Minggu, 07 Agustus 2016

Ilusi

Sesekali, kala gairah mudaku memuncak, timbul inginku menggugat takdir. Jika saja aku bukanlah buah cinta orang tua yang berpikiran kolot, dan tak dilahirkan di zaman kuno, mungkin saja aku memiliki kenangan manis dengan beberapa sosok wanita. Karena tata krama jadul, adat istiadat, dan pemahaman agama merekalah, aku akhirnya dijodohkan dengan seorang gadis desa. Padahal, saat itu umurku baru 20 tahun. Sedangkan istriku masih 18 tahun.
 
Kadang kubayangkan, kalau saja dahulu, aku bebas memadu kasih dan memilih pendamping hidupku sendiri, mungkin tak pernah sekali pun aku berpikir mempermasalahkan takdir. Pastilah kupilih wanita yang lebih sempurna dari istriku. Lebih cantik, lebih segalanyalah. Tak akan salah pilih. Akan kuhabiskan banyak waktu untuk menyinggahi hati banyak wanita, agar bisa kutahu dan kutentukan yang paling cocok untukku. 

“Kenapa berpikir begitu?” Satu sisi jiwaku, menggugat angan-anganku sendiri. “Apalagi yang tak kau syukuri atasnya? Bukankah dia sosok istri yang baik untukmu, juga sosok ibu yang baik untuk anakmu. Tidak cukupkah itu?”

“Aku cuma mencoba realistis. Masih banyak perempuan yang lebih cantik darinya. Seharusnya aku memadu kasih dengan mereka. Bukankah itu lebih baik?” balas sisi jiwaku yang lain.

“Kau tidak bersyukur saja. Janganlah mata hatimu buta karena perbandingan: membandingkan istrimu dengan wanita lain, membandingkan masa lalumu dengan masa sekarang. Ia telah menjadi takdirmu.”

“Tidak bisakah aku berpaling? Kalaupun tidak, aku bisa menghianatinya diam-diam. Kala ia tengah mengurusi persoalan rumah tangga setiap hari, sesekali aku akan jalan dengan wanita lain. Ia tak akan tahu. Ia selalu percaya kata-kataku. Kalau pun ia tahu, kan aku bisa menceraikannya!”

“Tapi kalian sudah menikah! Tegakah kau mengingkari janjimu atas nama Tuhan? Tegakah kau menghianati kepercayaannya padamu! Apalagi, kau bukan tentang dirimu sendiri sekarang. Kau sudah punya anak. Tegakah kau melumpuhkan separuh jiwanya kalau kalian bercerai?”

“Aku tak peduli!”

“Sadarlah! Kau seharusnya bersyukur memperistri wanita yang setia padamu, yang sabar hidup bersamamu dalam suka dan duka. Apa yang lebih berharga dari kesetiaan? Lihatlah di luar sana, banyak orang yang telah memadu kasih begitu lama, lalu menikah karena rupa, harta, dan tahta yang tak ternilai, tapi mereka akhirnya bercerai. Jika saja kau bersyukur dan menerima ia apa adanya, kau akan melihatnya sempurna. Kau akan bahagia.”

“Sayang, kok bengong. Ayo makan. Masakanku kali ini, enak loh,” tutur istriku. “Ada masalah di kantor ya?”

Seketika juga, kecamuk jiwaku, berhenti.

“Tidak ada. Ya, semua baik-baik saja,” balasku, kemudian mengambil sepiring makanan yang disodorkannya.

Kali ini, ia terlihat begitu cantik.

Ketika sedang menyantap makan, lagi-lagi, siaran televisi menayangkan tentang perceraian public figure. Entah apa lagi masalah mereka. Bukankah rupa yang menawan, popularitas, dan harta, telah mereka miliki? Mungkin benar, penerimaanlah yang membuat semuanya terlihat sempurna.

 “Apa Ayah dan Ibu pernah pacaran?” Anita, anakku, tiba-tiba bersuara.

Aku bersetatap dengan istriku. Pertanyaan tentu tak terduga. Apalagi, umurnya baru sepuluh tahun. Ia masih duduk di bangku kelas IV SD.

“Memangnya kenapa kamu tanya begitu?” Aku balik bertanya.

“Anu Ayah. Tadi, Rian, teman sekelasku, nembak aku. Katanya, ia cinta kepadaku. Dia minta aku jadi pacarnya. Ya, jelas saja aku menolaknya. Dia bukan tipeku. Aku sih inginnya pacaran sama yang ganteng, romantis, dan kaya,” jelasnya, sambil celingak-celinguk.

“Sudah. Kau jangan pacaran-pacaran. Mending nikah, seperti Ayah dan Ibu. Tapi nanti, kalau kau sudah gede,” pesanku.

“Tapi, pacaran kan asyik ayah. Bisa punya mantan, kayak yang di film-film. Apa salah?” protesnya.

“Kamu jangan pikir begitu. Yang lebih penting, kau harus belajar, supaya jadi gadis yang baik. Nanti, kamu pasti ketemu jodoh yang baik juga. Seperti Ibu yang berjodoh dengan Ayah,” Istriku sekarang yang membalas. “Sudahlah. Ayo makan.”

Lagi-lagi, kali ini, aku melihatnya semakin cantik. Aku benar-benar beruntung memilikinya.

Apa yang kubayangkan tentang wanita lain, ternyata hanyalah buaian anganku. Zaman sudah berubah. Perkembangan teknologi, memproduksi tampilan-tampilan yang menipu jiwa. Tayangan televisi, telah berhasil menjungkirbalikkan nilai dan paradigma tentang relasi sosial, termasuk tentang relasi antarlawan jenis. Adegan para pelakon, lambat laun, akan menciptakan ilusi tentang “cinta”

Kupandangi lagi istriku. Betapa menentramkannya. Ia pun membalasku dengan tatapan yang aneh.

I love you,” sahutku senyap-senyap kepadanya.

Dia hanya tersipu. 

Sabtu, 06 Agustus 2016

Tas Bekas

Sore ini, kubaca halaman demi halaman koran, selepas tidur untuk menghilangkan penat dari pekerjaan kantor. Aku belum sempat membacanya sedikit pun tadi pagi. Hanya judul di halaman utama, tentang korupsi, yang sempat kusorot. Ada upacara di kantor yang harus dihadiri tepat waktu.

Tiba-tiba, Riko menghampiriku, padahal sudah waktunya ia bermain kelerang bersama anak-anak tetangga. Dia adalah anak bungsuku yang baru berumur lima tahun lebih. Baru saja ia lulus dari taman kanak-kanak. Tahun ini, ia akan beranjak ke bangku sekolah dasar.

“Ayah, aku dapat tas,” serunya, lalu menyerahkan tas itu padaku.

“Kau dapat dari mana?” tanyaku.

Kubolak-balik dan kupandangi teliti tas itu. Sungguh jauh dari ketegori bagus. Terdapat bercak noda dan tambalan di sana-sini. Warna dasarnya, merah, juga terlihat kusam.

 “Aku dapat di samping jalan sana Ayah,” balasnya, sambil menunjuk ke titik yang mungkin berjarak 50 meter dari rumahku. “Bagus kan Ayah?” 

“Apanya yang bagus Nak. Lebih bagus tasmu yang sekarang,” balasku, kemudian menyorot kembali berita-berita di koran. 

“Tapi aku suka gambarnya Ayah. Ini kan tokoh kartun favoritku juga,” protesnya.

“Tapi itu tas bekas Nak. Kotor. Pasti banyak kumannya. Bisa-bisa kau sakit kalau pakai itu,” balasku. 

Mendengar penjelasan itu, ia manut saja. Aku tahu, anak seumurannya sangat phobia dengan kata kuman. Guru taman kanak-kanak, pasti sering menjelaskan tentang bahaya kuman bagi kesehatan. 

“Lebih baik kau bakar saja sana. Kebetulan api pembakaran sampah belum padam,” perintahku.

Tanpa berkata lagi, ia pun bergegas ke lokasi pembakaran.

Setelah letih memandangi huruf-huruf koran yang masih bercerita tentang kesenjangan ekonomi, aku menoleh ke segala arah. Mengistirahatkan mataku. Terlihat bunga warna-warni di taman rumahku yang sempit. Juga, kepulan asap yang membumbung dari hasil pembakaran tas bekas tadi. 

Di jalan depan rumahku, melintas lagi seorang perempuan paruh baya, pencari barang bekas. Bisa dibilang, setiap hari, aku menyaksikan orang bermatapencarian seperti itu. Rasa ibaku pun, jadi tawar. Kurasa pemerintahlah yang harus bertanggung jawab untuk memberdayakan mereka.

Aneh. Gerak-gerik si pengais barang bekas itu, tak lazim. Ia bolak-balik sedari tadi. Mungkin sekitar tiga kali aku melihatnya datang dan pergi di titik yang sama. Tapi aku tak ingin memusingkannya. Kurasa, ia hanya berusaha lebih teliti. Mungkin untuk mendapatkan potongan besi yang nilai jualnya lebih tinggi dari plastik.

Aku mengabaikannya.

Selepas mandi, aku pun menuju teras depan rumah untuk mengangin-anginkan handuk. Betapa kagetnya aku, dua puluh menit berlalu, sosok itu belum juga pergi. Sekarang, ia malah duduk di tepi jalan, sambil memandang-mandang ke segala arah. Aku curiga kalau ia kurang waras.

Kucoba mengabaikannya sekali lagi. Aku beranjak ke dalam rumah untuk menyaksikan berita sore yang biasanya menarik dan terbarui. Sekitar tiga puluh menit waktuku habis untuk menonton. 

Setelah hampir gelap, aku penasaran lagi, ingin memastikan apakah perempuan aneh itu, telah pergi. Dan, ternyata tidak. Malah, ia duduk tepat di depan pagar rumahku, sambil celingak-celinguk.

Rasa kesalku pun timbul. Aku ingin perempaun itu segera lenyap entah ke mana. Apalagi, ia jelas tak punya kepentingan denganku.

“Ibu ada urusan apa?” tanyaku dengan nada suara yang meninggi, dan tanpa senyum sedikit pun. Aku ingin ia tahu kalau aku tak suka ia duduk-duduk di depan rumahku.

“Anu Pak… Begini… “ tuturnya, terlihat gugup.

“Bicara yang jelas Bu,” tegasku.

“Aku mencari sesuatu Pak. Tas bekas,” tuturnya. “Aku yakin, tas itu jatuh dari gerobakku di jalan sekitar sini.”

Aku tersentak mendengarnya. “Tas bekas?” Kuulangi kata itu secara refleks. Jelas, anakku, Riko, baru saja membakar sebuah tas bekas. “Bentuknya bagaimana Bu?” tuturku dengan nada suara yang menurun drastis.

“Hanya tas bekas Pak. Warnanya merah, tapi sudah agak buram. Ada gambar kartunnya,” jelasnya. “Rencana, aku ingin memberikan tas itu untuk anakku Pak. Kebetulan, tahun ini, dia akan masuk sekolah dasar.”

Perasaanku kini campur aduk. Sulit digambarkan. Sungguh, aku sangat merasa kasihan padanya. Merasa berdosa.

“Ibu tunggu sebentar ya,” pintaku.

Aku pun bergegas ke dalam rumah. Kali ini bukan untuk mengabaikannya. 

Kuambil tas milik Riko. Kukeluarkan semua peralatan tulis di dalamnya. Aku hendak memberikan itu sebagai ganti tas bekasnya yang telah menjadi debu. Aku juga mengambil beberapa lembar uang dari gaji yang baru saja kuterima hari ini, untuknya.

Selekas mungkin, aku keluar, menghampirinya.

“Ambillah Bu. Aku mohon,” pintaku. 

Ia terheran. Tak menduga. Raut wajahnya menyiratkan keharuan. Matanya berair. Dengan agak sungkan, tangannya yang gemetaran, menyambut pemberianku.

“Terima kasih Pak. Terima kasih banyak,” tuturnya, sambil mencium tanganku. Berkas cair yang membasahi bola matanya, kini jatuh berupa butiran. Ia menangis.

“Iya Bu. Terima kasih juga,” balasku, sembari tersenyum padanya.

Ucapan terima kasih, terucap dari mulutnya sekali lagi. Setelah itu, ia pun beranjak pergi, menjauh dari rumahku. Belum terlalu jauh, ia tak tampak lagi, diselimuti gelap malam yang pekat.

Jumat, 05 Agustus 2016

Tirani Partai Politik

Keputusan Ahok untuk maju di pilkada DKI Jakarta tahun depan melalui jalur partai politik, mengejutkan sejumlah pihak. Pasalnya, sejak dulu, ia selalu menggembar-gemborkan diri akan maju melalui jalur independen. Komunitas Teman Ahok yang telah berhasil mengumpulkan lebih dari sejuta KTP sebagai syarat dukungan pun, terpaksa legowo menerima.
 
Tak pelak, alih jalur Ahok mengecewakan pihak yang selama ini menginginkan penyehatan partai politik. Kelahiran calon independen yang diharapkan jadi momentum dan "cambukan" bagi partai politik untuk berbenah diri, ternyata tak terwujud. Akhirnya, upaya untuk melepaskan cengkraman dan penjarahan oleh partai politik terhadap perangkat negara pun, kandas.

Kehidupan perpolitikan kini, memang banyak menunjukkan laku tirani yang dimotori oleh partai politik. Banyak cabang kekuasaan negara yang dicaplok dan dijadikan aset partai. Untuk mengamankan lahan kekuasaannya itu, partai politik pun melakukan usaha untuk menjegal calon indepanden. Caranya dengan menerbitkan syarat-syarat yang memberatkan bagi calon independen dengan memanfaatkan kader-kader partai politik di cabang kekuasaan.

Upaya penjegalan calon independen yang terbaca selama ini, di antaranya dengan menaikkan jumlah syarat dukungan, yaitu berupa KTP. Termasuk juga dipersyaratannya formulir dukungan harus disertai materai, serta verifikasi faktual dengan teknik sensus. Kesemua itu jelas memberatkan dan dapat disalahgunakan untuk mempersulit atau merintangi majunya calon independen dalam pilkada.

Berangkat dari problematika di atas, maka pertanyaan besar yang muncul adalah, bagaimana peran partai politik dalam kehidupan berdemokrasi?

Menyucikan Hakikat
 
Hakikat keberadaan partai politik, tidak lain ditujukan untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat. Untuk itu, partai politik harus dibentuk di atas landasan ideologi yang jelas, sesuai dengan konstitusi dan aturan hukum. Ideologi itu kemudian harus dijabarkan dalam visi dan misi. Lalu, diuraikan lagi dalam aturan-aturan internal partai yang dirumuskan secara demokratis. 

Kejelasan identitas partai politik penting sebagai landasan utama dalam menjalankan roda organisasi. Relasi dan pendekatan terhadap persoalan internal maupun eksternal pun, harus didasarkan pada identitas partai. Di samping itu, identitas juga berfungsi sebagai pedoman bagi setiap orang memilih labuhan semangat dan cita-cita politiknya, baik sebagai kader maupun partisipan. 

Kehadiran partai politik untuk mewadahi dan menjembatani kepentingan yang berbeda-beda, mau tak mau, akan memunculkan beragam friksi dan fraksi politik. Tidak hanya pada tataran kader antarpartai, tetapi juga mencakup masyarakat umum. “Pengotak-ngotakan” itu, memang keniscayaan dalam kehidupan perpartaian, sebab kepentingan masyarakat memang berbeda-beda. Maka, tugas partai politiklah untuk menjamin bahwa semua kepentingan yang berbeda-beda, terakomodasi secara adil.

Partai politik harus dididukkan sebagai wadah yang mampu mengembangkan kehidupan demokrasi bangsa. Partai politik harus mampu mengartikulasikan dan menjembatani aspirasi masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan pemerintah. Ringkasnya, partai politik harus menjadi corong suara rakyat yang kukuh malaksanakan fungsinya berdasarkan konstitusi dan aturan hukum.

Secara tersurat, Pasal 11 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik telah menggariskan fungsi partai politik, yaitu sebagai sarana pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara; penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa; mengakomodasi dan menindaklanjuti aspirasi politik masyarakat; meningkatkan partisipasi politik warga negara Indonesia; rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik.

Jika diselisik, implementasi fungsi partai politik, ternyata jauh panggang dari api. Pendidikan politik nyatanya tak dijalankan. Fungsi ini, hanya diselengarakan menjelang “pesta demokrasi”. Tujuannya utama pun bukan untuk mencerdaskan bangsa secara politik, tetapi sekadar untuk mendulang suara. Tidak mengherankan kalau akhirnya partisipasi politik masyarakat pun, hanya sampai para tahap pemilihan, tanpa berlanjut pada upaya mengawal kebijakan pemerintahan.

Masalah juga terjadi pada perwujudan fungsi partai sebagai wadah dan corong aspirasi masyarakat. Kini, partai politik seakan dikendalikan golongan elit yang tuli terhadap suara rakyat. Keputusan partai politik, hanya konklusi suara-suara dan kepentingan pengurusnya. Bahkan secara internal, pengambilan keputusan itu pun, sering kali tak demokratis. Tak heran jika akhirnya keputusan partai, sering kali bertentangan dengan kehendak masyarakat.

Dalam pelaksanaan fungsi rekrutmen calon pejabat pun, masih banyak masalah di sana-sini. Pemilihan figur yang diusung partai politik, sering kali tidak mempertimbangkan suara rakyat ataupun kader secara demokratis, tetapi ditujukan demi menambah “lahan kekuasaan”. Tak heran jika calon pejabat usulan partai politik, sering kali bukan sosok yang memiliki kapasitas dan intergritas, tapi tetap diusulkan hanya karena memiliki popularitas dan kemampuan finansial. 

Lumpuh Melawan

Kehidupan partai politik yang telah melupakan hakikat dan mengabaikan fungsinya, menjadi pemicu lahirnya gerakan masyarakat sipil. Mereka gencar menyuarakan kekecewaan serta melakukan aksi nyata untuk melawan tirani partai. Salah satunya adalah gerakan pengusung calon independen dalam pemilihan kepala daerah. 

Tapi nahas, gerakan masyarakat, dengan mudah saja dilumpuhkan oleh partai politik dengan memanfaatkan kekuatannya pada perangkat-perangkat negara. Kekuasaan negara yang hampir keseluruhan dependen dengan partai politik, digerakkan untuk menjegal calon independen yang akan mengikis “kue kekuasaan” partai politik. 

Keputusan tertinggi negara yang berada di genggaman kekuasaan eksekutif dan legislatif, didorong selalu untuk menjaga tirani partai politik. Kuatnya cengkeraman partai politik pada cabang kekuasaan itu, berimbas pada pengaturan perangkat negara dan sistem pemerintahan secara keseluruhan, termasuk dalam pemilihan kepala daerah. Aturan pun dengan mudah dimodifikasi untuk membuat calon independen menjadi tak berdaya.

Tirani partai politik, sulit diruntuhkan kala melihat kenyataan bahwa di internal partai politik pun, prinsip demokrasi diabaikan. Keputusan partai, seringkali hanya merupakan kehendak oknum partai politik yang dianggap sesepuh. Partai kehilangan jati dirinya sebagai ruang demokratis dalam mengartikulasikan dan mengaktualisasikan kepentingan masyarakat. Partai poltik tak lain dari alat para pecandu kekuasaan untuk membangun oligarkinya. 

Dikuasainya negara oleh kacung-kacung partai politik, membuat pengaturan negara, tidak lagi ditujukan untuk kepentingan rakyat, tapi untuk kepentingan partai semata. Kala partai politik disibukkan dengan kehidupan intrik koalisi ataupun oposisi demi menjatah-jatah kekuasaan, masyarakat malah tak mendapatkan apa-apa. Ini tentu menjadi masalah besar, bukti bahwa partai politik butuh disadarkan dari amnesia yang membuatnya lupa diri.

Demokratisasi Partai

Karut-marut partai politik, tak lebih dari dampak matinya demokrasi di internal partai politik sendiri. Padahal, partai adalah pilar demokrasi yang seyogianya menjunjung tinggi prinsip demokrasi, sehingga kepentingan kader dan kepentingan masyarakat secara umum, bisa terakomodir. Tanpa demokrasi, berarti partai politik tak lebih dari alat kekuasaan bagi segelintir orang, bahkan seseorang.

Membangun kehidupan yang demokratis di dalam tubuh partai politik, sangatlah penting. Apalagi, partai politik adalah organisasi yang secara khusus dibentuk untuk mewadahi dan menjembatani aspirasi masyarakat dalam setiap perumusan kebijakan pemerintahan. Maka, partai politik tak boleh dijadikan ruang privat seseorang atau sekelompok orang saja, melainkan ruang aspirasi masyarakat secara umum. 

Upaya demokratisasi partai politik, harus dilakukan secara menyeluruh, yaitu mencakup perbaikan sistem demokrasi pada tahap artikulasi kepentingan masyarakat, pengembilan keputusan internal, sampai pada pengambilan keputusan pemerintahan. Partai politik harus membuka diri terhadap aspirasi masyarakat. Pun, memberikan kebebasan kepada setiap pengurusnya untuk berpendapat, serta memilih dan dipilih.

Tak kalah pentingnya adalah membentuk sistem untuk melindungi hak demokrasi setiap kader ataupun usungan partai politik yang menjabat sebagai pejabat publik. Partai politik tidak boleh menyandera pejabat publik, baik di badan eksekutif, maupun legislatif. Sebagai pejabat publik, maka tidak bisa tidak, seseorang harus mengutamakan kepentingan masyarakat ketimbang kepentingan partainya. 

Demokratisasi partai politik, harus dilakukan segera melalui pembenahan hukum kepartaian. Hukum harus menjamin tegaknya prinsip demokrasi di tubuh partai politik. Ke depan, diharapkan partai politik benar-benar menjadi wadah yang demokratis. Jika tidak, maka janji-janji politik akan tetap jadi bualan semata untuk mencuri kekuasaan, serta tirani partai akan tetap berdiri kokoh untuk menjarah bangsa dan negara.

Jangan Lupa Pulang

Tak peduli tusukan dingin di subuh hari, Nasir tetap semangat mencari sampah plastik yang dibuang serampangan para penghuni kota. Demi anaknya, ia ikhlas banting tulang siang dan malam. Memulung kala masih gelap, lalu berangkat ke pelabuhan pagi-pagi sekali, untuk menjadi seorang kuli panggul.
 
Asri, anak semata wayangnya, kini telah duduk di bangku kelas II SMA. Di usianya itu, harga diri adalah segalanya. Tak ingin terlihat rendah dan hina di mata orang lain. Hanya ada dua pilihan: menggembar-gemborkan strata sosial dan ekonomi keluarga, atau bungkam seribu bahasa untuk menutupi identitas diri. Asri terpaksa memilih membungkam.

Nasir memahami, ia bukanlah kebanggaan bagi Asri. Pantaslah dicap sebagai ayah tak berharga. Kekayaan dan kekuasaan, tak ia miliki. Hanya kasih sayang kepada sang anak yang terus dijaganya. Sebab itulah, ia menyekolahkan anak semata wayangnya itu, bagaimana pun caranya. Jika berhasil, kelak, cucunya pasti bangga memiliki sosok ayah yang terpandang.

Demi anak jugalah, Nasir harus mengondisikan waktu dan tempatnya mengais rezeki. Ia sengaja memulung subuh-subuh atas desakan Asri. Juga memilih bekerja di pelabuhan yang berjarak jauh dari tempat tinggalnya. Jika tidak begitu, sang anak mengancam akan berhenti sekolah. Keadaan Ayahnya adalah aib yang harus disembunyikan dari teman-teman sekolahnya.

Kisah Pak Nasir itu, aku tahu dari penuturannya sendiri. Ia mencurahkan unek-uneknya padaku hari ini, selepas aku mewawancarainya untuk penelitian tugas akhirku yang membahas tentang kemiskinan dan kaum urban. 

“Nak Ridwan, apa yang harus saya lakukan?” tanyanya.

Aku bingung bagaimana menjawabnya. Kutahu betul gelora ego kala hidup seusia Asri. Tapi kurasa, kelugasannya menunjukkan ketidaksenangan pada sang Ayah, sudah keterlaluan. “Bapak sabar saja. Anak-anak seusia dia memang gengsian. Aku yakin suatu saat, di kala sukses, ia akan pulang kepada Bapak, berterima kasih atas kehadirian Bapak dalam kehidupannya,” balasku.

Ia takzim. Seakan sepenuhnya sepakat denganku.”Kau benar Nak. Apalagi, jika bukan dia, siapa lagi yang harus kubahagiakan. Tapi andai saja ia berbudi pekerti seperti Nak Ridwan, tentulah aku sangat bangga dan bersyukur,” harapnya.

Sungguh, telah lama aku tahu kisah semacam Pak Nasir dan anaknya ini. Benar-benar kupahami. Sebagai anak yang hidup di zaman modern nan serba pamer, aku tahu bagaimana rasanya mengalah dan menyepi di pojokan harga diri. Membiarkan dunia menertawakan dan menistakan takdir hidup dan kehidupan yang tak bisa kita ubah. Aku tahu itu.

Bahkan kini, aku menyadari, ada seorang anak yang diam-diam mendurhakai orang tuanya. Lupa diri tentang asal-usulnya. Memaksakan diri hidup mewah, meski untuk kebutuhan dasar saja pas-pasan. Pamit sesopan mungkin kepada orang tuanya di kampung atas alasan untuk menuntut ilmu di kota sebagai mahasiswa. Tapi apa yang dilakukannya? Dia tak lebih baik daripada Asri. 

Sudah lebih delapan semester ia menjalani kuliah. Gelar sarjana tak kunjung ia persembahkan untuk kedua orang tuanya. Tak ada alasan yang berarti, kecuali bahwa ia lebih suka menghabiskan waktu berfoya-foya, daripada tekun mengurusi kuliah. Membeli barang mewah, menraktir teman-teman, atau setidaknya nongkrong di restoran super mahal, adalah sedikit dari kebiasaannya. 

Orang tuanya yang hanya bekerja sebagai buruh tani dan penjual kayu bakar di kampung, sama sekali tak akan tahu tentang kelakuannya itu. Apalagi mereka hanya tamatan SD yang tak mengerti tentang sistem perkuliahan, termasuk tentang biaya dan waktu kuliah. Jika ia telah memberi penjelasan kalau kebutuhannya di kota semata-mata untuk kepentingan kuliah, kedua orang tuanya hanya bisa manut-manut. 

Sungguh, mereka tak tahu.

Dan, dalam kesadaran ini, entah kenapa, aku menjadi sangat rindu kepada kedua orang tuaku. 

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Entah siapa yang menelepon sore-sore begini. Kulihat layarnya. Di sana tertera nama Ayahku. 

“Halo Nak, bagaimana kabarmu?” tanya Ibuku di ujung telepon. Suaranya tetap lemah-lembut seperti biasa. 

Setiap kali mereka rindu, ibuku memang lebih banyak bicara. 

“Baik Bu. Ibu dan Bapak apa kabar?” tanyaku balik. Untuk kali ini, aku benar-benar tulus menanyainya tentang kabar.

“Syukurah. Kami di sini baik-baik saja Nak,” tuturnya dengan suara yang terdengar tertahan-tahan. “Kamu kapan balik ke kampung. Kami di sini merindukanmu Nak?”

Batinku bergetar. Sulit menggambarkannya. “Untuk waktu dekat ini, aku tak bisa pulang Bu. Urusan kuliahku padat. Tidak lama lagi, aku akan sarjana Bu,” balasku. Seiring ucapan itu, aku bertekad tidak akan menyia-nyiakan waktuku lagi. Aku ingin secepatnya sarjana. “Maafkan aku Bu.”

“Tak mengapa Nak. Asalkan kau bisa belajar dengan baik, kami di sini turut senang. Semoga kelak, kau jadi orang yang berguna Nak,” harapnya, seperti selalu.

Mendengar ucapannya, lidahku tiba-tiba saja kaku untuk bertutur.

“Kalau urusanmu telah selesai,  jangan lupa pulang segera Nak. Kami merindukanmu,” pintanya.

“Iya Bu. Aku juga merindukan Ibu dan Ayah,” balasku. Dan sekali lagi, untuk saat ini, aku benar-benar merindukan mereka.

Tak lama berselang, obrolan kami pun berakhir. Seiring itu, tanpa kusadari, air mataku menetes. Baru kali ini, aku merasa sangat merindukan mereka. Menyadari sedalam-dalamnya betapa perjuangan meraka begitu berat demi kebahagiaanku. 

“Kenapa menangis Nak Ridwan?” tanya Pak Nasir.

“Aku merindukan orang tuaku Pak. Mereka barusan meneleponku,” balasku.

“Hatimu sungguh mulia Nak. Entah bisakah, suatu saat Asri menangis kerena merindukan aku juga,” tuturnya.

 “Aku yakin, suatu saat, ia akan menyadari semua pengorbanan Bapak,” pungkasku.

Terus terang, aku merasa terhina dengan pujian Pak Nasir. Aku bukanlah seperti apa yang ia duga. Sungguh! Akulah anak yang diam-diam mendurhakai orang tua. Hidup berfoya-foya di kota. Menghianati pengorbanan mereka yang hanya bekerja sebagai buruh tani dan penjual kayu bakar di kampung. Ya, itu adalah aku.