Senin, 25 April 2016

Mari Selamatkan Bumi

Tanggal 22 April lalu, kembali diperingati Hari Bumi secara internasional. Merunut sejarah, peringatannya dimulai pertama kali pada tahun 1970. Pencetusnya adalah seorang pengajar lingkungan hidup dari Negeri Paman Sam, Gaylord Nelson. Keprihatinannya melihat dampak negatif eksploitasi bumi oleh aktivitas penambangan, membuatnya berinisiatif untuk melakukan unjuk rasa secara damai. Akhirnya, sampai sekarang, tanggal 22 April menjadi momentum umat manusia untuk merefleksikan kondisi bumi.
 
Bumi secara harfiah adalah planet ketiga, tempat manusia dan beragam makhluk hidup lain menggantungkan hidup dan kehidupannya. Bumi adalah rumah semua makhluk. Tempat yang nyaman dan damai pada awalnya. Ketika mulanya, bumi diciptakan dalam keharmonisan. Tapi lambat-laun, bumi mulai kehilangan keseimbangannya akibat tindak eksploitatif makhluk berakal yang egois: manusia. 

Sudah 46 tahun sudah Hari Bumi diperingati. Tanpa lelah, para pemerhati dan aktivis lingkungan hidup senantiasa memperingatkan betapa mengkhawatirkannya keadaan bumi. Tindakan peduli itu terwujud dalam aksi kampanye, hingga aksi nyata semacam penanaman pohon. Tapi di sisi lain, masih banyak juga orang yang “ego kemanusiaan” terlalu tinggi, sehingga mengabaikan kondisi bumi. Demi memuaskan hasrat keduniaannya, kekayaan bumi diperas tanpa ampun.

Bumi sebagai ekosistem segenap makhluk hidup, kini semakin tak berdaya. Bumi seakan letih menghidupi semua makhluk bernyawa. Keadaan itu tidak lain akibat ketidakbijakan manusia dalam memanfaatkan kekayaan bumi. Takdir Rahmadi dalam bukunya Hukum Lingkungan di Indonesia (2012:6) menuliskan bahwa faktor penyebab masalah lingkungan hidup adalah perkembangan teknologi, petumbuhan penduduk, motif ekonomi dan tata nilai. Kesemua faktor itu, tentu menjadi tanggung jawab segenap umat manusia.

Bumi Menangis

Pemanasan global menjadi ancaman serius bagi bumi. Peningkatan suhu bumi menyebabkan mencairnya es di daerah kutub. Permukaan air laut pun semakin meninggi, hingga terjadi banjir di mana-mana. Musim menjadi tak menentu, sampai berpengaruh terhadap perkembangbiakan makhluk hidup. Pangan dari unsur hewani dan nabati, menjad langka. Akhirnya terjadi kelaparan anak manusia di mana-mana. Itulah gambaran sekilas yang nanti terjadi jika kelestarian alam bumi tak dijaga. Bumi akan “mengamuk” akibat tindakan tak bersahabat manusia.

Dilansir dari www.wwf.or.id, laman website World Wildlife Fund for Nature (WWF) indonesia, dilaporkan bahwa lembaga panel ilmuan seluruh dunia untuk menganalisis perubahan iklim, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), memprediksikan bahwa jika tidak ada upaya yang dilakukan secara global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, maka pada tahun 2100 suhu bumi akan meningkat hingga 5,8◦C, terhitung dari tahun 1990. Para ahli perubahan iklim dunia percaya bahwa jika kenaikan temperatur rata-rata pada tahun 2100 melebihi 2◦C dari suhu rata-rata tahun 1900, maka akan terjadi kepunahan banyak spesies dan ekosistem. Lebh lanjut, laporan WWF, Habitat at Risk (2002), menyimpulkan bahwa lebih dari 80% spesies tanaman dan binatang akan punah bila emisi karbon meningkat dua kali lipat dalam 100 tahun mendatang.
 
Serangkaian keadaan bumi yang begitu memprihatinkan adalah buah dari perilaku manusia. Manusia tak peduli bahwa keserakahan akan menyebabkan kehancuran bumi yang juga berarti kehancuran umat manusia. Tanpa rasa kasihan, manusia yang egois, memerah isi bumi secara berlebih-lebihan. Pembalakan liar, penggunaan bahan fosil secara boros, pencemaran air dan udara, adalah segelintir tindakan yang jelas merusak bumi sebagai ekosistem seluruh makhluk.

Terganggunya keseimbangan bumi adalah awal sebuah malapetaka besar. Ketidakseimbangan kondisi bumi akan menimbulkan guncangan di sana-sini. Banjir dan longsor adalah bentuk kecil dari pengingatan bumi. Kejadian semacam itu adalah pertanda bahwa bumi sedang menangis karena derita. Tangisan itu tak akan berhenti sampai bumi mencapai titik keseimbangannya. Tak ada daya mencegahnya, sebab secara alami, bumi akan berupaya memulihkan keadaannya sendiri.

Tak pelak, tingkat bencana alam akan selalu berbanding lurus dengan tingkat kerusakan bumi. Jika bumi telah rusak, hanya masalah waktu, ia akan menimbulkan goncangan sekadar untuk mengembalikan keseimbangannya dengan cara yang tentu tak diinginkan manusia. Oleh karena itu, sebelum semuanya menjadi sangat terlambat, sudah saatnya mereflekskan keadaan bumi, lalu berhenti membuat bumi menangis. 

Manusia untuk Bumi

Tak bisa dimungkiri, keserakahan manusia adalah penyebab utama timbulnya kerusakan di muka bumi. Manusia dengan ego individualnya, sering lupa dan merasa diri satu-satunya makhluk hidup yang berhak atas kenyamanan dan kekayaan bumi. Manusia lupa akan kebutuhan intragenerasi maupun antargenerasinya terhadap bumi, apalagi untuk makhluk hidup lainnya. Sikap tak acuh itu nyata dalam tindak pengerusakan ekosistem yang semakin menjadi-jadi. Padahal, secara tidak langsung, tindakan itu berarti merusak hidup dan kehidupan umat manusia sendiri. 

Manusia untuk bumi bukan berarti manusia sebebas-bebasnya menggunakan sumber daya bumi. Pemanfaatan bumi tetaplah harus dalam batas kewajaran untuk kehidupan manusia, sekadar memenuhi kebutuhan, bukan keinginan yang tak terbatas. Di sisi lain, manusia untuk bumi mengandung makna amanah. Bumi adalah rumah bagi manusia dan mahkluk hidup lain untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya, sehingga manusia sebagai mahkluk berakal budi, bertanggung jawab untuk terus menjaga kelestarinnya.

Menjaga bumi harus dianggap sebagai tanggung jawab manusia secara keseluruhan, bukan individu atau kelompok tertentu. Sebab selama manusia hidup, ia akan tetap bergantung pada sumber daya bumi demi kehidupannya. Setiap manusia punya andil dalam  goyahnya keseimbangan bumi. Karena itu, semua manusia pun berkewajiaban untuk menyeimbangkan antara tindakan pemanfaatan dan upaya pelestarian bumi. 

Gerakan penyelamatan bumi, harus menjadi gerakan global. Hubungan manusia dengan bumi, harus dipandang secara universal. Setiap manusia di belahan bumi manapun, harus menyadari bahwa sikapnya berpengaruh terhadap belahan bumi lain. Kesadaran ini harus mampu menggerus pandangan yang menganggap gerakan penyelamatan bumi bersifat spasial, terbelah-belah atas dasar ruang dan waktu.

Sudah saatnya prinsip pendekatan terhadap bumi yang sifatnya kedaerahan, nasional, maupun kawasan tertentu, ditinggalkan. Bukan zamannya lagi mengkritik atau menuntut sekumpulan manusia di satu wilayah untuk bertanggung jawab terhadap bumi, tapi di sisi lain, sang pengkritik malah mengeksploitasi bumi di wilayahnya. Tidak zamannya lagi mengecam atau memaksa sebuah wilayah menjadi paru-paru dunia, jika pada saat yang sama, para pengecam itu malah mengepulkan asap beracunnya untuk bumi.

Gerakan penyelamatan bumi saatnya diangkat ke lingkup global, sebagaimana semangat lahirnya Hari Bumi sedunia. Untuk itu, penting dilakukan kembali koreksi terhadap aturan hukum nasional maupun internasional yang masih menganut prinsip “ego kewilayahan” dalam penyelamatan bumi. Langkah taktisnya adalah mengadakan kerjasama dalam lingkup global, baik digagas oleh pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar