Senin, 06 Mei 2019

Harapan Baru

Setelah seorang perempuan berambut poni, gadis harapanku, pergi entah ke mana, aku jadi terpasung dalam kehidupan yang semu. Aku betah hidup di dalam dunia imajinasi dan merasa cukup dengan kehidupan khayali. Aku tak peduli lagi pada segenap kemungkinan untuk kembali menyatakan perasaanku pada yang lain, dan aku merasa cukup begini saja.

Lambat-laun, aku pun kebal dari siksaan sepi. Aku jadi terbiasa menyendiri di kamar sunyiku tanpa berhasrat untuk mencari seorang teman. Aku terus saja berkutat dengan huruf-huruf demi mengukir harapanku yang tinggal kenangan. Sampai akhirnya, aku jatuh hati pada seorang gadis berkacamata yang seketika saja menjadi harapan baruku.

Dan pagi ini, aku kembali melakukan kebiasaan terselubung seperti kemarin-kemarin. Aku kembali menerawang di balik kaca jendela, sembari berharap si gadis berkacamata melintas di depan rumahku. Pasalnya, aku merasa haus fantasi, dan aku perlu melihat penampakan barunya untuk membangkitkan imajinasiku.

Sudah seminggu berlalu sejak pertama kali aku melihatnya. Namun seiring waktu, aku malah semakin berhasrat menatapnya lagi, dan lagi. Kurasa, cuma dengan menatapnya, aku bisa melanjutkan serangkaian cerita gubahanku yang sedang tersesat di tengah alur, tentang aku yang jatuh hati padanya secara diam-diam.

Aku tahu, Koki, bentuk perasaanmu sama dengan bentuk perasaanku. Sebelum seminggu yang lalu, pada hari yang sama dengan hari kedukaanku, kau pun turut berputus asa atas dambaan hatimu, Kiki. Hingga, setiap kali aku menanti kehadiran gadis berkacamata di balik jendela, kau akan duduk di kusen dan turut menatap ke jalan bawah sana.

Belakangan ini, atas luka hatimu, aku melihat jelas bahwa kau tak lagi sesemangat saat kau masih melalui hari-hari bersama Kiki di jalan lorong. Kau tak lagi terdengar mengeong keras seperti kala pejantan dari sebangsamu mencoba menggoda betina pujaanmu itu, atau ketika hasrat cintamu sedang menggebu-gebu terhadapnya. Entahlah.

Yang pasti, untuk hari kedelapan ini, kita adalah dua sosok yang kehilangan gairah hidup setelah ditinggal pergi pujaan hati masing masing. Sampai akhirnya, kita tak lagi berbagi keceriaan dengan saling mengusap seperti dahulu, kala aku merasa senang mendapatkan senyuman dari si gadis berponi, dan kau pun senang telah puas bermain bersama Kiki.

Namun hari ini, doaku kembali terkabul saat kau belum juga menemukan betina barumu di antara banyak betina yang hidup liar. Di bawah terpaan sinar matahari pagi yang lembut, si gadis berkacamata tampak lagi di pangkal lorong. Langkahnya pelan sambil memandang ke depan dengan sikap biasa, dan aku sungguh terkesima. 

Tetapi sesaat kemudian, langkahnya terhenti saat ia hampir berada di depan rumahku. Lambat-lambat, ia pun melangkah ke jejeran bunga di samping jalan. Tanpa kuduga, kau yang kukira pergi untuk mencari pujaan hati yang baru, telah berada di dalam pelukannya dengan sikap manja. Kau tampak menikmati usapan tangannya, dan kau berhasil membuatku cemburu.

Lalu tiba-tiba saja, hujan turun di bawah langit yang cerah. Ia pun bergegas berteduh di bawah teritis rumah indekos yang tepat berada di depan rumahku, sembari membawamu juga. Ia lantas mendudukkanmu di sampingnya, di atas sebuah bangku, sambil mengelus-elus sekujur tubuhmu dengan penuh perhatian.

Di tengah perasaan yang penuh pengharapan, aku pun berkhayal menjadi dirimu, sementara mataku terus memerhatikan dirinya di balik bulir-bulir hujan. Perlahan, berkas-berkas wajahnya pun tersusun di dalam benakku secara utuh. Aku pun merasa semakin terpikat, dan semangatku jadi bergelora untuk melanjutkan kisah khayalanku tentang kami.

Sesaat kemudian, hujan pun reda, dan aku merasa sangat beruntung telah mengamatinya dalam waktu yang cukup. Aku telah berhasil merancang alur cerita yang utuh tentang kami. Aku berencana mengakhirinya dengan adegan yang mengesankan, kemudian beralih pada cerita-cerita selanjutnya.

Namun akhirnya, imajiku hancur-lebur. Seorang lelaki datang menjemputnya dengan sikap yang mencurigakan, dan ia tampak menyambut dengan senang hati. Mereka saling bercakap beberapa waktu dengan begitu akrab, lantas masuk ke dalam kabin depan mobil dan menghilang di tengah perasaanku yang berkecamuk.

Akhirnya, aku kembali duduk di belakang meja. Aku kemudian merangkai cerita kami dengan penuh kegetiran. Tanpa ragu, aku lantas menuliskan akhir cerita yang sebaliknya dari yang kurencanakan sebelumnya. Tanpa pikir panjang, aku lalu menuliskan bahwa aku tak pernah jatuh hati dan tak pernah berharap padanya.

Berselang beberapa saat, kau kembali masuk ke dalam kamarku. Kau lantas melompat ke atas meja, lalu menatapku dengan penuh keprihatinan, seolah-olah kau pun merasakan keputusasaanku saat ini.

Akhirnya, pikiranku kembali pada peristiwa delapan hari yang lalu, saat Kiki pergi meninggalkanmu setelah seorang perempuan yang telah membuatku jatuh hati, membawanya ke sisi dunia yang lain.

“Kiki! Kemari! Kita harus pergi sekarang!” seru sang pujaanku, sang gadis berponi, di hari itu, saat Kiki, kucing kesayangannya, terpikat oleh pesonamu.

Aku pun jadi kelimpungan.

Sang gadis pujaanku akhirnya menghampiri kalian berdua, lantas merenggut Kiki darimu.

Demi harga diri, aku pun segera menjemputmu.

Tiba-tiba, ia bertanya, “Namanya siapa?”

Aku pun gelagapan. “Kiko!” jawabku, berusaha menyama-nyamakan nama kalian, dan kau pun memiliki sebuah nama.

“Kebetulan sekali, nama keduanya serasi,” katanya, sambil tersenyum. 

Aku hanya tersenyum mendengkus.

“Sepertinya, kucing kita sama-sama merasa berat untuk berpisah.”

Aku pun berusaha bertutur dengan sekuat hati, “Sepertinya mereka saling jatuh hati.”

Ia kembali tersenyum, lantas bergegas mengemas barang-barangnya ke atas mobil. Dalam sekejap, ia pun pergi entah ke mana setelah sebulan lebih tinggal di rumah indekos yang berada tepat di depan rumahku. Ia pergi bersama Kiki, meninggalkan aku bersamamu.

Akhirnya, saat ini, dengan hati yang terpuruk lagi, aku kembali memandang jalan bawah sana sambil berharap ada seseorang yang kembali mengalihkan harapanku dari gadis berponi, juga dari gadis berkacamata.

Aku ingin harapan yang baru untuk kembali berkisah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar