Akan berbiak kepedihan
Bertumbuh dari luka yang basah
Terlahir dari dendam yang mengakar
Dari kita yang membenihkan kemalangan
Dalam pergumulan yang bersimbah peluh
Selama kekebersamaan yang kerontang
Setelah kita mengikat kesetiaan yang rapuh
Demi menenangkan perasaan yang labil
Dengan pikiran yang kabur terbekap nafsu
Akibat sihir perjumpaan yang tidak terencana
Selepas terusir dari persinggahan yang kacau
Atau terbuang dari rumah yang porak-poranda
Karena kita terlahir tanpa bisa memilih tempat
Sebab kita ada tanpa bisa menjadi tidak pernah ada
Pada kelak, entah di mana salahnya setelah penderitaan yang mewariskan penderitaan itu
Apakah pada kelahiran, pertemuan, atau kebersamaan kita?
Atau pada kelalaian kita karena memperturut kenikmatan semu yang membuat kita abai menentukan waktu yang tepat untuk berhenti menjadi kita?
Tetapi semasih kini, saat riwayat itu belum sempurna, akankah kita mampu tercerai menjadi kami dan kalian demi mereka-mereka yang tidak berhak menanggung penderitaan karena kita?
Atau kita sanggup untuk selamanya tidak menjadi kita, lalu mati dengan penderitaan sendiri-sendiri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar