Buram nalarmu, dan ingin menggelapkan semua
Melihat tali, racun, pisau, dan mulai menimbang rencana
Tetapi khawatir juga kesialan menggantung tanggung nasibmu
Melenyapkan daya untuk selamanya meratapi ketidakbergunaan
Hingga kau menyusup lewat jendela, untuk terjun, hancur, dan sirna
Membebaskan diri dari kemalangan dunia yang sambung-menyambung
Perihal cita yang duka, cinta yang lara, dan citra yang nista
Melahap kesabaran untuk bertahan mengharapkan perubahan
Namun ragu mempertanyakan lagi detik mendatang untuk sekali lagi
Merenungkan takdir yang tersangkal, yang barangkali menuju bahagia
Seiring kembali juga ketakutan merongrong dari pelajaran masa kecilmu
Mengancamkan siksa jahanam dengan pedih yang sepedih-pedihnya
Lalu kau terombang di antara kesangsian dan kenekatan
Menyadari kalau semua akan berakhir jua tanpa harus engkau akhiri
Sampai kekacauan itu mengacaukanmu dengan pilihan dari pilihanmu
Menggoyahkan tegapmu, tergelincir, jatuh, dengan keinsafan yang kembali
Tepat pada pembaringan kamarmu, saat kau teringat lagi pada semua yang berkorban untukmu
Menguatkan batinmu untuk memperjuangkan hidup sehari lagi, dan lagi
Minggu, 23 Agustus 2026
Untuk Hidup Sehari Lagi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar