Rabu, 15 Mei 2019

Selembar Surat di dalam Vas Bunga

Dia masih saja merenung di teras depan rumahnya seorang diri. Matanya kembali terpaku pada jejeran bunga yang tak lagi ia rawat semanja dahulu, atau pada api yang melahap dadaunan dan sesampahan. Sedang pada saat yang sama, pikirannya malah tertuju pada beragam momentum di masa lalu, di kala ia masih bersama seseorang yang ia cintai dan seseorang yang mencintainya.
 
Takdir memang telah membawa ia pada kenyataan yang mengenaskan. Seminggu yang lalu, seorang lelaki yang hadir untuk menemani hidupnya, juga seseorang lelaki yang senantiasa mengisi relung hatinya, telah beralih ke dunia yang lain. Sajak saat itu, semangat hidupnya pun menghilang, meski orang-orang terdekat telah berusaha menghiburnya silih berganti.

Namun sesungguhnya, di luar dari terkaan orang-orang, kesedihan hatinya yang mendalam bukanlah karena ia kehilangan orang terkasih, tetapi karena ia merasa bersalah kepada mendiang suaminya. Selama hidup bersama sang suami, ia merasa tak bisa dan tak pernah meluruhkan cintanya setulus hati, dan ia mempersalahkan dirinya atas kenyataan itu.

Semua berawal dari tiga tahun silam, ketika keinginan yang ia doakan berbeda dari kenyataan yang terjadi. Kala itu, di tengah waktu yang terus bergulir, ia tak kunjung juga mendapatkan penegasan cinta dari seorang lelaki yang ia harapkan. Sampai akhirnya, seorang lelaki yang kelak menjadi suaminya berhasil merenggut harapannya yang menggantung. 

Sejak saat itu, setelah menikah, ia merasa berselingkuh dari sang suami. Ia merasa telah mengkhianati sang suami yang tampak tulus menyayanginya hari demi hari. Meski ia berhasil menyembunyikan penyelewengan hatinya, namun ia tetap tak bisa lepas dari dosa-dosa hatinya yang tak terucap, dan ia merasa tersandera karena itu.

Kini, setelah kenyataan membuatnya harus menyimpan rahasia hatinya sendiri, ia pun semakin terpuruk. Sembari merenungi pengkhianatan hatinya sepanjang waktu, ia pun kembali mengusap-usap karangan bunga bervas keramik yang merupakan pemberian sang suami kala mereka mengikrarkan cinta untuk pertama kalinya. Sebuah  benda yang telah menjadi memorial pernikahan mereka selama ini.

Di tengah perasan yang bergelora, ia lantas mencabut serangkaian bunga dari dalam vas. Ia lalu membalik vas dan menarik selembaran kertas dari dalamnya. Dengan rasa yang berkecamuk, ia pun kembali membaca surat dari sang lelaki pujaan hatinya di masa lalu. Sebuah surat yang datang dari pulau seberang, sehari setelah hari pernikahannya.

Seketika, perasaannya kembali pilu mengeja kata-kata pengakuan dari sang pujaan yang belakangan hari ia tahu punya perasaan yang sama terhadap dirinya. Seperti kemarin-kemarin, hatinya pun kembali terenyuh saat membaca pesan inti dari serangkaian paragraf yang tertulis:


Aku tahu semuanya sudah terlambat. Aku tahu kau akan menikah dengannya. Namun sebelum itu terjadi, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Setidaknya, kau tahu.

Besok-besok, setelah kau menerima surat ini, aku mohon, kirimkanlah balasan untukku. Katakanlah bentuk perasaanmu kepadaku. Setidaknya, aku tahu.


Tiba-tiba, air matanya berderai lagi untuk sebuah surat yang tak pernah ia balas sampai saat ini.

Perlahan-lahan, renungannya pun kembali ke masa lalu, dan terhenti di satu momentum yang menjadi awal cinta segitiganya. Di saat itu, sang lelaki pujaan yang telah menjadi teman baiknya di awal kuliah, memperkenalkannya dengan seorang lelaki lain yang kelak menjadi suaminya.

Dan lagi-lagi, memorinya kembali mengulang penggalan percakapan yang mengakhiri harapan cintanya terhadap sang pujaan dan memulai kenyataan cintanya terhadap sang suami.

“Apa hubungan kalian…?” tanya seorang lelaki yang kelak menjadi suaminya, tanpa kuasa melugaskan maksud.

Lelaki pujaan hatinya pun menggeleng-gelengkan kepala, kemudian bertutur dengan raut yang penuh keyakinan, “Kami hanya teman biasa. Tidak lebih.”

Sejak saat itu, ia pun berusaha meredam perasaan cintanya terhadap sang lelaki pujaan. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa hubungan mereka tak akan beranjak ke tingkat yang lebih dari hubungan pertemanan. Sampai akhirnya, ia memasrahkan diri untuk menerima pinangan sang suami di saat sang lelaki pujaan berada di pulau seberang untuk melanjutkan studinya, tanpa pernah berbagi kabar.

Dan akhirnya, seminggu yang lalu, terjadilah satu peristiwa yang membuat kenyataan dan harapannya atas cinta, lenyap secara bersamaan: sang suami dan sang lelaki pujaan meninggal di dalam sebuah kamar hotel dengan luka tikaman di tubuh mereka masing-masing.

Tepat di hari kejadian itu, ia pun mendapati telepon genggamnya telah berpindah tempat. Ia lantas menemukan sebuah pesan yang telah terbuka di layar utama. Sebuah pesan dari nomor kontak yang tak anak pernah ia lupakan:

Kau di mana? Aku di kotamu saat ini. Aku merindukanmu! Boleh kita berjumpa?

Kini, dengan perasaan yang berkecamuk, ia pun melangkah menuju kobaran api yang tengah melahap dedaunan dan sesampahan di depan teras rumahnya. Dengan sekuat hati, ia pun melayangkan sevas rangkaian bunga dari sang suami ke dalam api, hingga akhirnya benda itu lenyap bersama selembar surat cinta dari sang pujaan hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar