti spesifik. Kalau soal jodoh, kau mesti meniatkan seseorang."
Aku pun mengangguk paham. "Ya, sudah kulakukan juga."
Sontak, kau menyergah dengan raut datar, "Siapa?"
Dengan separuh enggan, aku lantas menguraikan, "Seorang polisi yang dijodohkan denganku oleh orang tua kami. Keluarga besar kami bahkan sudah merencanakan untuk menikahkan kami secepatnya," terangku, sepolosnya, tanpa memedulikan pandanganmu. "Aku harap dia orang yang baik untukku. Kalau tidak, aku harap kami tidak sampai pada jenjang yang serius."
Kau pun mengangguk-angguk pelan. Aku yakin kau terkejut, sebab aku memang belum pernah menceritakan soal itu kepadamu.
Seolah kehilangan rasa penasaran, kau lantas terdiam saja dan hanya menatap pelangi yang makin memudar.
Aku lalu balas menyidik, "Kau sendiri memanjatkan harapan apa di hadapan pelangi saat ini?"
Kau menggeleng-geleng. "Tak ada harapan apa-apa. Sebagai teman, aku hanya berharap segala yang terbaik untukku."
"Ah, curang!" protesku. "Katakanlah!"
Kau lantas tergelak pendek, kemudian memampang ekspresi cuek, seperti berusaha menyamarkan keengananmu untuk berkata jujur. "Aku serius. Aku memang tak ada niat untuk memanjatkan harapan. Sedari awal, pelangi itu sekadar kurencanakan untuk kaujumpai, untuk engkau berharap."
Akhirnya, aku menyerah untuk menelisik.
Keheningan kemudian menyelimuti kita seiring warna pelangi yang makin memudar. Kita tidak lagi berbagi kata, hingga pelangi itu benar-benar lenyap.
"Sudah waktunya kita pulang," katamu, dengan raut sayu.
Aku mengangguk tenang.
Akhirnya, kita mulai melipat langkah pada jalan setapak yang telah susah payah kita daki.
Sepanjang perjalanan menurun itu, aku pun merasakan jelas perubahan sikapmu. Tiba-tiba saja kau jadi pendiam dan kehilangan nafsu untuk memancing percakapan. Kau tak lagi banyak bicara dan malas mempertanyakan apa saja kepadaku. Kau bahkan tak lagi tertarik untuk sekadar mengulas kisah kebersamaan kita selama masa sekolah menengah atas sebelum kita benar-benar terpisah arah masa depan. Padahal, sebelumnya, bahkan saat perjalanan mendaki, kau masih dengan perangaimu yang banyak omong dan suka memancing tawaku.
Beberapa lama kemudian, kita pun menggapai sepeda motormu yang terparkir. Kau lantas memberiku aba-aba agar aku kembali duduk pada sadel sisi belakangmu. Lalu tanpa percakapan lagi, roda berputar menuju ke rumahku. Hingga akhirnya, dengan laju yang lebih cepat dari biasanya kau memboncengkan aku, dalam waktu singkat, kendaraan tua itu membawa kita sampai di halaman rumahku.
"Terima kasih telah mewujudkan keinginanku melihat pelangi," kataku, setulusnya, setelah turun dari dudukan.
Kau hanya mengangguk dengan senyuman simpul yang terkesan terpaksa.
Dalam sekian detik kemudian, kita hanya terdiam-berhadapan dengan tatapan yang tiba-tiba segan untuk beradu.
"Kenapa belum pergi? Ada yang ingin kausampaikan?" tanyaku, begitu saja, setelah kita terperangkap dalam adegan yang aneh.
"Sepatuku," jawabmu, singkat, bermaksud meminta kembali sepatumu yang masih tepasang rapat di kakiku.
Aku pun tersadar dan merasa bodoh. "Oh, iya. Aku lupa," ujarku, kemudian mengutarakan niatku sebelumnya, "Tapi biar aku cuci dulu. Kau bisa mengambilnya besok atau lusa."
"Tidak usah," tolakmu, tampak berkeras.
"Aku memaksa soal ini," bantahku, tak mau kalah.
Kau pun mendengkus dan mengalah. "Baiklah," pungkasmu, dengan ekspresi datar.
Tanpa berlama-lama lagi, kau lalu memutar posisi sepeda motormu cepat-cepat. Tidak seperti biasanya, kau kemudian pergi tanpa pamit dengan kata-kata yang bersahabat.
Hari demi hari berganti. Nyatanya, kau tak kunjung datang ke rumahku untuk mengambil sepatumu. Sudah kucoba menghubungimu lewat telepon, tetapi kau tak menanggapi dengan alasan yang tak jelas. Karena itu, lima hari berselang, aku memutuskan untuk mengantarkan sepatu itu kepadamu, ke tempat tinggalmu, ke rumah pamanmu yang seolah orang tuamu di kota kecil ini. Tetapi ternyata, kau telah beranjak ke kota seberang, ke kota kelahiranmu, ke tempat tinggal ibumu. Dengan rasa kecewa, aku pun membawa pulang sepatu itu dan menyimpannya untukmu.
Sejak kepergianmu, kita tidak lagi pernah bertemu atau sekadar berkomunikasi. Aku pun jadi tak tahu bagaimana keadaanmu. Namun dari jendela dunia maya, pada akun media sosialmu, aku mendapatkan informasi kalau kau kemudian berkuliah di sebuah politeknik sembari bekerja di bidang konstruksi. Aku turut senang mengetahui kehidupanmu yang baik itu. Tetapi akhirnya, dengan penelusuran daring yang intens dan berkala, aku kemudian mendapatkan laman berita yang mengabarkan perihal seorang pekerja perbaikan jalan dengan identitas yang sama sepertimu. Kabarnya, lelaki itu terserempet mobil saat sedang mengerjakan perbaikan ruas jalan raya. Untungnya, pekerja tersebut selamat dari maut, meski mengalami luka-luka. Dan jika benar itu adalah kau, aku berharap kau baik-baik saja.
Namun setelah semua yang terjadi, atas sikapmu yang tiba-tiba berubah pada momen terakhir kebersamaan kita, aku pun menerka kalau itu ada hubungannya dengan percakapan singkat kita di balai kebun pamanmu. Kuduga kau memendam kekesalan setelah aku mengungkapkan soal perjodohanku dengan seorang lelaki. Tetapi aku tak bisa menebak dengan jelas alasan di balik ketidaksukaanmu itu, apakah karena kau tak suka aku akan menikah dengan seorang polisi karena kau membenci polisi setelah ayahmu meninggal akibat tembakan polisi yang salah sasaran sebagaimana ceritamu, ataukah karena kau memiliki perasaan suka kepadaku.
Andai saja waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke masa lalu, saat kita masih bersama dalam keadaan yang baik-baik saja. Jikalau demikian, aku akan nekat mengupayakan agar kebersamaan kita berujung pada cerita yang indah. Sebab sejujurnya, dahulu, seiring waktu dalam keakraban kita, aku memendam perasaan yang lebih dari sekadar rasa persahabatan terhadapmu. Karena itu, aku selalu berharap kau pun begitu terhadapku, kemudian menyatakan perasaan kepadaku, lalu kita menjadi sepasang manusia menuju ikatan yang suci. Tetapi sepanjang kebersamaan kita pula, aku tak bisa meyakini kalau harapanku itu akan terwujud. Kau tampak hanya mengakrabiku sebagai seorang teman dekat. Tidak lebih.
Hingga akhirnya, di tengah hubungan kita yang menyenangkan dalam batas persahabatan, aku mendapatkan penawaran dari ibuku perihal rencana perjodohanku dengan anak kawan lamanya. Dengan penuh pertimbangan, aku pun menerima perjodohan itu sebagai jalan takdir yang baik untuk diriku dan keluargaku yang sedehana. Sebagai perempuan, aku jelas memilih kepastian untuk menjalin hubungan yang serius. Apalagi, kepastian itu direncanakan dengan seorang yang terhitung mapan untuk membangun rumah tangga.
Namun malang tak bisa kuhindari. Waktu demi waktu, daya mataku makin memburuk. Pengobatan gagal mengatasinya. Kacamata pun tak bisa menanggulanginya. Sampai akhirnya, penyakit glaukoma itu menghilangkan penglihatanku secara total. Akibatnya, rencana perjodohanku dibatalkan oleh pihak lelaki. Dengan rasa kecewa, aku sadar diri dan pasrah menerimanya. Jelas, berat bagi siapa pun untuk menerimaku sebagai pendamping hidup dengan kondisiku yang mengenaskan.
Hingga akhirnya, aku sampai di hari ini, saat kau tiba-tiba datang dan membangkitkan kenangan tentang kita di dalam benakku.
"Barangkali kau ada keperluan khusus sampai kau datang ke sini setelah sekian lama? Apa kau bermaksud mengambil kembali sepatu yang kaupinjamkan kepadaku dahulu?" selisikku, setelah jeda hening sekian lama.
"Tidak ada apa-apa. Bukan juga untuk sepatu itu," sangkalmu, lalu memberikan alasan yang diplomatis, "Aku hanya ingin bersua denganmu."
"Untuk apa?" selidikku, dengan perasaan yang meragukan. "Lalu, kenapa dahulu kau tak segera datang mengambil sepatu itu?"
"Entahlah," tanggapmu, dengan nada bimbang. "Aku hanya merasa tak membutuhkannya lagi."
"Lalu kenapa kau tak mengabariku, agar aku tak perlu menyimpan dan menjaganya demi mengembalikannya kepadamu?" selidikku lagi.
"Maaf," ucapmu, seolah merasa bersalah dan menyesal.
"Itu bukan jawaban. Aku butuh alasan yang sebenar-benarnya," tuntutku.
Kau terdiam saja.
Akhirnya, aku mendesak, "Katakanlah, kenapa kau bersikap seperti itu kepadaku sejak hari terakhir kebersamaan kita dahulu?"
Kau lantas mengembuskan napas yang panjang, kemudian menjawab lemah, "Aku tak suka mendengar kenyataan kalau kau akan menikah dengan seorang lelaki."
"Kenapa?" sergahku.
"Karena aku menyukaimu; aku mencintaimu."
Seketika, hatiku terasa dingin mendengar kejujuranmu untuk segala tanyaku tentang kita selama ini. Aku sungguh merasa lega.
Hening sekian detik.
"Lalu, kau memanjatkan harapan apa di bawah pelangi di sore itu?" tanyaku lagi, dengan begitu penasaran.
"Aku berharap, kita akan menikah dan menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya," terangmu, polos, untuk menyempurnakan kejujuranmu.
Sontak, batinku tersentuh. Air pun menangis terharu. Aku merasa bahagia karena kisah kita telah menemukan alasan untuk kuabadikan sebagai kenangan yang indah. Tetapi atas keadaanku yang berkekurangan, aku kukuh meredam angan untuk hidup bersamamu. Di tengah ketidaktulusanku menerima keadaan diriku sendiri, aku sadar kalau siapa pun, termasuk kau, akan berat menerimaku sebagai pasangan hidup, dan kau berhak mencari perempuan yang jauh lebih baik.
"Maaf kalau kau tak berkenan dengan semua yang telah kukatakan," ujarmu.
Aku pun menggeleng keras. "Terima kasih karena kau telah mengungkapkan semuanya dengan jujur."
Kau tergelak pendek. "Akulah yang semestinya berterima kasih, karena kau bersedia menerima pengakuanku," tangkismu. "Kini, aku merasa lega."
Aku lalu menagih penegasan, "Apakah itu alasan sesunguhnya sampai kau datang menemuiku?"
"Iya," akumu, disusul isakan yang samar.
Aku pun merasa damai.
Untuk sekian lama, kita hanya saling mendiamkan dalam keharuan masing-masing.
Hingga akhirnya, kau mengambil ancang-ancang untuk berpisah kembali, "Aku pamit, ya. Sudah waktunya aku pergi. Banyak yang mesti kupersiapkan menjelang jadwal penerbangan," tuturmu, tanpa merasa perlu menanyakan perihal bagaimana perasaanku kepadamu. Tetapi kurasa, memang begitulah semestinya, sebab jawabanku sebagai seorang tuna, tidak akan memiliki pengaruh apa-apa untuk masa depan kita.
"Tetapi kau sebaiknya mengambil kembali sepatumu dan membawanya serta," ajuku, sembari berusaha mengikhlaskan perpisahan kita lagi, sebab aku memang tak punya hak untuk menahanmu.
"Tidak usah. Simpanlah saja sebagai kenang-kenangan. Lagi pula, aku tidak membutuhkannya lagi," responsmu, dengan maksud hati yang tak kutahu jelas.
Aku pun mengangguk pasrah. Mengisyaratkan penerimaanku.
"Aku harap segala yang terbaik untukmu di sini," pungkasmu, lantas menepak-nepak punggung tanganku.
"Aku harap begitu juga untukmu di sana," balasku.
Seketika pula, kudengar bunyi tapakan di ubin teras. Kuterka, kau telah mengambil langkah pergi, tanpa merasa perlu mengucapkan sampai jumpa. Tetapi kukira, begitulah seharusnya.
Sesaat kemudian, setelah terdengar dentingan kunci pagar, kudengar lagi tapakan kaki menuju ke arahku, yang kubaca jelas sebagai langkah kaki adikku.
"Laki-laki itu teman sekolah Kakak yang dulu sering ke sini, kan?" selidik adikku.
"Ternyata kau masih mengenalnya juga," tanggapku. "Memangnya kenapa?"
"Kasihan ya, dia."
"Kasihan kenapa?"
"Jalannya pincang dan pakai kaki kanan buatan."
Seketika, perasaanku tersentak. Perlahan-lahan, aku memahami kenapa kau tak mempertanyakan perasaanku kepadamu, lalu pergi tanpa ucapan sampai jumpa.
Tetapi diam-diam, atas kemalangan dan rasa rendah diriku, dan mungkin demikian pula dirimu, terjadilah pergulatan di dalam batinku perihal kemungkinan dan ketidakmungkinan tentang akhir kita. Aku jadi bertanya-tanya, apakah mungkin ada inginmu menyatukan diri denganku dan menyempurnakan kehidupan kita yang penuh ketidaksempurnaan? Adakah mungkin kau mau jadi mataku, dan aku jadi kakimu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar