Jumat, 29 November 2019

Niat Terlambat

Sejak kemarin, suasana rumah menghening. Bisran, seorang duda, sudah kehabisan cara untuk menenangkan hati seorang taman hidupnya, Baim, usia lima tahun, anak tunggalnya, yang merajuk karena tak kunjung dibelikan mobil-mobilan seperti yang ia pinta. Dan sepertinya, anak itu akan bermuram durja selama mainan yang ia maksud tak sampai di tangannya.
 
Sebenarnya, sudah jauh-jauh hari Bisran hendak mewujudkan permintaan sang anak. Ia pun telah menyisikan sedikit demi sedikit upahnya sebagai buruh bangunan untuk melakukan hal itu. Tetapi kemarin, sebagai hari perwujudan yang telah ia janjikan, satu mainan itu belum juga terbeli, dan itulah yang membuat sang anak benar-benar murka.

Namun Bisran tak benar-benar melanggar janji. Sore kemarin, sepulang kerja, ia sudah bertekad untuk singgah di toko mainan dan membeli sebuah mainan yang sedari dulu diinginkan sang anak. Tapi kenyataan tak terduga terjadi. Setelah hendak membayar tagihan untuk mainan itu, uang di dompetnya ternyata kurang Rp. 50.000 dari total harga Rp. 150.000.

Seketika juga, Bisran sadar telah salah memberikan uang kepada seorang ibu tua, seorang pengemis, yang mengadangnya sebelum sampai di toko. Ia sadar telah salah mengambil lembaran uang Rp. 50.000 dari dompetnya ketika ia hanya memaksudkan uang lembaran Rp. 10.000. Akhirnya, ia pun kehilangan separuh dari upah hariannya sebagai buruh.

Sesungguhnya, Bisran tidaklah terlalu fakir untuk mewujudkan permintaan sang anak. Hari kemarin pun, ia bisa saja melakukan itu. Namun sebagai buruh kasar, ia merasa terlalu berlebihan jika uang hasil kerjanya diutamankan untuk membeli mainan anak-anak. Baginya, uang lebih perlu ditabung untuk kebutuhan hidup, termasuk rokok yang telah ia anggap sebagai kebutuhan pokok.

Tapi hari ini, ia ingin berdamai dengan sang anak. Ia akan mengesampingkan keegoisannya sebagai orang dewasa yang merasa lebih butuh segala hal dan mengabaikan kesenangan sang anak, termasuk menekan konsumsi rokoknya. Karena itu, sepulang bekerja, ia pun meminta upah harian yang semestinya diberikan setiap minggu, dan ia menunda untuk membeli rokok.

Sesaat kemudian, ia pun singgah di toko mainan yang ia lalui sepulang kerja. Dan ketika baru saja turun dari sepeda motor, matanya tertuju pada seorang pengemis yang kemarin telah menerima uang yang ia sumbangkan secara tidak sengaja. Pengemis itu tampak duduk di teras toko, tepat di samping sang anak yang sejak seminggu lalu seringkali berdiam diri di sekitar toko.

Dengan pandangan seksama, Bisran pun mengamati gerak-gerik kedua orang itu. Ia merasa perlu mengetahui apa urusan si pengemis dengan anaknya. Ia juga merasa perlu mengetahui, akan diapakan uang santunannya kemarin oleh si pengemis, dan ia merasa berhak untuk mengutuk jika si pengemis ternyata berfoya-foya atas belas kasihnya.

Sejenak berselang, tampaklah si pengemis itu menyodorkan sekantong plastik bercap nama toko mainan di belakang mereka. Perlahan, sang anak lantas menyibak isi kantongan tersebut dengan raut yang penuh kesenangan. Sampai akhirnya, terlihatlah sekardus mainan mobil-mobilan dengan rupa seperti yang kemarin batal Bisran beli. 

Sang anak sontak memeluk si pengemis.

Bisran pun terperangah. Ia sungguh tak menduga si pengemis akan menyantuni anaknya. Dan tentu saja, ia merasa dipecundangi sebagai seorang ayah. 

Namun perlahan-pahan, pikiran kikirnya kembali menyeruak. Ia berpikir kalau kenyataan itu memang hal yang wajar, sebab si pengemis memang semestinya mengembalikan sumbangan berlebih yang ia berikan kemarin.

Setelah si pengemis pergi, Bisran pun menuju ke arah sang anak. Ia berlakon seolah-olah tidak tahu apa yang baru saja terjadi, dan ia berusaha tampil seramah mungkin.

“Nak, hari ini, ayah sudah punya cukup uang untuk membeli mainan yang kau inginkan,” katanya, lemah lembut, sambil berjongkok di depan sang anak.

Sang anak bergeming.

“Kenapa cemberut, Nak? Ayo kita masuk ke dalam toko dan membeli mainan itu!” tawar Bisran.

“Tidak usah!” ketus sang anak. “Aku sudah tak butuh ayah untuk membeli mainan itu! Aku sudah punya!” katanya, lalu berdiri dan beranjak dengan sikap judes, sembari menenteng sekantong plastik berisi mainan yang ia idam-idamkan sejak seminggu yang lalu.

Seketika, Bisran merasa tak berarti sebagai seorang ayah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar