Rabu, 15 Mei 2019

Saksi Mata

Setelah sekian lama menunggu waktu, akhirnya, aku memutuskan untuk bertemu denganmu di hari ini, tepat sembilan tahun sejak suamimu meninggal. Sudah hampir sepuluh tahun aku mengamatimu secara diam-diam, dan hari ini, saat kau datang lagi seorang diri di sini, seperti yang kusaksikan beberapa hari belakangan, aku akan menampakkan kehadiranku kepadamu.
 
Entah bagaimana bentuk perasaanmu setelah bertatapan denganku di saat nanti. Barangkali kau akan merasa aneh atas diriku yang asing dan muncul tanpa aba-aba. Namun sebaliknya, aku akan merasa biasa saja, sebab aku merasa telah mengenalmu. Aku mengetahui banyak hal tentang dirimu, bahkan untuk sesuatu yang kau sendiri tidak tahu.

Untuk keputusanku hari ini, juga atas sikapku terhadapmu di masa lalu, aku jadi tak mengerti atas diriku sendiri. Aku merasa bodoh telah menghanyutkan diri ke dalam persoalan hidupmu yang pelik. Aku telah melibatkan diri begitu saja tanpa kepentingan apa-apa pada awalnya, kecuali bahwa aku dilanda kesepian.

Namun bagaimana pun, aku telah terjerembap ke dalam kubangan misteri kehidupanmu, dan aku merasa punya tanggung jawab untuk menyampaikan kesaksianku. Bagaimana pun, aku tak selayaknya terus-menerus menahan perasaanku untuk berterus terang kepadamu atas rahasia yang kusimpan tentang persoalan yang semestinya kau tahu.

Sampai akhirnya, ketika hari telah berada di ujung pagi, kau pun muncul di pangkal jalan setapak. Kau muncul dengan bedak kunyit di wajahmu, juga simpul sarung di kepalamu. Kau muncul sembari menenteng rantang makanan sebagai bekalmu dalam mengurus tanaman jagung dan kacang, hingga lewat tengah hari, sebagaimana biasa.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di hari peringatan kedukaanmu, kau pun kembali turun ke tepi sungai melalui lintasan penyeberangan. Kau lantas berjongkok sembari merenungi almarhum suamimu yang hanyut entah ke mana, tepat sembilan tahun silam. Untuk beberapa saat, kau akhirnya menengadahkan tangan dan berkomat-kamit dengan penuh kekhidmatan.

Berselang kemudian, kau pun kembali menanjak ke lahan tanimu, hingga kau melihat keberadaanku di bawah kolong rumah panggung peristirahatanmu. Detik demi detik pun bergulir, dan kau semakin mendekat padaku dengan raut keheranan, sebagaimana kesan seseorang yang menyaksikan orang asing masuk ke dalam kawasan pribadinya tanpa permisi.

“Bapak siapa?” tanyamu seketika.

Aku pun menyalamimu. “Aku Rahim.”

Dahimu berkerut. Kau seperti mencoba membaca wajahku yang jelas tak kau kenal. “Ada urusan apa di sini?”

Aku berdeham dan tak tahu harus memulai penuturanku dari mana. Tetapi demi meluruhkan segala kerisauan yang kupendam sesegera mungkin, aku pun memutuskan untuk mengarahkan pembicaraan pada inti persoalan, “Aku teman almarhum suami Ibu dari pulau seberang.”

Kau pun sontak tercengang. “Bapak ada urusan apa dengan Almarhum?”

Aku mendengkus dan tersenyum untuk menampakkan kesan bersahabat. “Aku rindu padanya, dan aku tahu kalau ia meninggal di sini, tepat di hari ini.”

“Bagaimana Bapak bisa tahu?” sergahmu dengan raut penuh tanda tanya.

Tiba-tiba, lidahku kelu untuk menuturkan inti rahasiaku terhadapmu. Aku lalu berpaling pada jejeran gedung lembaga pemasyarakatan dari jarak sekitar dua ratus meter. Mataku lantas terpaku pada jerjak ventilasi ruangan yang menjadi celah bagiku meneropong segenap hal tentang kehidupanmu di sini selama hampir sepuluh tahun.

“Apa yang Bapak tahu tentang kematian suamiku?” desakmu lagi, seperti tak sabaran.

Aku pun menelan ludah yang tertahan di tenggorokanku, sembari menguatkan hati untuk bersaksi.

Namun tanpa kuduga, seorang lelaki yang kupastikan telah menjadi suamimu, muncul dan tampak menghampiri kita dengan langkah pincang. 

Akhirnya, aku kembali menelan kata-kata yang nyaris saja kuutarakan.

“Aku tak tahu apa-apa soal itu, Bu,” kataku, berkilah, dengan senyuman terpaksa. “Yang aku tahu dari cerita orang-orang, ia hanyut terseret arus sungai. Bukankah begitu?”

Kau pun mengangguk lemah dengan raut kecewa.

Tanpa menjeda lagi, aku pun memutuskan untuk segera pulang. “Maaf, Bu, aku ada urusan mendadak. Aku harus pulang.”

Kau kembali mengagguk dengan raut yang masih menyiratkan tanda tanya.

Aku lantas bergegas pergi sebelum suamimu sampai pada kita dan menjeratku ke dalam percakapan yang rumit. Aku sudah tak punya nyali untuk bersaksi, apalagi dengan penuh tendensi, sebab sebelum-sebelumnya, kesaksianku yang tanpa bukti, hanya menjadi bumerang untuk diriku sendiri.

Akhirnya, aku mengurungkan niat untuk bercerita bahwa almarhum suamimu meninggal sembilan tahun silam setelah ditikam di tengah pertarungan yang sengit, kemudian jasadnya dihanyutkan ke sungai yang tengah banjir. Aku batal menuturkan bahwa pelakunya adalah seseorang yang selama ini tampak membuatmu bahagia; seseorang yang saat ini menjadi suamimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar